All for Glory of Jesus Christ

Ketika Tuhan Berbicara (1)

Saya akan memulai cerita saya dari hari kemarin. Kemarin pagi seperti biasa saya memulai rutinitas kerja saya dengan datang pada pagi hari dan melakukan sekumpulan “ritual” yang selalu saya lakukan setiap paginya. Yah, saya sebut “ritual” karena memang pada setiap hari kerja, pada saat saya baru datang saya akan melakukan hal tersebut.

Kemarin pagi, saya membaca renungan harian (daily hope) yang ditulis oleh Rick Warren untuk hari itu. Isinya adalah mengenai mengatasi discouragement atau hal-hal yang mematahkan semangat. Dijelaskan di sana mengenai empat hal yang dapat mematahkan semangat:
- Ketika kita mengalami kelelahan. Cara mengatasinya adalah dengan istirahat (tidur) atau mengambil waktu untuk liburan.
- Ketika kita menjadi frustasi. Cara mengatasinya adalah membuang hal-hal kecil yang menghabiskan waktu dan energi kita, serta yang menghalangi kita untuk mencapai panggilan Tuhan bagi kita.
- Ketika kita berpikir bahwa kita telah gagal. Cara mengatasinya adalah tidak menyerah pada rasa mengasihani diri sendiri, tidak menyalahkan orang lain, atau bahkan mengeluh. Sebaliknya mengarahkan fokus kita pada rencana Allah dan memulai kembali.
- Ketika kita menyerah kepada rasa takut. Cara mengatasinya adalah menjauhi orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk bersikap negatif, karena berada dekat orang-orang tersebut akan membuat kita sangat mudah terpengaruh oleh rasa takut.

Saat saya membaca daily hope itu, tiba-tiba ada semacam perasaan yang sulit dijelaskan timbul dalam diri saya. Saya hanya merasa bahwa setelah merasa menikmati berada dalam suatu pekerjaan yang memang saya sukai, saya akan mengalami masa discouragement itu. Hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan dengan nalar, tetapi begitu saya membaca daily hope itu sekejap saya merasa hal itu akan terjadi.

Ternyata benar, tidak perlu menunggu lama. Hari itu juga terjadi hal yang membuat saya merasa sangat kesal, kecewa, marah, sakit hati, yah silakan isi saja dengan semua emosi negatif lainnya yang bisa Anda pikirkan. Pendek kata, discouragement. Sepanjang hari itu saya berusaha untuk menyisihkan emosi negatif tersebut dan saya sukses untuk gagal total!

Hari ini, saya seperti biasa memulai hari dengan ritual pagi. Emosi negatif itu begitu kuat bercokol dalam pikiran dan perasaan saya. Ketika saya membaca renungan harian dari penulis lain (Today’s Word) yang ditulis oleh Joel dan Victoria Osteen, saya sangat tercengang. Karena penulis yang berbeda, pada hari selanjutnya membahas mengenai masalah discouragement juga. Hanya saja dikatakan bahwa untuk mengatasi discouragement adalah dengan mengarahkan fokus pikiran kita pada firman Tuhan dan bukan pada discouragement itu sendiri.

Sore ini ketika saya pulang ke rumah, badan sangat lelah tetapi pikiran dan perasaan saya sudah tidak begitu merasakan kuatnya kekuatan kungkungan emosi negatif itu lagi. Ketika saya mengajar, saya melupakan sejenak semua itu dan merasa bahagia untuk bisa mengajar. Hanya saja saya tahu, kungkungan itu masih ada.

Saya bersyukur untuk kondisi bahagia yang saya rasakan ketika saya selesai mengajar. Itu sebabnya dari sekian tahun yang lalu, bahkan ketika saya mengalami hal terburuk pun saya bisa melupakan semuanya ketika saya mengajar. Sehabis mengajar itu adalah waktu-waktu yang mengisi baterai emosional saya secara positif. Mungkin alasannya karena saya merasa melakukan sesuatu yang saya sukai. Jadi selelah apapun tubuh saya, hati saya terasa ringan.

Setelah selesai mandi dan makan, saya lalu membuka email. Ternyata saya sudah menerima Today’s Word with Joel dan Victoria lagi untuk edisi hari berikutnya. Kembali saya tercengang. Isinya adalah untuk taat dan berintegritas dalam melakukan firman Tuhan untuk mengatasi discouragement. Yah, lagi-lagi benar-benar sangat sesuai dengan kondisi yang saya alami.

Ketika Tuhan berbicara, Ia bisa berbicara dengan berbagai cara. Satu cara yang sudah saya paparkan, adalah ketika Ia berbicara lewat renungan harian, lewat firman-Nya, lewat ‘perasaan’ dalam hati kita. Ketika membaca renungan harian sore ini, saya tahu bahwa saya harus memaafkan. Bukan karena apa-apa, tapi memaafkan adalah satu-satunya obat untuk membebaskan saya dari emosi negatif tersebut.

Bukan hal yang mudah tetapi Tuhan sudah berbicara kepada saya dalam 2 hari ini, lewat 3 renungan harian. Benar-benar tidak enak untuk merasakan emosi negatif yang begitu kuat. Kebencian dan sakit hati adalah sejumlah emosi kuat yang ada. Hanya saja kebencian dan sakit hati pada akhirnya hanya akan menghancurkan. Sementara kasih yang juga merupakan emosi kuat lainnya; bersifat menumbuhkan, menghidupkan, dan menyembuhkan.

Doaku hari ini: aku lelah, Tuhan, sangat lelah dengan disalahpahami terus-menerus. Aku capek sekali, Tuhan dan semua ini sangat menyakitkan. Tapi masalahnya, Tuhan, aku tidak bisa mengubah orang lain. Satu-satunya yang bisa kuubah hanya diriku sendiri. Oleh karena itu, berikan aku kekuatan untuk memaafkan setiap orang yang sudah menyakitiku, Tuhan. Berikan aku kasih-Mu yang tidak terbatas itu, supaya aku bisa mengasihi orang yang menyakitiku.

Tuhan, kalau ada hari ini teman-temanku yang juga mengalami hal yang sama dengan yang aku alami, biarlah kasih-Mu juga meliputi mereka. Supaya bukan kebencian, sakit hati, dan dendam yang meliputi hati mereka; biarlah kasih-Mu yang sempurna yang akan menuntun mereka untuk lepas dari semua belenggu itu. Kau sudah berbicara dan aku akan belajar untuk taat. Amin.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: