All for Glory of Jesus Christ

Pada notes hari ini akan dibahas dimensi yang ketiga dari pengorbanan (membayar harga), yaitu Integrity – Integritas. Apakah integritas itu? Saya akan mengambil beberapa definisi tentang integritas.

Definisi pertama saya ambil dari kamus kesayangan saya (hahahah cuma punya satu sih yang OK, jadi ya kamus kesayangan. Sisanya kamus kecil-kecil). Berdasarkan Kamus Inggris-Indonesia yang disusun oleh John Echols dan Hassan:
Integrity: 1. ketulusan hati, kejujuran, integritas. 2. keutuhan.

Definisi kedua saya akan ambil dari suatu website populer, yaitu wikipedia.
Integrity is consistency of actions, values, methods, measures, principles, expectations and outcome. Integrity may be seen as the quality of having a sense of honesty and truthfulness in regard to the motivations for one’s actions. The term “hypocrisy” is used in contrast to integrity …..”.

Kalau saya terjemahkan, definisi kedua tersebut berbunyi sebagai berikut:
Integritas merupakan konsistensi tindakan, nilai, metode, ukuran, prinsip, harapan, dan hasil. Istilah “hipokrit/kemunafikan” digunakan sebagai kontras/lawan dari integritas …”. Ya dari dua definisi di atas kiranya cukup jelas mengenai integritas.

Kali ini saya akan mengetengahkan kisah mengenai Yesus (hahaha, sedikit kontras dengan notes hari kemarin). Kisah yang mau saya angkat adalah kisah di Taman Getsemani (Lukas 22:39-46).

Mengapa akhirnya saya mengangkat kisah mengenai Yesus? Kemarin saya menyebutkan saya agak enggan mengangkat kisah mengenai Yesus karena dua alasan, ya alasan pertama karena walaupun Ia adalah 100% manusia, Yesus juga 100% Allah.

Alasan kedua adalah alasan klise, yaitu kisah korban Kristus di kayu salib sudah terlalu sering dibahas (baca “Dimensions of Sacrificing (Tetralogi-2)”). Untuk dua alasan tersebut saya akan mengangkat kisah mengenai Yesus yang kali ini adalah kisah di Taman Getsemani. Silakan dibaca dahulu Lukas 22:39-46.

Beberapa hal yang menarik dari kisah Yesus di Taman Getsemani ini yang bisa kita pelajari:
1. Yesus yang merupakan 100% manusia dan 100% Allah ternyata diuji juga integritasnya. Ya, adalah tugas perutusan Yesus untuk mengalami sengsara, aniaya, dan pada akhirnya mati di salib untuk menebus dosa manusia. Sesuatu yang sama sekali tidak layak untuk-Nya. Mengapa? Ia adalah Allah sendiri, yang kudus, tanpa cacat, tanpa dosa; tetapi harus mati untuk dosa kita semua.

Benar-benar tidak adil bukan? Ya. Hal yang seberat itu harus ditanggung-Nya seorang diri karena dosa dan kesalahan kita. Ya, dosa saya dan Anda. Dosa semua manusia. Lihat pergumulan Yesus dalam

Lukas 22:42a: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku;

Ya, begitu berat yang harus Tuhan Yesus tanggung. Secara manusia, Ia pun merasa hal tersebut sangat berat.

Namun lihat integritas Tuhan Yesus dalam

Lukas 22:42b: tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Wow, luar biasa! Pada saat dihadapkan pada kondisi sulit, bahkan aniaya, sengsara, dan maut sekalipun, Tuhan Yesus tetap mempertahankan integritasnya.

Saya akan mengulang mengenai definisi integritas:

Integritas merupakan konsistensi tindakan, nilai, metode, ukuran, prinsip, harapan, dan hasil.

Ya, Yesus telah mengetahui hal yang harus dihadapi-Nya sejak semula, namun Ia tidak mundur. Ketika harapannya berbenturan dengan prinsip, hasil, ukuran, metode, dan nilai yang telah ditetapkan Bapa, Ia tetap tidak mundur. Tindakan Yesus ‘berbicara’ begitu keras mengenai integritasnya. Ia menjalankan segalanya sampai selesai. Aspek pertama dari integritas: tetap maju walaupun menghadapi tantangan yang berat.

2. Lukas 22:44a: Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa.

Bahkan Tuhan Yesus juga mengalami yang namanya ketakutan, ya ia sungguh-sungguh 100% manusia. Namun di tengah kemanusiawian-Nya itu, Dia tahu untuk mempertahankan integritas-Nya, Dia punya sumber kekuatan yang luar biasa: persekutuan dengan Bapa.

Ya, Bapa mengenal benar batas-batas kekuatan manusia. Di kala menghadapi tantangan yang berat dan di persimpangan, manusia bisa jatuh juga. Yesus sebagai manusia juga memiliki keterbatasan, namun Ia tahu benar mengatasinya.

Untuk memegang teguh integritas-Nya, Ia tidak berpegang pada kekuatan-Nya sendiri. Ingat: walaupun 100% Allah, Yesus juga 100% manusia. Sebagai manusia, Yesus memiliki keterbatasan-Nya juga, sehingga Ia bisa juga merasa takut dan gentar.

Namun Ia tetap berpegang pada sumber yang tak tergoyahkan: Allah sendiri. Jadi sumber integritas Yesus bukanlah ego, bukan kekerasan hati, bukan keras kepala. Bukan! Tetapi sumbernya adalah Allah semata. Ya, aspek kedua dari integritas: bersumber pada Allah.

3. Antara perkataan Yesus dengan tindakan-Nya itu sungguh selaras. Walaupun ia takut, namun Ia tetap melangkah.

Yakobus 2:20: Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

Ya, Tuhan Yesus tentu saja memiliki iman yang luar biasa, bahkan orang matipun Ia dapat hidupkan kembali. Kalau begitu mengapa Yesus tidak memilih untuk turun dari salib saja? Karena itu berarti integritas Yesus adalah nol.

Bila Yesus memilih untuk turun dari salib sebagai ganti mati di kayu salib, kita semua (Anda dan saya) sekarang adalah orang-orang yang malang. Puji Tuhan hal itu tidak terjadi! Ya perbuatan Tuhan Yesus menyatakan dan ‘meneriakan’ dengan jelas imannya.

Ini merupakan pergumulan bagi kita (Anda dan saya). Sering kita memiliki iman yang besar. Kita yakin dan percaya Allah dapat mengadakan yang kita butuhkan. Kita beriman akan memperoleh janji-janji Kristus, tapi tindakan kita (Anda dan saya) tidak mencerminkan iman kita.

Integritas berbicara konsistensi antara iman dengan perbuatan, antara apa yang dipercayai dan dipegang teguh dengan tindakan kita. Aspek ketiga dari integritas: iman yang dinyatakan dengan tindakan, iman yang diwujudkan, iman yang selaras dengan perbuatan.

4. Saya akan mengulang perkataan Yesus dalam

Lukas 22:42: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Perkataan Yesus sungguh-sungguh menyatakan hatinya. Ia tidak berdusta. Senada dengan itu dalam

Matius 5:37: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Lebih lanjut dalam

Yakobus 5:12: Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.

Ya, inilah tantangan besar bagi kita (Anda dan saya). Bagaimanakah perkataan kita? Apakah perkataan kita sudah selaras dengan hati kita? Atau hati kita ‘bicara’ A dan perkataan kita bicara B?

Do you a man of your words? Apakah Anda pria yang kata-katanya dapat dipercaya? Do you a woman of your words? Apakah Anda wanita yang kata-katanya dapat dipercaya?

Seringkah Anda mengucapkan janji sekedar untuk menyenangkan pihak lain? Ayat-ayat di atas berbicara begitu keras mengenai aspek keempat dari integritas: kata-kata Anda dapat dipercaya dan jujur.

5. Yesus tidak munafik. Perkataan-Nya di Lukas 22:42 menyatakan dengan jelas hal itu. Yesus takut dan Ia menyatakan-Nya. Ia tidak pura-pura berani untuk jaga gengsi. Bisa saja Yesus bersikap jaga image, jaga gengsi, jaga wibawa di depan murid-murid-Nya. Namun Yesus tidak memilih bersikap munafik, Ia adalah pribadi yang jujur. Aspek kelima dari integritas: tidak munafik.

Ini merupakan tantangan besar bagi kita semua (Anda dan saya). Bagi saya pribadi, ini merupakan pergumulan tersendiri. Sebagai seorang konselor, sebagai seorang penulis, sebagai seorang pengajar, sebagai seorang pendoa syafaat; setiap kata-kata saya itu haruslah merupakan hal yang ada di hati saya.

Setiap kata-kata saya haruslah merupakan tindakan saya juga. Seringkali sulit sekali untuk benar-benar menjadi pelaku dari setiap yang saya nasehatkan, yang saya ucapkan, yang saya ajarkan, dan yang saya doakan. Namun, saya tidak mau berhenti di keterbatasan itu, saya tahu akan keterbatasan saya. Saya mengerti ini proses yang akan berlangsung seumur hidup.

Ketika saya mengambil keputusan untuk, “Ya, saya MAU taat, Tuhan. Panggilan saya adalah untuk menjadi konselor, penulis, pengajar, dan pendoa syafaat”, saya sadar benar akan banyaknya tantangan yang akan saya hadapi, terutama yang berkaitan dengan kemunafikan. Ini adalah tantangan bagi setiap kita, sebagai seorang Kristen.

Kristen bukanlah agama.

Kristen bukanlah hanya simbol salib.

Kristen bukanlah bangunan gereja.

Sebaliknya,

Kristen adalah suatu panggilan.

Kristen adalah suatu gaya hidup.

Kristen adalah suatu penjabaran segala tata nilai yang Kristus contohkan.

Kristen adalah menjadi Kristus-Kristus kecil.

Kristen berarti konsistensi tindakan, nilai, metode, ukuran, prinsip, harapan, dan hasil.

Kristen berarti tidak munafik.

Kristen berarti integritas.

Untuk menutup pembahasan hari ini, mari kita sama-sama berdoa dan kiranya doa ini menjadi suatu komitmen bagi kita (Anda dan saya):

“Bapa yang baik, terima kasih untuk setiap hal yang Kaupercayakan pada kami. Setiap hal yang Kau percayakan, kami percaya Kau juga sertai dengan kemampuan bagi kami untuk menanganinya.

Hal yang kami minta, ya Tuhan, saat kami MAU berjalan bersama Engkau, saat kami MAU melakukan hal yang Tuhan inginkan; kami minta satu hal, ya Tuhan: supaya kami bisa menghidupi setiap kata-kata kami, setiap iman kami, setiap tindakan kami, setiap doa kami.

Ya Tuhan, jadikan kami Kristus-Kristus kecil. Bukan menjadi seorang Kristen yang hanya sebutan saja. Bukan hanya menggunakan simbol salib sebagai tanda kami anak-anak-Mu. Tapi di atas itu semua, kami ingin menjadi orang-orang yang penuh integritas, menjadi orang-orang yang tidak munafik.

Untuk itu, kami butuh kekuatan yang dari-Mu, Tuhan, karena mengandalkan kekuatan, kemampuan, kepandaian, kekayaan, dan segala milik kami.. itu sama sekali tidak cukup dan tidak memadai. Kami butuh Engkau, Tuhan.

Ya, Roh Kudus, ingatkan, gerakkan, tuntun, dan tegur kami senantiasa untuk tetap memegang erat integritas kami di manapun kami berada. Syukur kepada Tuhan buat segala kasih, karunia, penyertaan, dan terutama buat karya penyelamatan-Mu bagi kami. Dalam nama Yesus kami telah berdoa dan mengucap syukur. Amin”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: