All for Glory of Jesus Christ

Pada notes hari ini akan dibahas dimensi kedua dari pengorbanan (membayar harga), yaitu Selfless – Tidak Egois. Dalam hari-hari ini sulit sekali menemukan orang yang tidak egois.

2 Timotius 3:1-2: Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

Bukankah hari-hari ini juga itu yang terjadi? Luar biasa, ribuan tahun yang lalu hal ini sudah dicatat dalam Alkitab.

Ya, mencintai diri sendiri pada takaran yang tepat itu baik dan bahkan perlu bagi setiap kita (baca “For the Love of Myself”). Namun saat cinta pada diri sendiri menjadi berlebihan, timbullah keegoisan. Mengapa keegoisan ini berbahaya? Dalam

Yakobus 3:16: Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Bahkan lebih lanjut di

Galatia 5:19-21a: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Masih ingat dengan salah satu tujuan penciptaan kita oleh Tuhan di dunia ini? (silakan baca “Purpose, Vision, and Mission in Your Life (Trilogi-1)” bagi yang belum membacanya). Ya, tujuan kedua dari empat tujuan penciptaan kita adalah untuk tetap menjadi serupa dengan gambar Allah, karena menurut rupa-Nya lah kita diciptakan (Kejadian 1:27) dan menjadi serupa dengan gambar Allah itu secara konkrit adalah dengan menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22-23b).

Lawan dari buah Roh adalah perbuatan daging, dan salah satu perbuatan daging dalam Galatia 5:19-21a tertulis jelas adalah kepentingan diri sendiri. Salah satu contoh yang paling sempurna adalah korban Kristus di kayu salib, tapi saya tidak akan mengetengahkan hal itu sebagai contoh untuk kita bahas pada hari ini.

Ada dua alasan saya tidak akan membahas mengenai korban Kristus di kayu salib, walaupun itu adalah contoh sempurna. Alasan pertama, walaupun Ia adalah 100% manusia, Yesus juga 100% Allah. Alasan pertama ini akan membuat banyak orang berpikir:

“Bagaimana mungkin saya menyamai Allah?”

Ya, supaya tidak ada yang protes, saya akan mengambil kisah korban lainnya. Alasan kedua adalah alasan klise hahahaha, yaitu kisah korban Kristus di kayu salib sudah terlalu sering dibahas.

Saya akan memilih satu kisah yang saya baca dari “7 Rahasia Menuju Kematangan Rohani” yang ditulis oleh Paul Estabrooks. Ya, ini sebuah buku yang mencatat kisah-kisah yang luar biasa dari sejumlah orang yang mengorbankan segalanya, ya segalanya untuk mengabarkan Injil.

Sungguh saya sebenarnya kesulitan untuk memilih kisah tertentu, karena semua kisah di dalamnya sungguh-sungguh menyentuh. Di waktu lalu saya telah mengangkat kisah seorang kepala dokter yang diturunkan pangkatnya menjadi tukang bersih-bersih WC di sebuah rumah sakit di Cina karena imannya pada Tuhan Yesus.

Walaupun begitu banyak kisah yang bisa saya angkat, saya akan mengangkat satu kisah yang secara khusus sangat menyentuh hati saya. ? (Hahaha ya, kalau Anda menduga terjadi lagi tangisan di pagi hari di tempat istimewa.. ya dugaan Anda 100% tepat wakakkakaka). Ini adalah kisah mengenai seorang wanita berusia 22 tahun bernama Martha yang tinggal di kota Xian. Mengapa kisah ini sangat menyentuh hati saya?

Martha adalah seorang wanita muda yang sudah bertunangan. Anda mungkin bisa membayangkan rasanya bertunangan atau bahkan mengingat kembali saat-saat pertunangan Anda (bagi yang sudah bertunangan atau menikah).

Bagi yang belum menikah dan sudah bertunangan, pasti yang Anda pikirkan selanjutnya adalah pernikahan bukan? Itu suatu hal yang wajar sekali. Sebagai seorang wanita, saya selalu membayangkan dan memikirkan seperti apakah pernikahan dengan seseorang yang Tuhan telah pilihkan bagi saya?

Membayangkan saat-saat ketika saya dan pasangan saya kelak saling mengucapkan janji di hadapan Tuhan untuk senantiasa bersama menjalani bahtera kehidupan sampai maut memisahkan kami.

Saya pikir saya bukan satu-satunya wanita yang memikirkan dan membayangkan hal itu. Bahkan, saya juga menduga pria pun walau tidak sedetail itu mungkin juga membayangkan sejumlah aspek dari pernikahan atau mungkin juga ada yang membayangkan sampai pada detail aspek yang sama yang saya pikirkan.

Kembali ke kisah Martha dari kota Xian di Cina ini. Ada sesuatu yang luar biasa dengan Martha. Apakah Anda dapat menduga? Ya, ia menunda pernikahannya selama 2 tahun. Untuk apa? Apakah untuk bersenang-senang?

Menikmati hangatnya musim panas? Untuk menikmati masa-masa lajang sebelum terikat? Tidak! Walaupun kesemuanya itu tidak salah, tetapi yang Martha lakukan adalah jauh dari semua yang saya telah sebutkan. Ia menunda pernikahannya untuk dapat mengirimkan Alkitab kepada mereka yang membutuhkannya.

Hadiah dari perbuatannya adalah bukan tepukan di bahu, bukan ucapan:

“Wah, kamu luar biasa!”

, bukan standing ovation – tepuk tangan dengan posisi bangkit berdiri dari kondisi duduk (merupakan bentuk pujian yang luar biasa bagi sesuatu hal yang dianggap sangat memukau).

Ya, bukan itu semua. Ia dipukuli, dirampok, dan dilemparkan di jalanan yang sepi oleh para pemimpin komunis setempat. Puncaknya adalah pada umur 24 tahun ia ditangkap dan beberapa minggu setelah ditangkap, ia dijatuhi hukuman mati.

Sangat-sangat tragis! Seorang wanita muda yang seharusnya dapat memilih untuk menikah dan menjalani hidup pernikahan yang indah, memilih dengan sadar dan penuh kerelaan untuk mengorbankan dirinya demi mendistribusikan kabar baik dalam bentuk Alkitab bagi orang-orang yang membutuhkan. Sungguh-sungguh kisah yang luar biasa!

Beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kisah Martha dari kota Xian:
1. Markus 12:29-30: Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Martha menunda pernikahannya demi suatu alasan yang mulia. Pernikahan adalah suatu alasan yang mulia, namun Martha memilih membagikan Alkitab dan menunda pernikahannya. Ia memilih mengutamakan panggilannya dari Tuhan.

Ya, menunda pernikahan merupakan korbannya bagi Tuhan. Aspek pertama dari ketidakegoisan: mengutamakan Tuhan. Bukti dari kita mengasihi Tuhan lebih dari segalanya adalah saat kita mengutamakan dan menempatkan Dia di tempat tertinggi dalam hidup kita.

2. Markus 12:31: Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.

Martha membagikan Alkitab bagi orang-orang yang memerlukannya. Ya, bisa saja ia mengabaikan setiap kebutuhan orang-orang yang haus untuk membaca kabar gembira mengenai keselamatan.

Tetapi, bukannya memilih kepentingannya sendiri untuk memiliki kehidupan yang nyaman dan santai, ia memilih untuk membagikan Alkitab bagi orang-orang yang memerlukannya. Aspek kedua dari ketidakegoisan: mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.

3. Filipi 2:3: dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

Martha mendistribusikan Alkitab pada orang yang membutuhkan bukan dengan tujuan untuk keuntungan pribadi atau mencari pujian. Aspek ketiga dari ketidakegoisan: ketulusan, tidak mencari imbalan.

4. Matius 10:39: Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Ya, Martha tidak mempertahankan nyawanya. Ia rela menderita dipukuli, dirampok, rela menunda untuk masuk dalam hidup pernikahan yang indah, bahkan sampai mengorbankan nyawanya demi Kristus. Aspek keempat dari ketidakegoisan: berani membayar dengan harga tertinggi demi melayani orang lain dan Kristus.

Sungguh suatu hal yang indah sekali bila kita (Anda dan saya) bisa menjadi orang yang tidak egois.

Pertanyaannya adalah MAU-kah kita?

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: