All for Glory of Jesus Christ

Hari ini pembahasan saya adalah mengenai “People Pleaser vs God Pleaser”. Ya ide pembicaraan kali ini juga berasal dari obrolan saya dengan sahabat saya. People Pleaser artinya orang yang memiliki keinginan mendalam untuk membuat orang lain senang. God Pleaser adalah orang yang memiliki keinginan mendalam untuk membuat orang lain senang.

Pertanyaan pertama berkaitan dengan judul ini adalah termasuk orang yang manakah kita (Anda dan saya)?

People Pleaser?

God Pleaser?

Atau

People dan God Pleaser?

Pertanyaan berikutnya mengapa lalu kedua hal ini dipertentangkan?

Baik, akan saya mulai. Mengapa hal ini saya angkat dalam pembahasan hari ini? Karena hal ini merupakan sesuatu yang sehari-hari kita hadapi. Manakah yang harus kita pilih? Menjadi people pleaser bukan hal yang buruk. Itu sesuatu yang harus kita lakukan.

Ya, bahkan di seluruh Alkitab disebutkan kita perlu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita.

Filipi 2:3b: Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

Juga kita perlu berbuat baik dan murah hati pada semua orang.

Galatia 6:10: Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Lukas 6:36: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”.

Bahkan disebutkan hukum yang terutama itu ada dua, dan salah satunya adalah mengasihi sesama kita seperti diri sendiri.

Markus 12:31: Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini”.

Saya teringat suatu pengalaman saya ketika saya pertama kali mengajar sebagai dosen di tahun 2005. Saat itu saya mengajar di fakultas yang lain dengan fakultas tempat saya kuliah. Jadi lain fakultas, lain jurusan. Saya mengasumsikan bahwa setiap mahasiswa sudah memiliki kemampuan dasar Matematika, sehingga saya menerangkan secara cepat.

Ketika UTS (Ujian Tengah Semester) berlalu dan saya periksa hasilnya, ternyata luar biasa! Hasilnya luar biasa buruk! Hahahaha, ya sangat mencengangkan hasilnya luar biasa buruk. Padahal selama mengajar saya sudah mengulang-ulang dengan harapan adanya pengulangan itu akan menanamkan materi yang diajarkan dalam benak mahasiswa.

Hasil UTS itu sungguh membuat saya tertegun dan shock. Kemudian saya menyebarkan kuisioner untuk diisi oleh para mahasiswa. Setelah saya kumpulkan kemudian saya memperoleh berbagai masukan. Sejumlah masukan saya tampung dan sejumlah yang lainnya saya abaikan.

Mengapa ada masukan yang saya abaikan? Karena tidak mungkin untuk menyenangkan semua pihak. Ada sebagian mahasiswa yang mengatakan

“Bu, tolong perbanyak tugasnya sehingga kami bisa berlatih lebih banyak.”

Tetapi ada juga yang mengatakan

“Bu, tugasnya terlalu banyak, kami juga banyak tugas yang lain.”

Selain itu ada yang menyebutkan

“Jangan terlalu ketat dalam peraturan.”

Tetapi ada juga yang mengatakan

“Lebih strict lagi dalam memegang peraturan.”

Anda lihat, ini baru dua contoh kecil dari sejumlah pertanyaan yang saya ajukan. Saya yakin Anda juga sering menghadapi hal-hal semacam ini. Kuncinya adalah tetap lakukan bagian Anda untuk memilih hal yang terbaik untuk dilakukan, dan bukan untuk menyenangkan semua pihak.

Ya, pilihan untuk memberikan tugas lebih banyak dan ketat dalam peraturan itu yang saya pilih. Mungkin bukan pilihan yang populer, karena mahasiswa itu cenderung menyukai dosen yang memberi sedikit tugas, kalau bisa tidak ada tugas sama sekali, peraturannya longgar, tetapi nanti pada akhir kuliah bisa memperoleh nilai yang bagus.

Ya, memilih untuk melakukan yang baik atau yang benar terkadang merupakan pilihan yang sulit. Tetapi saat Anda dihadapkan pada kedua pilihan itu, selalulah berusaha untuk memilih yang benar. Mengapa saya katakan demikian? Hal yang baik belum tentu benar, sebaliknya hal yang benar pasti baik.

Dalam kasus saya tadi di atas, memilih yang baik: menyenangkan mahasiswa dan menjadi populer itu adalah sesuatu pilihan yang baik. Mengapa saya katakan baik? Karena mahasiswa senang, saya juga senang. Mengapa senang? Karena mereka tidak perlu bersusah payah mengerjakan tugas dan saya juga tidak perlu bersusah payah memeriksanya.

Asal Anda tahu, memeriksa tugas itu bukan pekerjaan ringan: sangat menghabiskan waktu dan tenaga, bahkan kadang-kadang emosi hahahaha. Ya, kadang-kadang memeriksa tugas membuat emosi saya tersulut, terutama melihat mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan seenaknya.

Ya, dengan saya tidak memberi banyak tugas bagi mahasiswa, memberi kelonggaran bagi mahasiswa untuk masuk terlambat melewati batas waktu yang diizinkan, atau memberi kelonggaran pengumpulan tugas, itu sesuatu yang akan membuat saya populer dan disukai oleh mahasiswa. Saya akan dikenal sebagai dosen yang baik.

Tetapi itu bukan hal yang benar. Selalu harus ada harga yang harus dibayar. There is nothing such as a free lunch. Tidak ada makan siang yang gratis.

Saya ingin mahasiswa saya memperoleh nilai yang baik pada selesai mengikuti kuliah saya. Namun, saya tentu saja tidak bisa memberikan nilai. Langkah yang bisa ditempuh adalah memberikan mereka cukup banyak tugas. Itu pilihan yang tidak populer tetapi perlu diambil.

Saya juga tidak ingin kuliah saya terganggu oleh mahasiswa yang terlambat, karena hal itu akan memecah konsentrasi saat belajar. Tetapi saya juga harus memberi kelonggaran bagi mahasiswa karena memang tidak semua mahasiswa memiliki tempat tinggal yang dekat dari kampus.

Saya ingin mahasiswa saya disiplin dan hadir tepat waktu. Saya ingin menanamkan hal itu kepada mereka. Tetapi saya juga perlu menimbang faktor lain, yaitu jarak tadi. Maka sebagai jalan tengah saya memberi tenggang waktu untuk keterlambatan, lebih dari itu saya tidak mengizinkan mereka untuk masuk.

Bukan pilihan yang populer karena beberapa kali saya harus mengusir mahasiswa yang datang melebihi waktu yang telah ditetapkan. Ya, dan ada sejumlah mahasiswa berkomentar

“Wah, Bu, kasihan.”

Atau bahkan ada yang mengatakan

“Wah, Ibu kejam.”

Ya, itu harga yang harus dibayar. Saya tidak bisa menyenangkan semua mahasiswa saya. Di kelas saya adalah dosen mereka, bukan teman mereka. Saya tidak harus menyenangkan mereka semua untuk dapat diterima mereka.

Apakah Anda memilih menjadi teman dibandingkan menjadi orang tua bagi anak Anda? Anak Anda bisa memilih teman di manapun, tetapi tidak dapat memilih orang tua. Andalah orang tuanya. Anda perlu mendidik anak Anda.

Ya, saat anak beranjak dewasa, peran Anda sebagai orang tua juga sebagai teman, tetapi ingat pemilihan peran sebagai teman bukan supaya anak Anda tidak menolak Anda, bukan supaya anak Anda mengasihi Anda, tetapi karena merupakan suatu bentuk kesadaran pentingnya memilih yang benar bagi anak Anda.

Apakah Anda memilih untuk menyenangkan hati orang tua Anda setiap saat? Apakah Anda berkutat antara impian Anda dan impian orang tua Anda? Bila impian Anda itu memang impian yang Tuhan taruh dalam hati Anda, kejar itu! Ada harga yang harus dibayar karena mengejar impian Anda, bukannya impian orang tua.

Jelaskan hal itu dengan baik-baik kepada mereka. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Hanya saja, kadang mereka lupa: hal yang terbaik yang mereka pikirkan, belum tentu juga merupakan hal yang terbaik bagi anak mereka.

Apakah Anda memilih untuk menyenangkan hati atasan Anda dengan menjadi Yes Man? Apakah Anda selalu berkata ya pada atasan Anda saat atasan Anda memberikan tugas, padahal Anda tahu Anda tidak akan mengerjakannya?

Pilihan menjadi People Pleaser adalah sesuatu yang baik. Namun permasalahannya adalah, apakah motivasi kita untuk menyenangkan orang? Apakah motivasi kita untuk menjadi People Pleaser? Karena kita mengasihi dia atau karena demi kepentingan kita sendiri?

Sejumlah alasan yang umum untuk mendorong orang menjadi People Pleaser:

– Ingin diterima.
– Ingin mempertahankan suatu reputasi tertentu: sebagai orang baik, orang murah hati, orang yang menyenangkan, dst.
– Menghindari konflik.
– Terpaksa (tuntutan nilai/lingkungan).
– Demi memuaskan diri sendiri.

Coba cek motivasi Anda. Apakah Anda berusaha menyenangkan orang lain karena salah satu alasan di atas? Kalau ya, suatu saat Anda akan sampai pada suatu titik Anda merasa lelah. Ya, lelah, karena pada dasarnya Anda terbatas.

Anda tidak bisa menyenangkan orang terus-menerus. Walaupun itu adalah hal yang baik dilakukan, cek motivasi Anda. Bila Anda melakukannya dengan motivasi yang keliru, hal yang baik bisa menjadi tidak baik. Ingat: segala sesuatu kembali dari hati.

Saat harus menyenangkan orang ingatlah hal-hal berikut ini:

1. Jadilah People Pleaser dengan motivasi yang tulus.

Filipi 2:3a: dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.

1 Korintus 10:33: Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.

Ya, bukan untuk supaya kita dipuji, bukan supaya kita diterima, bukan untuk memuaskan diri sendiri, bukan untuk menghindari konflik, bukan karena terpaksa, tetapi karena kita melakukannya secara tulus, karena kita mengasihi orang tersebut.

2. Pilihlah menjadi God Pleaser senantiasa.

Markus 12:30: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa, hukum terutama ada dua. Hal yang disebutkan pertama adalah untuk mengasihi Tuhan. Setelah itu barulah yang kedua itu adalah mengasihi manusia.

Saat kedua hal itu berbenturan, ingat prioritas hidup kita: Tuhan harus di nomor satu. Menjadi God Pleaser mungkin bukan pilihan yang populer, tetapi ingat saat harus memilih yang baik atau yang benar, selalu pilihlah yang benar! Kalau bisa melakukan yang baik sekaligus benar itu pilihan yang mudah, tetapi saat dihadapkan untuk memilih salah satu, selalu pilihlah yang benar!

3. Jadilah seorang People Pleaser karena motivasi Anda adalah menjadi God Pleaser.

Efesus 6:6: jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,

Ya, saat kita ingin menjadi People Pleaser, itu kita lakukan karena kita ingin menjadi God Pleaser. Saat kita ingin menyenangkan orang, itu kita lakukan karena kita mau menyenangkan Tuhan, yaitu karena kita melakukan kehendak-Nya untuk mengasihi sesama kita.

Jadi? People Pleaser atau God Pleaser? Pilihan di tangan Anda. Amin.

(Footnote:
Thanks to “Ryonn” Ronny Santosa for inspiring me in writing this note. I hope you will not get bored finding your name here hahahaha.)

Iklan

Comments on: "People Pleaser vs God Pleaser" (3)

  1. FB Comment from EHC:
    setuju kita tidak bisa mendapat perkenanan manusia jika kita tidak diperkenan terlebih dahulu oleh Bapa
    teruss berkarya bagiNya ya ^^

  2. […] Read more about: People Pleaser vs God Pleaser (Indonesian Article) Share this:FacebookTwitterLike this:LikeBe the first to like this post. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: