All for Glory of Jesus Christ

For the Love of Myself

For the Love of Myself” judul yang saya angkat pada notes kali ini kalau diterjemahkan adalah untuk cinta pada diriku sendiri. Hm.. mungkin bagi sebagian yang membaca judul notes ini akan berpikir bahwa saya akan membahas masalah narsis (cinta diri secara berlebihan) atau masalah keegoisan.

Hahahaha, maaf mengecewakan Anda karena bahasan kali ini bukan tentang itu. Mungkin pada kesempatan lain :). Kali ini saya mau bicara mengenai mencintai diri sendiri. Kedengarannya aneh? Semoga tidak :).

Markus 12:30-31: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.

Dalam hukum kasih itu tercatat 2 hal, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Hal yang sering luput dari perhatian justru adalah kata seperti dirimu sendiri. Seringkali saat membaca ayat ini fokus kita entah pada Tuhan atau pada sesama, jarang kita fokus pada diri sendiri.

Mengapa hal ini menjadi perenungan saya? Karena kita seringkali lupa.. saat kita mengasihi Tuhan, saat kita mengasihi sesama; tanpa kita mengasihi diri kita sendiri, itu sangatlah sulit. Mengapa? Saya akan mengutip dari

Matius 9:17: Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.

Bagaimana kita dapat mengasihi Tuhan dan sesama (analogi mengisi anggur baru), bila kita sendiri dalam keadaan hancur dan luka (analogi kantong kulit yang tua). Bila kita teruskan, yang terjadi adalah kita akan semakin lelah dan semakin luka (analogi kantong yang koyak), yang bila diteruskan akan menghancurkan diri kita pada akhirnya (analogi kantong hancur), dan tidak mencapai penggenapan rencana-Nya bagi kita (analogi anggur yang terbuang).

Pemulihan diri adalah awal bagi kita untuk kita dapat mengasihi diri kita, mengasihi Tuhan, dan mengasihi sesama. Dari yang saya amati pada umumnya sulitnya kita mengasihi diri sendiri sumbernya ada dua hal. Hal yang pertama adalah rasa tertolak, terluka, kepahitan, yang keseluruhannya itu karena ada sesuatu yang belum kita selesaikan di masa lalu. Sumber yang kedua adalah dosa yang kita lakukan.

Secara sederhana saya akan katakan, pemulihan diri berawal saat kita mampu memaafkan orang-orang yang menyakiti kita, memaafkan diri sendiri, dan mungkin juga memaafkan Tuhan (bila ada yang marah dan kecewa pada Tuhan), serta berbalik dari jalan kita yang salah kembali pada Tuhan, meninggalkan segala dosa kita di belakang. Intinya adalah berdamai dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Kunci memaafkan adalah MAU. Ya hanya 1 kata itu, MAU. Bila Anda mau memaafkan, maka Anda akan pulih. Bila Anda mau memaafkan, maka Anda akan bisa memaafkan. Kunci dari bertobat adalah MAU. Ya sama dengan memaafkan. MAU. Asalkan Anda mau, maka Anda akan bisa.

Mungkin akan ada sebagian dari Anda yang akan berkata:

“Tetapi luka saya terlalu dalam”,

“Tetapi orang-orang itu telah menyakiti saya demikian rupa dan mereka tidak meminta maaf, masa saya harus memaafkan mereka?”,

“Tetapi orang-orang yang menyakiti saya itu tidak pantas untuk dimaafkan, mereka terlalu parah”,

dan lain sebagainya.

Saya mau katakan bahwa memaafkan dan mengampuni bukan bicara tentang diri orang lain, tetapi bicara tentang diri Anda sendiri. Memaafkan dan mengampuni bicara tentang membebaskan diri Anda dari suatu ikatan yang merusak dan mengikis diri Anda.

Memaafkan dan mengampuni bicara tentang kemerdekaan yang perlu Anda miliki. Ya, saat Anda membenci, saat Anda mendendam, saat Anda tidak mau memaafkan; saat itulah Anda sesungguhnya berada dalam penjara yang Anda ciptakan sendiri. Untuk bebas tergantung keputusan Anda.

Jika Anda mau mengampuni, namun tidak memiliki kekuatan, Anda dapat meminta pertolongan Roh Kudus untuk memampukan Anda. Kita semua terbatas, namun kita dapat selalu minta pertolongan dari Sumber segala Sumber: Allah sendiri. Ia telah memberikan Roh Kudus dalam hati kita untuk memampukan kita, menguatkan kita. Hal yang perlu kita lakukan hanya meminta.

Matius 7:7: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Mungkin ada sebagian dari Anda yang akan berkata:

“Tetapi saya sudah terlalu rusak”,

“Tetapi saya sudah sebegitu parah”,

“Apakah Tuhan mau mengampuni saya?”,

“Mungkinkah saya masih bisa berubah jadi baik?”

Saya mau katakan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar atau terlalu buruk untuk diakui dan Tuhan mau mengampuni dosa Anda. Bila Anda bersungguh-sungguh mau berubah, maka Anda dapat berubah. Kuncinya hanya kata MAU.

Bila ada di antara Anda yang tertusuk saat membaca notes ini, saya meminta pada Anda untuk membuka hati Anda dan datang pada Tuhan. Lakukan sekarang juga, jangan tunda-tunda lagi! Lakukan hal sebagai berikut:

1. Mintalah terang Roh Kudus untuk menyinari hati dan pikiran Anda untuk dapat mengingat setiap kejadian-kejadian menyakitkan dan mengecewakan yang Anda alami. Mungkin Anda akan dibawa jauh ke masa lampau, bahkan saat Anda masih kanak-kanak.

Jangan tutup pikiran Anda, tetapi teruslah biarkan Roh Kudus bekerja membuka semuanya itu. Ini akan menjadi tahap yang menyakitkan, tetapi minta terus kekuatan dan penerangan dari Roh Kudus.

Daniel 2:22: Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya.

2. Akuilah segala luka, kepahitan, rasa tertolak, rasa benci yang ada di hati Anda. Biar Tuhan yang menghiburkan dan menyembuhkan Anda.

Yehezkiel 34:16: Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.

Ya, Tuhan begitu rindu untuk memulihkan Anda, datanglah pada-Nya.

3. Ambillah langkah untuk mengampuni. Katakan bahwa Anda mau mengampuni, namun tidak mampu mengampuni dengan kekuatan sendiri, dan mintalah pertolongan Roh Kudus untuk dapat mengampuni secara total. Ampuni setiap orang yang telah menyakiti Anda, ampuni diri sendiri, dan ampuni Tuhan juga (jika Anda merasa marah terhadap Dia)

Matius 6:12b: seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

4. Setelah itu bila ada dosa yang teringat, akuilah itu juga dan minta ampunlah pada Tuhan. Bila kita sungguh-sungguh menyesal, Tuhan adalah Allah yang setia dan adil. Ia akan menyucikan kita dari segala dosa.

1 Yohanes 1:9: Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

5. Setelah itu berkomitmenlah dengan sungguh-sungguh untuk berubah. Bukan hanya sekedar niat tetapi juga diwujudnyatakan dalam perbuatan nyata.

Yakobus 2:22: Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

Berniat itu berarti suatu bentuk iman, meyakini akan berubah, tetapi tidak cukup hanya yakin akan berubah. Dalam hal ini, tindakan nyata sebagai buah pertobatan menjadi kunci.

6. Setelah selesai, ambillah waktu untuk membaca Firman Tuhan dan lakukan secara rutin dalam hidup Anda sebagai waktu khusus untuk bersama Dia. Hal ini penting untuk mengisi pikiran Anda dengan kebenaran-Nya dan biarkan Firman-Nya mengoreksi dan mengajar Anda

2 Timotius 3:16: Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Mengampuni dan mau bertindak untuk bertobat itu awal dari pemulihan, tetapi untuk total mengasih diri sendiri, Anda perlu berjalan dari waktu ke waktu bersama dengan Tuhan dalam tuntunan Firman-Nya.

Biarlah kita menjadi seperti dalam

Matius 9:17b: Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.

For the love of myself, mari kita mulai dari diri sendiri, untuk kemudian bergerak ke mencintai Tuhan dan sesama.

Amin.

Iklan

Comments on: "For the Love of Myself" (8)

  1. FB Comment from MPDJ:
    Iya c, mirip2 gt.
    Dpt sesuatu yg baru dr Mat 9:17.
    Thx c.

  2. FB Comment from PI:
    jeng ini memang ahlinya deh dalam merangkai kata @_@

  3. FB Comment from RS:
    Thank you for such a blessing. Free Blessing pula 😛
    Gbu

  4. FB Comment from LH:
    Hm.. aku pernah dengar tentang kesaksian dari Tv.. penting bagi kita untuk mengampuni diri kita dulu.. baru kita mengampuni orang lain.. makanya di dalam Doa Bapa Kami ada tertulis…
    Ampunilah kami.. seperti kami kami juga mengampuni orang …yang bersalah kepada kami..
    Ampunilah kami… kami juga belum tentu lebih benar dan jauh lebih bersih daripada mereka
    Ampunilah mereka yang bersalah kepada kami..

    Intinya.. berdamai dengan diri kita dulu… baru berdamai dengan orang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: