All for Glory of Jesus Christ

Notes hari ini merupakan kelanjutan dari notes kemarin “Paying the Price”. Hari ini dan sampai tiga hari kedepan kita akan membahas mengenai dimensi-dimensi pengorbanan (membayar harga). Terdapat empat dimensi pengorbanan dan bila disingkat adalah OSIG, yaitu:
O-bey (taat).
S-elfless (tidak egois).
I-ntegrity (integritas).
G-od’s Dependence (mengandalkan Tuhan).

Pada notes hari ini akan dibahas mengenai dimensi yang pertama: Obey – Taat. Kalau kita berbicara tentang kata taat, maka salah satu contoh yang paling mudah adalah hubungan budak dan tuan. Walaupun sekarang ini sudah bukan masa-masa perbudakan, saya yakin banyak dari Anda mengerti konsep tuan-budak ini.

Dari yang saya baca atau dari yang saya tonton, seorang budak adalah orang yang biasanya telah dibeli dan kemudian harus bekerja di tempat tuannya seumur hidupnya sampai tuannya membebaskan dirinya. Memang ada budak-budak yang lari, tetapi ini adalah di luar konteks.

Kita semua (Anda dan saya) adalah budak. Jangan tersinggung! Saya mau ulangi: kita semua (Anda dan saya) adalah budak. Ya, kita adalah budak dosa karena dosa asal.

Roma 5:12: Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

Ya, dosa asal dari Adam itu merupakan pintu masuk bagi dosa dalam hidup semua orang. Ya, termasuk Anda, saya, dan semua orang lainnya. Mungkin Anda akan berpikir, “Berarti kita orang-orang yang sial dong? Orang-orang yang apes. Karena dosa Adam, eh dosa jadi menjalar masuk ke hidup kita”. Sebenarnya kalau mau dipikirkan demikian, bisa juga.

Lebih sialnya lagi dosa itu bayarannya adalah maut.

Roma 6:23a: Sebab upah dosa ialah maut;

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah lepas dari mulut buaya, masuk mulut harimau. Sudah lolos dari lantai licin, eh menginjak kulit pisang. Sudah apalagi ya? Hahahaha, ya cukuplah sebegitu wakakkaka.

Lalu bagaimana? Apakah kita selamanya dan seterusnya menjadi orang-orang yang sial? Orang-orang yang telah ditakdirkan untuk mengalami maut? Puji Tuhan, jawabannya adalah TIDAK! Dalam

Roma 6:23b: tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Ya, dari orang-orang yang sial, kita bisa menjadi orang-orang yang untung, mujur, dan berkemenangan, bahkan lebih dari pemenang. Puji Tuhan!

Roma 8:37: Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Karena dosa Adam menjadi pintu masuk bagi dosa, syukur kepada Allah lewat Yesus kita memiliki pintu masuk bagi hidup kekal dan hidup yang berkemenangan.

Roma 5:15: Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.

Ya, kita adalah budak yang telah dimerdekakan. Nah, kalau kita sudah dimerdekakan, brarti kita berutang banyak sekali dong pada yang memerdekakan? Ya, benar! Tuhan sebenarnya tidak main hitung-hitungan. Hitung pokok, hitung bunga, tidak! Jauh dari itu! Tuhan sudah melupakan semua dosa dan pelanggaran kita.

Mazmur 103:10-12: Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

Tetapi sebagai orang yang tau membalas budi, hendaklah kita mau melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya, ya taat tadi itu!

Saya mau mengangkat dua kisah mengenai budak, yang satu ada dalam Alkitab dan yang satu tidak ada dalam Alkitab. Kisah yang ada dalam Alkitab adalah kisah Yusuf yang menjadi budak di rumah Potifar (baca sendiri kisahnya di Kejadian 39).

Kisah kedua yang tidak ada dalam Alkitab adalah dalam buku/film. Pernah membaca buku “Gone with the Wind” atau sekuelnya? Atau mungkin menonton filmnya? Dulu seingat saya pernah ditayangkan di TV dan saya menontonnya.

Kisahnya cukup mengharukan tentang sepasang sejoli yang sedang jatuh cinta: Rhett Buttler dan Scarlet O’Hara. Mereka kemudian menikah dan mempunyai anak. Mengalami dipisahkan oleh perang, mengalami kehilangan harta benda, namun pada akhirnya bisa berkumpul kembali.

Cukup romantis hahahaha. Namun yang mau saya gali dalam film itu bukan kisah romantis antara Rhet dan Scarlet, itu juga bisa digali sebenarnya hahahaha, tapi tidak sesuai dengan topik kali ini.

Hal yang ingin saya soroti adalah pada masa tersebut perbudakan itu sudah menjadi hal yang sangat umum. Waktu itu Scarlet memiliki beberapa budak dan budak itu begitu setia. Tetapi mengikuti dan melayani keluarga tersebut walaupun perang berkecamuk. Padahal sebenarnya budak tersebut bisa saja melarikan diri.

Walaupun kita adalah budak yang telah dimerdekakan, kita masih bisa belajar dari kehidupan seorang budak dari dua kisah di atas mengenai aspek-aspek ketaatan yaitu:
1. Dalam kisah Yusuf diceritakan mengenai Yusuf yang selalu melakukan hal-hal yang ditugaskan padanya. Dalam kisah “Gone with the Wind” juga kita menangkap hal yang sama. Aspek pertama dari ketaatan: melakukan setiap yang ditugaskan (just DO it – lakukan saja).

2. Dalam kisah Yusuf bisa kita pelajari mengenai aspek ketaatan kedua yang bisa kita pelajari, yaitu bukan hanya melakukan segala sesuatu saja yang ditugaskan kepadanya, Yusuf mengerjakan segala sesuatunya dengan bersungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik. Aspek kedua dari ketaatan: melakukan yang terbaik (DO the best – lakukan yang terbaik).

3. Baik dalam kisah Yusuf maupun kisah budak dalam “Gone with the Wind” keduanya memiliki penderitaan yang sama: budak bekerja tanpa dibayar. Aspek ketiga dari ketaatan: tidak hitung-hitungan! Tidak pamrih dengan Tuhan! Tidak berpikir kalau saya berbuat begini, maka saya akan mendapatkan apa dari Tuhan? Tidak! (DO it sincerely – lakukan dengan ketulusan).

4. Baik Yusuf maupun budak dalam kisah “Gone with the Wind” sama-sama memiliki kesamaan: mereka tidak lari, mereka tetap tinggal.. walaupun kesulitan menghadang (bagi Yusuf: dia menghadapi ancaman penjara ketika difitnah, bagi budak dalam kisah “Gone with the Wind”: dia menghadapi ancaman kelaparan ketika perang). Aspek keempat dari ketaatan: tetap tinggal dan tidak lari walau ada ancaman (DO it for any cost – lakukan dengan harga berapapun).

5. Hal yang terakhir yang bisa kita pelajari dari Yusuf dan budak dalam kisah “Gone with the Wind”: saat mereka tidak lari dan tetap tinggal itu karena satu alasan semata, ya hanya satu alasan. Bukan karena materi karena mereka memang tidak dibayar. Lalu karena apa?

Sebelum saya menjawab aspek terakhir, saya akan meninjau diri kita. Kita (Anda dan saya) bukanlah budak. Kita adalah orang-orang merdeka, budak yang telah dimerdekakan. Status kita skarang naik menjadi orang upahan. Ya, Tuhan itu adalah Allah yang adil, Ia memperhitungkan juga setiap perbuatan kita walaupun perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan kita. Jangan sampai salah mengerti!

Setelah kita diselamatkan, kita perlu menjadi orang yang tahu berterima kasih. Salah satunya adalah dengan bersikap taat, bukan karena kita takut, seram, ngeri pada Tuhan. Bukan! Tetapi kita taat sebagai bentuk rasa terima kasih kita yang mendalam dan kasih kita kepada-Nya yang terlebih dahulu mengasihi kita. Ya, aspek kelima dari ketaatan: taat sebagai bentuk kesetiaan, sebagai bentuk berterima kasih, dan sebagai bentuk mengasihi Dia yang telah terlebih dahulu mengasihi kita (DO it because of loyalty and love – lakukan karena kesetiaan dan karena kasih).

Jadi, apakah Anda mengasihi Tuhan? Jika jawabannya adalah “Ya”, apakah Anda menaati Dia? Lakukan (DO) yang Dia minta lakukan! Amin.

(Footnote:
Thanks to ‘Kevin’ Cahyadi Tanujaya who had shared about four things you should have (obey, selfless, integrity, God’s dependence). Actually I only thought about obey when I wanted to read this note. However somehow, I was being reminded of our chat about those four when I was doing my daily morning rituals wakkakakakak. Thanks, Bro for sharing those four with me.)

Iklan

Comments on: "Dimensions of Sacrificing (Tetralogi-1)" (2)

  1. FB Comment from ASP:
    wkaakkak jgn d bilang sial gara2 nanggun dosa adam donk… sial kan relative, kalau kemalangan hanya jatuh k qt doank baru sial.

    tapi yg kadang bikin Obey jadi sulit tuh. krn qt ga bisa beda in yg mana yg harus kita ikutin. apa lagi klo mau …100% Obey…

    • Lho ya kalau mau diliat dari sudut pandang jadi berdosa karena pintu pertama bagi dosa masuk dari orang pertama, itu jadi sial kan? Lah yang pertama bikin dosa siapa, eh kena getahnya. Apa ga sial tuh? Hahahaha, ya semua orang sial… jadinya wakkakakakaka, tapi puji Tuhan walaupun Adam pertama gagal.. Adam terakhir ga gagal: Yesus sendiri. Adam sering digambarin sebagai tipologi dari Kristus.

      Kalau yang kamu maksud itu sebenernya gampang. Tinggal baca firman-Nya, cari Tuhan lebih lagi. Firman Tuhan = isi hati Tuhan. Mau tahu apa yang harus kita ikutin? Ya baca firman-Nya dong, lebih deket lagi sama Tuhan. Bahkan saat kita udah melenceng, tar Tuhan ngomong sendiri kog. Don’t worry :). Kuncinya hanya di kata: MAU, bukan di kata BISA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: