All for Glory of Jesus Christ

Halo teman-teman,

Bagaimana kabarnya hari ini? Baik-baik? Sehat-sehat? Luar biasa? Tidak baik? Sakit? Tenang, apapun kondisi teman-teman hari ini, Tuhan Yesus selalu beserta teman-teman! Kalaupun teman-teman tidak merasakannya, ketahuilah Dia selalu hadir di sisi teman-teman, bahkan di dalam diri teman-teman! Karena Roh Kudus tinggal dalam hati teman-teman yang sudah menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat!

Judul artikel hari ini adalah salah satu tagline (tulisan) yang ada dalam signature (tanda tangan) di email saya:

“An Ending is Just a Door to a New Start.”

(“Suatu Akhir adalah Hanya Suatu Pintu bagi Suatu Awal yang Baru.”)

Nah, hari ini saya cuma mau beri pengumuman. *drum berbunyi* Seperti judul hari ini, hari ini saya mau berpisah dengan teman-teman. Sedih? Jangan!

Ada pengumuman lainnya.  Saya pindah ke web yang baru!! Lebih personal!! Dengan nama yang sama😀. \(^o^)/

Silakan kunjungi: Everyday is a New Beginning! (silakan klik saja di judul tersebut untuk mengunjungi blog baru saya).

Everyday is a New Beginning.”

(“Setiap Hari adalah Awal yang Baru.”)

itu juga adalah salah satu tagline dalam signature email saya. Tagline yang sudah melekat dalam nama alias saya di internet dan menjadi moto saya juga.

Saya tidak berpanjang-panjang lagi. Selamat mengunjungi “Everyday is a New Beginning“! Selamat menikmati tampilan baru di sana.

Tuhan memberkati.

archaengela

Cerita: Pisau

Halo teman-teman! Selamat pagi! Lama ya kita tidak bertemu. Kangen sama saya? Terima kasih! Saya juga kangen sama teman-teman!

Teman-teman, saya cerita dulu ya. Beberapa hari kemarin saya kurang enak badan. Jadi selama 3 hari kemarin saya banyak tidur. Ya, badan saya belum terlalu terbiasa dengan irama kerja saya yang baru. Jadi begitu deh😀. Padahal saya sudah minum vitamin C dosis tinggi, makan banyak juga.

Untungnya Tuhan kirimkan malaikatnya menjaga saya: mami saya. Mami saya memijat badan saya dan ada satu dua otot yang sakit sekali. Kalau teman-teman tau Mami saya, Mami saya itu jenius dalam hal memasak dan pengobatan. Jadi saya sangat beruntung Tuhan lahirkan saya dan beri saya ibu dalam bentuk Mami saya.

Sesudah Mami pijat saya, mami masakkan saya yahun dengan baso urat besar kesukaan saya. Yahun itu bihun yang dimasak lalu dihidangkan dengan kecap manis tanpa kuah. Wahhh senangnya! Saya langsung makan dan sekejap habis! Lalu Mami suruh saya pakai heater (pemanas) di badan. Badan saya langsung enak.

Saya lalu tidur. Ehmm teman-teman, mau tau sesuatu? Nih saya bisikkan ya. Waktu sakit saya kirim email pada seseorang nun jauh di sana. Saya minta dia doakan saya. Lalu dia jawab “be better soon”. Huaaaahh, hati saya langsung berbunga-bunga.😀

Maaf ya teman-teman.😀 Seperti yang saya sudah bilang di artikel-artikel yang lalu. Saya kalau cerita hal yang saya sukai, memang sulit berhenti.😀.

Ah, lalu apa kaitannya dengan cerita hari ini? Sabar, teman-teman. Nanti teman-teman di tengah cerita bisa menyambungkan cerita saya di awal dengan inti cerita saya hari ini😀

Tuhan itu baik! Selama-lamanya kasih setia-Nya! Ada Amin? Yes! Amin! Puji Tuhan!

Eh, bukan panggil yang namanya “Amin” lho ya😀. Bercanda, teman-teman!😀

Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!! Haleluya!!

Sewaktu saya mau menulis artikel ini saya berpikir apa kira-kira ilustrasi yang pas untuk artikel hari ini? Ternyata Roh Kudus ingatkan saya akan peristiwa yang begitu lama sudah berlalu. Ya, peristiwa ketika saya masih kecil.

Saya dibesarkan oleh dua orangtua yang luar biasa. Papi dan Mami adalah anugerah yang Tuhan beri bagi saya. Mereka mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan ini.

Suatu hari, ketika saya masih berumur entahlah saya tidak ingat, tapi masih kecil, saya membawa sebilah pisau dapur. Saya ingat saya membawa pisau dapur itu ke dapur karena Mami mau pakai pisau itu. Papi melihat cara saya membawa pisau dapur. Posisi saya waktu itu memegang gagang pisau di tangan dan badan pisau terarah ke depan (persis seperti foto di atas). Papi lalu menegur saya.

“Bawa pisaunya jangan seperti itu. Nanti kalau ada orang, bisa kena.”

Pada kesempatan lain, juga saya masih kecil waktu itu, saya belajar mengupas mangga. Cara saya mengupas mangga kurang tepat. Jadi yang saya pegang badan pisaunya sementara jari saya bergerak mengiris kulit mangga. Mami berkata:

“Kupas mangganya pegangnya begini ya (pegang bagian gagang pisau – keterangan ditambahkan). Jadi jari kamu ga teriris.”

Nah dari dua kejadian yang saya tiba-tiba ingat, saya merenung. Dalam hidup ini, bukankah saya itu adalah pisau?

Pada saat saya menggunakan kata-kata dengan tepat, entah untuk memuji, menguatkan, mendukung, membenarkan hal yang benar; saat itu saya memegang pisau dengan tepat, dengan lembut, dengan aman. Orang yang saya hadapi biasanya akan senang. Orang yang saya hadapi biasanya akan dikuatkan dan merasa didukung.

Hanya saja, saya juga ingat: pisau yang dipegang dengan lembut dan aman, tidak selamanya bisa mengupas dengan efektif. Pada saat mengupas dan membelah, katakan saja kedondong yang keras dan liat, seringkali saya perlu kekuatan dan teknik khusus untuk melakukannya. Pada saat berhadapan dengan hati yang keras dan liat, seringkali saya perlu kekuatan dan teknik khusus untuk melakukannya.

Karena tidak selamanya saat saya memegang pisau dengan lembut dan aman, saya jadi bisa menyelesaikan pengupasan itu dengan baik. Ada kalanya memang perlu saya beri tekanan tertentu pada pisau dan menggunakan teknik khusus untuk membelah kedondong itu.

Ada kalanya saya perlu menekan, menegur, menantang, mempertanyakan, atau melakukan konfrontasi. Ada kalanya saya perlu membiarkan, meluruskan, atau menyadarkan.

Namun saat yang sama, saya juga ingat. Saat mengupas dan membelah kedondong, saya perlu menjaga jari saya tidak teriris. Saat berhadapan dengan orang-orang yang menantang saya, saya perlu menjaga hati saya tidak teriris.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Teriris oleh apa? Rasa tidak tega. Rasa bersalah yang tidak perlu (kalau memang benar, tidak perlu merasa bersalah. Kalau salah, perlu memperbaiki kesalahan). Rasa ingin diterima semua orang. Rasa takut kehilangan. Lebih lagi, pemikiran:

“Bagaimana jika? Dia nanti pikir apa?”

Wah, saya sudah mengalami lama sekali teriris begitu. Akibatnya hidup saya jadi penuh luka. Sakit. Capek. Letih.

Hidup saya jadi tidak bebas lagi. Bebas dalam arti saya dikendalikan oleh respon dan pemikiran-pemikiran yang ada dalam benak saya sendiri. Itu bukan lagi hal yang Tuhan mau.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan;sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. ” (1 Yohanes 4:18)

Puji Tuhan, lewat begitu banyak orang di sekitar saya, secara langsung maupun tidak langsung saya diajar untuk memegang pisau juga dengan kekuatan dan teknik khusus, tapi pada saat yang lain juga dengan memegang pisau dengan lembut, dengan aman.

Karena bukankah seperti Papi saya katakan: membawa pisau harus pikirkan keselamatan orang lain.

Ya, KESELAMATAN! Itu sebabnya saya diingatkan untuk belajar terus dalam membawa pisau saya sehari-hari. ADA KUASA DALAM PERKATAAN.

Jadi saya perlu seksama dalam BERPIKIR dan BERKATA-KATA.

BERPIKIR? Ya, dalam berpikir bukankah saya juga BERKATA-KATA DALAM BENAK saya? Dalam pemikiran saya?

Pemikiran akan mempengaruhi perasaan.

Perasaan akan mempengaruhi tindakan.

Tindakan akan mempengaruhi kebiasaan.

Kebiasaan akan mempengaruhi hidup.

Jadi pemikiran mempengaruhi hidup.

Kata-kata mempengaruhi hidup.

Lebih lagi saya perlu menjaga hati saya sehingga apapun yang keluar dari pikiran dan mulut saya, itulah yang sesuai dengan kehendak-Nya: entah dengan cara lembut atau dengan cara kuat.

Bahkan Firman Tuhan digambarkan sebagai lebih dari pedang bermata dua. Pedang mirip dengan pisau, hanya daya potongnya lebih kuat. Firman Tuhan digambarkan sebagai lebih dari pedang bermata dua artinya daya potongnya luar biasa kuat.

“Sebab firman Allah hidup dan kuatdan lebih tajam dari pada pedangbermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)

Saya diingatkan bahwa bersekutu dengan Tuhan, membaca Firman Tuhan, doa, dan bersaksi itu penting sekali.

Kenapa? Karena saya yang Tuhan ciptakan begitu luar biasa ini dengan segambar dengan citra-Nya, tetap saja ada batasnya. Itu sebabnya, saya perlu terus terhubung dengan-Nya.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4)

Tuhan mau terhubung dengan saya. Masalahnya, saya mau terhubung dengannya tidak? Ah, saya mau! Lalu saya tanya, caranya bagaimana? Dengan melakukan empat hal tadi: bersekutu dengan Tuhan (tinggal dalam Tuhan), baca firman Tuhan, doa,  dan bersaksi.

Bersekutu dengan Tuhan: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Baca Firman: “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 15:3)

Doa: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Bersaksi: “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:27)

Omong-omong tentang 4 hal, saya tiba-tiba diingatkan tentang 4 cinta. (Cinta Pertama: Kasih Mula-mula. Cinta Kedua: Yerusalem. Cinta Ketiga: Malaikat). Teman-teman sudah baca? Kalau belum, baca ya😀. Silakan cari di daftar isi. Anggap saja dapur sendiri, jadi cari sendiri ya.

Saya diingatkan bahwa 4 cinta inilah yang juga membuat saya akan terhubung dengan Tuhan. Maaf dulu ya teman-teman, untuk cinta keempat saya belum sempat tuliskan. Pasti menyusul secepatnya! Ingin sekali menuliskan itu, tapi banyak hal yang saya harus kerjakan jadi tertunda.

Saya jadi ingat ada dua lagi yang tertinggal. Untuk terus terhubung dengan Tuhan, kita perlu tetap tinggal dan bersekutu dengan saudara seiman dan mendengar serta menyanyikan lagu pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

Saya mengalami sendiri bahwa dengan tinggal dan bersekutu dengan saudara seiman, saya mengalami banyak sekali penguatan. Semua doa saya terjawab. Semua karena kasih karunia Tuhan, tapi juga karena saudara seiman saya di WorldPrayr, sahabat-sahabat saya, dan keluarga saya juga mendoakan saya setiap saya meminta mereka mendukung saya dalam doa. Saat saya lelah dan butuh penguatan, ada yang menguatkan saya. Menopang saya. Membuat saya bisa terus berjalan. Maju terus. Menjadi lebih efisien. Menjadi lebih produktif. Menjadi efektif. Puji Tuhan! Segala kemuliaan bagi nama-Nya!

Selain itu juga  saya mengalami juga saat saya dengar/nyanyi lagu pujian dan penyembahan, saya menjadi sukacita, damai, dan kuat. Ada banyak peristiwa yang membuat pikiran saya mengalami 3 ET: ruwET, jelimET dan mumET😀 Di saat saya mengalami 3 ET itu, saya diingatkan untuk dengar/nyanyi lagu pujian dan penyembahan. Perlahan-lahan 3 ET itu hilang, digantikan dengan 9 AT (semangAT, kuAT, hebAT, dahsyAT, niAT, berkAT, rahmAT, sehAT, dan mujizAT), bahkan ditambah 1 AT lagi menjadi 10 AT (Allah Tau! Ya, Dia tau bahwa sayalah ciptaan-Nya yang sungguh amat baik. ). Haleluya! Segala kemuliaan bagi-Nya yang mengubahkan dan membangun saya.

Ah, Tuhan sungguh baik! Teramat baik! Hal yang saya alami, saya percaya itu juga yang mungkin teman-teman sudah, sedang, atau akan alami. Yuk kita semua, terutama saya untuk selalu terus mau belajar untuk menjadi pisau-Nya untuk membawa jiwa-jiwa dapat diselamatkan. Diselamatkan bukan hanya untuk Surga di akhir hayat, tetapi juga diselamatkan untuk Surga di Bumi. Mengalami pembaharuan budi.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

Untuk mengalami pembaharuan budi, saya perlu mempersembahkan tubuh saya kepada Tuhan sebagai suatu bentuk penyerahan diri kepada-Nya:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Mumpung ingat, siapa tau teman-teman ada yang tanya, apa kaitan cerita di awal artikel? Nah itulah salah satu contoh menjadi pisau yang baik: menegur , mengajar, dan mengasihi, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Amin!

Yuk kita berdoa, teman-teman:
Bapa yang baik, sungguh baik, dan teramat baik,

Terima kasih buat kasih, anugerah, kebaikan-Mu yang limpah dalam hidupku. Hari lepas hari kurasakan sungguh begitu dahsyat Allah yang kusembah, tak terukur dan tak terselami jalan pikiran-Mu. Aku terkagum, terheran, takjub dibuat-Mu. Kamu mempesonaku dan aku ikut larut di dalam segala kesempurnaan rancangan-Mu. Haleluya!

Tuhan, aku mau berdoa buat kami semua yang membaca artikel ini. Kami mau jadi anak-anak-Mu yang sungguh menjadi pisau-Mu yang efektif. Kami mau jadi pisau-Mu yang sungguh bisa mengubah hati dan hidup orang lain, seturut kebenaran Firman-Mu. Biarlah kami menjadi pisau-pisau-Mu yang hidup, sebagai alat yang Kau gunakan untuk mengiris, mengupas, membelah, dan memotong semua yang memang Kau pandang perlu.

Dengan demikian, kami sungguh bisa jadi saksi-Mu yang efektif: membawa jiwa untuk diselamatkan. Membawa kemuliaan bagi nama-Mu. Mewujudkan Surga di bumi dan di Surga. Semua demi kemuliaan nama-Mu. Semua demi terwujudnya Amanat Agung-Mu: agar “semua lidah mengaku dan semua lutut bertelut, bahwa Engkau, Yesus, adalah Tuhan!”

Terima kasih, Guru Agung, kami mau terus belajar menjadi murid-murid-Mu yang SIAP. SIAP mendengarkan ajaran-Mu dengan pikiran dan hati yang terbuka. SIAP melakukan ajaran-Mu dengan antusias dan rajin. SIAP mengerjakan tugas-tugas yang Guru Agung berikan dengan semangat. SIAP mengerjakan ujian-ujian yang Kau berikan dengan penuh keyakinan dan kesanggupan. Pada akhirnya, kami juga SIAP untuk menerima dengan penuh rasa syukur nilai yang Guru Agung berikan: nilai 10, mahkota kehidupan.

Haleluya! Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus!

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Amin!

Cerita: Hujan

Hai teman-teman! Apa kabarnya? Luar biasa baik kan? Puji Tuhan! Saya senang sekali mendengarnya. Apa ada yang kurang baik? Tidak apa-apa, Tuhan pasti akan tolong. Tetap berharap kepada-Nya, ya?

Hari ini saya kembali mau cerita. Jadi dua hari lalu saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk bertemu seorang teman. Teman saya memesan buku renungan Living Life.

Saya menikmati bertemu dengan teman saya itu karena sudah lama tidak bertemu dengannya. Setelah ngobrol-ngobrol, saya lalu ke dua toko buku yang ada di sana.

Waaaahhh, mata saya langsung bersinar-sinar! Saya suka sekali membaca! Apalagi saya sudah cukup lama tidak pergi ke toko buku. Rasanya ingin membeli semua buku di sana😀. Maaf, hanya mendramatisasi😀.

Saya kemudian ke toko buku kedua. Toko buku ini adalah toko buku rohani. Kembali mata saya bersinar-sinar lagi! Betul-betul rasanya ingin sekali membeli semua buku di sana. Lihat buku ini: aw, bagus! Lihat buku itu: wih, ok! Lihat yang sana: saya belum baca! Lihat yang sini: wow, saya butuh!

Ok, ah kog jadi cerita ke sana-sini? Maaf teman-teman, memang kalau saya sudah cerita hal yang jadi kesukaan saya, agak susah berhenti! Maaf ya😀.

Nah pulang ke rumah, saya naik salah satu kendaraan umum. Saya lupa membawa payung saya. Padahal biasanya saya selalu membawa payung saya kalau saya pergi sendiri ke luar rumah. Yah, biasalah, prinsip: sedia payung sebelum hujan.

Ternyata oh ternyata, ketika sudah di tengah perjalanan, seperti judul cerita hari ini, hujan turun. Saya berdoa dalam hati:

“Tuhan, jangan hujan dong. Saya ga bawa payung nih.”

Teman-teman, karena kemurahan-Nya, sekejap hujan berhenti! Puji nama Tuhan! Dia sungguh baik! Lalu anak yang duduk di seberang saya berkata kepada ibunya: “Kog hujannya berhenti?” Dalam hati saya tersenyum dan menjawab,

“Tuhan Yesus yang menghentikan hujan, dek”.

Sesudah itu setelah 10 menit berlalu, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Dalam hati saya bertanya-tanya:

“Tuhan, kog turun hujan lagi. Saya ga bawa payung lho. Ya ga apa-apa deh, tapi sampai rumah hujannya berhenti ya, Tuhan?”

Teman-teman tau tidak? Hujan tidak berhenti!😀 Tapi, Tuhan itu baik! Waktu saya akan pergi, tadinya saya tidak akan pakai jaket karena udara cukup panas. Hanya saja, saya lalu berubah pikiran dan mengambil jaket yang ada tudung kepalanya.

Jadi saat saya turun dari kendaraan umum, saya tinggal memakai tudung kepala jaket itu dan mulai berjalan. Teman-teman tau tidak, waktu saya turun dari angkot, ada genangan air di sana. Jadi saya harus mencari area yang agak kering. Saya berjalan mencari tempat yang agak kering lalu mulai melangkah. Saat melangkah, saya menyadari:

“Waduh jeans saya bagian bawahnya kena genangan air. Yah, apa mau dikata?”

Selagi saya berpikir begitu, tiba-tiba saya ingat sesuatu. Seorang teman saya akan menikah minggu ini. Sementara rambut saya sudah cukup lama tidak dirapikan, terutama poni (rambut depan) saya panjangnya sudah sampai ke mulut saya. Saya yakin bukan kebetulan saat itu tiba-tiba saya teringat mengenai undangan teman saya. Karena salonnya tepat di dekat tempat saya berjalan pulang, saya langsung mampir ke salon itu.

Di salon itu, ternyata sudah ada 2 orang yang sedang dilayani di sana. Saya menunggu sambil menggunakan alat komunikasi yang saya miliki untuk melihat-lihat satu jejaring sosial yang saya ikuti.

Tunggu punya tunggu, waktu sudah bergulir selama 2,5 jam dan saya masih belum dilayani. Hari sudah makin sore, perut saya pun lapar. Tapi saya pikir, sudah ke sana harus potong rambut. Jadi saya tunggu.

Akhirnya saya dilayani juga. Prosesnya hanya sebentar dan saya menunggu lagi supaya rambut saya dikeringkan (di-blow). Ternyata karena pengunjung yang sebelumya belum selesai, saya harus menunggu lagi untuk di-blow.
Karena sudah tidak sabar, saya berniat pulang saja tanpa di-blow. Saya pikir saya bisa mem-blow sendiri rambut saya di rumah. Saya sudah menunggu sekitar 3 jam saat itu. Tetapi pemilik salon berkata:

“Tunggu sebentar lagi ya. Sebentar lagi yang ini selesai.”

Jadi saya tunggu juga. Akhirnya pemilik salon mem-blow rambut saya dan saya pulang ke rumah dengan hati senang. Saya tidak usah pakai jepit rambut lagi karena poni saya sudah tidak menghalangi mata saya😀.

Selama peristiwa itu berlangsung saya merenung. Apa maksud Tuhan di balik semua ini? Lalu Dia membukakan semuanya. Seluruh peristiwa pada saat hujan itu adalah hidup saya.

Hujan adalah pada saat masalah dan tantangan datang. Saat masalah dan tantangan datang, hal yang terjadi bisa 2 pilihan. Pilihan pertama: bisa saja seperti ketika saya meminta Tuhan menghentikan hujan dan hujan langsung berhenti, masalah langsung selesai. Sekejap mata. Saat itu juga. Puji nama Tuhan!

Kalau itu yang terjadi, berarti Tuhan sedang mengajarkan saya untuk memiliki iman yang dapat memindahkan gunung, tidak ragu akan apapun juga, dan melangkah untuk mengatasi segala badai persoalan. Intinya 100% yakin bahwa Tuhan pasti selesaikan masalah itu.

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu”. (Matius 17:20)

Pada saat itu, seperti anak kecil di kendaraan umum yang terheran-heran melihat hal itu, peristiwa yang ajaib yang Tuhan lakukan bisa menjadi suatu kesaksian bagi yang lain. Kesaksian mengenai kuasa dan kebesaran Tuhan. Haleluya.

Di saat itu pula, berarti Tuhan ingin saya belajar tentang tetap rendah hati. Tetap menempatkan Tuhan sebagai yang pantas menerima segala kemuliaan dan hormat. Saya hanyalah media. Kepanjangan tangan-Nya. Orang yang mendapatkan kehormatan dan kemurahan dari-Nya. Dia adalah sumber. Segala-galanya. Sungguh yang pantas mendapatkan kehormatan dan kemuliaan itu.

Pilihan kedua: bisa saja seperti ketika saya meminta Tuhan menghentikan hujan, hujan tetap turun dengan lebat. Genangan air di mana-mana. Ketika saya meminta Tuhan menghentikan masalah dan tantangan, masalah dan tantangan tetap ada malah makin hebat.

Kalau itu yang terjadi, berarti Ia ingin saya mulai mencari tempat kering, berjalan mencari tempat yang agak kering itu, lalu mulai melangkah. Artinya saya harus tetap berusaha mencari solusi, tetap berjuang walaupun masalah kelihatannya di sana-sini. Lalu mengambil langkah untuk memecahkan masalah itu.

Seperti celana jeans saya yang menjadi agak basah waktu saya melangkah, itu adalah harga yang harus saya bayar. Saya harus terus melangkah kalau tidak mau basah kuyup. Selalu ada resiko dalam langkah yang saya ambil, itu adalah harga yang harus saya bayar. Saya harus terus melangkah kalau tidak mau kalah oleh masalah dan tantangan.

Tetapi Tuhan itu memang baik. Kalau pilihan dua ini yang terjadi dalam hidup saya, tetap pertolongan-Nya tak pernah terlambat. Seperti Dia ingatkan saya mengenai undangan pesta teman saya dan kondisi rambut saya yang butuh dirapikan, seperti itu jugalah Dia bisa ingatkan mengenai peluang-peluang lain yang bisa timbul akibat dari saya melangkah untuk mengatasi masalah tersebut.

Itu sebabnya selalu ada dua sisi untuk memandang masalah. Katanya:

“Masalah itu bisa menjadi persoalan, tapi bisa juga menjadi kesempatan.”

Kalau saya melihat hujan sebagai masalah dan saya terpaku di sana, saya bisa-bisa akan merenungi nasib saja karena lupa membawa payung. Bisa-bisa saya tidak bersyukur lagi.

Kalau saya melihat hujan lalu Tuhan karena kemurahan-Nya mengingatkan saya: akan undangan pesta teman saya dan untuk saya merapikan diri, akhirnya saya menemukan tempat berteduh. Apakah karena saya hebat? Pintar? Cekatan?

Bukan! Semua karena kemurahan Tuhan! Karena Ia begitu baik. Segala kemuliaan hanya bagi nama-Nya!

Bisa jadi seperti rambut saya yang perlu dirapikan, bisa jadi ada hal-hal yang saya harus selesaikan lebih dahulu supaya saya bisa menang atas masalah. Bisa jadi itu masalah karakter saya. Bisa jadi itu masalah prinsip hidup saya yang perlu diluruskan.

Dalam proses pilihan kedua ini, bisa jadi prosesnya saya harus menunggu. Saya cukup tertegun ketika menyadari bahwa ada 2 pelanggan yang sedang menunggu di sana. Bagi saya dalam area tertentu di hidup saya, hal itu mewakili persis 2 hal.

Karena teman-teman yang membaca saya anggap teman-teman saya entah kita memang mengenal atau tidak, saya buka sajalah😀. Dua hal itu saya sadari mewakili 2 pria yang pernah singgah di hidup saya. Dua hal itu saya sadari mewakili 2 universitas yang pernah saya bekerja di dalamnya. Dua hal itu saya sadari mewakili 2 pelayanan yang saya pernah terlibat di dalamnya.

Untuk bisa sampai ke rambut yang rapi, saya harus menunggu 2 orang pelanggan sebelum saya. Untuk bisa sampai ke pasangan yang tepat, saya harus melewati 2 pria yang pernah singgah di hidup saya. Untuk bisa sampai pada impian saya akan pekerjaan yang saya dambakan, saya harus melewati 2 universitas yang saya pernah bekerja di dalamnya. Untuk bisa sampai pada pelayanan yang saya impikan, saya harus melewati 2 pelayanan yang sebelumnya saya lakukan.

Saya tersenyum sendiri ketika menyadari hal ini. Tuhan ternyata memiliki selera humor yang unik! Semua hal yang terjadi ternyata sudah begitu pas. Tepat sekali. Mengena sasaran. Saya takjub sendiri dibuat-Nya. Sungguh luar biasa perbuatan tangan-Nya.

Proses menunggu di salon yang begitu lama memang membuat saya tidak sabar. Ingin segera pulang. Proses menantikan pasangan hidup, pekerjaan, dan pelayanan yang saya impikan memang sempat membuat tidak sabar. Ingin segera mendapatkan yang saya inginkan.

Seperti ketika saya sudah tidak sabar dan mengatakan pada pemilik salon bahwa saya akan pulang, lalu pemilik salon berkata:

“Tunggu sebentar lagi ya. Sebentar lagi yang ini selesai.”

sebenarnya itu juga mewakili kondisi yang sudah terjadi pada diri saya. Ketika saya sudah tidak sabar dan mengatakan pada Tuhan bahwa saya akan selesaikan masalah saya sediri, Tuhan berkata:

“Tunggu sebentar lagi ya. Sebentar lagi yang ini selesai.”

Wow! Bukankah Tuhan itu sungguh perencana yang ulung! Saya sungguh kagum dibuat-Nya. Itu sebabnya ketika saya melihat ke beberapa titik dalam hidup saya, saya akhirnya jadi mengerti maksud Tuhan ketika saya gagal, ketika saya jatuh, dst.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

Ia luar biasa hebat! Dialah Elshadai, Allah Maha Kuasa. Dia campur tangan begitu rupa untuk mewujudkan rencana indah-Nya dalam hidup saya.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Di saat itu pula, berarti Tuhan ingin saya belajar tentang iman yang dapat memindahkan gunung. Mencintai dan mencari Tuhan lebih dari berkat-Nya. Saya adalah anak-Nya. Kesayangan-Nya. Orang yang dijaga-Nya dan dilindungi-Nya. Dia adalah Bapa saya. Mengasihi saya. Pasti akan memberi yang terbaik bagi saya.

Seperti akhirnya ketika saya menunggu dan akhirnya pemilik salon mem-blow rambut saya dan saya bisa pulang ke rumah dengan hati senang, saya meyakini dan menerima dengan iman bahwa saya sudah menerima jawaban dari doa-doa saya. Saya percaya bahwa saya dalam proses untuk menunggu penggenapan semua jawaban dari doa-doa saya selama ini.

Segala kemuliaan hanya bagi nama-Nya. Sebab Ia agung, mulia, kudus dan besar! Dialah Tuhan yang saya sembah dalam nama Yesus Kristus! Sungguh, mengenal dan mencintai Dia adalah satu pengalaman hidup yang tak akan pernah terlupakan. Sungguh suatu pengalaman hidup yang mengubah seluruh kehidupan saya secara radikal.

Kalau sementara teman-teman membaca artikel ini dan merasa bahwa ini juga yang teman-teman alami, ini sungguh merupakan rencana-Nya yang indah bagi teman-teman semua! Saya merasa terhormat bahwa Dia menyertakan saya dalam rencana indah-Nya untuk hidup teman-teman.

Kalau teman-teman dalam pilihan 1 seperti yang saya alami waktu hujan, bersaksilah! Sampaikanlah perbuatan-Nya yang ajaib sehingga nama-Nya semakin dipermuliakan dan tujuan-Nya di atas muka bumi ini dapat terwujud.

Sebab ada tertulis: “Karena Aku Tuhan yang hidup,” begitulah firman Tuhan, “setiap lutut akan bertelut di hadapan-Ku dan setiap lidah akan memuji dan memuliakan Allah.” (Roma 14:11)

Kalau teman-teman dalam pilihan 2 seperti yang saya alami waktu hujan, tetaplah lakukan bagian teman-teman: berdoa, berusaha, dan mengucap syukur! Tetaplah percaya!

Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. (Kolose 4:2)

Yuk kita berdoa:

Bapa Surgawi,

Saya mengucap syukur atas kehendak-Mu yang sempurna di dalam hidup saya. Semua yang Kau berikan sungguh amat baik dan saya menerima-Nya dengan penuh sukacita dan syukur.

Tuhan saya percaya bahwa Tuhan akan menyelesaikan semua yang Tuhan kerjakan sampai selesai, sampai sempurna. Karena Engkaulah awal dan akhir, Alpha dan Omega. Saat Kau memulai, pasti Kau juga yang akan mengakhiri.

Itu sebabnya dengan iman aku bersyukur karena aku sudah menerima semua yang aku minta dalam doaku. Terima kasih banyak, Tuhan, buat kasih-Mu. Jiwaku sungguh menyadarinya dan itu adalah suatu kehormatan besar bagiku.

Tuhan, saya mau berdoa buat semua teman yang membaca artikel ini. Saya percaya kalau mereka bisa membaca artikel ini sampai selesai, Engkau juga sedang dan sudah menjawab semua doa mereka: dengan cara-Mu, dengan waktu-Mu, sesuai kekayaan dan kemurahan-Mu di dalam Yesus Kristus.

Biarlah apapun yang terjadi dalam hidup kami, entah itu pilihan 1 atau pilihan 2, semuanya itu sungguh dapat memuliakan nama-Mu, sungguh dapat menyukakan hati-Mu. Karena itulah tujuan kami ada, untuk menyembah Engkau, Allah, Tuhan kami, Theos.

Segala hormat, kemuliaan, dan pujian hanyalah bagi nama-Mu, Tuhan. Sebab Kau layak, sungguh layak, teramat layak menerima semuanya itu dan itupun belum cukup untuk mengungkapkan seluruh keagungan dan kebesaran-Mu yang begitu luar biasa.

Terima kasih ya Tuhan. Doa ini kami panjatkan dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.

Amin.

NB:

Thanks Ko Hendra, berkat share koko kemaren siang, pas saya nulis ini saya jadi bisa masukin yang koko bilang. Mantap, Ko!

Cerita: Perjalanan

Teman-teman, saya punya cerita lagi. Jadi kemarin saya dan orang tua saya menempuh perjalanan ke suatu kota untuk mengunjungi seorang keluarga di sana. Oh ya, sebelum saya lupa, saya ingat dulu saya pernah menulis cerita yang sejenis.

Kalau tidak salah judulnya “Menikmati Perjalanan”. Siapa tau teman-teman ada yang mau baca, silakan😀. Saya akhir-akhir ini sedang terheran-heran dan terkagum-kagum sendiri. Karena ada begitu banyak hal tak diduga yang terjadi, setelah disadari hal itu seperti potongan puzzle yang tepat!

Tadi pagi ketika saya ke belakang, saya membaca sebuah buku. Buku ini saya sudah miliki sekian lama. Judulnya “7 Rahasia Menuju Kematangan Rohani” yang ditulis oleh Paul Estabrooks. Temen-temen tau tidak, waktu saya buka ternyata yang saya buka itu judulnya “Menikmati Perjalanan”. Padahal saya tidak atur! Bukankah Tuhan Yesus itu luar biasa dahsyat?

Ok kembali ke cerita hari ini. Jadi pada malam sebelumnya, mata saya sangat mengantuk. Lelah sekali karena saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Sehari-hari memang segala yang saya lakukan banyak sekali berkutat dengan menggunakan mata: mulai dari menulis di laptop, posting di dua jenis jejaring sosial, bekerja online di salah satu website, mengurusi usaha baru saya juga, sampai ke komunikasi pun menggunakan laptop dan satu perangkat komunikasi yang memang banyak menggunakan mata dalam pengoperasiannya.

Jadi pada saat kemarin saya dan orang tua saya berangkat ke kota lain, mata saya dalam keadaan mengantuk dan sangat lelah. Tapi Tuhan memang sangat baik! Di sepanjang perjalanan saya dapat lihat hamparan pohon yang begitu hijau. Ya! Di sepanjang jalan.

Dalam salah satu mata kuliah yang dulu saya pelajari, mata lelah memang paling baik disegarkan dengan melihat yang hijau-hijau, yaitu pepohonan, dedaunan, rerumputan. Jadi saya sangat bersyukur, mata saya cukup mendapatkan kesegaran dengan melihat hamparan hijau itu.

Tapi tak urung, setelah beberapa saat menikmatinya, mata saya mengantuk juga. Jadi saya pun memejamkan mata beberapa saat. Ah nikmatnya! Saya percaya itulah surga dunia (paradise) itu😀. Yah, ini hanya mendramatisasi saja😀. Maksud saya adalah saat sudah begitu lelah dan bisa istirahat, itu sungguh suatu karunia yang luar biasa.

Jadi kalau teman-teman juga masih bisa tidur nyenyak setelah lelah beraktivitas seharian, itu karunia. Yuk kita bersyukur untuk karunia bisa tidur nyenyak. Karena ternyata ada juga orang yang sulit tidur nyenyak.

Kembali lagi ke cerita tadi, singkat cerita saya dan kedua orang tua saya sampai ke tempat keluarga yang akan kami kunjungi. Lalu kami bersama-sama pergi ke satu pusat perbelanjaan yang ada di kota itu.

Di sini yang akan menjadi pusat cerita saya. Di pusat perbelanjaan itu, kami melihat-lihat ada begitu banyak barang yang dijual. Barang-barang dengan kategori sejenis pun variannya begitu banyak.

Ada satu kejadian menarik terjadi di sana. Salah satu teman dari keluarga yang kami kunjungi membawa troli belanja. Pada saat sedang melihat-lihat barang, tiba-tiba saja seorang anak membawa troli itu! Teman dari keluarga itu lalu mengejar anak itu dan membawa kembali troli tersebut.

Setelah itu, ketika sedang mendorong troli, tiba-tiba ada satu orang yang membawa troli dengan kecepatan yang cukup tinggi. Untung saja tidak menabrak troli teman keluarga kami.

Lalu saya melihat-lihat barang yang ada di sana. Kami membeli beberapa barang yang memang dibutuhkan. Saya melihat ada satu barang yang menarik di sana: botol air minum. Botol air minum itu warnanya emas, bentuknya menarik. Saya pegang dan perhatikan botol tersebut.
Tetapi karena memang saya tidak membutuhkannya, saya kembalikan ke rak dan tidak membelinya. Ya jelas, untuk apa beli kalau tidak butuh kan?

Orang tua saya juga membeli sejumlah barang yang memang dibutuhkan. Lalu setelah selesai dari pusat perbelanjaan dan setelah berbincang-bincang dengan keluarga yang kami kunjungi, kami pun akhirnya pulang kembali ke kota asal kami. Perjalanan yang sangat menyenangkan.

Ketika sampai di rumah, saya merenung:

“Bukankah hidup ini seperti suatu perjalanan?”

Peristiwa di pusat perbelanjaan itu merupakan analogi dari hidup ini sendiri. Misalnya dalam masalah pasangan hidup. Begitu banyaknya barang yang ada di pusat perbelanjaan itu menggambarkan begitu banyaknya pilihan yang dapat dipilih menjadi pasangan hidup.

Hanya saja, dari sekian banyak itu tentu tidak semua bijak untuk dipilih. Kalau saya membeli barang yang butuh saja itu berarti saya bicara tentang saya hanya akan memilih pria yang memang sesuai dengan kebutuhan saya, bukan keinginan saya.

Sekian banyak barang yang dapat dipilih, itu juga bicara tentang memilih pasangan yang layak dipilih. Kalau memang sudah menikah jelas-jelas tidak perlu dipikirkan lagi, apalagi dipilih. Kalau memang sudah punya tunangan atau pacar, itu juga jelas-jelas tidak usah dipikirkan lagi.

Jadi, saya hanya perlu berkonsentrasi pada pria yang memang saya butuhkan. Seperti ketika saya melihat botol minuman yang menarik warna dan tampilannya tapi tidak saya butuhkan, berarti saya juga tidak perlu terlalu mengindahkan penampilan luar karena bukan itu kebutuhan saya.

Kalau buat saya, barang yang luar biasa itu adalah barang yang warnanya menarik, bentuknya juga indah, fungsinya mutakhir, tapi harganya juga bagus😀. Kalau saya analogikan dengan pria (bukan maksud saya pria = barang lho, ini hanya bentuk penganalogian saja), pria yang luar biasa itu adalah pria yang penampilan luarnya menarik, bentuk komunikasinya indah (mampu memahami), mampu berfungsi sebagai pria secara mutakhir (sebagai penyedia kebutuhan/provider, sebagai pelindung/protector, sebagai teman diskusi dan bertukar pikiran/best friend, dan sebagai kekasih/lover), tapi karakternya juga bagus (sabar, jujur, setia, bertanggung jawab, pekerja keras, sopan, tulus, dan lain-lain).

Mengenai hal ini sudah sering dibahas di artikel-artikel terdahulu. Silakan teman-teman cari saja kalau memang berminat. Maaf, saya tidak ingat letak persisnya. Jadi silakan cari di kategori relationship dan romance.

Ok, kembali lagi ke cerita tadi. Barang yang luar biasa belum tentu barang yang saya butuhkan. Pria yang luar biasa belum tentu pria yang saya butuhkan. Mengapa? Kalau barang itu hanya saya inginkan tapi tidak saya butuhkan, untuk apa saya beli? Kalau pria itu hanya saya inginkan tapi tidak saya butuhkan, untuk apa saya pilih?

Barang yang tepat adalah barang yang luar biasa dan dibutuhkan. Pria yang tepat adalah pria yang luar biasa dan dibutuhkan. Apakah kategori dibutuhkan itu? Kalau bagi saya, tidak lain dan tak bukan: pria itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tuhan Yesus dan memiliki hati bagi sesama. Di luar itu, berarti pria itu bukan pria yang saya butuhkan.

Kog bisa begitu? Karena itulah yang menjadi kerinduan hati saya untuk ada dalam hidup saya. Jadi saya jelas butuh pria yang memiliki kerinduan yang sama. Saya sungguh percaya bahwa pasangan hidup itu memang memiliki jiwa yang sama, gairah (passion) yang sama.

Nah, lalu ada apa dengan kejadian dengan 2 troli itu? Troli itu menggambarkan persaingan dalam pencarian pasangan hidup. Saya pikir tidak perlu untuk berebut troli orang lain. Toh masih banyak troli yang ada di pusat perbelanjaan itu. Hanya diperlukan usaha untuk bisa kembali ke tempat troli itu diletakkan dan mengambil troli yang tersedia.

Saya juga pikir tidak perlu mengemudikan troli dengan kecepatan cukup tinggi sampai hampir menabrak troli lain. Itu namanya tidak mengendarai troli dengan cantik.

Pemilihan pasangan hidup bukanlah suatu kompetisi. Bukan juga suatu permainan. Pemilihan pasangan hidup adalah masalah iman. Dibutuhkan pergumulan dengan Tuhan untuk bisa memilih yang tepat.

Sebagaimana saya memilih barang yang saya butuhkan, begitu pula saya memilih pasangan yang saya butuhkan. Nah seperti orang tua saya yang membeli sejumlah barang yang dibutuhkan, begitulah Bapa Surgawi juga bisa memilihkan pria yang tepat untuk saya.

Saya hanya perlu untuk bertanya kepada-Nya:

”Siapakah pria yang memang tepat untuk saya?”

Kalau teman-teman ada yang menghadapi hal yang sama dengan saya, nah teman-teman bisa mulai tanya pada Tuhan:

“Siapakah pasangan yang memang tepat untuk saya?”

Pasangan yang tepat itu pasti tidak akan pernah menyalahi isi Firman-Nya. Jadi kalau si dia sudah bersuami/beristri, jelas tidak tepat. Kalau si dia itu sesama gender, jelas tidak tepat karena Tuhan memang menciptakan Hawa untuk Adam, bukan Adam untuk Adam atau Hawa untuk Hawa.

Selebihnya mengenai ciri-ciri pasangan hidup yang tepat bisa teman-teman baca di artikel “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”. Silakan cari sendiri ya? Anggap saja rumah sendiri😀.

Pemilihan pasangan hidup ini adalah persoalan serius yang harus didoakan dan digumulkan dengan baik. Mengapa? Karena efeknya sangat panjang sampai maut memisahkan.

Jadi kalau ini yang menjadi permasalahan teman-teman dan juga saya, jelas kita perlu doakan dan pikirkan secara sungguh-sungguh, bukan? Lah kalau beli barang juga kita pikir-pikir dulu, timbang-timbang dulu, lihat-lihat dulu barang ini bagus atau tidak; masa kalau pilih pasangan hidup tidak begitu? Jelas harus lebih serius lagi bukan?

Cerita hari ini cukup sampai di sini. Yuk kita berdoa,teman-teman:

Bapa yang Maha Baik,

Terima kasih untuk perjalanan yang sangat menyenangkan yang saya sudah lewati. Terima kasih lewat perjalanan itu, Tuhan membukakan sesuatu kepada saya yang bisa saya bagikan kepada teman-teman yang membaca artikel ini.

Tuhan untuk setiap kami yang sedang menantikan pasangan hidup, yang sedang mencari pasangan hidup, biarlah kami menaruh pilihan kami pada pilihan yang bijak, yaitu dengan mengandalkan Engkau sebagai pemilihnya. Karena pengetahuan kami terbatas, kami tidak bisa melihat dan mengerti seseorang sampai ke kedalaman hatinya. Tetapi Engkau bisa, Engkau sanggup.

Tuhan untuk setiap kami yang sedang menantikan jawaban doa dari-Mu mengenai kehidupan kami mengenai studi, pekerjaan, usaha, dan lain-lain, biarlah kami menaruh harapan kami kepada Engkau. Karena Engkau adalah dasar yang teguh dan tak tergoyahkan. Kami bisa dengan yakin untuk menaruh pengharapan kami kepada Engkau dan tidak dikecewakan, karena Engkau adalah Allah yang setia. Haleluya!

Itu sebabnya biarlah kami juga memiliki hikmat dan kepekaan dari-Mu sehingga kami dapat mengerti kehendak-Mu yang baik, berkenan, dan terutama yang sempurna. Pimpinlah kami senantiasa, Tuhan, supaya dalam setiap langkah hidup kami, dalam setiap pemikiran, perkataan, perbuatan, dan kehendak kami; semuanya itu bisa menyukakan hati-Mu.

Terima kasih, Tuhan Yesus untuk semuanya. Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanyalah bagi nama Tuhan.

Amin.

Cerita: Jatuh

Teman-teman, ini saya kembali lagi. Bagaimana kabar teman-teman semua? Luar biasa baik pastinya kan? Kalau tidak baik, tidak apa-apa. Saya akan temani teman-teman malam ini dengan cerita saya.

Malam ini di sini hujan deras. Sepertinya memang latar belakang (background) yang pas sekali untuk saya menuliskan cerita hari ini. Sebenarnya saya sudah punya rencana untuk menulis cerita lain untuk artikel hari ini.

Tetapi hari ini terjadi sesuatu hal yang membuat saya berpikir bahwa saya hari ini harus menulis hal yang lain. Sebelum saya masuk ke cerita hari ini, saya mau tanya dulu.

Teman-teman sudah baca artikel “Cerita: Sendalku Sayang, Sendalku Malang”? Kalau belum, baca dulu ya. Mengapa? Sebab artikel itu yang menjadi latar belakang dari artikel hari ini.

Kalau teman-teman sudah baca, saya akan lanjutkan cerita saya. Sesudah kejadian di artikel “Cerita: Sendalku Sayang, Sendalku Malang” mami saya memberikan saya sendalnya. Saya senang sekali karena sendalnya ringan, empuk, tipis, dan enak sekali dipakai di rumah. Warnanya putih.
Mami saya memberi tahu saya:

“Sendal ini boleh dipakai, tapi jangan dipakai kalau ke kamar mandi. Licin soalnya.”

Karena sendal ini milik mami saya aslinya, memang sedikit terlalu besar dibandingkan kaki saya. Tapi saya senang memakai sendal ini, alasannya yang tadi itu: ringan, empuk, enak dipakai. Sebut saja sendal ini si putih.

Saya kadang-kadang masih pakai sendal lama saya yang hitam itu (sebut saja si hitam). Yah, di rumah saja tidak masalah lah pakai si hitam😀. Tapi setelah saya coba si putih, saya jadi terbiasa dengan si putih daripada si hitam. Si hitam pun saya letakkan begitu saja di lantai kamar saya.

Hari ini seperti biasa saya melakukan aktivitas saya. Pada siang hari, karena tidak hati-hati, saat turun tangga saya jatuh. Saat itu saya kira-kira ada di tangga ketiga dari bawah. Ketika jatuh, saya kaget dan juga sakit sekali.

Mami saya melihat dengan jelas kejadian itu. Beliau datang ke saya dengan kepanikan yang sangat jelas di mata dan di suaranya. Saya saat itu tidak bisa bangun karena sakit di bagian (maaf) pantat saya.

Pelan-pelan mami saya memegang tangan saya dan saya pun setelah rasa kaget dan sakit itu mereda, dengan berpegangan pada mami saya, saya pun bangun dari posisi jatuh itu. Puji Tuhan, saya tidak apa-apa!

Setelah itu, mami saya datang ke kamar saya membawa arak gosok. Saya berkata padanya kalau saya tidak apa-apa. Tapi mami saya ingin memastikan saya tidak apa-apa, jadi mami saya membalurkan arak gosok itu.

Uhm.. saya merasa sangat disayang. Pada saat papi saya pulang, mami saya cerita pada papi saya. Papi saya pun kaget. Saya baru tahu bahwa ternyata mereka sangat sayang pada saya😀.

Papi saya langsung berkata untuk membuang saja si putih. Padahal saya masih suka dengan si putih. Lalu mami saya memberikan sendal lain lagi buat saya. Sendalnya warna pink dengan dasar coklat. Cantik sekali. Jauh lebih tebal dari si hitam, apalagi si putih. Bentuknya juga jauh lebih manis.

Saya sih tidak terlalu memikirkan masalah bentuknya. Buat saya, yang penting fungsinya. Kalau bentuknya cantik tapi dipakainya tidak enak, saya juga malas memakainya. Hanya untuk situasi-situasi tertentu saja yang memang membutuhkan penampilan baru saya pakai. Selebihnya ya sendal nyaman saja hahahaha.

Kejadian tadi siang membuat saya bertanya-tanya. Apa maksud Tuhan di balik kejadian itu? Saya tau Dia luar biasa berkuasa. Ia Elshadai, Allah Maha Kuasa. Dia mencintai saya. Dia juga menjaga saya. Dia juga menuntun langkah saya. Itu saya tau dengan jelas.

Peristiwa saya jatuh itu membuat saya merenung. Bukankah kalau Dia Elshadai, seharusnya Dia sanggup mencegah saya untuk jatuh? Bukankah ada tertulis:

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Saya jatuh itu bukankah itu kecelakaan? Tidak disengaja? Lalu bukankah Firman Tuhan itu berkata bahwa Ia membuat “rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada saya hari depan yang penuh pengharapan”?

Lalu mengapa Tuhan biarkan saya mengalami jatuh? Mengapa Tuhan biarkan saya mengalami kecelakaan? Mengapa Tuhan biarkan saya begitu sakit? Mengapa Tuhan biarkan saat saya merasa begitu kaget? Mengapa Tuhan biarkan saat saya bahkan beberapa saat tidak sanggup berdiri karena begitu sakit?

Lalu saya diingatkan-Nya:

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9)

Saya berpikir, apakah ayat di Yeremia 29:11 dengan di Yesaya 55:8-11 itu bertolak belakang? Jawabannya: Tidak!

Saya berpikir menurut hal yang saya pikirkan, Tuhan berpikir menurut yang Dia pikirkan. Analoginya: seorang anak kecil kalau ditanya tentang balon gas menurut dirinya, mungkin ia hanya bisa mengatakan balon gas itu warnanya merah. Balon gas ada talinya. Balon gas bisa terbang. Balon gas bisa pecah. Mungkin seperti itu.

Tetapi kalau pertanyaan yang sama tentang balon gas ditanyakan pada seorang ilmuwan fisika, jawabannya jelas akan berbeda jauh. Bisa jadi ilmuwan fisika ini malah akan memberikan suatu penemuan mutakhir mengenai balon gas.

Kembali ke masalah saya jatuh dan pertanyaan saya tadi. Ketika saya dengan pikiran saya yang terbatas (walaupun Tuhan menciptakan saya sangat amat baik, tetap saja ada batasnya) mencoba untuk mengetahui pemikiran Tuhan yang luar biasa tak terbatas, jelas itu tidak terlalu mudah.

Tetapi:

“Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam. Lalu Daniel memuji Allah semesta langit” (Daniel 10:14)

Saya yakin teman-teman semua sudah tau tentang Daniel. Sekedar melengkapi cerita saja, Daniel adalah seorang yang memiliki roh yang luar biasa (Spirit of Excellence), seorang yang sangat mengasihi Tuhan dan berani mengambil resiko apapun demi tetap mengasihi Tuhan.

Daniel-daniel di zaman sekarang ini adalah kita semua. Karena Roh Kudus-Nya yang dicurahkan kepada kita, kita bisa memiliki roh yang luar biasa, mengasihi Tuhan, dan berani mengambil resiko apapun demi tetap mengasihi Tuhan. Haleluya!

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5)

Itu sebabnya, saya tidak perlu kecil hati kalau saya belum seperti Daniel karena Ia sendiri yang memberikan kasih-Nya ke dalam hati kita oleh karena Roh Kudus. Begitu juga kalau teman-teman seperti saya, tidak perlu kecil hati. Kita bisa memiliki roh yang luar biasa itu, kita bisa sangat mengasihi Tuhan, dan berani mengambil resiko apapun demi mengasihi Tuhan.

Apakah karena diri kita? Karena kehebatan kita? Kebaikan kita? Kejujuran kita? Ketulusan kita? Kesetiaan kita? Ketaatan kita? Kesucian kita? Bukan! Itu semua karena Dia yang memberikan kita kasih-Nya oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita! Pendek kata: karena kasih karunia-Nya. Anugerah-Nya. Hadiah cuma-cuma. Gratis. Tidak pakai bayar. Haleluya!!

Nah, kalau begitu, bukankah saya bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan? Bukankah teman-teman bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan? Bukankah kita semua bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan?

Ya! Bisa! Karena kasih karunia-Nya. Puji nama Tuhan!

Kalau begitu, lantas apa alasan Bapa Surgawi membiarkan saya jatuh? Teman-teman, pada saat saya jatuh dari tangga, berbagai peristiwa di masa lalu saya terbersit dalam pikiran saya.

Saat itulah saya mengerti, alasan Tuhan membiarkan saya jatuh dari tangga. Bukan karena Ia tidak mencintai saya. Bukan! Bukan karena Ia tidak menjaga saya. Bukan! Bukan karena Ia tidak menuntun saya. Bukan!
Lalu, karena apa? Ketika saya merenungkan masa lalu saya, saya mendapati bahwa terdapat beberapa pilihan yang saya ambil secara keliru. Entah itu dalam pemilihan pasangan, dalam pemilihan proyek, dan bidang lainnya. Saya menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan petunjuknya dengan begitu jelas di Alkitab tentang cara-cara seseorang untuk hidup sesuai kehendak-Nya. Ya, di Alkitab semua sudah tertulis jelas.

Kalau saya dengan nekatnya (katakanlah begitu) mengambil sendiri pilihan itu dengan mengabaikan petunjuk yang Tuhan berikan, apakah Tuhan yang salah? Saya jadi ingat bahwa Mami saya sudah mengingatkan saya:

“Sendal ini boleh dipakai, tapi jangan dipakai kalau ke kamar mandi. Licin soalnya.”

Mami adalah seorang wanita. Wanita memiliki fungsi sebagai penolong. Penolong adalah representasi dari Roh Kudus. Nah, Roh Kudus sudah memperingatkan saya. Sebagai contoh masalah pasangan hidup:

“Hey, di Alkitab ada tertulis begini lho. Jangan berpasangan dengan yang tidak sepadan.”

(Siapa tau teman-teman berminat untuk membaca masalah kesepadanan ini, bisa dibaca di “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”)

Tapi saya langgar saja. Nah ketika hubungan berakhir, eh saya menyalahkan pasangan saya. Saya bertanya kepada Tuhan,

“Lho kog begini sih Tuhan?”

Ini saya bukan menyalahkan atau menghukum diri sendiri. Bukan juga karena saya mengingat-ingat masa lalu atau belum lepas dari masa lalu. Bukan, teman-teman. Tenang, jangan salah paham😀. Saya hanya bercerita supaya memberikan ilustrasi yang jelas😀.

Dulu saya sering berpikir:

“Saya sudah mengasihi dirinya semampu saya bisa mengasihi. Lalu apa salah saya?”

Dalam hubungan karena melibatkan 2 orang, jelas 2 orang ini punya andil untuk membuat hubungan itu berhasil atau gagal. Saya terlalu senang menyalahkan orang lain untuk memikul tanggung jawab bahwa ya memang saya punya andil untuk kegagalan itu.

Mengapa? Karena saya tidak mengikuti peringatan Roh Kudus dari awal… Ah, kebenaran memang seringkali tidak mengenakan bukan? Siapa sih yang suka dikatakan, “Hey kamu salah!”?

Hanya saja, itulah kebenaran! Peristiwa saya jatuh dari tangga itu membukakan pikiran saya untuk mengerti. Untungnya, Tuhan itu baik! Ia terlalu baik!

Dia tidak pernah membiarkan saya sendiri ketika sedang bersedih, ketika saya tak sanggup lagi. Seperti mami saya memegang tangan saya, mengangkat saya ketika saya jatuh, mengoleskan arak gosok kepada saya; itu juga yang Tuhan lakukan kepada saya!

Wow, bukankah Dia sungguh baik? Anak-Nya yang tidak mengindahkan kata-kata-Nya dan malah ngotot sendiri dengan kemauannya, setelah gagal menyalahkan Bapanya, tetapi Bapanya tetap tidak tinggalkan Dia sendiri.

Ketika dulu saya masih larut dalam perasaan marah, benci, sakit hati, kecewa; saya masih ingat dengan jelas papi saya dengan bijaknya berkata:

“Pasti Tuhan beri yang lebih baik.”

Papi saya bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia lebih banyak memperhatikan saya dalam diam. Pada saat saya meminta nasihat, baru ia memberi nasihat. Tetapi papi saya suka bertanya juga, mengenai kehidupan saya, teman-teman saya, orang-orang yang dekat dengan saya. Papi saya adalah teladan bagi saya.

Papi adalah seorang pria. Pria memiliki fungsi sebagai seorang pemimpin. Pemimpin adalah representasi dari Bapa sendiri. Ya, saya bersyukur sekali bahwa Tuhan memberikan saya papi yang luar biasa hebat! Dari papi saya, saya bisa mengerti dengan mudah mengenai kasih Bapa Surgawi. Haleluya! Segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan!

Ketika si putih membuat saya terjatuh, papi saya dengan tegasnya mengatakan:

“Buang saja sendal itu.”

Tegas. Pendek, Tepat. Saya ingat pada saat peperangan dalam pikiran saya berkecamuk, berbagai emosi negatif muncul juga muncul pemikiran:

“Sudah, maafkan dan lupakan. Sudah berlalu.”

Tetapi, rasa ego saya memang terlalu besar. Rasa disakiti, merasa tidak layak diperlakukan tidak adil setelah mencintai, mendukung, melakukan yang terbaik untuk seseorang; itu terlalu mendominasi pikiran saya.

Ah, bukan salah Bapa Surgawi yang sudah menyatakan dengan jelas maksud hati-Nya di Alkitab kalau memang saya tetap ngotot dengan perasaan ego saya itu. Ya kan?

Tapi seperti papi saya yang tidak pernah memaksa saya, begitu juga Bapa Surgawi. Bapa Surgawi tidak pernah memaksa saya untuk mengambil suatu keputusan. Ia sabar. Perlahan-lahan, Ia membuat saya mengerti.

Bukankah begitu indah kasih Bapa Surgawi kepada saya? Saya sungguh bersyukur karena Ia membukakan hal-hal indah dari peristiwa kecil sehari-hari dalam hidup saya. Kasih-Nya terlalu besar.

Setelah saya jatuh, saya harus bangkit tentu saja. Seperti saat jatuh dari tangga, pada saat saya mengalami kegagalan dalam bidang apapun saya harus bangkit.

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16)

Ya, sebagai orang yang dibenarkan karena pengorbanan Kristus di kayu salib, saya menjadi orang benar. Teman-teman juga demikian. Jadi, kalau saya jatuh, saya harus bangun kembali. Kalau teman-teman jatuh, teman-teman harus bangun kembali. Kalau kita jatuh, kita harus bangun kembali.

Mengapa?

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,oleh Dia yang telah mengasihikita. (Roma 8:37)

Kita adalah lebih daripada orang-orang yang menang! Karena siapa? Karena kita berkemauan keras? Karena kita bertekad kuat? Karena kita tegar? Karena kita tidak cengeng? Bukan! Tetapi karena Tuhan yang telah mengasihi kita! Wow! Puji Tuhan!

Sesudah kejadian itu, mami saya datang ke kamar saya. Kami ngobrol-ngobrol tentang kejadian saya jatuh dari tangga. Lalu mami saya mengeluarkan satu pernyataan yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal:

“Untung, (maaf) pantat kamu besar.”

Sampai sekarang saya masih tersenyum-senyum saat mengingat itu. Tempat saat saya jatuh, di situlah tempat saya bangkit. Di situlah Tuhan beri satu kekuatan.

Apakah cerita saya suatu hal yang familiar bagi teman-teman?😀 Kalau ya berarti saya pikir kita punya banyak kesamaan. Itu juga yang membuat Tuhan mendorong dan menggerakkan teman-teman untuk bisa membaca artikel ini sampai selesai😀.

Teman-teman, Tuhan terlalu mencintai kita semua. Kasih-Nya terlampau besar! Begitu dalam cinta-Nya Ia pada kita! Sampai-sampai kalaupun kita nakal, bandel, dan tidak mengikuti kehendak-Nya, Ia tetap mencintai kita. Ia tidak tinggalkan kita!

Pada saat kita jatuh, Ia tidak memandang kita dengan kesal. Ia memandang kita dengan penuh kasih. Kasih-Nya tidak berubah.

Kalau ada di antara kita yang saat membaca ini merasa bahwa kita sudah bangkit dan menjadi lebih dari menang, saya bersyukur! Puji Tuhan! Haleluya! Yuk kita sebarkan berita kebaikan Kristus, bagi teman-teman lain yang belum bangkit, yang masih jatuh, yang masih kalah.

Kalau ada di antara kita yang saat membaca ini merasa ada sesuatu yang memang membuat kita tidak bisa maju ke masa depan, terikat kegagalan dan kejatuhan di masa lalu, yuk kita terima kebenaran bahwa kita adalah orang-orang yang benar, dibenarkan karena Kristus yang membenarkan kita, dan kita lebih dari pemenang. Yuk kita semua bangkit!

Nah, akhirnya saya sudah sampai di ujung artikel hari ini. Maaf teman-teman, saking bersemangatnya saya jadi lupa kalau sudah cukup panjang artikel ini😀. Yuk kita berdoa.

Doa saya hari ini:
Bapa yang Maha Baik yang kami kenal dalam nama Tuhan Yesus,
Terima kasih buat kebaikan-Mu dalam hidup kami. Terima kasih buat kasih-Mu yang terlalu besar. Terima kasih karena Engkau selalu beserta kami. Terima kasih karena Engkau menerima kami apa adanya. Terima kasih karena Engkau begitu mencintai kami.

Bapa, bagi kami yang telah menang, biarlah roh kami terus bernyala-nyala sehingga kami dapat melayani-Mu dengan lebih lagi. Lebih setia. Lebih sungguh. Lebih baik. Lebih dan lebih lagi. Bukan demi kami, tapi demi-Mu. Bukan demi kemuliaan kami, tapi demi kemuliaan-Mu.

Ya Roh Kudus, bangkitkanlah dan sebarkanlah Spirit of Excellent di tengah-tengah kami. Dengan demikian, kami bisa terus melakukan yang terbaik, mengasihi-Mu lebih lagi, dan rela membayar harga untuk bisa mengasihi-Mu. Ini semua bukan karena kami hebat, baik, jujur, setia, penuh dedikasi, dan penuh ketulusan, tetapi karena Engkau yang terlebih dahulu mengasihi kami. Semua yang kami miliki itu adalah kasih karunia-Mu. Kami bersyukur, Tuhan. Haleluya.

Bapa, bagi kami yang masih jatuh, yang masih terpuruk, biarlah kami menyadari posisi kami. Biarlah kami mengerti kebenaran. Dengan demikian kami bisa bangkit dan menjadi terang. Berilah kami hati yang MAU, HAUS, dan LAPAR akan kebenaran-Mu.

Ya Roh Kudus, gantikanlah hati kami dengan hati yang baru. Hati yang lembut. Hati yang mau senantiasa diajar kebenaran-Mu. Hati yang taat. Hati seorang hamba. Dengan demikian, kami bisa terus melakukan yang terbaik, mengasihi-Mu lebih lagi, dan rela membayar harga untuk bisa mengasihi-Mu.

Roh Kudus, ini doaku. Biarlah Engkau bekerja lebih lagi dan lagi, untuk menyentuh hidup dan hati setiap teman yang membaca artikel ini. Teruslah bekerja dengan sebebas-bebasnya untuk mengubahkan hati dan hidup setiap teman yang membaca artikel ini. Biarlah kasih, kuasa, dan karunia-Mu tercurah bagi kami semua.

Segala pujian, hormat, dan kemuliaan, hanyalah bagi nama-Mu, Yesus. Sebab Kau layak terima segala pujian, penyembahan, dan kemuliaan dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya.

Amin

Cerita: Seleting

Halo teman-teman. Pagi yang indah! Hari ini saya bangun dengan antusias dan senyum lebar! Saya doakan teman-teman juga demikian, ya?😀

Hari ini saya ingin bercerita tentang seleting. Kejadiannya sudah agak lama tapi baru sempat saya tuliskan sekarang.

Jadi ceritanya begini. Suatu hari saya ingin memakai suatu celana pendek di rumah. Karena berat badan saya meningkat sebelumnya dan saya sedang dalam proses menurunkannya lagi, saya pun berpikir:

“Masih muat ga ya?”

Setelah dipakai, ternyata cukup. Tapi ketika saya menarik seletingnya, oh oh oh. Kepala seleting itu meluncur keluar dari relnya. Terlepas dari rel seletingnya dan dari celana pendek itu.

Ermmm, yah kog lepas seletingnya? Jadi tidak bisa dipakai lagi dong. Saya lalu akhirnya menyimpan celana pendek itu dan kepala seletingnya di ranjang atas. Tujuannya supaya nanti bisa diperbaiki atau diganti.

Jadi sebagai gambaran saja, ranjang saya itu ranjang susun. Di bawah itu tempat saya tidur. Di ranjang atas itu tempat menyimpan barang2.

Ok, kembali ke seleting itu. Saya sudah melupakan masalah celana pendek dan seletingnya. Sampai suatu hari, ketika saya berjalan di kamar, tiba-tiba jempol kaki saya menginjak sesuatu.

Saya lihat ke bawah. Ternyata kepala seleting itu ada di lantai. Tepat mengenai jempol kaki saya. Seleting ini kecil tapi kalau terinjak ternyata sedikit sakit juga.

Tepat saat saya kepala memungut seleting itu, selintas satu hal terbersit di pikiran saya:

“Bukankah sebenarnya seleting itu mewakili hal-hal yang kelihatannya kecil tapi kalau diabaikan berpotensi menjadi besar dan merusak/menyakiti?”

Ketika pikiran itu muncul di pikiran saya, saya jadi teringat cukup banyak hal yang mewakili seleting itu di hidup saya. Bisa jadi daftar seleting ini jadi daftar teman-teman juga, saya juga tidak tau. Tapi ya siapa tau kita punya kesamaan, jadi kita bisa belajar bersama untuk memecahkannya.

Saya berpikir, daftar seleting saya adalah cepat tersinggung tapi menyimpannya di dalam hati, tidak cepat memaafkan, suka membicarakan orang lain, membuat asumsi sendiri tentang orang lain, egois, keras kepala, menganggap diri sendiri paling benar, cuek. Errrmm, kog banyak sekali ya jadinya setelah didaftar😛.

Daftar seleting (baca: daftar dosa) ini kelihatannya hal yang normal dan sehari-hari. Tapi sebenarnya seleting adalah seleting. Dosa adalah dosa. Tidak ada dosa besar atau dosa kecil. Di Alkitab tidak disebut dosa besar dan dosa kecil.

Ketika menginjak seleting, jempol kaki saya sedikit terasa sakit. Ketika saya melakukan dosa “kecil”, awalnya mungkin tidak terasa tapi perlahan-lahan mulai terasa sakit dan akhirnya menjadi besar.

Kapan saya menyadari saya menginjak seleting? Ketika saya menunduk ke bawah dan akhirnya melihat seleting itu. Kapan saya menyadari saya melakukan dosa “kecil”? Ketika saya menunduk ke bawah merendahkan diri, dan akhirnya melihat dosa itu.

Dari pertama kali saya menulis di blog, saya sudah berdoa bahwa apapun yang saya tulis saya berdoa itu adalah untuk kemuliaan Tuhan. Itu sebabnya akhir-akhir ini saya terdorong untuk menulis lebih dari segi kelemahan saya dan bukan dari segi kelebihan saya, seperti yang dulu saya lakukan.
Mengapa? Dasarnya ada di ayat ini:

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9)

Saya bisa bermegah atas kelebihan saya tentu saja. Kalau teman-teman tanya, saya bisa menyebutkan daftarnya juga. Tapi dari sekian banyak hal yang saya alami, saya belajar bahwa saat saya bermegah atas kelebihan saya, maka pujian yang diberikan itu porsi untuk saya lebih banyak.

Sementara saat saya bermegah atas kekurangan saya, porsi pujian yang diberikan itu sepenuhnya untuk Tuhan. Mengapa? Karena memang Dialah yang pantas untuk menerima pujian tersebut.

Saya sungguh bersyukur bahwa saya dikelilingi oleh begitu banyak malaikat tanpa sayap di sekeliling saya juga malaikat dengan sayap (cerita tentang ini silakan cari di cerita “Cinta Ketiga: Malaikat”. Silakan teman-teman cari di “Daftar Isi”). Sekali lagi, terima kasih para malaikatku!

Merekalah yang entah dengan cara manis atau pahit, cara lembut atau cara keras, cara yang tidak saya sadari atau saya sadari, membuat saya menunduk ke bawah, merendahkan diri, dan akhirnya melihat dosa itu.

Seringkali saya tidak sadar bahwa yang saya lakukan itu adalah dosa. Saya sungguh bersyukur bahwa Tuhan begitu mencintai saya, sehingga ia memberikan orang-orang yang mau mengoreksi saya.

Saya sedang dalam proses untuk mengalahkan dosa-dosa ini. Saya berdoa prosesnya cepat. Hanya saja ketika saya mencoba realistis, kebiasaan buruk tertanam lama untuk mengubahnya butuh waktu. Tapi ketika saya menyerahkan semuanya kepada Tuhan, saya percaya bahwa Ia akan membantu saya untuk mengalahkan semua dosa itu dengan kuasa kebangkitan-Nya atas maut dan dosa. Haleluya! Puji nama Tuhan Yesus!

Teman-teman, apakah ada di antara teman-teman yang juga memiliki daftar seleting yang sama seperti yang saya miliki? Saya yakin kalau jawaban teman-teman itu “ya” itu sungguh bukan kebetulan teman-teman hari ini bisa membaca artikel ini. Kalaupun daftar seleting kita berbeda, tapi prinsip yang sama tetap dapat diterapkan.

Yuk kita sama-sama berdoa dan berusaha untuk semakin dekat dengan Tuhan. Hanya saat kita makin dekat Tuhan, kita dapat kekuatan untuk mengatasi dosa-dosa kita. Karena kalau kita ingin menggunakan pendekatan dari sisi manusia saja, yaitu kemauan, tekad, dan usaha keras; itu tidak cukup.

Kita perlu memliki kemauan, tekad, dan usaha keras. Tapi kalau hanya itu saja tanpa Tuhan, tetap saja tidak akan bisa diperoleh hasil terbaik. Kita butuh Tuhan! Itu sebabnya Tuhan Yesus mati bagi kita. Demi menebus dosa kita. Demi kita bisa hidup. Demi kita bisa menang atas dosa. Puji Tuhan!

Kita memiliki Tuhan yang luar biasa. Ia tidak terbatas! Ia Maha Dahsyat! Itu sebabnya kita bisa dengan yakin meminta pertolongan-Nya untuk membantu kita benar-benar menang atas daftar seleting kita masing-masing.

Sebelum saya menutup artikel hari ini dengan doa, saya ingin membagi sesuatu dengan teman-teman. Subuh hari ini, seorang teman yang tidak terlalu akrab dengan saya tiba-tiba mengirimkan satu ayat kepada saya lewat satu jejaring sosial yang saya ikuti.

Saya heran juga. Lalu saya cari ayat yang teman saya ini kirimkan. Ketika saya buka dan baca, saya pun menyadari. Ternyata memang akibat dosa-dosa yang ada, saya menjadi tidak layak. Itu sebabnya Tuhan lalu dengan kemurahan-Nya membantu saya untuk mengatasi dosa itu.

Ah, segala pujian hanya bagi nama-Nya. Sungguh Dia sangat ajaib! Ia hebat! Ia besar! Ia mulia! Ia menakjubkan!

Saya ingin menutup artikel ini, tapi sekali lagi Dia membuat saya terpana! Heran! Takjub!

Baru saja saya membaca satu renungan singkat yang masuk melalui perangkat komunikasi saya. Dari situ saya menemukan dua ayat yang bagus sekali untuk melengkapi artikel ini.

Ayat pertama:

“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.” (1 Yohanes 2:1)

Ayat pertama ini adalah untuk melengkapi keterangan saya di atas mengenai kita butuh Tuhan.

Ayat kedua:

“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:1-11).”

Ayat ini untuk melengkapi keterangan saya mengenai untuk menang atas dosa. Selain itu juga membuka untuk penjelasan lebih lanjut. Saya jadi diingatkan akan kecenderungan saya yang lain untuk menghukum diri sendiri ketika menyadari telah berbuat dosa.

Apa ada teman-teman yang juga memiliki kecenderungan yang sama? Seperti saya diingatkan Tuhan untuk tidak menghukum diri sendiri karena Ia juga tidak menghukum saya, yuk teman-teman juga tidak menghukum diri sendiri. Kita perlu bangkit dan menjadi terang.

Haleluya, Puji Tuhan! Kedua ayat itu saya percaya merupakan senjata yang Tuhan beri bagi kita semua untuk mengalahkan dosa.

“Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” (Roma 13:12)

Puji Tuhan! Ketika saya ingin menyelesaikan artikel ini, kembali saya diberikan satu sumber lain untuk melengkapi artikel ini:

http://www.grahacmc.org/the-shepherds-voice/road-to-revival-part-3-lembah-kekelaman

Silakan teman-teman baca sendiri dan bersyukur buat kebaikan Tuhan yang tak pernah habis-habisnya. Selalu baru setiap hari. Tidak pernah kebetulan. Ia sangat sempurna. Pertolongan-Nya tepat waktu! Haleluya.

Nah saya sudah sampai pada akhir artikel ini. Yuk kita sama-sama berdoa:

Bapa,

Terima kasih buat setiap hal yang sudah Bapa berikan bagiku. Setiap kelebihan dan setiap kelemahanku, segenap tubuh, jiwa, dan rohku, semua aku berikan kepada-Mu. Biarlah Tuhan, Engkau pakai itu semua demi kemuliaan nama-Mu. Saya juga berdoa hal yang sama untuk semua teman yang membaca artikel ini. Supaya bisa mempersembahkan semua yang ada dalam diri mereka bagi kemuliaan nama-Mu.

Tuhan, saya mau berdoa buat kami semua. Saya dan juga teman-teman yang membaca artikel ini. Kiranya Tuhan sendiri yang terus bekerja untuk membongkar habis semua seleting-seleting dalam diri kami dan membuat kami bangkit untuk tidak berbuat dosa lagi.

Terima kasih, Tuhan. Kuasa darah-Mu memampukan kami untuk menang atas dosa. Itu sebab-Nya kami dapat bersuka cita karena memang Engkaulah landasan suka cita kami. Kemenangan kami. Sumber pengharapan. Sumber pujian kami.

Terpujilah Engkau, Tuhan, sampai selama-lamanya.

Amin.

Cerita: Segelas Teh Melati

Selamat pagi, teman-teman! Bagaimana kabarnya? Hari ini saya mau bercerita tentang segelas teh.

Mengapa teh? Karena saya suka sekali minum teh😀, terutama teh melati. Saya pernah menyeduh teh melati saat teh melatinya dalam bentuk kemasan teh celup. Biasanya saya menyeduh teh melati dalam bentuk daun tehnya yang langsung dicelup. Jadi tidak pakai kemasan celup.

Setiap kali menyeduh teh melati, saya pasti sempatkan untuk mendekatkan gelas berisi teh melati itu ke hidup saya. Saya hirup. Aroma teh melati yang harum masuk ke dalam rongga hidung saya. Pelan-pelan hirup. Ah, nikmattt!

Teman-teman, ternyata saat saya mencelup teh melati dalam bentuk kemasan teh celup dan dalam bentuk daun teh begitu saja, hasil aroma melatinya berbeda jauh!

Dari yang sudah saya lakukan, pada saat saya menggunakan teh melati dalam bentuk kemasan teh celup, aromanya tidak terlalu keluar. Padahal, pada saat saya menghirup aroma dari teh melati itu sebelum diseduh, aromanya kuat sekali.

Berbeda saat menghirup aroma dari teh melati yang bukan dalam bentuk kemasan. Memang saat pertama sebelum diseduh, aromanya juga kuat tapi saat diseduh aroma kuatnya itu lebih terlepas lagi.

Ketika saya meminum secangkir teh melati nikmat, hangat, dan lezat, tiba-tiba saya teringat akan sebuah film: “Forrest Gump” yang dibintangi oleh Tom Hanks. Di sana ada 1 adegan yang mengatakan

“Life is like a box of of chocolate”

Nah saya akan mengganti coklat itu dengan teh melati.

“Life is like a cup of warm jasmine tea”.

(“Hidup itu seperti segelas teh melati hangat)

Ketika saya renungkan, saat saya ingin mendapatkan segelas teh melati yang nikmat, hangat, dan lezat, saya memiliki dua pilihan. Pilihan pertama: saya bisa menggunakan kemasan teh melati dalam kemasan celup. Pilihan kedua: saya bisa menggunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya.

Pilihan pertama (gunakan teh melati kemasan celup) tentu saja sangat praktis. Saya tidak perlu lagi menyaring daun tehnya. Tinggal seduh. Celup. Tunggu sebentar. Jadi. Instan. Cepat. Praktis. Mudah.

Pilihan kedua (gunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya) tentu saja sangat tidak praktis. Saya harus menyaring daun tehnya atau kalaupun tidak, saat meminumnya saya harus hirup perlahan-lahan. Maksudnya supaya teh melati itu tidak termakan tentunya😀. Tidak instan. Repot. Perlu usaha lebih.

Kalau hanya melihat dari usahanya, untuk mendapatkan segelas teh melati hangat tentu saja saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua. Toh akhirnya saya sama-sama dapat teh melati hangat juga.

Hanya saja, kalau saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat seperti yang saya inginkan, pilihan saya tidak lain dan tidak bukan adalah pilihan kedua.

Karena hidup ini seperti segelas teh melati yang hangat, saya juga memiliki pilihan dalam hidup. Apakah saya ingin memilih jalan yang instan? Mudah? Cepat? Praktis? Ataukah saya ingin memilih jalan kedua: tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Kalau hanya segelas teh melati hangat saja, saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat; apalagi dengan hidup saya.

Saya berpikir bahwa ketika saya ingin sebuah hidup yang memang sungguh diperkenan oleh Tuhan, saya harus mengalami proses peningkatan (improvement) dan pengembangan (development). Dalam prosesnya juga ada 2 jalan: Jalan pertama adalah jalan yang mudah, cepat, praktis. Jalan kedua adalah jalan yang tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Dalam menghadapi kedua pilihan ini, mana yang harus saya pilih? Pada saat dihadapkan pada pilihan mudah, instan, dan cepat tapi hasilnya tidak optimal dengan pilihan tidak instan, repot, dan perlu usaha lebih tapi hasilnya optimal, mana pilihan yang harus saya ambil? Kalau saya ingin teh hangat, nikmat, dan lezat saya harus ambil pilihan kedua. Begitu juga dalam hidup, saya harus ambil pilihan kedua.

Saya yakin hal ini adalah hal yang bisa jadi dialami oleh teman-teman semua. Jadi bukan hanya saya saja. Saya percaya bahwa dalam hidup kita mendapatkan kedua pilihan ini.

Kalau ada dari teman-teman yang sedang mengalami seperti yang sedang saya alami, kira-kira apa pilihan teman-teman semuanya? Saya yakin teman-teman bisa memilih sendiri pilihan yang terbaik bagi teman-teman.

Doa saya hari ini:

Terima kasih, Tuhan, untuk segelas teh melati hangat, lezat, dan nikmat yang Tuhan berikan. Seperti saya suka teh semacam itu, saya juga suka hidup yang semacam itu. Biarlah saya bertekun dalam pilihan kedua ya, Tuhan, karena saya tau ini yang Tuhan mau saya kerjakan.

Bagi teman-temanku yang membaca artikel ini, Tuhan Engkau juga yang tau hal yang terbaik bagi mereka. Kiranya kalau ada dari mereka yang saat ini juga mengalami hal yang sama seperti yang saya alami, biarlah Tuhan yang tuntun mereka sendiri untuk memilih hal yang paling tepat.

Terima kasih, Yesus, buat kasih-Mu yang tak berkesudahan, selalu baru setiap hari. Kasih-Mu yang tak pernah gagal. Kasih-Mu itu memampukan kami untuk terus berjalan hari lepas hari dan tidak menjadi letih. Tidak menjadi kendor. Tidak menjadi lesu. Tetap kuat! Tetap segar! Tetap semangat!

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31)

Apapun yang terjadi dalam hidup kami, biar kami tetap teguh berjalan sesuai kehendak-Mu. Karena kami tau, kehendak-Mu itu adalah yang terbaik bagi kami.

Terima kasih, Tuhan Yesus. Ya, Roh Kudus, berbicaralah terus bagi kami, ubahkan hati kami, dan buat kami menjadi baru. Biarlah lewat hidup kami, nama-Mu akan dipermuliaan.

Segala hormat, pujian, kemuliaan, hanyalah bagi nama Tuhan. Sebab Engkau yang layak, sangat layak, untuk dapatkan semuanya itu.

Amin.

Awan Tag

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: