All for Glory of Jesus Christ

All about Love (Part-2)

Hari ini kita akan masuk dalam kasih. Kemarin kita baru membahas arti penting kasih dan sumber kasih. Bagi yang belum membaca notes kemarin (“All about Love (Part-1)”) silakan membacanya terlebih dahulu sebelum membaca notes hari ini.

Saya akan menuliskan sekali lagi ayat mengenai kasih, yaitu dalam 1 Korintus 13:4-7:

1 Korintus 13:4: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

1 Korintus 13:5: Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

1 Korintus 13:6: Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

1 Korintus 13:7: Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Dari 1 Korintus 13:4-7 dapat diperoleh 13 poin mengenai kasih, yaitu
1. sabar,
2. murah hati,
3. tidak cemburu,
4. tidak memegahkan diri dan tidak sombong,
5. tidak melakukan yang tidak sopan,
6. tidak mencari keuntungan diri sendiri,
7. tidak pemarah,
8. tidak menyimpan kesalahan orang lain,
9. tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran,
10. menutupi segala sesuatu,
11. percaya segala sesuatu,
12. mengharapkan segala sesuatu,
13. sabar menanggung segala sesuatu.

Berikut mari kita kupas satu per satu setiap poinnya:

1. Sabar.

Amsal 16:32: Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.

Ayat ini sungguh menarik. Orang sabar dianalogikan melebihi seorang pahlawan. Anda pasti tahu sulitnya seseorang menjadi pahlawan. Bila saat perang, seorang pahlawan telah berjuang mati-matian untuk mengalahkan musuh suatu kota/daerah/ negara. Ya, dibutuhkan perjuangan besar untuk menjadi seorang pahlawan.

Ternyata kesabaran butuh perjuangan besar bahkan lebih dari perjuangan orang yang berjuang di medan perang (si pahlawan itu tadi). Lebih lanjut disebutkan orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota. Hahaha, memang untuk sabar itu butuh proses.

Saya juga masih banyak belajar untuk sabar karena memang untuk sabar ini butuh latihan. Sering kali saya masih kurang sabar, terutama menghadapi orang yang tidak mau belajar dan mau yang serba instan. Di sini terlihat jelas aspek pertama dari sabar adalah pengendalian diri.

Bisakah Anda sabar saat menunggu sang pujaan hati menjadi kekasih Anda? Bisakah Anda sabar menunggu saat sang kekasih asyik mencari aksesoris, baju, sepatu (untuk pria) atau mencari alat-alat dan aksesoris motor atau mobil, handphone, komputer (untuk wanita) (Saya yakin di sini banyak pria dan wanita yang tersenyum-senyum sendiri.)?

Bisakah pasangan kekasih menunggu sampai hari pernikahan sebelum melakukan ritual “malam pertama”? Bisakah suami sabar menunggu sang istri berdandan sebelum pergi ke pesta (hahaha, saya yakin ini banyak suami yang menggaruk-garuk kepala di sini)? Aspek kedua dari sabar adalah waktu.

2. Murah Hati.

Lukas 6:36: Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Sejalan dengan itu ada kata-kata popular seperti ini, “Mengasihi berarti memberi, memberi belum tentu mengasihi”. Nah berkaitan dengan itu saya akan beri 2 kasus: kasus preman dan pemulung.

Ada seorang preman yang disegani dan Anda memberi uang kepadanya karena Anda takut. Mengenai pemulung ini, Anda karena tahu dia mencari plastik-plastik bekas, Anda memisahkan setiap sampah plastik dalam satu tempat dan bahkan memberikan baju baru untuk si pemulung ini. Terlihat kontras bukan?

Dari dua kasus di atas, setidaknya ada beberapa aspek dari murah hati:
Aspek pertama: dilakukan dengan tanpa keterpaksaan (rela). Terdengar janggal? Sebenarnya tidak juga, ada pasangan yang terpaksa harus rajin menjemput sang kekasih daripada harus mendengar omelannya. Hm.. membuat saya berpikir ini pasangan kekasih atau pasangan sopir dan majikan? Hahahahah.

Aspek kedua: dilakukan tanpa rasa takut. Mungkin aneh bagi Anda? Jangan salah, ada pasangan yang murah hati, karena takut ditinggal kekasihnya. Ini bukan murah hati, tapi ketakutan.

Aspek ketiga: dilakukan bukan atas nama gengsi atau nama baik. Ada juga yang murah hati, karena gengsi atau supaya namanya terkenal baik. Istilahnya yang lazim sering saya gunakan dengan teman-teman diskusi saya adalah bulan promosi hahahaha. Jadi bermurah hati, bukan karena rela, bukan karena mengasihi, tapi karena gengsi dan supaya dianggap baik oleh si dia.

3. Tidak cemburu.
Nah, ini bagian yang sangat menarik. Ada sebuah jargon yang sangat terkenal. Saya yakin tanpa saya menyebutkannya pun, saya yakin semua dari Anda pasti sudah tahu. Ya, katanya:

“Cemburu itu tandanya cinta.”

Sepintas terdengar masuk akal, tetapi sebenarnya dalam segala sesuatu kita dapat pandang dari sisi yang lain. Uang logam pun memiliki dua sisi, begitu pula dengan cemburu. Sisi yang satu katanya cinta, sisi yang lain bicara tentang ketidakpercayaan. Aspek pertama dari tidak cemburu: percaya yang proporsional. Jadi bukan percaya yang membuta. Percaya karena memang yakin si dia itu dapat dipercaya.

Amsal 6:34: Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam;

Hari-hari terakhir ini kita sering dikejutkan oleh berita suami membakar istri karena cemburu. Istri menusuk suami karena cemburu. Astaga! Mengerikan sekali bukan? Efek cemburu itu bisa membutakan akal manusia. Hati-hatilah! Jangan sampai dibakar api cemburu! Aspek kedua dari tidak cemburu: pengendalian diri.

Kekasih Anda pergi bersama temannya lalu menghabiskan waktu cukup lama bersama temannya. Kemudian Anda mulai bertanya-tanya dalam hati:

“Sedang apa ya kekasihku? Jangan-jangan dia berkenalan dengan pria lain (wanita lain)?”

Aspek ketiga dari tidak cemburu: didasarkan oleh suatu fakta yang rasional, bukan didasarkan oleh emosi.

4. Tidak Memegahkan Diri dan Tidak Sombong.

Yakobus 4:16: Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.

Mengenai kesombongan sudah pernah dibahas dalam notes “Minder, Sombong, dan Percaya Diri (Trilogi-2)”. Silakan mengacu ke sana untuk pembahasannya.

5. Tidak Melakukan yang Tidak Sopan.
Berbicara masalah tidak melakukan yang tidak sopan di sini erat kaitannya dengan masalah seksualitas. Sudah menemukan pasangan Anda? Selamat! Apakah Anda mengasihi kekasih Anda? Bila ya, apakah Anda menghormati dirinya? Ataukah Anda mengganggap telah menemukan pemuas nafsu Anda? Hati-hati! Aspek pertama dari tidak melakukan yang tidak sopan: menghormati.

Bagi seorang pria, masalah seksualitas merupakan pergumulan yang dihadapi setiap hari. Melihat sang kekasih yang cantik dan berseri-seri mengenakan pakaian yang mini dapat menimbulkan imajinasi-imajinasi liar. Bila tidak dikendalikan, hasilnya sudah dapat ditebak: hubungan seksusal pranikah. Aspek kedua dari tidak melakukan yang tidak sopan: pengendalian diri.

Bagi seorang wanita, tampil cantik dan memukau pasangan merupakan kesenangan dan keinginan hati setiap wanita. Ya, dong, wanita kan selalu ingin terlihat cantik (Begitu kan para wanita? Hehehehe). Permasalahannya tampil cantik dan tampil seksi itu dua hal yang berbeda. Pengertian seksi di sini adalah dalam konteks berpakaian minim.

Hati-hati, bukan hanya pria yang dapat melakukan yang tidak sopan, wanita juga bisa melakukan yang tidak sopan! Bukan hanya pria yang harus melindungi wanita, wanita pun harus melindungi pria. Aspek ketiga dari tidak melakukan yang tidak sopan: melindungi.

6. Tidak Mencari Keuntungan Diri Sendiri.
Untuk apakah Anda ingin berpacaran? Untuk apakah Anda ingin menikah? Apakah untuk membuat Anda merasa senang, merasa bangga karena memiliki pacar/suami/istri yang bisa dipamerkan (bisa mendongkrak popularitas dan prestige karena pacar/suami itu ganteng/kaya/keren atau pacar/istri itu cantik/bodi bagus/seksi)?

Pasangan yang tepat (pacar/suami/istri) memang akan membuat kita bahagia, tetapi bukan itu tujuan utama kita berpacaran/menikah. Pasangan yang tepat (pacar/suami/ istri) memang akan membuat kita bangga saat bersamanya, tetapi bukan itu tujuan kita berpacaran/menikah.

Hal ini terkait erat dengan poin-poin yang sudah dibahas sebelumnya. Aspek utama tidak mencari keuntungan diri sendiri: tidak egois (sudah pernah dibahas dalam notes “Dimensions of Sacrificing (Tetralogi-2)”).

7. Tidak Pemarah.
Amsal 21:19: Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah.

Wow, padang gurun itu kan panas, kering, berdebu. Hidup di padang gurun saya bayangkan (karena saya belum pernah hidup di padang gurun) akan sangat berat. Tapi di Amsal 21:19 ditulis lebih baik tinggal di padang gurun daripada tinggal dengan pemarah.

Padang gurun sifatnya adalah kering dan panas, kalau kita berlama-lama di padang gurun, besar kemungkinan kita akan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Lihat saja di sekian banyak film dengan latar belakang di padang gurun. Pasti banyak yang menggambarkan kehausan.

Ya begitu pula tinggal dengan pasangan yang pemarah. Ia merupakan padang gurun yang harus dihadapi, membuat kita menjadi kering dan kalau hanya kering karena kurang cairan masih lebih bisa dihadapi. Pasangan yang pemarah membuat kering secara emosi. Kemarahan mengisap habis suka cita dan damai sejahtera.

Lawan dari padang gurun, tentu saja savana: padang rumput yang hijau. Berada di padang rumput yang hijau membuat segar, membuat bersemangat, dan membuat hati terasa teduh. Bersama dengan pasangan yang tidak pemarah membuat kita jadi segar dan mengisi baterai emosi kita (jadi ingat daily devotional hari ini “Plug In Your Emotional Battery” yang ditulis oleh Rick Warren). Lawan pemarah adalah sabar. Aspek utama dari tidak pemarah dapat dilihat di pembahasan mengenai sabar di poin 1 aspek 1, yaitu pengendalian diri.

8. Tidak Menyimpan Kesalahan Orang Lain.
Memori yang baik adalah musuh besar dalam hal tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ya, setiap kali teringat kesalahan kekasih/suami/istri kita, rasa-rasanya setiap kali teringat hal itu kita jadi teringat lagi kejadian di masa silam. Permasalahannya adalah: bagaimana kita bisa tidak menyimpan kesalahan orang lain tanpa mengingatnya?

Kalimat favorit yang sering saya katakan adalah:

“Melupakan itu hal yang sulit, kecuali kalau kita mengalami amnesia (lupa ingatan).”

Ibrani 8:12: Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.

Ya, Allah yang sempurna mengampuni dosa kita dan sekaligus melupakannya. Bagaimana dengan kita?

Dalam 1 Korintus 13:5b itu yang tertulis adalah kata “tidak menyimpan”. Apa persamaan dan perbedaan “melupakan” dan “tidak menyimpan”? Persamaannya adalah keduanya tidak mengingat-ingat yang sudah berlalu. Perbedaannya “melupakan” itu melakukan usaha untuk menjadi lupa, sedangkan “tidak menyimpan” itu mungkin masih ingat tapi tidak berhitung-hitung lagi dengan yang sudah-sudah.

Untuk bisa melupakan kesalahan itu butuh kuasa supernatural dari Allah, tapi untuk tidak menyimpan kesalahan seseorang yang dibutuhkan adalah kuasa pengampunan. Dalam satu sisi, pengampunan juga sedikit banyak membutuhkan kuasa supernatural dari Allah, tapi di sisi lain, pengampunan juga membutuhkan kuasa kita: ke-MAU-an kita untuk mengampuni.

Mungkin pasangan Anda/suami/istri Anda pernah begitu menyakitkan Anda di masa lalu. Hati Anda terasa begitu sakit? Maukah Anda mengampuninya? Pada saat Anda telah mengampuninya, walaupun suatu waktu Anda teringat akan hal itu, tidak akan terasa menyengat dan menyakitkan Anda lagi dan itu yang sangat Anda butuhkan. Aspek utama dari tidak menyimpan kesalahan orang lain: pengampunan.

9. Tidak Bersukacita karena Ketidakadilan tetapi karena Kebenaran.
Pasangan/suami/istri Anda melakukan suatu hal yang keliru kepada orang lain untuk keuntungan kalian berdua, namun Anda tahu hal itu bukan hal yang benar. Apa yang Anda lakukan? Diam? Ikut senang karena bisa kecipratan rejeki juga? Atau mengingatkannya bahwa yang dia lakukan adalah keliru? Aspek pertama dari tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran: tidak kompromi, pegang teguh prinsip Anda akan kebenaran.

Memang ada resiko bila Anda mengoreksi pasangan/suami/istri Anda. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk segala sesuatu (Ingat hukum kedua dari Ekologi, “There is nothing such a free lunch). Hubungan yang harmonis dapat menjadi berkonflik. Bisa saja pasangan Anda menjadi menjauh. Namun dalam hubungan yang sehat, seharusnya pasangan dapat saling mengoreksi tanpa takut.

Hubungan yang sehat dan penuh kasih akan mengakibatkan kedua pihak bertumbuh bersama, saling membangun satu sama lainnya: meningkatkan aspek-aspek positif dalam diri dan pasangan, sekaligus menetralisir/mengurangi/bahkan mengganti aspek-aspek negatif dalam diri dan pasangan menjadi aspek-aspek yang positif. Aspek kedua dari tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran: mengambil resiko.

10. Menutupi Segala Sesuatu.
Pasangan/suami/istri Anda memiliki aib-aib yang memalukan? Pasangan Anda memiliki masa lalu yang mengerikan? Sebagai pasangan/suami/istri, Anda dipanggil untuk menjadi penolong yang sepadan (Kejadian 2:18), bukan untuk menjadi perongrong yang sepadan.

Salah satu tugas sebagai seorang penolong yang sepadan adalah untuk membantu pasangan dalam berbagai bentuk. Jangan salah mengerti! Menutupi segala sesuatu bukan berarti berbohong, bukan berarti menciptakan alibi (suatu dasar untuk membenarkan), atau bahkan kesaksian palsu.

Bukan, sama sekali bukan! Sama sekali jauh dari itu! Menutupi segala sesuatu berarti Anda mendukung pasangan Anda walaupun masa lalunya buruk, walaupun dia memiliki aib yang memalukan. Aspek pertama dari menutupi segala sesuatu: tidak membeberkan keburukan pasangan/suami/istri di muka umum (menjaga martabat pasangan/suami/istri).

Saya suatu hari di tahun-tahun yang sudah lalu bertanya kepada kakak saya yang kedua mengenai kakak ipar saya, “Ci, apakah koko ipar tidak punya sifat buruk”. Kakak saya menjawab, “Ya, ada pastinya”.

Saya bertanya lebih lanjut lagi, “Lalu bagaimana menghadapinya? Bagaimana bisa menerimanya?” Kakak saya menjawab, “Karena saya mencintai dia, saya dapat menerima kelemahannya”. Wow, suatu hal yang sangat indah. Saya ingat sekali hal ini, walau sudah cukup lama saya menanyakannya.

Lukas 3:5: Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,

Lembah yang ditimbun berbicara tentang kelemahan yang diatasi. Kasih dapat mengatasi segala kelemahan dan keterbatasan. Kasih dapat menerima diri pasangan/suami/istri kita apa adanya. Aspek kedua dari menutupi segala sesuatu: menerima pasangan apa adanya, termasuk kelemahan dan keterbatasan pasangan/suami/istri.

11. Percaya Segala Sesuatu.
Masalah kepercayaan ini sudah dibahas sekilas di poin tidak cemburu. Ya, aspek pertama dari percaya segala sesuatu: percaya yang berdasar, karena si dia (pasangan/suami/istri) memang dapat dipercaya.

Pasangan Anda tiba-tiba jarang telpon dan sms, lalu suatu waktu dia telpon dan sms. Ternyata sedang ada proyek baru yang harus dia kerjakan. Apa reaksi Anda? Gembira karena bisa mendengar kabar dari dia? Kesal karena baru sekarang dia menghubungi Anda? Apakah Anda sudah berpikir dari A sampai Z mengenai kemungkinan mengapa dia baru menghubungi Anda sekarang? Aspek kedua dari percaya segala sesuatu: berpikir positif.

l2. Mengharapkan Segala Sesuatu.

Mazmur 130:6: Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.

Apakah Anda pernah meronda atau menjaga sampai pagi, yaitu sampai ada yang menggantikan Anda? Kalau pernah mengalami, pasti Anda menginginkan pagi cepat datang bukan? Pasti mengharapkan waktu cepat berlalu sehingga Anda dapat digantikan oleh orang lain dalam berjaga.

Dalam kasih terdapat aspek mengharapkan segala sesuatu. Nah seperti pengawal yang mengharapkan pagi dalam Mazmur 130:6, demikian juga kita. Saat kita mengasihi seseorang, kemungkinan besar kita berharap si dia menjadi kekasih kita. Saat kita mengasihi pasangan kita, kemungkinan besar kita berharap si dia menjadi suami/istri kita.

Saat kita mengasihi suami/istri kita, kemungkinan besar kita akan mengharapkan yang terbaik bagi suami/istri dan keluarga kita. Harapan itu baik, namun dasarnya harus satu, yaitu Tuhan. Berdasar pada Tuhan artinya berdasar pada kebenaran-Nya, pada firman-Nya, pada pribadi-Nya, pada kehendak-Nya.

Saat kita berharap segala sesuatu, tetapi dengan dasar yang lain: orang lain, fakta, situasi, kemungkian besar kita akan kecewa. Mengapa demikian? Karena kita mendasarkan harapan kita pada dasar yang dapat berubah. Aspek pertama mengharapkan segala sesuatu: berdasar pada Tuhan, bukan pada orang, situasi, fakta, atau bahkan kehendak kita sendiri.

Mengapa kita berharap? Karena kita menginginkan sesuatu, karena kita membutuhkan sesuatu. Mengapa kita menginginkan sesuatu? Mengapa kita membutuhkan sesuatu? Karena kita manusia yang masih hidup di dunia, masih memerlukan dan menginginkan banyak hal dalam hidup kita. Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak! Selama yang kita inginkan dan kita butuhkan itu sesuatu yang positif, ya tentu saja tidak salah.

Bolehkah mengharapkan pasangan/suami/istri kita berubah? Tentu saja boleh kalau itu ke arah yang lebih baik, malah kita perlu mendukung, menolongnya, dan mendoakannya. Jadi bukan sekedar duduk diam dan hanya berharap saja. Juga bukan sekedar tuntut-menuntut. Aspek kedua dari mengharapkan segala sesuatu: disertai dengan tindakan.

Berkaitan dengan mengharapkan pasangan/suami/istri berubah, apa yang dapat kita lakukan? Semua dukungan, menolong, mendoakan sudah dilakukan. Bertahun-tahun sudah berlalu, namun si dia masih tetap tidak berubah. Milikilah iman!

Lukas 17:6: Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu”.

Ingin melihat pasangan/suami/istri berubah ke arah yang lebih baik? Selain tindakan, tetaplah teguh dalam pengharapan Anda dan berimanlah! Aspek ketiga dari mengharapkan segala sesuatu: teguh dalam pengharapan dan beriman.

13. Sabar Menanggung Segala Sesuatu.
Suatu hubungan tidak mungkin berjalan lancar begitu saja alias mulus seperti jalan tol. Jalan tol saja bahkan kadang-kadang tidak mulus hahahahaa. Danau yang tenang pun selalu memiliki riaknya. Ujian untuk mengetahui kekuatan suatu kapal adalah pada saat diterpa badai. Ujian untuk mengetahui kekuatan hubungan adalah saat permasalahan melanda.

Aspek mengenai sabar sudah dibahas dalam poin 1. Di sini akan lebih dititik beratkan pada menanggung segala sesuatu. Menanggung itu berarti memikul. Kalau menyangkut kata memikul selalu ayat favorit saya adalah mengenai kuk.

Matius 11:29-30: Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Ya, Tuhan telah memberikan kita kuk yang ringan. Puji Tuhan! Oleh karena itu, sekian banyak permasalahan yang kita hadapi dalam hubungan kita itu sifatnya ringan dan ini bukan saya yang mengatakannya, melainkan Tuhan sendiri. Aspek pertama dari sabar menanggung segala sesuatu: paham bahwa apa yang ditanggung itu ringan.

Mengapa permasalahan itu ada? Hal ini sudah pernah saya bahas dalam notes “Hidup = Mengalami Masalah”. (Hahahaha, waktu saya menulis ini, lagu MP3 yang terdengar adalah “Bila Tuhan Menguji”. Benar-benar bukan suatu kebetulan!). Lalu, bagaimana menghadapi masalah? Silakan baca ya di notes yang sudah saya sebutkan.

Ingatlah bahwa

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkotbah 3:11a).

Lihat “nya” di sini bukan “Nya” artinya segala sesuatu indah pada waktu kita, manusia. Jadi bisa sudah tiba waktu kita untuk memperoleh segala sesuatu, kita akan memperolehnya juga. Aspek kedua dari sabar menanggung segala sesuatu: indah pada waktunya.

Jadi, sudah siap menerapkan kasih? Belum punya kasih? Kasihnya masih minim? Jangan kuatir! Ingat Allah itu sendiri adalah kasih. Jadi jangan kuatir! Jadilah seorang Kristus kecil yang MAU senantiasa belajar dan MAU senantiasa diproses oleh-Nya. Amin.

(Footnote:
– Thanks to Ci July Erawaty for sharing with me about Ko Ferry.
– Thanks to “Ryonn” Ronny Santosa for the discussion about men and sexuality. I use it in this note hehehe).

Iklan

Comments on: "All about Love (Part-2)" (2)

  1. FB Comment from DH:
    MAntabs ci pembahasannya.. dipublikasiin aja. btw, punya blog ga? tulisan2nya bagus2 tuh..hehe.GBU

    • Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Blog ada, isi sama dengan notes facebook.
      Blog: archaengela.tblog.com

      Lagi berencana publish yang edisi inggrisnya juga, tapi masih banyak kegiatan banget, pusing bagi waktunya.

      Thx ya buat ide-idenya :). Makin menyemangati saya :).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: