All for Glory of Jesus Christ

Apakah kesan yang Anda tangkap setelah membaca judul notes hari ini? Romantis? Berkesan? Indah? Suatu janji? Suatu komitmen? Indah bukan kalau seseorang mengatakan “Until Eternity I’ll be Yours” dengan penuh kesungguhan hati dan tulus?

Ya memang suatu janji yang kuat, suatu pernyataan yang kuat. Itu sebabnya dalam setiap kali pemberkatan pernikahan, biasanya saat pasangan calon suami istri saling mengucapkan janji pernikahan yang isinya kurang lebih demikian:

“Saya (sebutkan nama pribadi) menerima (sebutkan nama calon suami/istri) sebagai suami/istri saya seumur hidup saya, dalam sehat dan sakit, dalam untung dan malang. Saya akan menghormati dan mencintai (sebutkan nama calon suami/istri) seumur hidup saya.”

Janji pernikahan itu memuat suatu pernyataan yang tegas, komitmen, niat, dan kesungguhan untuk dalam kondisi apapun selamanya (sampai maut memisahkan) akan tetap setia.

Biasanya momen pengucapan janji pernikahan ini adalah momen yang sangat menyentuh. Janji pernikahan adalah suatu janji yang tidak main-main! Janji yang kuat dan merupakan suatu awal dimulainya pernikahan. Ya, pernikahan dimulai dari suatu komitment. Janji = komitmen.

Hari ini saya dibawa untuk mengetengahkan masalah komitmen. Konteks kali ini adalah komitment kita, yaitu saya dan Anda, pada Tuhan. Sebenarnya saya awalnya tidak memikirkan topik ini, tetapi tadi pagi waktu bangun seperti biasa memulai aktivitas pagi dengan ekspor barang dan saya pada umumnya (kecuali kepepet) membawa buku untuk dibaca. Buku baru yang baru saya baca dan baru 2 halaman pertama saya baca, saya langsung menangis.

Mungkin Anda heran mengapa tiba-tiba saya menangis waktu membaca buku di 2 halaman pertama? Penasaran buku apa yang saya baca? Hahahhaha, it’s been a delight for me to make all of you readers to be curious and wonder what I thought wakkakakaka.

Buku itu bukan buku novel romantis yang menjadi favorit saya hahahahha, yang juga bisa membuat saya menangis bila memang isinya menyedihkan wakkakakaka tapi sudah pasti bukan di 2 halaman pertama wakkakaka.

Buku itu judulnya “7 Rahasia Menuju Kematangan Rohani” yang ditulis oleh Paul Estabrooks. Anda ingin tahu mengapa saya tiba-tiba menangis? Dalam 2 halaman pertama itu diceritakan tentang penderitaan orang-orang percaya di Cina sebelum masa revolusi.

Di situ diceritakan tentang bagaimana banyak orang harus membayar mahal untuk sebuah harga mengikuti Yesus. Ada yang menghabiskan waktunya di penjara selama puluhan tahun dan melayani Kristus di sana.

Akan tetapi hal yang membuat saya menangis seketika adalah ketika saya membaca mengenai seorang kepala dokter yang membawahi delapan bangsal rumah sakit untuk perawatan anak.

Karena sebelum revolusi dimulai, komunisme begitu kuat di sana. Dokter ini dipaksa untuk menyangkal imannya pada Kristus. Anda tahu harga apa yang harus dia bayar untuk mempertahankan imannya?

Segalanya. Dari seorang kepala dokter, bayangkan kepala dokter (tentu gajinya mestinya cukup lumayan, prestige-nya juga tinggi) pangkat dia diturunkan menjadi…. (silakan tebak dulu)…… hahahhaha….. (sudah cukup penasaran?)… ok… menjadi pembersih WC (water closet) alias tempat ekspor tepat yang saya dan Anda gunakan tiap hari. Luar biasa ironis. Menariknya lagi saya membaca cerita itu di lokasi yang sama hahahahaa.

Si kepala dokter ini mengalami perendahan diri yang sangat luar biasa. Sebelum diturunkan pangkatnya, ia dicukur kepalanya oleh orang-orang di sana sampai setengah botak (padahal dia adalah wanita, untuk para wanita pasti mengerti sekali apa arti pentingnya rambut Anda).

Diintimidasi untuk menyangkal imannya pada Kristus, dan ketika ia ini menolak untuk menyangkali imannya, ia disebut bodoh. Ya lalu pangkatnya diturunkan dari dkepala dokter (bayangkan usaha dan perjuangannya untuk menjadi dan mencapai posisi sebagai kepala dokter) menjadi tukang bersih-bersih WC! Bisa Anda bayangkan?

Sangat tragis! Sangat ironis! Betapa tidak adilnya! Mungkin kalau mau menjerit, mau marah, mau meraung, mau muram seterusnya, itu hal yang sangat wajar baginya. Bagaimana tidak.. dari posisi kepala dokter yang mentereng.. jatuh ke posisi tukang bersih-bersih WC.

Saya tidak mengatakan menjadi kepala dokter lebih mulia dari posisi tukang bersih-bersih WC karena semua pekerjaan adalah sama mulia bila dikerjakan dengan bersungguh-sungguh seperti untuk Tuhan (Kolose 3:23), tetapi saya menggambarkan hal ini sebagai bentuk betapa seseorang dengan gaji kepala dokter bisa jatuh ke posisi tukang bersih-bersih WC. Sangat-sangat terpukul pasti!

Saya sendiri bila dalam posisi kepala dokter jatuh ke posisi tukang bersih-bersih WC pasti akan sangat down, jatuh, dan mungkin akan sulit untuk bangkit lagi. Bukan cukup sampai di situ penderitaannya. Ia harus membeli sendiri peralatan bersih-bersih WC itu dengan gajinya sendiri.

Gajinya sebagai tukang bersih-bersih yang hanya 50 Yuan harus membayar 15 Yuan untuk membeli peralatan bersih-bersihnya! Brarti 30% dari gajinya harus dikorbankan untuk pekerjaannya. Mungkin kalau saya tidak akan memberikan 30% gaji saya untuk sesuatu pekerjaan yang tidak saya sukai sama sekali.

Hal yang lebih luar biasa lagi, wanita ini melakukan pekerjaannya dengan sukacita. Luar biasa sekali bukan! Bukannya menggerutu, mengeluh, protes, tetapi malah ia bersukacita! Luar biasa!

Saya sangat tersentuh membacanya. Saya saja kalau banyak kerjaan yang menumpuk masih harus menyemangati diri saya sendiri, padahal kerjaan saya itu adalah kerjaan yang memang menjadi impian saya hahahaa. Wanita ini.. melakukan pekerjaan yang bukan pekerjaan impiannya dengan luar biasa.

Anda tahu apa akibatnya kemudian? Banyak rekan-rekan kerjanya kemudian melihat betapa berbeda si wanita ini. Walau sudah begitu ditindas, tetapi ia tetap tidak terkalahkan. Unbeatable! Unbended! Unstopable!

Ia begitu suka cita, melakukan segala sesuatu, bahkan pekerjaan yang mungkin dianggap banyak orang sebagai suatu yang hina sebagai suatu pekerjaan yang seperti untuk Tuhan. Hal ini menjadi kesaksian yang hidup bagi orang-orang lain yang melihatnya.

Saya akan mengutip langsung kata-kata yang diucapkan oleh wanita ini:

”Apabila Yesus ada di dalam hati Anda, tidak peduli apa pun pekerjaan yang Anda kerjakan atau apa pun kedudukan Anda, yang terpenting adalah Anda mengasihi dan setia pada-Nya.”

Baca lagi kalimat yang dikatakan wanita tersebut. Ia tidak mengatakan:

“yang terpenting adalah Tuhan mengasihi Anda dan Tuhan setia pada Anda.”

walaupun itu adalah suatu kebenaran.

Ulangan 5:10: tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Saya yakin ini kalau mau saya kaitkan dengan judul merupakan pernyataan “Until Eternity I’ll be Yours”. Ya, sampai ke keabadian saya adalah milik-Mu.

Suatu perkataan yang bukan sekedar tergerak oleh perasaan hati, bukan sekedar perkataan kosong, tetapi suatu komitmen yang kuat. Ya, komitmen yang membuat badai, topan, atau apapun pula yang mengobrak-abrik kehidupan tetap tidak bisa mengalahkannya.

Seperti janji pernikahan yang diucapkan

“Until Eternity I’ll be Yours, to have and to hold you, in health and sick, in wealth and poor”

Ya, itu pula janji yang diinginkan Tuhan kita ucapkan bagi-Nya. Kita semua adalah mempelai wanita Kristus.

Yesaya 62:5: Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu.

Saya akan mengulang kata-kata yang saya tuliskan pada awal notes:

“Indah bukan kalau seseorang mengatakan “Until Eternity I’ll be Yours” dengan penuh kesungguhan hati dan tulus?”

Kalau Anda saja begitu merasa hal tesebut adalah sesuatu yang indah, apalagi Tuhan kita saat kita mengucapkan:

“Until Eternity I’ll be Yours, Lord. No matter what I’ll be Yours, in health and sick, in wealth and poor… and even in busy or idle, in each and every condition.”

Anda ingin menggetarkan hati Tuhan? Seperti seseorang kekasih yang tergetar karena cinta pasangannya kepadanya, begitu juga kita dapat menggetarkan hati Tuhan. Berikan cinta Anda yang utuh pada Tuhan dalam setiap kondisi.

Biarkan cinta Anda tetap menyala-nyala kepada-Nya! Bagaimana bila cinta kita sudah pudar atau bahkan sudah mati? Bagaimana bila api itu telah meredup? Dapatkah kita memperbarui cinta kita kembali ke cinta kita yang mula-mula pada Tuhan?

Ya, jawabannya adalah dapat! Jawabannya ada di

Matius 7:7: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Bila cinta dan api itu telah kembali, bagaimana untuk menjaga api itu tetap berkobar dan bahkan semakin besar? Jawabannya selain di Matius 7: 7, juga ada di:

1. Roma 10:17: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”.

Ya, kita perlu untuk terus membaca, mendengar, dan melakukan firman Tuhan. Itu merupakan suatu cara yang wajib kita terus lakukan setiap hari untuk menjaga api cinta kita pada Tuhan tetap berkobar dan semakin besar.

2. 1 Petrus 1:14: Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,

Taatlah kepada Tuhan. Apapun yang Tuhan mau, taatlah. Itu berarti ada harga yang harus dibayar. Tetapi dibandingkan dengan darah-Nya yang sudah tercurah, harga apapun yang diminta Tuhan akan menjadi tidak sebanding.

Matius 11:29-30: Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Ya dibandingkan harga yang Tuhan berikan untuk penebusan kita, kuk/beban yang Tuhan beri bagi kita adalah ringan sebab sebatas kemampuan kita dapat menahannya.

3. Pengkotbah 4:9-10: Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!

Saling menguatkan dengan saudara seiman merupakan suatu hal yang sangat membantu kita, terutama saat kita dalam kondisi lemah. Kehadiran saudara seiman yang mendukung, menasihati, menguatkan, dan mendoakan kita akan sangat membantu kita untuk bangkit dan terus berpijar.

4. Mazmur 118:17: Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.

Menceritakan apa yang sudah kita alami bersama Tuhan pada orang lain. Kesaksian kita merupakan suatu sarana yang efektif untuk menjaga api cinta kita tetap hidup dan berkobar. Saat kita menceritakan kasih dan penyertaan-Nya dalam hidup kita, kita dapat mengingat kembali semua yang Tuhan lakukan pada kita dan itu akan membuat semangat kita kembali berkobar.

Mari katakan dengan bersungguh-sungguh dan dengan penuh kesadaran bersama-sama dengan saya:

“Until Eternity I’ll be Yours, Lord!”

Amin.

Iklan

Comments on: "Until Eternity I’ll be Yours" (2)

  1. FB Comment from KRC:
    ohohohohoho, mantabh!
    makin oke cara nulisnya.
    seperti yang cc bilang, lebih terstruktur. hehehe
    maju terus.
    GBU

    • Wakakakka, ini bukan g yang lebih hebat or terstruktur. Tapi emang g diarahin makin ke sini makin terstruktur. So yang mantabh bukan g wakkakaa. Praise the Lord. Gbu 2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: