All for Glory of Jesus Christ

Paying the Price

Pada notes hari ini saya akan membahas mengenai “Paying the Price” atau membayar harga. Saya yakin masalah membayar harga merupakan masalah sehari-hari bagi kita semua. Bila kita ingin membeli sesuatu, pasti kita harus membayar harganya bukan?

Berkaitan dengan membayar harga membuat saya teringat suatu kejadian menarik suatu saya masih berada di SMU atau bahkan SMP (sudah tidak ingat lagi hahahaha). Saat itu kakak saya yang sudah berada di perguruan tinggi sedang UTS (Ujian Tengah Semester). Saat itu kakak saya ujian tentang Ekologi.

Karena cara menghafalnya yang membaca keras-keras dan berulang-ulang, saya yang sekamar dengan kakak saya jadi hafal juga apa yang ia baca berulang-ulang hahahahaha. Bunyinya demikian:

Hukum kedua Ekologi: “There is nothing such as free lunch.”

atau bila diterjemahkan adalah

“Tidak ada yang gratis seperti makan siang gratis.”

Bayangkan dalam suatu cabang keilmuan, yaitu Ekologi juga dinyatakan bahwa tidak ada yang gratis, alias semua ada harganya. Kejadian yang sudah lama sekali ini masih saya ingat sampai sekarang.

Nah, apa kaitan membayar harga dengan yang ingin saya bahas pada hari ini? Bertentangan dengan kebiasaan umum, bertentangan dengan hukum kedua Ekologi, Tuhan Yesus memberikan suatu hal yang berbeda. Ya, Ia menentang semua hukum itu dengan cara: membayar lunas harga dosa kita.

1 Korintus 6:20: Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.

Ya, Ia memberikan keselamatan kita atas dosa-dosa kita dengan gratis. Haleluya! Asyik sekali bukan? Kita yang tidak melakukan apa-apa, bisa mendapatkan suatu yang berharga secara gratis? Ya, untuk menerima Kristus itu gratis. Hanya perlu menerima Ia sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita dan mengakuinya sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita.

Roma 10:9: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Sayangnya, karena harga keselamatan itu cuma-cuma alias gratis, seringkali kita (Anda dan saya) jadi menyepelekannya. Kalau ya, mari kita mohon ampun dan bertobat. Hadiah dari keselamatan itu bukan hanya kita berpindah dari maut ke hidup, tapi juga seluruh janji dan rancangan Allah yang ada dalam kitab suci menjadi hak kita.

Luar biasa bukan? Apakah Anda ingin memperoleh semua janji dan rancangan Allah yang indah itu? Saya percaya sekali semua dari Anda pasti akan menjawab, “Ya” tanpa keraguan sedikitpun.

Permasalahannya adalah dalam setiap hak, akan terdapat kewajiban. Sayangnya kita (Anda dan saya) seringkali hanya menginginkan hak, tapi mengabaikan kewajiban kita. Apakah kewajiban kita? Ya, kita hidup di dunia ini tidak terlepas dari prinsip yang berlaku di dunia ini: membayar harga.

Membayar harga berarti mempersembahkan korban. Berkaitan dengan korban, saya akan mengangkat dua kejadian dalam Perjanjian Lama, yaitu kisah Kain dan Habel (Kejadian 4:1-16) dan kisah Abraham (Kejadian 22:1-19). Silakan dibaca sendiri kedua kisah ini terlebih dahulu.

Berkaitan dengan kisah Kain dan Habel, saya akan mengutip

Kejadian 4:3-4: Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu.

Berkaitan dengan kisah Abraham, saya akan mengetengahkan

Kejadian 22:2: Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Beberapa hal yang bisa kita pelajari dari dua kisah mengenai korban di atas:
1. Apakah Kain mempersembahkan korban? Jawabannya adalah ya. Apakah yang dipersembahkannya itu sedikit? Jawabannya adalah tidak, di Kejadian 4:3 tertulis Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya. Lalu pertanyaannya adalah mengapa Allah hanya mengindahkan persembahan Habel? Bukankah persembahan Kain juga banyak?

Di sini kita perlu memandang perspektif Allah. Allah bukan Allah yang mata duitan. Allah sebenarnya tidak butuh persembahan atau korban kita. Allah tidak miskin, Allah sangat teramat kaya. Lalu mengapa persembahan Kain yang cukup banyak itu tidak menyenangkah hati Allah?

Jawabannya adalah: Allah ingin yang terbaik dari persembahan, bukan dari segi jumlah tapi dari segi kualitas. Anda tahu apa yang paling dipandang Tuhan? Bukan harta, bukan kedudukan, bukan keelokan paras, bukan kemolekan tubuh, bukan.. semuanya itu bukan. Hal yang Tuhan inginkan adalah hati.

Seberapa besar hati kita tersedia untuk-Nya? Seberapa besar kita mengasihi Dia? Jawabannya akan tercermin dari hal, cara, kualitas dari segala sesuatu yang kita berikan bagi Dia. Dalam hal itu, tidak tertutup juga masalah jumlah.

Ya, pada saat kita mengasihi Dia dengan sungguh, kita akan memberikan yang terbaik baginya. Kita akan membayar harga yang besar untuk menyenangkan hati-Nya.

2. Berkaitan dengan hati, Tuhan menghendaki kita membayar harga dengan korban hati kita.

Mazmur 51:19: Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Ya kondisi hati kita yang patah dan remuk, jiwa kita yang hancur sekalipun, itu tidak dipandang hina oleh Tuhan. Tuhan bahkan memandang hal itu sebagai korban baginya.

Apakah hari-hari ini kondisi Anda begitu sulit? Apakah Anda merasa tidak ada jalan keluar? Apakah Anda merasa begitu hancur? Apakah Anda merasa hati Anda sudah patah dan remuk, hingga menjadi kepingan? Persembahkan itu pada Tuhan!

Datang pada Dia dengan penuh penyerahan diri. Sehancur apapun hati Anda, datang pada-Nya. Ia menerima hati Anda sebagai korban. Luar biasa Tuhan kita! Ia bukan hanya menginginkan barang yang bagus, hati yang mulus, jiwa yang berkobar bagi-Nya, tetapi justru Dia menghargai jiwa yang hancur dan hati yang patah dan remuk sebagai korban. Puji Tuhan!

3. Bicara tentang kisah Abraham, ini merupakan hal yang fenomenal. Bagaimana tidak? Abraham sudah menunggu saat yang begitu lama untuk memiliki anak: Ishak. Ketika sudah didapat, Tuhan memintanya sebagai korban. Kisah pengorbanan Ishak merupakan suatu hal yang sangat menarik.

Korban Ishak bagi Abraham merupakan korban yang paling berharga. Sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu, didoakan, diharapkan. Sesuatu yang merupakan keinginan dari hati yang terdalam.

Apakah Ishak Anda? Apakah yang paling Anda harapkan? Apakah keinginan terdalam Anda? Itulah Ishak Anda. Seperti Abraham yang Tuhan minta untuk mengorbankan Ishak-nya, anaknya yang begitu dicintainya, begitu juga Tuhan hari ini meminta Ishak Anda, hal yang paling Anda cintai.

Apa yang paling Anda cintai? Apa yang begitu berat Anda lepaskan? Apa yang begitu dalam Anda rindukan? Apakah uang, kesenangan, hobi, impian, cinta, masa lalu, kedagingan Anda? Semua itu Tuhan minta dari Anda.

Pada saat kita begitu mencintai sesuatu, kita cenderung untuk memegangnya erat-erat. Saat kita pegang semua itu erat-erat, Tuhan tidak bisa memegang tangan kita. Padahal Ia ingin selalu memegang tangan kita, menyertai kita kemana pun kita.

Lepaskan itu semua sebagai korban dan taruh semua itu di kaki Tuhan sebagai persembahan. Biarkan Ia memegang tangan kita, sebagai ganti memegang erat sesuatu yang lainnya.

Saat kita melepaskan sesuatu yang di genggaman tangan kita dan memercayakannya pada Tuhan sebagai korban kita, Ia akan campur tangan untuk memberikan korban itu kembali dan bahkan tidak cukup sampai di situ. Ia akan memberikan korban yang lain sebagai gantinya. Puji Tuhan!

Selain dari bentuk persembahan yang sudah disebutkan di atas, ternyata Tuhan menginkan persembahan dalam bentuk lain. Setidaknya saya akan membahas tiga hal yang Tuhan minta dari kita:
1. Tuhan meminta korban berupa: ucapan syukur.

Ibrani 13:15: Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.

Apakah situasi Anda sedang sulit? Apakah begitu banyak masalah terjadi? Apakah Anda merasa sudah tidak ada jalan keluar? Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Tuhan.

Lihat dan ujilah Dia! Anda akan menemukan Ia adalah Allah yang setia menepati janji-Nya. Saat Anda bersyukur, hati Anda akan diubahkan. Saat hati Anda diubahkan, Anda akan melihat dunia (permasalahan) yang Anda hadapi berubah.

2. Tuhan meminta korban berupa: penyangkalan diri, memikul salib, dan mengikuti Dia.

Matius 16:24: Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Penyangkalan diri berbicara tentang melawan kecenderungan alami yang ada dalam diri kita (kedagingan kita).

Galatia 5:19-21a: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Ya, Tuhan meminta korban berupa penyangkalan diri. Ingat, kalau Tuhan meminta sesuatu, Ia tahu Anda dapat melakukannya. Permasalahannya hanya MAU-kah Anda?

Memikul salib berarti berani menghadapi setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Apa beban Anda? Apa masalah Anda? Apa kesulitan Anda? Apa keterbatasan Anda? Apa tantangan Anda? Apa pergumulan Anda? Itulah salib Anda. Pikul itu sebagai korban bagi-Nya. Ingat, Anda tidak pernah sendiri memikul salib Anda. Tuhan terlebih dahulu telah memikul salib bagi Anda.

Jika sekarang ada salib yang harus Anda pikul, itu pasti tidak melebihi kekuatan Anda. Bahkan dalam Matius 11:29-30 Tuhan tidak menyebut lagi sebagai salib, tetapi sebagai kuk karena sudah ringan. Puji Tuhan!

Matius 11:29-30: Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

3. Tuhan telah membayar mahal untuk Anda, ya Anda dibayar bukan dengan barang, perak, atau emas, melainkan dengan darah yang mahal. Darah ini bukan darah hewan sembelihan, tetapi darah-Nya sendiri, darah Allah sendiri.

1 Petrus 1:18-19: Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Pada saat kita telah ditebus, kita telah berpindah dari maut ke hidup. Namun apakah kita menghargai itu?

1Yohanes 3:14: Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.

Ya, Tuhan menginginkan korban berupa: pengampunan.

Seperti Anda memegang erat impian Anda dalam tangan Anda, sekarang Tuhan juga meminta hal yang sama pada Anda untuk melepaskan pengampunan itu. Melepaskan kebencian yang begitu dalam terpatri dalam hati Anda.

Ya, Tuhan meminta harga itu untuk Anda bayar. Ingat, jika Tuhan meminta hal itu, Ia tahu benar Anda dapat melakukannya. Lepaskanlah pengampunan! Bebaskanlah diri Anda!

Membayar harga berarti korban.

Apakah korban yang Tuhan minta hari ini?

Sudahkah Anda membayar harga?

Amin.

Iklan

Comments on: "Paying the Price" (6)

  1. FB Comment from EU:
    ya ampun…
    enak skali kakanya cece ;P

    erk klo gt di rumah.. bisa2 ditimpuk ama dede nya erk *_*

    • Hahahhaaha, iya lucu dah. Waktu cici g ngafalin, jadi g yang hafal trus malah g yang bilang, “Hukum ekologi kedua adalah…”. Hahaha kalau inget itu sampe skarang pengen ketawa dah :P.

  2. FB Comment from DA:
    Sesuatu yang sesungguhnya kita sama sekali ga layak menerimanya tapi Tuhan berikan buat hidup kita, itulah anugerah/grace. Mungkin kata “Anugerah”lah yang teman2 maksud dengan kata2 “gratis” atau “cuma” dalam hal keselamatan ini. Kak, makasih ya, notenya memberkati banget. Terus berkarya ya…Gbu!

    • Yup, betul banget. Anugerahlah yang aku maksud dalam kata gratis atau cuma-cuma. Kita yang tidak pantas menerimanya, ternyata diberikan sesuatu yang luar biasa mahal dan tak dapat diukur nilainya dengan apapun juga. Bahkan yang kita… terima itu, kita dapatkan dengan cuma-cuma.

      Sama-sama, puji Tuhan kalau bisa memberkati. Maju terus dalam Tuhan! GBU.

  3. FB Comment from ASP:
    “Apakah hari-hari ini kondisi Anda begitu sulit? Apakah Anda merasa tidak ada jalan keluar? Apakah Anda merasa begitu hancur? Apakah Anda merasa hati Anda sudah patah dan remuk, hingga menjadi kepingan? Persembahkan itu pada Tuhan! Datang …pada Dia dengan penuh penyerahan diri. Sehancur apapun hati Anda, datang pada-Nya. Ia menerima hati Anda sebagai korban. Luar biasa Tuhan kita! Ia bukan hanya menginginkan barang yang bagus, hati yang mulus, jiwa yang berkobar bagi-Nya, tetapi justru Dia menghargai jiwa yang hancur dan hati yang patah dan remuk sebagai korban. Puji Tuhan”

    Buset…. klo d inget2 rasa ny gw uda jadi daging cincang…..

    “Apa yang paling Anda cintai? Apa yang begitu berat Anda lepaskan? Apa yang begitu dalam Anda rindukan? Apakah uang, kesenangan, hobi, impian, cinta, masa lalu, kedagingan Anda? Semua itu Tuhan minta dari Anda. Pada saat kita begitu mencin…tai sesuatu, kita cenderung untuk memegangnya erat-erat. Saat kita pegang semua itu erat-erat, Tuhan tidak bisa memegang tangan kita.”

    uh… ini ujian terberat sampai saat ini…. still, i cant let it go…
    apa rasanya kalau impian yg anda impikan semua nya ada di depan anda, lalu sesaat sebelum anda menyentuhnya semuanya hancur tak bersisa….
    apa rasanya kalau qt terperosok dan berusaha untuk naik semaksimal mungkin tapi hasil nya Nol Besar. malah tambah dalam terperosoknya.

    masih ga rela nih… masi ga puas…. hahahahaha padahal uda sempet pasrah tapi ttep aja ga rela.
    tapi gw jd ngerti knp Tuhan minta qt nyerahin impian terbesar kita jadi persembahan.

    soalnya kalau qt terlalu erat megang impian qt, saat impian itu hancur, qt jg ikut hancur.

    dan hal itu ga akan terjadi kalau qt berpengang k Dia.
    malah kenya…taannya, Ishak dikembalikan kpd Abraham. artinya qt bisa meraih impian qt itu.

    hmm.. kyak ny gw pernah denger kalimat “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan semua akan diberikan kepadamu”

    • Daging cincang ya? Gpp, serahin sama Tuhan. Tuhan koki nomor 1. Daging cincang bisa diubahnya jadi makanan enak top nomor 1. Wkakakakaka.

      Hahaha, ya itu memang proses. G udah pernah ngalamin kog n masih dalam proses itu juga. Gimana sih rasanya lu udah kasih 110% bahkan, bukan cuma 100% buat wujudin mimpi lu, tapi bahkan ga dapat. Bukan karena lu ga cukup bagus, tapi… karena alasan-alasan X yang rasanya absurd wakkakaka. Welcome to the club, itu yang dulu pernah g alami. Rasanya… gile sakit bangetttt.

      Tapi.. g tau kalau Tuhan kasih itu impian sama g n Tuhan juga udah teguhkan, g harus terus jalan. Supaya impian g menjadi nyata. Cuma skarang ini g harus serahin sama Tuhan, n ga g pegang sendiri. Karena saat g begitu kepengen, g begitu pegang erat2 n ga biarin Tuhan utak-atik. Ya, ini proses yang ga gampang. Tapi lu pasti bisa kog.

      >hmm.. kyak ny gw pernah denger kalimat “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan semua akan diberikan kepadamu”

      Exactly :). Ini kuncinya. Kalau Abraham pegang erat2 Ishak-nya, maka Abraham entah bagaimana bisa kehilangan Ishak: bisa aja I…shak mati saat berburu, saat menggembalakan domba n kembing, etc. Tapi justru saat Abraham kasih Ishak sama Tuhan, Tuhan ga ambil itu malah justru balikin ke Abraham, berkati Abraham lebih lagi.

      Sorry kelewat yang ini:
      >tapi gw jd ngerti knp Tuhan minta qt nyerahin impian terbesar kita jadi persembahan.

      Inget hukum pertama:
      …Markus 12:29-30, ”Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu”.

      Saat kita punya apapun yang kita begitu cintai, termasuk impian (walaupun impian adalah hal yang bagus banget) n itu kita kejar n kita cari melebihi kita cari Tuhan: itu jadi salah. Tuhannya diganti sama impian. So, ya… itu yang terjadi: Tuhan minta impian terbesar kita jadi persembahan, buat nguji hati kita. Apakah Tuhan yang nomor 1 atau impian? Apakah kita mencintai Tuhan atau mencintai impian?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: