All for Glory of Jesus Christ

Correction (Part-2)

Pembahasan hari ini merupakan kelanjutan dari pembahasan kemarin “Correction (Part-1)”. Hari ini akan dibahas mengenai menegur. Menegur yang saya maksud adalah memberi teguran, menasehati, mendidik, dan mengingatkan.

Mengapa saya perjelas? Karena dalam Bahasa Indonesia kadang-kadang kurang ekspresif untuk mengungkapkan arti sebuah kata. Jadi untuk menghindari kesalahan pemahaman, saya perjelas terlebih dahulu.

Apakah Anda orang yang suka menegur? Rajin menegur? Biasa saja? Jarang menegur? Tidak pernah menegur?

Saya termasuk orang yang cukup rajin menegur. Mengapa? Hal ini sudah menjadi semacam refleks bagi saya. Kadang kala saya harus menahan diri saya untuk tidak menegur. Kadang kala saya merasa enggan harus menegur, padahal saat itu diperlukan untuk menegur.

Mengapa? Ada beberapa alasan. Saya cukup rajin menegur karena memang peranan saya sebagai konselor salah satunya adalah itu: menegur. Reaksi orang terhadap teguran saya bermacam-macam.

Ada yang menerima dengan senang hati, ada yang biasa-biasa saja, ada yang mengiyakan hanya untuk mempercepat proses pembicaraan, ada yang menolak dengan tegas, ada yang berkelit, bahkan ada yang tersinggung dan marah, serta masih banyak lagi reaksi lainnya.

Kadang-kadang saya harus menahan diri saya untuk tidak menegur. Mengapa? Karena kadang-kadang kebutuhan orang tersebut bukan teguran, kadang-kadang kebutuhannya adalah didengarkan. Kadang-kadang perlu menunggu waktu yang tepat untuk menegur. Karena emosi saya lebih dominan daripada pikiran sehat, nurani, atau suara Roh Kudus.

Kadang-kadang orang tersebut memang belum siap untuk menerima teguran. Atau kadang-kadang memang saya juga sebagai manusia biasa dengan segala keterbatasan saya menjadi terlalu kritis dan mengedepankan teguran, bukan karena kasih tetapi karena kecenderungan alami untuk mengritik. Ya, saya akui saya masih harus belajar banyak sekali.

Kadang-kadang saat saya harus menegur, saya merasa enggan menegur. Mengapa? Karena kadang-kadang saya enggan untuk berselisih pendapat dengan orang lain. Kadang-kadang saya ingin menjaga perdamaian dengan orang tersebut. Kadang-kadang saya segan terhadap orang tersebut. Karena saya tidak dekat dengan orang tersebut. Karena orang tersebut sangat menjengkelkan. Karena saya merasa emosi.

Namun puji Tuhan, Tuhan mengajar saya untuk tidak takut menegur saat memang diperlukan. Ya, sebagai seorang yang menyukai perdamaian dan membenci gesekan apalagi konflik dalam setiap level, saya cenderung mempertahankan keharmonisan hubungan.

Saat harus menegur saya terkadang merasa tidak enak. Namun puji Tuhan, betapa Ia baik. Ia mengajarkan pada saya untuk berani ambil resiko dan menghadapi gesekan serta konflik yang ada. Saya masih harus terus belajar karena memang masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya yakin ini adalah awal pemrosesan dan bukan akhir. Tuhan masih mau terus membentuk dan mendidik saya. Amin.

Ya, itulah sekelumit kisah tentang saya, seorang yang dengan penuh keterbatasannya. Puji Tuhan, Tuhan mau memakai seseorang dengan penuh keterbatasan seperti saya untuk menjadi alat-Nya, untuk terus diubahkan, dididik, dan bahkan kadang-kadang dihajar dari hari ke hari untuk menjadi lebih baik. Puji Tuhan!

Kalau saya saja yang penuh keterbatasan dapat Tuhan pakai sebagai alat-Nya, apalagi Anda. Tuhan bisa pakai Anda lebih lagi bagi kemuliaan nama-Nya. Ya, Tuhan mau pakai setiap kita (Anda dan saya) untuk kemuliaan nama-Nya, tanpa peduli apapun keterbatasan kita. Haleluya! Kuncinya hanya satu: MAU.

Beberapa hal mengenai menegur:
1. Menegur haruslah dilandasi dengan kasih. Memang terdapat resiko orang yang ditegur menjadi tidak suka dengan kita, tetapi kalau memang ia perlu ditegur, tegurlah! Dalam

Roma 12:9: Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

dan dalam

Amsal 27:5: Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.

Mengasihi bukan berarti harus selalu setuju, harus selalu mengiyakan, harus selalu tersenyum manis. Untuk mengasihi diperlukan teguran yang dibungkus dengan kejujuran dan keterusterangan, tanpa pura-pura.

Lebih lanjut dalam

Amsal 10:12: Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

Menegur yang dilandasi oleh kasih akan menutupi pelanggaran orang tersebut. Orang yang ditegur dengan kasih akan lebih dapat menerima dan akibatnya kemungkinan yang bersangkutan berubah akan lebih besar.

Sebaliknya bila kita menegur dengan tidak berlandaskan kasih, hasilnya adalah pertengkaran. Pertengkaran bukanlah tujuan akhir yang ingin kita capai.

2. Menegur haruslah dengan hikmat. Dalam

Kolose 3:16: Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3. Hasil dari menegur dengan menggunakan hikmat akan berbuah manis. Dalam

Amsal 28:23: Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.

Awalnya mungkin terdapat gesekan, bahkan mungkin dapat menciptakan konflik dengan yang bersangkutan. Namun, kita tetap perlu mengambil resiko ini.

4. Jangan menahan teguran karena takut terhadap resiko gesekan dan konflik.

Dalam

Ayub 6:14: Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa.

Salah satu bentuk kasih adalah teguran yang berhikmat. Saat kita tidak melakukan hal ini, kita berarti tidak takut pada Tuhan. Tidak takut pada Tuhan berarti dosa. Wow, keras sekali ayat ini! Ya, jangan takut menegur bila memang diperlukan!

Bagaimana menegur yang menggunakan hikmat?
1. Menegur dengan lemah lembut. Dalam

Amsal 15:1: Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

Ya kelemahlembutan merupakan salah satu buah Roh yang diperlukan (Galatia 5:23). Lemah lembut bukan berarti lemah atau plin-plan. Lemah lembut merupakan sikap hati yang mau mengerti kondisi dan keterbatasan orang lain.

2. Mengetahui dengan jelas orang-orang yang perlu ditegur, orang-orang yang tidak perlu ditegur, saat dan situasi yang tepat untuk menegur. Walaupun saat kita tahu seseorang itu salah, ada saatnya kita perlu menggunakan hikmat. Ya, tidak serta merta kita dapat menegur, bahkan kadang-kadang menahan teguran atau tidak memberikan teguran memerlukan suatu hikmat tersendiri.

Sejumlah ciri-ciri orang yang tidak perlu ditegur atau menahan teguran pada waktu yang lain:
Orang yang tidak mau mendengarkan teguran dan tidak mempedulikan teguran, bahkan membenci teguran.

Zefanya 3:2: Ia tidak mau mendengarkan teguran siapapun dan tidak mempedulikan kecaman; kepada TUHAN ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap.

Amsal 5:10: Mereka benci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas.

Orang-orang ini adalah orang yang akan menguras emosi kita. Jadi, jangan habiskan waktu, tenaga, dan emosi untuk orang yang tidak mau mendengar. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi memang ada kesempatan lain yang lebih tepat untuk menegur. Cukup bawa orang ini dalam DOA.

Orang yang gemar bersilat kata.
2 Timotius 2:14: Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya.

Saat anda memberi teguran pada orang yang gemar bersilat kata, orang ini akan terus-menerus memberi jawaban dan alasan. Hemat nafas Anda! Hentikan sampai di situ dan bawa orang ini dalam DOA.

Cara-cara menegur adalah demikian:
1. Menegur hanya berdua saja, tidak di depan orang lain.

Matius18:15: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.

Orang akan lebih mudah menurunkan ego, bila ditegur berdua saja tanpa kehadiran orang lain. Pada saat ada orang lain yang hadir, kecenderungan untuk membela diri dan mempertahankan ego akan lebih besar daripada saat hanya berdua.

2. Bila berdua saja tidak mempan, minta bantuan 1 atau 2 orang lain untuk menegur.

Matius 18:16: Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.

Ya, ini harus melihat kasusnya juga. Tidak semua kasus dapat diperlakukan sama. Jika memang diperlukan bantuan dari 1 atau 2 orang lain, lakukanlah!.

3. Bila setelah minta bantuan dari 1 atau 2 orang tetap tidak mempan juga, minta bantuan lebih banyak orang, dan jika tidak mempan juga hentikan usaha menegur.

Matius 18:17: Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Ini hanya perlu dilakukan untuk kasus-kasus yang sangat serius. Untuk kasus-kasus yang dapat mengundang keresahan bagi orang banyak, hal ini perlu dilakukan.

Bila yang bersangkutan masih tidak mau mendegarkan teguran, hemat nafas Anda! Cukup bawa yang bersangkutan dalam DOA Anda.

Jadi, siap memberi teguran?

Amin.

Iklan

Comments on: "Correction (Part-2)" (2)

  1. FB Comment from EHC:
    siap donk sebagai anakNya kita harus menegur dengan kasih ^^

  2. FB Comment from BK:
    wow thxs bgt nih share nya, kita merasa tulisan ini akan menjadi pembimbing kita sebagai org percaya dlm hal tegur menegur. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: