All for Glory of Jesus Christ

Notes hari ini berjudul “Seeing Through Unveiling Eyes and Heart” atau kalau diterjemahkan adalah melihat melalui mata dan hati yang tidak terselubung. Hari ini saya akan membahas mengenai masalah iman.

Ibrani 11:1: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Hal yang bisa dibilang gampang-gampang susah. Mengapa? Karena kita semua adalah manusia yang pada umumnya perlu melihat bukti dulu baru kemudian dapat percaya. Tidak ada bukti, sulit sekali untuk percaya perkataan seseorang.

Jangankan orang yang baru kita kenal, orang yang sudah lama kita kenal saja akan sulit kita percayai kalau memang buktinya tidak ada. Mau bukti? Di Alkitab ada banyak contohnya dan saya akan mengambil salah satu di antaranya, yaitu salah satu dari murid Yesus: Thomas.

Sebagai seorang murid tentu sama Thomas sudah mengenal Gurunya. Hidup bergaul dekat dengan Yesus. Belajar dari pribadi Yesus sendiri. Hubungan guru dan murid adalah hubungan yang sangat erat saat itu karena mereka setiap hari menghabiskan waktu bersama dan murid akan mengikuti gurunya kemana pun gurunya pergi. Ya, begitu pula hubungan antara Thomas dengan Yesus.

Karena selalu bersama dan mengenal pribadi Yesus secara langsung, sudah pasti Thomas mendengar dan menyaksikan sendiri saat Yesus mengajar orang-orang banyak atau saat Yesus mengajar murid-murid-Nya dan sudah pasti melihat banyak mujizat yang ditampilkan Yesus.

Hal yang sangat menarik adalah ketika Yesus disalibkan, dikuburkan, dan kemudian bangkit, Thomas selalu tidak ada di sana untuk melihat hal tersebut. Menarik sekali, karena Maria Magdalena melihat dan bercakap-cakap dengan Yesus yang telah bangkit saat ia mengunjungi kubur Yesus (Yohanes 20:1-18) dan bahkan ketika Yesus hadir dalam suatu rumah saat murid-murid sedang berkumpul, Thomas tidak ada di sana (Yohanes 20:19-24).

Apakah semua itu sebuah kebetulan? Saya yakin bukan suatu kebetulan, karena kalau memang Tuhan Yesus mau, bisa saja Ia hadir saat Thomas juga hadir. Tapi mengapa Tuhan Yesus hadir pada saat Thomas tidak hadir? Menarik ya?

Ya ini merupakan suatu hal yang memang bukan kebetulan tetapi memang merupakan suatu peristiwa untuk mengajarkan sesuatu pada kita semua. Thomas yang memang tidak pernah melihat saat Yesus bangkit, mengatakan:

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” (Yohanes 20:25b)

Lalu ketika para murid berkumpul kembali dan Thomas hadir (perhatikan kali ini akhirnya Thomas ada di situ bersama dengan yang lain), Yesus hadir dan mengatakan pada Thomas:

“Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (Yohanes 20:27)

Barulah kemudian Thomas percaya.

Beberapa hal menarik yang dapat kita pelajari di atas berkaitan dengan iman:
1. Thomas selalu tidak ada saat Yesus hadir. Mengapa? Saya juga tidak tahu dengan pasti tapi saya hanya berpikir satu hal. Ketika semua murid hadir, mengapa hanya dirinya yang tidak hadir? Apakah Thomas sedang sibuk mengurus urusannya sendiri? Sibuk dengan keperluannya?

Bisa jadi kita juga sering terlalu sibuk dengan pekerjaan kita, dengan keluarga kita, dengan pacar kita, dengan teman-teman kita, dengan hobi kita, dengan diri kita sendiri, sehingga akhirnya kita lupa untuk hadir saat Yesus hadir.

Saya tidak mengatakan bahwa sibuk itu sesuatu hal yang buruk. Segala sesuatu itu memang harus kita kerjakan. Kita memiliki kewajiban-kewajiban yang memang kita harus kerjakan. Maksud saya adalah kita perlu menyeimbangkan keduanya.

Seperti Marta dan Maria dalam Lukas 10:38-42. Marta begitu sibuk untuk menyiapkan segala sesuatu lalu akhirnya marah ketika melihat Maria hanya diam dan mendengarkan Yesus. Namun kemudian Yesus menegur Marta.

Ya, kita harus bisa mengerti prioritas kita dalam hidup. Tanpa prioritas yang benar, hidup kita akan acak-acakan. Prioritas yang benar harusnya adalah Tuhan-keluarga-kerja/pelayanan-hobi-dst. Ya selalu harus Tuhan di nomor 1.

Pada saat nomor 1 bukan Tuhan lagi tetapi yang lainnya (pekerjaan, keluarga, pacar, teman-teman, hobi, diri sendiri) menjadi yang nomor 1, maka saat itulah kekacauan dimulai. Jadi iman kita ditentukan oleh cara kita mengatur prioritas yang benar dalam hidup. Ingat: Tuhan haruslah selalu di nomor 1!

2. Thomas sudah hidup bersama Yesus sekian lama, tetapi mengapa dia tidak percaya juga, bahkan ketika murid-murid yang lain sudah mengatakan hal itu kepadanya? Kata murid-murid berarti lebih dari satu orang yang bicara, kalau hanya satu orang yang bicara mungkin masih belum kuat buktinya. Ini telah lebih dari satu orang yang bicara, tetapi mengapa Thomas masih belum percaya juga?

Kemungkinan sumbernya adalah di kedegilan hati. Harus melihat secara langsung, baru mau percaya. Harus mengalami sendiri dulu, baru mau percaya. Ingat kasus Lazarus dan orang kaya (dalam Lukas 16:20-31)?

Saat orang kaya tersebut masuk neraka, Ia meminta kepada Abraham untuk mengirim Lazarus ke rumah ayahnya agar lima orang saudaranya yang belum bertobat dapat percaya. Namun Abraham menjawab:

“Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Lukas 16:31)

Ya, bila hati seseorang telah menjadi degil, mengeraskan hati.. walaupun mereka melihat mujizat di depan mata sekalipun mereka tidak akan percaya.

Berkaitan dengan kedegilan, saya mau membahas beberapa hal:
a. Kedegilan erat kaitannya hati yang terselubung. Terselubung artinya tertutupi. Kalau hati kita sudah tertutupi, maka tidak bisa ‘melihat’ lagi dengan benar.

Hati yang terselubung menunjukkan tanda-tanda:
Ketidakmauan untuk berubah, ngotot, memaksakan segala sesuatu harus mengikuti kemauan saya dan keinginan saya. Sebagai manusia kita tidak sempurna karena adanya dosa asal yang menyebabkan gambaran Allah dalam diri kita menjadi rusak. Kita perlu menyadari bahwa kita perlu senantiasa diperbaharui untuk menjadi seperti Kristus.

Untuk itu kita perlu mengupayakan supaya buah roh (Galatia 5:22-23b) hadir dalam diri kita: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Untuk memiliki buah roh, diperlukan usaha terus-menerus dan doa supaya Tuhan mengubah karakter kita yang tidak baik menjadi baik.

Kesombongan: merasa saya yang paling benar, saya yang paling suci, saya yang paling hebat. Bahaya sekali bila kita sudah jatuh dalam kesombongan. Siapalah kita ini, hanya berasal dari debu tanah saja. Tidak ada alasan bagi kita untuk sombong. Kita harus senantiasa mawas diri dan ingat segala sesuatu yang kita miliki hari ini semuanya hanya karena Tuhan mengizinkan hal itu kita miliki.

Mazmur 138:6: TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh|.

Ingat Tuhan tidak bisa dekat dengan orang sombong. Karena Ia maha kuasa dan maha tahu, Ia bisa mengenal dan mengetahui setiap orang. Tetapi bila kita sombong, Tuhan tidak mau dekat dengan kita? Mengapa? Jawabannya ada di

Amsal 21:4: Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.

Ya, sombong adalah dosa dan Tuhan itu kudus adanya. Kekudusan dan dosa tidak bisa menjadi satu. Ibarat setetes minyak dan setetes air yang ingin disatukan, tidak akan bisa.

b. Kedegilan erat kaitannya dengan mata yang terselubung. Ya dalam 2 Korintus 3:13-18 dibahas mengenai hal ini (silakan dibaca sendiri). Karena dosa dan kekuatan jahat, bisa jadi mata kita menjadi terselubung sehingga menghalangi kita untuk melihat dan mengerti kebenaran.

2 Korintus 3: 14: Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya.

Karena itu kita perlu senantiasa berdoa dan bertobat dari kesalahan dan dosa kita supaya Tuhan membukakan selubung pada mata kita sehingga kita bisa senantiasa melihat kebenaran.

2 Korintus 3:16-17: Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.

Bila ada di antara Anda yang hari ini membaca notes ini dan rindu untuk menemukan kebenaran dalam hidup Anda, mari doakan hal ini:

“Tuhan, aku rindu untuk menemukan kebenaran dalam hidupku. Kiranya Tuhan menunjukkan kasih dan kuasa-Mu padaku untuk membuka selubung yang menutupi hati dan mataku sehingga aku bisa melihat kebenaran-Mu. Jangan buatkan aku mengeraskan hatiku dan bukakanlah kebenaran itu bagiku. Amin.”

Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang dapat melihat melampaui apa yang kelihatan, melampaui batas kenyataan yang ada.

Let’s see through unveiling eyes and heart!

Amin.

Iklan

Comments on: "Seeing Through Unveiling Eyes and Heart" (6)

  1. FB Comment from JD:
    jadi inget lagu…open the eyes of my heart Lord, open the eyes of my heart, i want to see You 😀

    • Hahahaha, tapi ide g bukan dari itu sih :). Cuma pas kemaren itu pas g tulis notes yang kemaren g jadi kepikir masalah iman. Pagi ini pas g lagi mikir2 mau tulis apa dari sekian banyak topik, tiba2 ide iman itu yang paling kentel kerasa hahahaha (emangnya kopi) wakkakaka. Trus buat judul tiba2 inget tentang musa yang menutupi wajahnya. Jadi keluar dah judulnya itu 😛

  2. FB Comment from RRM:
    amien
    Bagus Bgt Ci…
    Aku Jadi di buka kan mata dan hati yang terselubung setelah baca tulisan cici

  3. FB Comment from ASP:
    kedegilan tuh apa ya?

    • Degil = keras hati = mengeraskan hati = ga mau percaya, bahkan juga seudah ada bukti, fakta, mujizat di depan mata. Kalau udah degil banget, harus ditonjok Tuhan dulu baru mau sadar, bahkan kalau yang udah kebangetan biar udah tersungkur jatuh, tetep ga mau sadar juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: