All for Glory of Jesus Christ

Pada notes hari ini akan dibahas dimensi yang keempat atau terakhir dari pengorbanan (membayar harga), yaitu God’s Dependence – Mengandalkan Tuhan. Mengapa ini merupakan dimensi terakhir walaupun sebenarnya ini merupakan hal yang sangat penting?

Karena sebagai manusia, kita (saya dan Anda) cenderung mudah untuk lupa mengandalkan Tuhan. Mengandalkan Tuhan merupakan suatu bentuk pengorbanan, yaitu menyangkal kedagingan.

Matius 16:24: Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Di situ ada kata menyangkal diri, salah satu bentuk menyangkal diri adalah menolak kedagingan dan mengandalkan Tuhan.

Bagi sebagian orang, termasuk saya, hal ini merupakan hal yang sangat berat. Mengapa? Saya termasuk orang yang secara konsisten mengamati, menganalisis, dan mengambil kesimpulan berdasarkan hal yang saya amati. Hal yang sulit untuk saya lakukan adalah untuk berserah penuh.

Berserah penuh merupakan salah satu bukti mengandalkan Tuhan. Ya, salah satu yang masih saya pegang erat-erat adalah kontrol atas situasi. Ketika fakta berbenturan dengan iman, di situlah konflik dimulai.

Inilah yang Tuhan minta dari saya hari-hari ini: mengandalkan Tuhan, tak peduli situasi apapun yang saya hadapi, Tuhan mau saya mengandalkan Dia. Saya percaya, ini juga yang Tuhan mau untuk Anda lakukan.

Berkaitan dengan mengandalkan Tuhan, saya akan mengambil kisah rubuhnya Tembok Yerikho (dicatat dalam Yosua 6). Saya yakin banyak dari Anda yang sudah mengetahui kisah ini, tetapi tidak apa-apa, akan saya ulang di sini.

Bangsa Israel setelah keluar dari perbudakan di Mesir, dengan menyebrangi Laut Merah kemudian masuk ke padang gurun. Mereka terus berjalan untuk mencapai Kanaan (tanah terjanji) yang Tuhan telah janjikan pada mereka.

Karena mereka tidak taat pada Tuhan dan hobi berpaling pada dewa-dewa sesembahan, Tuhan membiarkan mereka berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun. Namun sebagai bangsa terjanji; Tuhan, walaupun membiarkan mereka ditempa di padang gurun, tidak membiarkan mereka kekurangan:

– Makanan (dalam bentuk manna) (Keluaran 16),
– Air (yang bahkan dapat tersedia secara ajaib padahal padang gurun kan kering kerontang) (Keluaran 15:22-27, 17:1-7),
– Perlindungan (dalam bentuk malaikat yang berjalan di depan Bangsa Israel) (Keluaran 23:20),
– Cuaca yang baik (tiang awan supaya mereka tidak kepanasan pada siang hari dan tiang api untuk penerangan) (Keluaran 13:21) Tuhan sediakan, bahkan
– Pakaian dan kasut (alas kaki) mereka tidak menjadi rusak selama 40 tahun (Ulangan 29:5). Bayangkan kalau ada pabrik garmen dan sepatu/sandal yang membuat baju dan sepatu/sandal seperti itu, bisa-bisa laku keras hahahahaha.

Ya, seharusnya Bangsa Israel tidak perlu selama 40 tahun berkelana di padang gurun, kalau saja mereka taat pada Tuhan. Sayangnya hati mereka cenderung pada Mesir yang mereka tinggalkan. Mesir bicara tentang kedagingan.

Walaupun Tuhan telah membebaskan Bangsa Israel dari Mesir, hati mereka masih terpaut ke sana. Ini sama seperti Tuhan telah membebaskan kita semua (Anda dan saya) dari dosa, namun sering kali godaan Mesir (kedagingan) menyeret kita pada dosa.

Bayangkan orang yang selama 40 tahun terlunta-lunta di padang gurun.. lalu akhirnya tibalah hari Bangsa Israel menyebrangi Sungai Yordan untuk mencapai Tanah Kanaan yang mereka idam-idamkan selama 40 tahun. Ini sama dengan kita (Anda dan saya) begitu menginginkan sesuatu, setelah menunggu begitu lama akhirnya sudah sampai di hari yang sebentar lagi mendapatkannya.

Di tengah kegirangan akan memperoleh tanah yang dijanjikan Tuhan, ternyata negeri indah itu telah diduduki oleh bangsa lain. Ya, ini terjadi karena Bangsa Israel terlalu keras hati dan tidak mau taat pada Tuhan sehingga tanah terjanji akhirnya kosong dan akhirnya ditempati oleh bangsa lain sebelum kedatangan Bangsa Israel. Untuk menduduki Tanah Kanaan, Bangsa Israel perlu menduduki sejumlah kota-kota, dan salah satu kota yang pertama yang perlu diduduki adalah Yerikho.

Kondisi Kota Yerikho yang dicatat dalam Yosua 6:1 dan 6:5 adalah kota yang dikelilingi oleh tembok pertahanan dengan memiliki pintu gerbang sebagai jalan masuk. Bila Anda sering menonton film-film perang saat zaman dulu, pasti kondisi ini sudah tidak asing bagi Anda. Sudah merupakan hal yang lazim bagi pertahanan suatu kota/daerah untuk mendirikan tembok pertahanan.

Ya, hal yang menarik ada dicatat dalam

Yosua 6:2-5: Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa. Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya, dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala. Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan.”

Ya, Tuhan ingin menyerahkan kota Yerikho, tetapi dengan cara yang sangat tidak lazim dalam pemikiran manusia. Tuhan menyuruh Youa dan semua prajurit memutari kota Yerikho satu kali dan ini dilakukan selama enam hari, lalu pada hari ketujuh harus tujuh kali mengelilingi kota itu dan para imam meniup sangkakala. Lalu pada saat bunyi sangkakala terdengar nyaring dan terdengar bunyi itu oleh Yosua, seluruh Bangsa Israel harus bersorak dengan nyaring, dan tembok kota Yerikho akan runtuh.

Aneh sekali bukan? Bahkan sangat absurd! Ya, hal yang ada dalam pemikiran Allah adalah sangat berbeda dengan pemikiran manusia. Hal yang menarik lainnya adalah tercatat dalam Yosua 6:6-21. Apa yang Tuhan perintahkan dalam Yosua 6:2-5 ternyata dilaksanakan oleh Yosua dan segenap Bangsa Israel dan hasil akhirnya adalah mereka dapat merebut kota Yerikho.

Beberapa hal yang dapat kita pelajari mengenai mengandalkan Tuhan dalam kisah rubuhnya Tembok Yerikho:
1. Cara Tuhan bukan cara manusia. Rancangan Tuhan bukanlah rancangan manusia.

Yesaya 55:9: Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Ya, cara Tuhan kadang aneh, tidak masuk akal. Apa hubungannya mengelilingi kota Yerikho dan pada hari ketujuh mengelilingi kota Yerikho dengan memperdengarkan bunyi sangkakala dan seluruh bangsa harus bersorak nyaring dalam perang?

Sangat tidak masuk akal manusia bukan? Untuk manusia seharusnya pergi berperang itu siap-siap dengan pedang, golok, meriam, pistol, senapan, granat, dinamit, nuklir, bahkan senjata kimia dan senjata biologi. Begitu bukan?

Tapi ternyata tidak! Saat mengandalkan Tuhan, kadang-kadang Tuhan beri cara yang di luar akal sehat manusia. Saat kita mengandalkan diri kita, maka kita yang harus setengah mati mengeluarkan kekuatan, strategi, pasukan, persenjataan, logistik untuk bisa menang perang. Hasilnya bisa menang, tapi bisa juga kalah.

Namun saat kita lakukan apa yang Tuhan minta dan kita andalkan Tuhan, saat itu Tuhan yang berperang bagi kita. Puji Tuhan! Aspek pertama dari mengandalkan Tuhan: percaya akan perintah, kehendak, dan Tuhan, walau kadang di luar akal manusia.

2. Mengandalkan Tuhan bukan berarti pasif, bukan berarti pasrah, bukan berarti putus asa. Mengandalkan Tuhan merupakan sikap hati yang aktif dan dinamis. Lihat pada Yosua 6:21; di sana diceritakan mengenai Yosua yang taat melakukan hal yang Tuhan katakan.

Ya, selain mengelilingi Kota Yerikho selama 1 kali dalam 6 hari lalu 7 kali pada hari ketujuh dengan membunyikan sangkakala dan menyuruh Bangsa Israel bersorak pada saat bunyi sangkakala itu terdengar panjang.

Tidak berhenti sampai di sana, Bangsa Israel memanjat masuk ke dalam kota, maju terus dan merebut kota itu. Terjadi peperangan. Jadi, yang terjadi itu bukan sekedar ongkang-ongkang kaki saja, tetapi juga melakukan bagian yang diminta Tuhan untuk dilakukan. Aspek kedua dari mengandalkan Tuhan: aktif melakukan bagian kita, sesuai dengan arahan dan tuntunan Tuhan.

3. Saat Yosua mendengar perintah Tuhan yang aneh dan tidak masuk akal, Yosua tidak berpaling pada dewa-dewa yang lain yang mungkin bisa memberi jawaban yang lebih masuk akal.

Kadang kala saat doa-doa kita yang sudah lama kita panjatkan, ternyata belum juga dijawab Tuhan, kita menjadi putus asa, frustasi, kecewa, marah, dan menganggap Tuhan tidak mendengar doa kita, Tuhan tidak bisa diandalkan. Lalu lari pada yang lain. Keliru besar!

1 Samuel 12:21: Janganlah menyimpang untuk mengejar dewa kesia-siaan yang tidak berguna dan tidak dapat menolong karena semuanya itu adalah kesia-siaan belaka.

Ya, jangan lari pada dewa-dewa yang menjanjikan sesuatu yang dapat menolong kita. Itu adalah berhala yang akan membawa kutuk dan kesengsaraan dalam hidup kita.

Tidak seperti Tuhan yang meminta korban lalu saat kita berikan, Ia mengembalikan korban itu pada kita, bahkan memberkati kita lebih lagi. Iblis juga meniru hal itu, Iblis juga meminta korban, bahkan seolah-olah memberikan hal yang kita minta.

Namun Iblis bukan Tuhan, sesudah memberikan yang kita minta, Ia pamrih. Ia meminta lebih banyak lagi dari kita. Sudah terlalu banyak cerita memilukan berkaitan dengan ini. Jangan sampai hal ini terjadi pada Anda!

Zakharia 10:2: Sebab apa yang dikatakan oleh terafim adalah jahat, dan yang dilihat oleh juru-juru tenung adalah dusta, dan mimpi-mimpi yang disebutkan mereka adalah hampa, serta hiburan yang diberikan mereka adalah kesia-siaan. Oleh sebab itu bangsa itu berkeliaran seperti kawanan domba dan menderita sengsara sebab tidak ada gembala.

Jangan pergi pada peramal dan orang “pintar”. Ini adalah suatu bentuk kejahatan di mata Tuhan! Hati-hati, bukannya berkat yang Anda dapatkan, malah kutuk. Mungkin saja sesaat Anda seolah-olah mendapat berkat, tapi pada akhirnya kutuk yang Anda peroleh.

Hindari juga untuk mempercayai segala bentuk karya dari peramal dan orang “pintar”: shio, zodiac, fengshui, dan sebagainya. Aspek ketiga dari mengandalkan Tuhan: tidak berpaling pada kekuatan (dewa) lain, tapi fokus hanya pada Tuhan.

4. Yosua tidak berpaling pada kekuatan sendiri, yaitu mengandalkan jumlah prajurit, persenjataan, atau pengalaman, pengetahuan, dan strategi perang. Tidak! Yosua taat melakukan perintah Tuhan. Ya, Yosua tetap berpegang pada hal yang Tuhan perintahkan bukan pada kekuatannya sendiri.

Yesaya 31:1: Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.

Lebih lanjut dalam

Yeremia 17:5: Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”

Bahkan dalam

Yehezkiel 16:15: Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu dan engkau menghamburkan persundalanmu kepada setiap orang yang lewat.

Ingat, jangan mengandalkan diri sendiri: kekuatan, kepintaran, kemampuan, kekayaan, kekuasaan, kecantikan/kegantengan, kemolekan tubuh, dan seterusnya! Andalkanlah Tuhan! Aspek keempat dari mengandalkan Tuhan: tidak mengandalkan diri sendiri.

5. Yosua bisa dengan yakin melangkah karena ia tahu Tuhan dapat diandalkan. Ia adalah Allah yang dapat dipercaya. Ia yakin karena ia sudah mengalami sendiri sosok Allah itu.

Yeremia 17:7: Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Ya, ini adalah janji Tuhan. Tuhan tak pernah lalai menepati janjinya. Tuhan dapat diandalkan. Tuhan selalu mendengar doa-doa kita. Tuhan selalu menjawab doa-doa kita.

Jawaban dari Tuhan bisa berbentuk tiga jawaban:
a. “Ya”, yaitu Tuhan memberikan yang kita minta.
b. “Tidak”, yaitu Tuhan tidak memberikan yang kita minta.
c. “Tunggu”, yaitu Tuhan memberikan yang kita minta tapi bukan pada saat sekarang.

Bila Tuhan menjawab “Tidak” bukan berarti Tuhan tidak menjawab doa, tapi Tuhan tahu yang terbaik dari kita. Bila Tuhan menjawab “Tidak” berarti Tuhan tahu bila hal yang kita minta Ia berikan, hal itu akan merusak, membahayakan, bahkan mematikan kita. Tuhan adalah Bapa yang baik.

Ia bukan Bapa yang suka cari muka. Bila Ia tahu sesuatu itu akan berbahaya bagi kita, Ia tak akan berikan walaupun dengan resiko kita anak-anak-Nya akan marah atau kecewa pada-Nya. Di sini dituntut kedewasaan kita untuk mengerti.

Seperti seorang ibu yang akan menolak memberi anaknya permen terus-menerus karena akan merusak gigi sang anak, demikian juga Tuhan hanya memikirkan untuk kebaikan kita.

Bila Tuhan menjawab “Tunggu” bukan berarti Tuhan tidak bisa memberikan hal yang kita minta sekarang juga. Jangan salah mengerti! Tuhan itu tidak terbatas. Sebelum Anda minta pun, Tuhan bahkan sudah tahu yang Anda minta. Ia bahkan jauh lebih mengetahui kebutuhan anak-anak-Nya. Ia Maha Tahu.

Namun sama seperti jawaban “Tidak”, Tuhan hanya ingin yang terbaik bagi kita, anak-anak-Nya. Bila Tuhan menjawab “Tunggu”, itu karena Ia tahu saat itulah yang tepat untuk kita menerimanya, saat itulah saat kita siap untuk menerimanya. Sementara itu, sebelum kita menerima yang kita minta, Tuhan menyiapkan, membentuk, dan memroses kita. Aspek kelima dari mengandalkan Tuhan: percaya dan yakin akan kebaikan Tuhan, apapun jawaban-Nya itu adalah untuk kebaikan kita.

Saya akan menutup notes hari ini dengan sebuah kesaksian kecil. Ini adalah kesaksian yang sangat saya sukai. Mungkin beberapa dari Anda sudah pernah mendengarnya juga dari saya. Kesaksian saya berkaitan dengan payung pink (merah muda) dan kepiting.

Jadi begini ceritanya. Saya memiliki beberapa payung lipat yang umumnya saya bawa tiap hari dalam tas saya. Suatu hari saya menggunakan baju berwarna pink ke kampus dan hari itu hujan. Saya membuka payung saya dan saat itu saya perhatikan warna payung saya adalah biru (warna kesukaan saya hahahah). Lalu saya berpikir dalam hati, “Kog biru ya? Ga matching sama baju saya”.

Kadang-kadang saya suka mencocokkan (matching) warna antara pakaian dengan payung yang saya bawa. Jadi kalau saya pakai baju hitam, saya bawa payung hitam, pakai baju biru bawa payung biru hahahaha, tapi tidak selalu kog hahahaha, kadang-kadang saja. Kejadian itu sudah terlupakan begitu saja.

Sampai suatu kali kakak saya yang paling besar menelpon saya. Dia berkata, “San, mau payung lipat ga? Baru beli nih, beli banyakan soalnya belinya harus setengah lusin atau selusin”. Saya hanya jawab, “Ya, mau”. Ya dong, diberi payung siapa menolak? Lalu, saat kiriman payung itu tiba (karena kakak saya di kota lain dengan kota tempat saya tinggal), ya.. payung pink. Luar biasa bukan?

Kasus kedua tentang kepiting. Selain mie, saya suka sekali makan kepiting, terutama buatan ibu saya. Asal Anda tahu, Ibu saya juru masak nomor 1 di dunia! Ibu saya pintar sekali memasak. Di rumah saya jarang yang kurus hahahahaha. Serius, Ibu saya sangat pintar memasak. Puji Tuhan saya dikaruniai Ibu yang luar biasa seperti beliau.

Suatu kali sesudah lama tidak makan kepiting, tiba-tiba terbersit dalam pikiran saya, “Wah udah lama ya ga makan kepiting”. Sudah hanya begitu. Saya tidak melakukan apa-apa sesudahnya. Karena kepiting itu tidak murah, jadi saya juga tidak memintanya pada Ibu saya. Lagipula, tidak makan kepiting kan tidak mati toh?

Hahahhaahha. Anda tahu, beberapa hari sesudah itu, Ibu saya tahu-tahu berkata pada saya, “Ini mami beli kepiting, kebetulan murah. Mau dimasak apa?” Haleluya, puji Tuhan! Luar biasa!

Anda tahu mengapa saya membagikan 2 kesaksian kecil ini? Payung pink dan kepiting adalah hanya keinginan saya. Saya ulang, payung pink dan kepiting hanya keinginan saya. Saya sama sekali tidak meminta, apalagi mendoakan hahahahah.

Jauh sekali dari itu wakakkakak. Saya hanya terbersit dalam hati, namun Tuhan tahu dan Tuhan mendengar. Kalau saya tidak dapat payung pink atau tidak dapat kepiting, apakah saya akan mati? Wkakakaka, jelas tidak dong! Payung saya banyak, saya bisa pilih dan pakai payung lain.

Begitu juga dengan kepiting. Saya sangat suka pada mie, saya bisa cari dan makan mie sebagai ganti kepiting. Tetapi mengapa Tuhan berikan pada saya? Padahal itu hanya berupa keinginan bukan kebutuhan.

Dari situ saya berpikir.. keinginan dan selera saya saja Tuhan tahu benar, Tuhan mengerti benar, dan Tuhan menghargai itu. Tuhan sayang sekali pada saya, sampai-sampai hal kecil yang tidak penting seperti itu saja Tuhan berikan, apalagi kebutuhan saya? Apalagi hal-hal besar yang saya doakan?

Saya bukan bermaksud mengatakan hal-hal yang kecil tidak perlu didoakan. Bukan, bukan demikian. Tapi maksud saya adalah Tuhan mengerti benar apapun yang saya inginkan, apalagi kebutuhan saya.

Bila Tuhan begitu sayang pada saya, saya juga yakin Tuhan juga sangat sayang pada Anda. Apa yang Anda doakan? Apa yang Anda inginkan? Andalkan Tuhan! Yakinlah bahwa Tuhan akan memberikan; bukan hanya yang Anda minta, bahkan yang terbaik yang lebih dari yang Anda minta.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: