All for Glory of Jesus Christ

Cinta = luka?

Cinta adalah suatu warna yang indah dalam kehidupan. Cinta adalah bagaikan chord yang mengiringi musik. Cinta adalah bagaikan pelangi sehabis hujan. Ya.. indah. Tanpa chord, suatu musik akan tetap menjadi musik namun semaraknya tidak seperti musik dengan chord.

Tanpa pelangi, suasana sehabis hujan akan tetap teduh, namun tidak akan seindah bila ada pelangi. Ya, cinta adalah warna dalam kehidupan. Tanpa warna kehidupan akan terus berjalan seperti biasanya, tetapi akan kehilangan nuansanya.

Namun tidak jarang kita melihat cinta malah berbuah luka. Cinta menghasilkan kepahitan. Cinta bagaikan sembilu yang mengiris relung hati. Perih. Cinta bagaikan tragedi dan ironi yang menyakitkan. Cinta bagaikan lagu kematian dalam kehidupan. Sangat bertolak belakang bukan dengan penjabaran cinta yang pertama?

Kontes cinta yang akan saya sampaikan di sini adalah konteks cinta secara general: entah cinta Tuhan kepada manusia, cinta dalam keluarga, cinta persahabatan, ataupun cinta antara lawan jenis. Mungkin Anda akan protes, kelihatannya definisi cinta yang saya sebutkan di atas lebih dalam konteks hubungan antara lawan jenis. Oh tidak, semua konteks yang lain bisa terkait.

Ya, seharusnya cinta itu memang indah, membahagiakan, menghidupkan. Lalu mengapa harus ada cinta yang menyakitkan, pahit, melukai, bahkan mematikan? Apakah cinta itu sendiri salah? Pada dasarnya cinta bersumber dari Allah. Ya, Allah adalah kasih, Allah adalah cinta.

1Yohanes 4:8: Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Di dalam-Nya, tidak ada kebencian, tidak ada kepahitan, tidak ada kematian. Lalu, bila cinta itu memiliki sumber yang satu dan sama, mengapa hasilnya bisa berbeda-beda?

Hal yang terjadi berkaitan dengan respon kita terhadap cinta, tepatnya terhadap kata-kata, sikap, perlakuan yang dilakukan orang yang kita cintai. Bahkan tidak berhenti sampai di situ. Ekspektasi dan impian kita berkaitan dengan cinta juga turut mempengaruhi hal tersebut, bahkan dalam porsi yang besar.

Pernah mengamati dua orang yang sedang jatuh cinta pada lawan jenis? Anggaplah yang sedang jatuh cinta ini pria. Lalu misalnya kedua pria ini mengalami patah hati pada hari yang sama, karena si wanita yang dicintai ternyata tidak menerima cinta keduanya.

Misalkan cara si wanita menolak kedua pria ini sama, tidak dengan kata-kata kasar, dengan baik-baik, namun tegas (tidak memberi harapan). Pertanyaannya adalah, dengan begitu banyak kesamaan, apakah yang dialami kedua pria ini pada akhirnya sama?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Kalau kita hanya meninjau sampai saat si wanita menolak kedua pria ini, kesannya sama sampai di situ. Tapi kalau rentang waktunya kita geser ke belakang, mungkin sekitar satu bulan setelah penolakan terjadi, apakah yang akan dialami kedua pria ini sama? Kemungkinan besar akan berbeda.

Mengapa saya bisa mengatakan apa yang dialami kedua pria di atas setelah rentang waktu tertentu kemungkinan besar akan berbeda? Ya, apa yang mereka alami tergantung dari reaksi mereka terhadapnya.

Misal pria yang satu mengganggap penolakan itu adalah hal yang biasa walau tidak sesuai dengan yang diharapkan. Jadi setelah misalnya kurang lebih seminggu atau dua minggu (ya pria juga butuh waktu untuk melangkah, pria kan punya perasaan juga hahahha), pria pertama sudah menjalani hidupnya dengan seperti biasanya (sebelum penolakan terjadi).

Misalkan pria kedua merasa sangat kecewa dengan penolakan tersebut. Hal yang ia lakukan adalah memikirkan ulang, apa letak kesalahannya, apa yang seharusnya dilakukan, mengapa hal itu bisa terjadi, dst.

Lalu dia berpikir, kalau seandainya dia melakukan hal yang berbeda, mungkinkah hasilnya akan berbeda pula? Kalau seandainya dia menunggu lebih lama, mungkin tidak akan ditolak, dst.

Hal yang terjadi pada umumnya akan membutuhkan waktu yang lama (bisa satu bulan, 3 bulan, 1 tahun, atau bahkan bertahun-tahun) untuk si pria kedua bisa menjalani hidupnya seperti biasanya (sebelum penolakan terjadi).

Menarik bukan kedua kenyataan di atas? Walaupun dua hal yang saya ungkapkan tersebut merupakan kasus fiktif, tetapi saya yakin dua hal tersebut akan banyak sekali terjadi dalam kenyataannya. Saya akan memberikan kasus yang lain.

Dalam keluarga, dua orang anak perempuan memiliki seorang ayah yang sibuk. Kedua anak perempuan ini ingin bermain dengan sang ayah, namun sang ayah hanya memiliki waktu di malam hari (setelah selesai pulang kantor).

Apakah yang dialami kedua anak tersebut sama? Ya sama, tetapi apakah mereka akan bereaksi hal yang sama? Belum tentu. Bisa saja anak yang satu merasa kecewa dan uring-uringan karena tidak bisa bermain dengan si ayah, sendangkan anak yang lain dapat mengerti hal itu dan menunggu sampai si ayah pulang untuk dapat bermain dengan sang ayah. Anda lihat bukan perbedaannya?

Dua orang anak dalam keluarga yang sama, dengan ayah yang sama, dengan situasi yang sama, tapi karena respon dan ekspektasi yang berbeda.. maka akan mengakibatkan hasil yang berbeda. Menarik? Sangat!

Lalu mengapa orang bisa memiliki respon yang berbeda terhadap suatu hal yang sama? Banyak hal bisa mempengaruhi. Faktor pendidikan dalam keluarga, interaksi dalam lingkungan sosial, cara pikir terhadap kehidupan, nilai-nilai yang dipegang dan dianggap hal yang penting, dan masih banyak lagi faktor yang mempengaruhi.

Lalu bagaimana dengan orang yang mengalami masa lalu yang buruk? Mengalami pendidikan yang minim bahkan tidak ada dalam keluarga? Ditolak dalam interaksi dalam lingkungan sosial?

Lalu kemudian pada akhirnya memiliki cara pikir yang pesimis dan negatif terhadap kehidupan? Apakah tidak ada lagi harapan bagi mereka? Tidak! Dalam Tuhan selalu ada pengharapan.

Hal-hal yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut:
1. Mengalami pemulihan hubungan dengan diri sendiri terlebih dahulu (baca notes “For The Love of Myself” dan “Emptiness”). Setelah seseorang mengalami pemulihan dengan diri sendiri, barulah dia dapat beranjak pada langkah berikut.

2. Mengubah pola pikir yang keliru. Hal ini kelihatannya sederhana padahal sangat kompleks.

Roma 12:2: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Ya kita perlu terus mengalami pengubahan pola pikir yang keliru, sehingga pada akhirnya kita akan mengerti kehendak Allah, yaitu yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.

Berkaitan dengan pengubahan pola pikir, hal yang perlu kita lakukan adalah senantiasa berpegang pada firman Tuhan.

Ibrani 4:12: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Ya, sangat diperlukan kehidupan membaca dan merenungkan firman Tuhan secara rutin setiap hari dalam hidup kita. Hal ini merupakan syarat mutlak, syarat absolut, dan tidak dapat ditawar-tawar lagi.

3. Senantiasa menaruh pikiran dan perasaan kepada Tuhan, jadi bukan semata menggantungkan pikiran dan perasaan pada apa yang kita lihat, yang kita dengar, yang kita rasakan.

Filipi 2:5: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.

Hal ini terkait erat dengan iman.

Ibrani 11:1: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Lalu bagaimana jika kita memiliki iman yang kecil? Tidak masalah!

Lukas 17:6: Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

Biji sesawi adalah biji yang paling kecil, namun saat biji tersebut bertumbuh dapat menjadi pohon yang begitu besar. Bagaimana kita ingin iman kita bertambah? Mintalah kepada Tuhan untuk menambahkan iman kita.

Matius 7:7: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

4. Bersandar pada Tuhan senantiasa.

Mazmur 94:19: Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.

Ya, manusia tidak terlepas dari berpikir. Ya, seringkali pikiran kita sering kali menjadi musuh terbesar kita. Pada saat pikiran kita sedang bermain-main dalam benak kita, mari kita bersandar pada Tuhan. Biarlah Ia yang menghibur dan menguatkan kita.

Jadi cinta = luka? Tentu tidak! Mari kita semua mengalami berdamai dengan diri, mengubah pola pikir yang keliru, menaruh pikiran pada Tuhan, dan bersandar pada Tuhan senantiasa!

Amin.

Iklan

Comments on: "Cinta = luka?" (2)

  1. FB Comment from RS:
    “Setelah seseorang mengalami pemulihan dengan diri sendiri, barulah dia dapat beranjak pada langkah berikut.”
    Must… heal… self…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: