All for Glory of Jesus Christ

Rival and Rivalry

Pembahasan hari ini adalah mengenai “Rival and Rivalry”. Rival artinya adalah saingan (saingan-saingan). Rivalry artinya persaingan atau pertandingan. Apakah Anda memiliki saingan dalam hidup Anda? Siapakah saingan-saingan Anda? Apakah Anda mengerti arti rival yang sesungguhnya?

Bedakan arti “rival” dengan “enemy”. Rival (saingan) itu adalah seseorang yang akan menggerakkan dan membuat Anda bergerak maju, sedangkan enemy (musuh) adalah orang yang akan berusaha dan membuat Anda bergerak mundur.

Saingan sifatnya adalah positif, sedangkan musuh sifatnya adalah negatif. Memang ada juga orang yang menganggap saingan sebagai musuh, dan sebaliknya ada juga yang menganggap musuh sebagai saingan. Di sini permasalahannya adalah cara pandang.

Saya memiliki seorang rival saat sekolah dahulu. Yah, sebenarnya banyak, namun satu rival ini merupakan rival setia. Kami satu SD, satu SMP, bahkan satu SMU. Bayangkan hahahahaha, setidaknya kurang lebih kami menghabiskan 12 tahun persaingan. Biasanya dia yang menempati posisi pertama, tapi sekali atau dua kali saya bisa menyamai atau mengunggulinya.

Rival saya seorang yang luar biasa. Sangat cerdas dan rajin, berbakat dalam banyak bidang. Karena saya relatif tidak secerdas dia, saya berusaha sekeras mungkin untuk bisa menyaingi dia. Ya memang bukan suatu motivasi yang benar. Karena seharusnya menjadi juara itu bukan suatu hasil akhir yang diutamakan, tetapi merupakan proses yang berbuah.

Ya selain rival utama saya itu, saya juga memiliki sejumlah rival lainnya saat sekolah. Menariknya adalah kami semua berteman hahaha. Ya, rival bukan musuh, sehingga kami berteman baik. Bahkan saat saya di kelas tiga SMU, di kelas IPA yang diatur sedemikian rupa sehingga juara satu sampai lima di setiap kelas yang memang memilih IPA sebagai jurusannya ada di situ. Bayangkan persaingan yang ada hahaha.

Namun poin yang ingin saya tegaskan di sini adalah rival membuat saya sangat bersemangat. Saat saya kuliah di S1 maupun S2, persaingan bukan hal yang menjadi menarik lagi karena tidak ada sistem ranking walaupun masih ada sistem IPK. Ya, saya kehilangan rival atau tepatnya saya tidak menjadikan satu orang pun dari teman sekelas saya sebagai rival. Rival adalah penyemangat dan pemacu.

Bagaimana dengan Anda? Bagaimana sikap hati Anda merespon orang yang lebih hebat, lebih rajin, lebih pintar, lebih berbakat, lebih sukses, lebih beriman, lebih baik, lebih jujur, lebih sopan, dan sejumlah lebih yang lain? Apakah dengan iri hati, biasa saja, atau merasa terpacu? Ingat:

Rival is not enemy.

Saingan itu bukan musuh.

Apakah Anda saat ini sedang menyukai seseorang? Sedang mendoakan dirinya? Sedang mengejar dirinya? Lalu di tengah perjalanan muncul seseorang yang juga mengejar dirinya? Atau bahkan tidak cukup hanya seseorang, tetapi sejumlah besar orang? Bagai respon anda terhadap saingan-saingan Anda? Apa yang Anda lakukan?

Apakah Anda saat ini sedang bergelut dalam bisnis dan usaha? Bagaimana respon Anda terhadap pesaing-pesaing lama yang memegang market share yang besar dalam pasar? Bagaimana respon Anda terhadap pesaing-pesaing baru yang menjadi kuda hitam dan merebut porsi yang cukup besar dalam bisnis tersebut? Apa yang Anda lakukan?

Apakah Anda saat ini sedang berusaha untuk mendapatkan promosi di tempat kerja Anda? Bagaimana respon Anda terhadap kandidat-kandidat lain? Apa yang Anda lakukan?

Apapun juga kondisi Anda saat ini, selalu kita semua (Anda dan saya) akan menghadapi yang namanya saingan dan persaingan. Ya, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, sadar atau tidak sadar. Hal yang terpenting adalah cara pandang dan respon kita terhadap saingan dan persaingan.

Setidaknya ada sejumlah hal yang perlu kita ingat mengenai saingan dan persaingan, terlepas dari apapun yang sedang kita hadapi saat ini:

1 Korintus 14:1: Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.

Dalam 1 Korintus 14: 1 disebutkan dua hal: yaitu untuk mengejar kasih, dan juga memperoleh karunia bernubuat. Mungkin Anda ada yang bertanya-tanya, apa hubungan dua hal ini dengan saingan dan persaingan yang Anda hadapi?

1. Mengejar kasih. Mengapa demikian? Jadikan kasih sebagai dasar dari apapun yang Anda lakukan. Hal ini saya sudah bahas dalam “All about Love (Part-1)”.

Saya akan tuliskan secara singkat: pada saat kasih menjadi dasar dari hidup kita, segala apapun yang kita lakukan akan menjadi hal yang indah, baik di mata manusia maupun di mata Tuhan.

Kita (Anda dan saya) akan selalu memiliki saingan-saingan dan menghadapi persaingan (dalam bentuk apapun). Saat kita (Anda dan saya) memiliki kasih, maka cara kita menghadapi saingan kita akan berbeda jauh dengan saat kita tidak memiliki kasih. Silakan renungkan sendiri.

2. Mengusahakan untuk memperoleh karunia nubuatan. Mengapa kita harus mengusahakan dan memperoleh karunia nubuatan? Hal ini juga sudah saya bahas dalam “All about Love (Part-1)”.

Secara singkat saya akan tuliskan demikian: dalam hidup kita, kita membutuhkan tuntunan Tuhan untuk membuat apapun yang kita lakukan berhasil. Dalam buku “Understanding Your Spiritual Gifts” yang ditulis oleh Dr. Bruno Caporrimo dituliskan:

Nubuat dalam pengertian yang paling luas adalah Allah berbicara kepada manusia. Ini bisa berupa suara lirih yang lembut dalam roh orang percaya secara individual. Ini bisa berupa suara lirih yang lembut dalam roh orang percaya secara individual. Atau mungkin kata-kata yang formal di depan umum dari seorang hamba Tuhan yang mendapat pengurapan nabi.

Ya, kita (Anda dan saya) membutuhkan tuntunan Tuhan dalam apapun yang kita hadapi, termasuk dan terutama dalam menghadapi saingan dan persaingan.

Poin-poin selanjutnya akan saya ambil dari tiga ayat berikut ini:

1 Timotius 6:11: Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

2 Timotius 2:22: Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Ibrani 12:14: Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.

Dalam 1 Timotius 6:11 diperoleh 5 hal tambahan, yaitu untuk kita mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kesabaran, dan kelembutan.

Dalam 2 Timous 2:22 diperoleh 2 hal tambahan, yaitu untuk kita mengejar damai dan juga orang yang perlu kita tempatkan menjadi rival kita.

Dalam Ibrani 12:14 diperoleh 1 hal tambahan, yaitu untuk kita mengejar kekudusan.

Mungkin banyak dari Anda yang akan mengatakan, apa hubungannya hal-hal ini dengan saingan dan persaingan? Berikut ini pembahasanya:

3. Mengejar keadilan. Apa kaitannya mengejar keadilan dengan saingan dan persaingan? Banyak sekali. Adil berarti tidak berat sebelah. Saat Anda tidak memiliki keadilan, maka Anda akan sulit menempatkan segala sesuatu dalam proporsi yang tepat.

Dalam menghadapi persaingan bila Anda tidak bisa bersikap adil dan memelihara keadilan, akan sulit bagi Anda dalam memandang diri Anda/perusahaan Anda dalam perspektif yang tepat, apalagi untuk Anda memandang diri saingan Anda.

4. Mengejar ibadah. Apa kaitannya mengejar ibadah dengan saingan dan persaingan? Segalanya! Ibadah bukan berarti hanya meluangkan waktu seminggu sekali ke gereja. Ibadah bukan berarti hanya ikut persekutuan. Ibadah bukan berarti hanya saat teduh, doa, dan memuji serta menyembah Tuhan, baik pribadi maupun kelompok.

Ya, semua yang sudah saya sebutkan merupakan sebagian dari bentuk ibadah. Tetapi ibadah yang saya maksudkan merupakan suatu bentuk integral dari setiap aspek hidup kita dan mengarah kepada Tuhan. Integral berarti kesatuan, utuh, terikat kuat. Dalam hal ini kita perlu sekali melekat kuat pada Tuhan. Mengenai integral atau keutuhan sudah saya bahas dalam “Whole”.

Saat kita melekat kuat dalam setiap aspek hidup kita dan mengarah pada Tuhan, apapun persaingan yang kita hadapi tidak akan menjadi masalah.

5. Mengejar kesetiaan. Apa kaitannya mengejar kesetiaan dengan saingan dan persaingan? Dalam persaingan mungkin Anda tidak langsung mendapatkan hal yang Anda inginkan dengan mudah dan juga mungkin Anda baru mendapatkan hal-hal yang kecil yang Anda inginkan. Jaga kesetiaan! Ingatlah:

Lukas 16:10: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

6. Mengejar kesabaran. Apa kaitannya mengejar kesabaran dengan saingan dan persaingan? Dalam menghadapi saingan dan persaingan dalam bentuk apapun, biasanya dibutuhkan waktu yang relatif lama.

Oleh karena itu faktor kesabaran ini menjadi sangat penting. Banyak orang ingin hal yang instan, ingin hal yang mudah, tidak sabar, dan akhirnya berakhir tragis. Sabarlah!

7. Mengejar kelembutan. Apa kaitannya mengejar kelembutan dengan saingan dan persaingan? Lembut berarti tidak keras. Tidak keras artinya lentur. Kelembutan artinya mudah dibentuk.

Menghadapi persaingan Anda perlu menjadi fleksibel. Ada memang hal-hal yang secara prinsip harus Anda pegang, tetapi ada hal-hal lain yang tidak prinsip yang di dalamnya Anda perlu fleksibel. Di sinilah pentingnya kelembutan.

8. Mengejar damai. Apa kaitannya mengejar damai dengan saingan dan persaingan? Persaingan yang tidak sehat dapat mengarah pada permusuhan dan saling menjatuhkan satu dengan lainnya. Saat saling menjatuhkan sebenarnya semua pihak telah menjadi pihak yang kalah. Dengan mengejar damai dengan semua pihak, kita mengusahakan kemenangan bagi setiap orang.

Contoh mudah: dalam persaingan bisnis Anda melakukan upaya-upaya menjatuhkan saingan Anda. Saingan Anda tidak terima dan melakukan hal-hal yang lain. Akibatnya hubungan Anda dengan saingan menjadi keruh. Bukannya menangguk untung, tetapi malah bisa-bisa menyebabkan semua pihak menjadi merugi.

9. Memilih orang yang tepat untuk menjadi rival kita. Dalam 2 Timotius 2:22 disebutkan

“bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.”

Contoh orang yang memiliki hati murni adalah anak-anak kecil.

Markus 10:14: Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.

Pemilik Kerajaan Allah adalah orang-orang benar, orang-orang terbaik, orang-orang terbesar, bahkan Allah sendiri.

Rival kita seharusnya adalah orang yang terbaik di bidangnya. Anda dalam persaingan dalam merebut cinta seorang wanita? Siapakah rival Anda? Diri Anda sendiri! Anda perlu mengalahkan diri Anda sendiri untuk menjadi terbaik, bukan dengan bulan promosi (berusaha menampilkan image baik padahal tidak demikian) untuk mendapatkan hati si dia. Rival terbaik Anda: diri sendiri.

Selain itu juga si dia, wanita yang Anda kejar. Bila Anda mencintai seorang wanita, seharusnya ada hal-hal yang spesial dalam dirinya. Itulah rival terbaik Anda: hal-hal istimewa yang ada dalam dirinya. Kejar untuk menjadi seperti itu, bahkan lebih baik lagi!

Ada dalam persaingan bisnis? Siapakah rival Anda terbaik? Perusahaan Anda sendiri! Gali aspek-aspek dalam perusahaan Anda, lakukan analisis SWOT (S-trength, W-eakness, O-pportunity, dan T-hreat) dan susun serta terapkan langkah-langkah berkaitan dengan itu.

Selain itu, siapakah rival terbaik Anda? Pemegang market share terbesar dalam pasar serta pionir-pionir yang menjadi kuda hitam dalam perebutan market share. Suatu usaha tanpa inovasi akhirnya akan menjadi datar dan lama-kelamaan mati. Carilah terobosan-terobosan baru!

10. Mengejar kekudusan. Apa kaitannya mengejar kekudusan dengan saingan dan persaingan? Kudus artinya suci. Lawan dari suci adalah kotor, dosa. Dalam persaingan jauhkan diri Anda dari dosa.

Ya, jangan melakukan hal-hal yang kotor dan menghalalkan segala cara untuk memenangkan persaingan. Bisa saja saat itu Anda menang, tapi saya yakin tidak untuk waktu yang lama.

Ya di atas semua bentuk persaingan yang kita alami saat ini, hendaklah kita juga ingat. Kita semua (Anda dan saya), tanpa terkecuali, juga memiliki satu bentuk persaingan lagi: pertandingan iman yang benar untuk merebut hidup yang kekal.

1 Timotius 6:12: Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

Hidup kekal itu telah kita peroleh saat kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat pribadi kita. Tanpa embel-embel lagi. Namun, kita perlu terus bertanding dalam hidup iman yang benar. Mengapa demikian?

Saat kita berpaling dari iman yang benar, kita terancam bahaya yang serius untuk meninggalkan Tuhan. Hal ini sudah saya bahas dalam “Correction (Part-1)”.

Semoga kita semua dapat menjadi seperti Paulus yang dapat berkata dengan yakin:

2 Timotius 4:7: Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: