All for Glory of Jesus Christ

DIAM

Pada hari ini saya akan membahas tentang “DIAM”. Bagi Anda yang sudah membaca notes saya secara rutin mungkin ada yang sudah terbiasa dengan gaya penulisan saya. Bila Anda mencermati dengan teliti, pada setiap judul notes saya, saya tidak pernah menggunakan huruf kapital seluruhnya.

Kali ini saya menggunakan huruf kapital seluruhnya karena memang kata “DIAM” yang dimaksud bukanlah kata “diam”. Hahaha, mungkin mulai bingung? Baik, akan saya jelaskan.

DIAM” yang saya angkat pada hari ini saya ambil dari suatu jargon (istilah) yang diciptakan oleh salah satu sahabat saya yang sangat kreatif pada waktu kami sedang chatting.

Menarik sekali saat kami sedang membicarakan sesuatu hal, lalu tiba-tiba sahabat saya menciptakan jargon “DIAM”. “DIAM” merupakan singkatan dari “Drowning In AMazements” atau bila diterjemahkan artinya adalah tenggelam dalam kekaguman, ketakjuban, keheranan.

Ya, hari-hari ini saya sering DIAM. Saya DIAM karena melihat kuasa dan kebesaran Tuhan dalam hidup saya dan dalam hidup orang-orang di sekitar saya. Melihat hebatnya karya Tuhan. Ada satu jargon lagi yang muncul saat saya chatting dengan seorang sahabat saya yang lain.

Sahabat saya mengatakan dengan nada bercanda,

“Susah ya ngomong sama kamu sekarang. Ujung-ujungnya notes.”

Ya, ini terjadi karena memang saat kami sedang membahas sesuatu, karena hal yang kami bahas pernah saya tuliskan dalam notes saya, saya mereferensikan notes saya kepadanya. Kemudian sahabat saya dengan nada bercanda mengatakan hal di atas hahahaha.

Kemudian saya mengatakan kepada sahabat saya,

“Daripada panjang-panjang disebut UUN saja. UUD ada saingannya sekarang. Kalau dulu kan populernya UUD-Ujung-ujungnya Duit, nah sekarang ada saingannya UUN-Ujung-ujungnya Notes.”

Lalu kami jadi sangat geli karenanya.

Mengapa saya mengetengahkan 2 jargon ini (DIAM dan UUN)? Ada dua alasan sebenarnya. Alasan pertama karena saya ingin membuat populer dua jargon ini hahahahha.

Alasan kedua karena memang saya sering DIAM bahkan setelah selesai menuliskan notes saya. DIAM karena melihat betapa Tuhan dapat bekerja melalui saya. Jargon UUN bisa muncul karena Tuhan bekerja terlebih dahulu untuk memakai saya.

Ia memakai saya sebagai penulis-Nya, sebagai pena-Nya (seperti disebutkan oleh salah seorang pembaca saya). Tanpa Dia, tak mungkin jargon UUN bisa muncul. Segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Saya setelah menuliskan notes saya, biasa saya lihat sekilas untuk memeriksa tampilan dan juga untuk membuat arsip-arsip berkaitan dengan notes tersebut. Saat itulah saya sering DIAM. Sering saya terheran-heran sendiri, dan bertanya dalam hati,

“Am I the writer?”

(“Apakah saya penulisnya?”)

Ya, bukan ingin sombong, tapi memang saya sering merasa takjub sendiri. Karena merasa tidak mungkin saya yang menuliskan semuanya. Seringkali dalam keseharian saya, saat saya melakukan sesuatu atau akan melakukan sesuatu, saya diingatkan oleh hal-hal yang saya sudah tuliskan dalam notes. Saya jadi DIAM. Betapa ajaib Tuhan!

Bahkan bukan hanya berkaitan dengan UUN, tetapi juga melihat karya Tuhan mengubahkan anak-anak-Nya. Saya banyak menjumpai sejumlah orang yang diubahkan Tuhan secara luar biasa. Saya sering membagikan hal ini pada sahabat-sahabat saya.

Secara akal manusia rasanya tidak mungkin melihat orang itu berubah sedrastis itu. Orang yang tadinya terluka, kepahitan, tertolak; lalu bisa berubah menjadi mengasihi, mengampuni, dan menerima. Luar biasa!

Orang yang disakiti kecenderungan alaminya adalah menyakiti lagi. Bukan karena ia ingin menyakiti, tetapi ini merupakan suatu hal di bawah sadar yang sudah tertanam dalam-dalam.

Pernahkah Anda membaca buku orang dengan sekian banyak kepribadian yang terpecah (multiple personality disorder)? Ini merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri yang kebablasan karena disakiti pada masa kanak-kanak secara emosional, fisik, dan seksual (emotional abbusive, physical abbusive, and sexual abbusive).

Saya akan mengambil informasi seputar ini dari http://en.wikipedia.org/wiki/Dissociative_identity_disorder

Dissociative identity disorder (DID), as defined by the American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), is a psychiatric diagnosis that describes a condition in which a single person displays multiple distinct identities or personalities (known as alter egos or alters), each with its own pattern of perceiving and interacting with the environment.

The diagnosis requires that at least two personalities routinely take control of the individual’s behavior with an associated memory loss that goes beyond normal forgetfulness; in addition, symptoms cannot be due to drug use or medical condition. Earlier versions of the DSM named the condition multiple personality disorder (MPD),

Bila diterjemahkan adalah sebagai berikut:
Penyimpangan Identitas Diasosiatif (PID), yang didefinisikan oleh Asosiasi Psikiater Amerika untuk Diagnosis dan Statistik Manual untuk Penyimpangan Mental (DPM), merupakan suatu diagnosis psikiater yang menyatakan suatu kondisi saat seseorang memperlihakan sejumlah identitas atau kepribadian (dikenal sebagai alter ego atau alter), yang setiap kepribadiannya memiliki pola tersendiri dalam menerima dan berinteraksi dengan lingkungan.

Terdapat sedikitnya dua kepribadian yang secara rutin mengambil kontrol atas perilaku individu yang berkaitan dengan hilangnya ingatan yang terjadi di luar kondisi lupa yang normal; sebagai tambahan, tanda-tanda ini terjadi bukan karena penggunaan obat-obatan atau karena kondisi medis. DPM memberikan istilah awal kondisi ini sebagai multiple personality disorder (MPD),

Mengerikan ya? Saya belum pernah menjumpai orang yang mengalami MPD, namun ternyata dampak terluka, tertolak, disakiti, dan kepahitan bisa sampai sedemikian mengerikan.

Saya telah menjumpai sejumlah orang dengan berbagai permasalahan yang dihadapi. Saya sering tidak pernah menduga bahwa kondisi orang-orang yang saya temui saat konseling ternyata bisa menjadi sangat kompleks. Kelihatannya bisa saja seperti orang-orang pada umumnya.

Sering saya tertegun ketika menghadapi orang-orang yang saya temui dalam sesi konseling. Awal-awal biasa saya hanya menangkap sejumlah gejala awal. Ibarat gunung es, yang terlihat hanya bagian atasnya yang kecil, sementara bagian bawah yang besar justru tidak terlihat.

Sejumlah orang mengalami tertolak, terluka, kepahitan, mengalami masa lalu yang kelam, mengalami physical abbusive, emotional abbusive, sex abussive. Saya sering terkaget-kaget sendiri ketika menghadapi pengakuan demi pengakuan. Seringkali sungguh-sungguh di luar dugaan.

Tetapi saat keterbukaan mulai terjadi, di sanalah kuasa Tuhan bisa dinyatakan.

Yakobus 5:16: Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

Ya, setiap orang yang mengalami hal-hal yang buruk dihadapkan pada dua pilihan:

Pilihan pertama: untuk tenggelam dalam keputusaan, kebencian (pada diri sendiri dan orang lain, bahkan pada Tuhan), dan menyakiti diri (bahkan sampai pada hal-hal yang tak terduga: misal: bunuh diri, membunuh orang, menyakiti orang, sampai ke manifestasi dalam bentuk disorder personality atau yang lainnya).

Saat orang luka dan menyakiti orang lain, sebenarnya ia sedang menyakiti diri sendiri. Itu merupakan suatu bentuk “teriakan” minta tolong yang tak terucapkan. Menyakiti diri sendiri merupakan suatu bentuk penyimpangan dari hal yang telah digariskan Tuhan. Karena Tuhan menciptakan manusia amat baik adanya. Bila kita (Anda dan saya) menyakiti diri sendiri (termasuk orang lain), kita sedang mengingkari pernyataan Tuhan terhadap kita: bahwa kita itu amat baik adanya. Ya, itu adalah pilihan pertama yang tersedia.

Pilihan kedua: untuk tidak kalah oleh segala keadaan buruk yang menimpa. Hal ini sangat tidak mudah. Kecenderungan untuk tenggelam dalam keputusasaan, kebencian, dan menyakiti diri merupakan suatu kecenderungan natural bila orang mengalami segala hal yang buruk.

Pengakuan akan kondisi buruk, menerima itu sebagai bagian dari masa lalu, lalu kemudian datang pada Tuhan untuk meminta kesembuhan dan pelepasan, itu adalah pilihan kedua. Saya akan mengulang ayat

Yakobus 5:16: Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

Ya, saat saya menyaksikan orang-orang yang datang dan konseling pada saya, kemudian bila mereka memilih pilihan kedua, seringkali hasilnya membuat saya DIAM. Sungguh-sungguh tak terkira takjubnya saya melihat kuasa Tuhan yang menyembuhkan, memulihkan, dan merestorasi!

Orang-orang yang mengalami emotional, physical, dan sexual abbusive yang bisa saja memilih dan mengalami MPD, ternyata memilih untuk mengakui hal buruk yang dialaminya, menerima itu sebagai bagian dari masa lalu, lalu kemudian datang pada Tuhan untuk meminta kesembuhan.

Saat secara sadar mereka memilih pilihan kedua, Tuhan akan membongkar segala yang buruk, membersihkan hati mereka, dan menyembuhkan mereka.

Yesaya 57:18: Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung

Luar biasa! Sungguh saya jadi DIAM! Saat saya DIAM, saya memang jadi terdiam hahahaa. Ya, saat saya tenggelam dalam kekaguman, ketakjuban, keheranan yang mendalam akan kasih, kuasa, karunia, dan kebesaran Tuhan, saya memang jadi terdiam. Betapa Dia luar biasa! Betapa Dia ajaib!

Mazmur 31:22: Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan!

Mazmur 139:14: Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Mazmur 145:5: Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.

Apakah Anda rindu untuk DIAM? Jika jawaban Anda adalah “ya”, maka mintalah kepada-Nya untuk membuat Anda DIAM.

Matius 7:7: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Sudahkah Anda DIAM? Amin.

(Footnote:
– Thanks to “Ryonn” Ronny Santosa for creating the new trademark of “DIAM” and inspiring me to write the note.
– Thanks to “Gunrider Engkong” Johan Darmadi for making me creating the new trademark of “UUN”.
– Special thanks to everyone who trusted me enough to share all of your darkest secrets. I’m sure there’re no coincidences in God. GBU all)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: