All for Glory of Jesus Christ

I, You, and God

Topik kali ini yang akan saya angkat berjudul “I, You, and God” atau kalau diterjemahkan berarti “Saya, kamu, dan Tuhan”. Konteks topik ini adalah prapacaran, pacaran, or bahkan kehidupan pernikahan.

Sering kita lihat saat orang PDKT (pendekatan – pra pacaran) atau yang lebih banyak terjadi itu saat pacaran, terlihat jelas kedekatan antara dua insan. Kemana-mana berdua, kalau ada si wanita berarti ada si pria. Kalau ada si pria, berarti ada si wanita. Ke mana-mana selalu bersama.

Seperti botol dengan tutupnya, seperti amplop dengan lemnya (atau skarang selotip ya hahahah), seperti bunga dengan tangkainya. Pokoknya lengket ket ket, dekat kat kat. Dunia rasanya milik berdua.

Orang lain jadi ngontrak, ngekost, nyewa deh hahahahaha. Ya itulah hal-hal yang biasa kita lihat.Menarik sekali untuk mengalami atau memperhatikan fenomena itu. Buat yang belum mengalami jangan iri ya hahahha, nanti ada waktunya tersendiri kog. Ingat,

Pengkotbah 3:11a: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Dalam kehidupan ini tidak semuanya berjalan mulus, lancar-lancar, baik-baik, indah-indah saja, tidak demikian. Seringkali yang terjadi adalah masalah datang menghadang. Saat masalah datang, saat itulah ujian akan hubungan dimulai.

Ya, dari segi manusia dibutuhkan kepercayaan, komitmen, kesetiaan, kejujuran, komunikasi yang baik, saling menghormati, saling mencintai, saling mengerti, saling menghargai, menerima apa adanya, menempatkan kepentingan pasangan dan anak-anak (kalau sudah berkeluarga) sebagai yang lebih utama dari kepentingan pribadi dan masih banyak lagi saling yang lain. Namun ada satu elemen yang sangat penting tapi seringkali terlupakan. Elemen itu adalah Tuhan.

Mungkin Anda akan mengatakan:

“Ah, kamu terlalu fanatik, segala-segala dikaitkan dengan Tuhan. Apa hubungannya Tuhan dengan relationship atau kehidupan pernikahan?”

Kalau misalnya itu yang Anda katakan, saya akan katakan:

“Semuanya dan segalanya.”

Suatu hubungan (pra pacaran/pdkt, pacaran, dan pernikahan) semuanya diinisiasi (diawali) oleh Tuhan. Tidak percaya? Coba tanyakan pada yang sudah menikah bagaimana mereka bertemu, kemudian menjalin hubungan pacaran, sampai ke akhirnya pada menikah dan kehidupan pernikahan.

Dari sekian banyak cerita yang terkumpul, hanya satu kesimpulan yang bisa diambil, yaitu karena Tuhan memang menghendaki demikian dan memang adalah inisiatif dari Tuhan suatu hubungan bisa terbentuk (lihat pada kasus Adam dan Hawa pada Kejadian 2:18-25 yang memang sangat terlihat jelas).

Dalam Tuhan tidak ada yang kebetulan, karena Ia terlalu berkuasa untuk dikalahkan dan ditentukan oleh hal-hal yang sifatnya kebetulan.

Mengapa faktor Tuhan ini mengambil peranan sentral dalam setiap hubungan yang kita jalin? Bahkan bukan hanya dalam setiap hubungan yang kita jalin, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan kita, peranan Tuhan begitu krusial dan sentral.

Sebab memang segala sesuatu bermula dari Dia, kita diciptakan untuk memenuhi panggilan-Nya, yaitu untuk memuliakan Dia dalam apapun yang kita lakukan.

Kolose 3:23: Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Maka tak heran apabila orang tidak berfokus pada Dia, ada sesuatu yang hilang dan makin lama akan terasa ada sesuatu yang kosong dalam dirinya. Hal ini akan saya bahas dalam kesempatan mendatang.

Seringkali dalam hubungan kita berfokus pada aspek horisontal. Hubungan antara aku dan dia (I and You). Ya ini tidak salah, dalam prapacaran, dalam pacaran, dan bahkan dalam pernikahan, kita perlu fokus pada aspek horisontal ini.

Dalam prapacaran, kita perlu mengenal si dia dengan lebih baik lagi, apa yang dia sukai, yang tidak disukai, visi dan misinya, pandangan hidupnya, karakternya, dst.

Dalam pacaran, kita perlu menyelami lebih jauh lagi mengenai rencana hidupnya dan kehidupannya.

Dalam pernikahan, bahkan kita tidak akan berhenti untuk terus mengenali si dia (dari cerita orang yang sudah berpuluh-puluh tahun menikah pun, katanya selalu bisa menemukan hal-hal baru dalam diri pasangannya).

Fokus pada aspek horisontal antara I and you ini baik dan memang perlu, tetapi bukan menjadi satu-satunya hal yang terpenting. Masih ada 2 aspek lagi, yaitu aspek vertikal antara I and God dan you and God, ya antara aku dan Tuhan, serta antara dia dan Tuhan. Suatu hubungan yang kokoh pada dasarnya harus seperti segi tiga, yang setiap unsurnya tidak boleh terlepas dan harus saling terhubung satu dengan yang lain. Sisi pertama adalah aspek horisontal, hubungan I and you, antara aku dan kamu.

Dalam prapacaran hal yang paling sulit adalah pada saat ada sosok lain yang muncul. Namun hal ini tidak akan menjadi masalah apabila aspek yang kedua, yaitu aspek I dan God, cukup kuat. Karena pada

Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Ya, bukan hal yang mudah untuk mengerti hal ini, karena pada dasarnya kita ingin hal-hal yang baik yang terjadi dalam hidup kita. Tetapi saat kita tidak hanya berfokus pada aspek I and you, sebaliknya berfokus pada aspek yang kedua, kita akan mengerti bahwa Tuhan adalah Allah atas segalanya, termasuk dalam hubungan kita.

Bila memang Ia berkehendak bahwa si dia adalah jodoh kita, Tuhan bisa membuka jalan untuk kita. Sebaliknya jika si dia bukan untuk kita, sengotot-ngototnya pun kita untuk mendapatkan dia tidak akan bisa.

Saya tidak berkata bahwa jadi orang harus tanpa perjuangan atau serba pasrah, tidak demikian. Tetapi kita perlu mengetahui dan bijak, sampai sebatas mana hal yang perlu kita lakukan dan perjuangkan, dan sampai batas mana kita perlu berserah pada Tuhan.

Pada dasarnya saat kita ngotot itu karena kita tidak ingin kehilangan dirinya, kuatir kehilangan dirinya. Padahal dalam hubungan prapacaran bahkan pacaran sekalipun, belum ada suatu janji sehidup semati yang terucap. Jadi jangan kuatir.

Filipi 4:6-7: Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Ingatlah selalu Tuhan adalah Allah atas segala sesuatu, termasuk atas hubungan. Ia adalah Allah yang peduli dan sebegitu pedulinya dia pada kita, Ia menginsiasikan hubungan. Jadi tenang saja. Toh kalau dia bukan untuk kita, pasti Tuhan sudah sediakan yang lebih baik, yang lebih sepadan.

Bagi yang pacaran juga begitu. Ya kita mengusahakan aspek horisontal I and you, tetapi kalau misal aspek I and you itu gagal dan semua langkah positif telah ditempuh, jangan berkecil hati.

Jangan menjadi pahit, jangan menjadi kecewa. Ya secara manusiawi wajar untuk kecewa. Harapan yang terbangun merupakan sumber kekecewaan saat tidak tercapai. Itu sangat rasional. Akan tetapi ingat, masih ada aspek I and God. Kejar aspek ini.

Bahkan dalam aspek pernikahan pun, banyak pasangan yang telah mengalami pasang surutnya kehidupan. Banyak yang mengalami kehancuran aspek I and you ini, tetapi saat mereka tidak hanya berfokus pada satu aspek itu, namun juga memperhatikan aspek I and God serta aspek yang ketiga, yaitu aspek you and God, kehidupan pernikahan mereka menjadi manis kembali. Luar biasa!

Matius 6:33: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Aspek yang ketiga yang tak kalah pentingnya, adalah aspek you and God, aspek hubungan si dia dengan Tuhan. Seberapa si dia benar-benar fokus pada Tuhan, itu sangat menentukan laju dan jalannya hubungan.

Untuk prapacaran, pacaran, atau bahkan dalam pernikahan, hal ini menjadi sangat penting. Tidak cukup hanya aspek I and you-nya saja yang baik, tidak cukup hanya aspek I and God-nya saja yang baik, tetapi dibutuhkan aspek you and God untuk menjadikan hubungan itu sempurna.

Tanpa ketiga aspek itu, hubungan tidak akan berjalan seperti semestinya dan akan timpang bahkan hancur. Kalau mau melihat secara micro bahkan kita perlu melihat per unsur.

Dalam segitiga ada tiga titik sudut, yaitu faktor I, faktor you, dan faktor God. Apakah hubunganku dengan diri sendiri sudah baik? Apakah aku sudah berdamai dengan diri sendiri? (lihat “For the Love of Myself“). Apakah hubungannya dengan dirinya sudah baik? Apakah dia sudah berdamai dengan dirinya?

Saya akan akhiri notes ini dengan mengutip kata-kata yang terdapat dalam sebuah souvenir penikahan yang terjadi pada 25 November 2001. Kata-katanya sangat indah sehingga saya putuskan untuk menyimpannya sampai hari ini. Bunyinya adalah sebagai berikut:

Marriage Takes Three
Marriage takes three to be complete;
It’s not enough for two to meet.
They must be united in love
By love’s Creator,
God above.
A marriage that
follows God’s plan
Takes more than
a woman and man.
It needs a oneness
that can be
Only from Christ-
marriage takes three.

Amin.

Iklan

Comments on: "I, You, and God" (2)

  1. FB Comment from FS:
    amin…
    serasa jadi baca renungan pagi sebelum kuliah nti neh..hehe..
    thx buat notes-ny..
    trus berkarya..

    • Hehehee, tapi renungan di area relationship terus hahahaha :). Sip2, buat tambah2 renungan pagi kamu juga. Sama2, thx ya :), senang kalau bisa jadi berkat. Amin, memang itu harapan saya, biar bisa terus berkarya dan menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: