All for Glory of Jesus Christ

Correction (Part-1)

Pembahasan hari ini adalah mengenai correction (teguran). Karena terdapat dua sisi dalam mata uang logam, hari ini saya akan membahas mengenai ditegur dan hari esok saya akan membahas mengenai menegur.

Bicara mengenai ditegur, saya yakin setiap dari kita (Anda dan saya) sudah pernah mengalami yang namanya ditegur. Bagaimana rasanya ditegur? Senang? Sedih? Bahagia? Kecewa? Kesal? Marah?

Ya, pada umumnya saat kita ditegur, agak sulit untuk merasa senang dan bahagia. Saya termasuk orang yang seperti itu. Apalagi bila teguran yang disampaikan bersifat tajam dan menusuk. Saya termasuk orang yang tidak pandai menerima teguran.

Mungkin banyak dari Anda juga sama seperti saya. Hal ini juga dicatat dalam Alkitab, yaitu dalam

Ibrani 12:11a: Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita.

Ya, ganjaran atau teguran memang tidak mengenakkan. Namun saya telah menemukan sejumlah orang yang begitu pandai dalam menerima teguran. Hal yang saya maksud adalah orang-orang tersebut begitu terbuka untuk menerima teguran dan bukannya kesal atau marah karena ditegur, tetapi justru malah bersuka cita dan berterima kasih. Mengagumkan!

Saya sendiri masih harus belajar banyak untuk menerima teguran. Puji Tuhan, Tuhan begitu mengasihi saya karena memberikan sejumlah orang yang mau menegur saya, mengingatkan saya, dan saat saya mau menerima teguran itu, saya memperoleh hal yang berharga.

Lebih lanjut mengenai teguran disampaikan dalam

Amsal 12:1: Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.

Ya, orang yang membenci teguran disebut dungu. Saya tidak ingin menjadi orang yang dungu. Oleh karena itu, saya perlu belajar untuk menerima dan menikmati menerima teguran (ditegur). Begitu pula dengan Anda.

Mari kita tinjau manfaat teguran:
1. Dalam

Ibrani 12:11b: Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

Teguran menghasilkan kebenaran. Kebenaran menghasilkan damai. Bila kita melakukan sesuatu yang salah secara sadar, biasanya kita akan merasakan sesuatu dalam hati kita: tidak enak, merasa bersalah, tidak tenang, tidak damai.

Hal ini terjadi karena dalam diri kita terdapat suara hati, nurani, atau dalam psikologi disebut sebagai super ego. (http://psychology.about.com/od/theoriesofpersonality/a/personalityelem.htm).
Saya akan mengutip langsung dari sumber tersebut:

The superego is the aspect of personality that holds all of our internalized moral standards and ideals that we acquire from both parents and society–our sense of right and wrong.

There are two parts of the superego:
1. The ego ideal includes the rules and standards for good behaviors. These behaviors include those which are approved of by parental and other authority figures. Obeying these rules leads to feelings of pride, value, and accomplishment.

2. The conscience includes information about things that are viewed as bad by parents and society. These behaviors are often forbidden and lead to bad consequences, punishments, or feelings of guilt and remorse.

Bila diterjemahkan adalah sebagai berikut:
Superego merupakan aspek dari kepribadian yang memegang seluruh standar moral dan idealisme yang kita miliki dan hal ini diperoleh dari dua sumber, yaitu orang tua dan masyarakan – merupakan suatu bentuk nilai benar atau salah.

Terdapat dua bagian dalam superego:
1. Ego ideal, termasuk di dalamnya aturan-aturan dan standar-standar untuk perilaku yang baik. Perilaku-perilaku ini termasuk perilaku-perilaku yang disetujui oleh orang tua dan figur otoritas (pemegang kekuasaan). Mematuhi aturan akan menghasilkan suatu perasaan bangga, berharga, dan berhasil.

2. Kesadaran, termasuk di dalamnya adalah informasi mengenai hal-hal yang dipandang sebagai hal yang buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku-perilaku ini sering dilarang untuk dilakukan dan akan bila dilakukan menghasilkan konsekuensi, hukuman, dan perasaan bersalah serta penyesalan yang dalam.

Bahkan bagi orang percaya, tidak cukup hanya superego, Tidak cukup hanya nurani/suara hati. Tuhan juga mengaruniakan Roh Kudus dalam setiap kita (Anda dan saya). Mengapa demikian? Super ego/nurani/suara hati masih bisa salah, karena ditentukan oleh nilai, norma, tatanan-tatanan yang tertanam dalam diri, dan yang ditanamkan oleh orang tua dan masyarakat, sedangkan Roh Kudus tidak bisa salah.

Dalam

Yohanes 14:16: Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Ya, Penolong di sini adalah Roh Kudus. Dengan adanya Roh Kudus, saat kita berbuat salah, akan terasa sekali.

Bagaimana dengan tindakan salah yang tidak kita sadari? Hal yang kita tidak pahami itu adalah salah? Roh Kudus akan memberitahukan kita, salah satunya lewat teguran. Karena Roh Kudus adalah Allah sendiri dan Allah adalah damai, saat kita mengikuti teguran-Nya maka damai yang hilang itu akan kembali.

2. Dalam

Amsal 6:23: Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,

Ya, teguran yang mendidik merupakan penuntun hidup kita. Suatu kapal yang berlayar mengarungi lautan akan sulit untuk menentukan arah dan jaraknya dari tempat semula, kecuali ada kompas dan perangkat navigasi untuk menentukan jarak.

Begitu pula dengan kita. Saat kita berlayar mengarungi samudera kehidupan ini, seringkali kita kehilangan arah sudah sejauh mana kita berlayar. Kita membutuhkan teguran sebagai kompas dan perangkat navigasi kita.

3. Dalam

Amsal 10:17: Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat.

Teguran menjaga kita dari tersesat. Bila kita terus-menerus melakukan hal yang salah, kita dapat tersesat pada akhirnya. Hal ini sangat menarik, karena seringkali kita tidak menyadari bila kita sudah melakukan kesalahan kecil.

Sedikit demi sedikit kesalahan kecil itu kita lakukan lalu akhirnya menjadi menumpuk. Bahaya dari hal-hal kecil ini dapat membawa kepada konsekuensi yang sangat serius: kemurtadan, meninggalkan Tuhan. Ya, tersesat berarti meninggalkan Tuhan.

Mungkin Anda akan menyebutkan saya berlebihan. Tetapi, sesungguhnya tidak. Hal yang berbahaya justru adalah hal kecil dan hal yang sepele. Mengapa? Karena kita (Anda dan saya) cenderung mengabaikan hal yang kecil dan sepele. Kita lebih tertarik untuk mengatasi kesalahan yang besar.

Saya tidak mengatakan kesalahan besar itu harus kita abaikan. Tidak, sama sekali tidak demikian! Kesalahan besar sudah pasti harus kita perhatikan, namun begitu juga kesalahan kecil.

Sudah banyak bukti bagaimana orang meninggalkan Tuhan hanya karena diawali oleh hal-hal yang sepele. Saya tidak perlu menyebutkan satu per satu, bahkan saya juga cukup yakin Anda sendiri bias menyebutkan beberapa contoh kasus.

Ya, teguran menjaga kita dari membuat kesalahan yang lebih besar dan pada akhirnya menghindarkan kita dari ketersesatan.

Setelah mengetahui manfaat teguran, bagaimana sikap kita menghadapi teguran?

Dalam

Yeremia 17:23: Namun mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memperhatikannya, melainkan mereka berkeras kepala, sehingga tidak mau mendengarkan dan tidak mau menerima tegoran.

Ya, sejumlah orang, termasuk saya sendiri masih sering tidak mau mendengarkan, tidak mau memperhatikan, berkeras kepala, dan tidak mau mendengarkan teguran. Hal yang sangat salah!

Teguran yang mendidik, baik disampaikan dengan lemah lembut ataupun dengan tajam dan menusuk, tujuannya adalah baik. Memang akan lebih mudah menerima teguran yang lemah lembut dan tidak bersifat mencela, pedas, atau tajam dan menusuk, tetapi sama saja semuanya adalah teguran yang mendidik.

Saya sering mengalami saat mengalami teguran yang tajam dan menusuk, reaksi pertama saya sudah jelas menolak itu. Namun seringkali sesudahnya, Roh Kudus mengingatkan pada saya akan kebenaran teguran itu.

Ya, saya masih harus banyak sekali belajar untuk menerima teguran. Sikap yang perlu dimiliki terhadap teguran:
a. Mendengarkan.
Ya, mendengarkan merupakan kunci pertama untuk menerima teguran. Tanpa mendengarkan kita tidak bisa mengerti apalagi untuk menerima teguran.

b. Memperhatikan.
Memperhatikan untuk mengetahui permasalahan apa yang perlu kita bereskan. Hal apa yang perlu kita koreksi dalam diri kita.

c. Membuka hati dan tidak berkeras kepala.
Berkaitan dengan membuka hati dan tidak berkeras kepala, ini sangat terkait erat pada satu aspek, yaitu kerendahan hati. Dalam

Amsal 15:33: Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

Untuk bisa menerima teguran, kita perlu membuka hati dan tidak berkeras kepala. Sumbernya adalah di kerendahan hati. Untuk menerima teguran diperlukan hati yang mau diubahkan. Untuk menerima teguran diperlukan kesadaran bahwa

Saya bukan selalu yang paling benar.

Saya bukan selalu yang paling baik.

Saya bukan selalu yang paling tahu.

Saya masih harus banyak belajar.

Saya masih harus banyak menerima masukan.

Saya perlu belajar menerima teguran

d. Menerima teguran.
Ini merupakan langkah terakhir. Saat menerima teguran, tentu saja kita tidak akan tinggal diam, tetapi tentu kita akan memikirkan, menyusun langkah-langkah untuk berubah, dan setelah itu melakukannya.

Ya, menerima teguran berarti berubah. Saat kita (Anda dan saya) mau berubah ke arah yang positif, kita (Anda dan saya) menjadi orang yang jauh lebih baik.

Sebagai penutup ingatlah ayat berikut ini!

Amsal 15:10: Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati.

Suatu ayat yang sangat keras! Bila kita membenci teguran, kita akan mati. Ya, saya yakin kita semua (Anda dan saya) tidak ingin menjadi orang yang mati bukan? Mati di sini bukan secara harafiah tidak bernyawa lagi dan dikubur, tetapi mati secara jiwa, mematikan Roh Kudus, mati terhadap kebenaran, tidak bisa membedakan lagi yang salah terhadap yang benar.

Jangan matikan jiwa Anda! Jangan matikan Roh Kudus dalam diri Anda! Jangan matikan kebenaran!

Marilah kita menjadi orang-orang yang mencintai teguran! Marilah kita menjadi orang-orang yang mudah ditegur!

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: