All for Glory of Jesus Christ

Menikmati Perjalanan

Hari ini saya akan membahas mengenai “Menikmati Perjalanan”. Pembahasan hari ini terinspirasi oleh satu judul bab dalam buku “7 Rahasia Menuju Kematangan Rohani” yang ditulis oleh Paul Estabrooks dan juga oleh obrolan dengan teman saya.

Apakah Anda termasuk orang yang senang travelling? Sudah pernah kemana saja tujuan Anda? Apakah persiapan-persiapan yang Anda lakukan sebelum travelling? Apakah rencana-rencana yang Anda buat bila telah sampai di tempat tujuan?

Barang-barang apa saja yang Anda bawa? Apa fasilitas yang Anda gunakan untuk mencapai tempat tujuan? Berapa jam perjalanan yang paling jauh Anda tempuh untuk sampai ke tempat tujuan?

Pertanyaan saya, apakah yang paling penting: berangkat, di perjalanan, atau sampai tujuan? Ketiganya penting tentu saja. Tanpa keberangkatan, jelas tidak akan ada perjalanan apalagi sampai tujuan. Tanpa perjalanan, tidak mungkin sampai ke tujuan. Tanpa tujuan, kita hanya berangkat dan di perjalanan tanpa arah dan terus berputar-putar.

Pada saat berangkat tentu saja kita harus menghabiskan sejumlah waktu, tenaga, pikiran, dan uang untuk merencanakan dan mempersiapkan keberangkatan kita. Tanpa persiapan dan perencanaan, bisa saja kita berangkat.

Tetapi pada umumnya tanpa persiapan dan perencanaan sama sekali, perjalanan kita akan sedikit tersendat-sendat dan untuk sampai tujuan tanpa persiapan dan perencanaan ada kemungkinan kita akan sulit mencapai tujuan.

Segala persiapan dan perencanaan, segala waktu, tenaga, pikiran, dan uang yang telah kita keluarkan rasanya akan terbayar semua saat kita tiba di tujuan. Apalagi bila tempat tujuan kita itu adalah tempat tujuan yang kita begitu idam-idamkan.

Lebih-lebih lagi bila setelah sampai, ternyata tempat tujuan itu memang sangat indah. Wow, rasa-rasanya benar-benar puas bila sudah mencapai tempat yang diimpikan. Ya, segala jerih lelah untuk mempersiapkan segala sesuatunya akan terbayar sudah.

Hal yang mau saya soroti adalah dalam perjalanan. Apakah yang kita lakukan dalam perjalanan? Apakah kita menikmati perjalanan itu?

Kadang-kadang kita begitu repot dalam persiapan kita, bahkan sebegitu repotnya kita sampai-sampai dalam perjalanan pun kita masih memikirkan hal yang mungkin kita lewatkan atau bahkan malah memikirkan hal yang kita tinggalkan: rumah, harta benda, pekerjaan, dan lain-lain.

Akibatnya saat sampai tujuan, seringkali kita merasa letih dan tidak gembira lagi. Ya, perjalanan yang seharusnya menyenangkan, bisa menjadi perjalanan yang panjang, membosankan, dan melelahkan.

Kita dalam hidup ini adalah seperti orang yang travelling. Awal kita adalah saat kita lahir. Perjalanan adalah dari saat kita lahir sampai saat sebelum kita sampai tujuan.

Tujuan kita di dunia ini tentu saja untuk mencapai tujuan hidup kita, menggenapi visi kita yang dijabarkan dalam misi, dan hal itu dimungkinkan setelah kita menyelesaikan setiap langkah-langkah target (goal) kita (baca “Purpose, Vision, and Mission in Your Life (Trilogi 1, 2, dan 3)”). Tujuan akhir kita tentu saja setelah kita meninggalkan dunia yang fana ini, yaitu surga.

Pertanyaannya adalah seberapa pentingnya kita untuk menikmati perjalanan kita? Sangat penting! Ayat berikut ini akan menerangkannya pada kita:

Pengkotbah 6:2: orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.

Di dunia ini kita semua membutuhkan kekayaan dan harta benda. Uang itu merupakan hal yang penting. Tanpa uang kita sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Karena itu banyak sekali orang bersusah payah untuk mengumpulkan uang selama hidupnya.

Celakanya adalah ada sejumlah orang yang setelah bersusah payah mengumpulkan uang, ternyata yang bersangkutan tidak sempat menikmatinya. Penyebabnya di antaranya:

– Sayang untuk menikmati karena telah bersusah payah untuk mendapatkannya.
– Terlalu sibuk untuk mengumpulkan uang sehingga tidak ingat untuk menikmatinya.
– Ingin menikmati tetapi tidak bisa, karena ternyata uang yang dikumpulkan malah dinikmati pihak lain (karena ditipu, karena sakit sehingga harus menghabiskan banyak uang ke dokter, atau meninggal sehingga tidak sempat menikmati uang tersebut).

Ada juga sejumlah orang yang begitu terkenal dan populer, sehingga namanya sangat dikenal oleh orang-orang. Namun ternyata seringkali hal tersebut menjadi bumerang bagi dirinya. Sering sekali dirinya disoroti sehingga hidup terasa tidak nyaman lagi. Kebebasan terasa hilang. Ya, ada harga yang harus dibayar untuk segala hal, termasuk untuk memperoleh kemuliaan, nama besar, dan kepopuleran.

Tanpa karunia untuk menikmati perjalanan hidup, segala kekayaan, harta benda, dan kemuliaan akan sia-sia belaka. Sungguh kasihan bukan?

Lalu bagaimana supaya kita bisa menjadi orang yang dapat menikmati perjalanan?

1. Melupakan semua beban yang di belakang kita dan berfokus mencapai tujuan.

Filipi 3:13-14: Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Seperti orang yang akan travelling tadi, bila ia terus memikirkan hal yang sudah dia tinggalkan di belakang untuk dia dapat menempuh perjalanan tersebut, maka ia tidak akan bisa menikmati perjalanan itu.

Sama dengan kita, jika kita terus menerus memikirkan segala masa lalu kita, segala kelemahan kita, segala keterbatasan kita, segala penghalang kita untuk maju, maka kita tidak bisa menikmati perjalanan kita.

Jangankan untuk menikmati perjalanan, bisa-bisa kita tidak akan pernah berangkat karena sibuk dengan segala macam beban! Tanggalkan itu semua!

2. Tidak memikirkan atau melakukan hal yang di luar batas dirinya, terutama bila tanpa penyerahan kepada Tuhan.

Roma 12:3: Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

Yesaya 55:2: Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.

Dari dua ayat di atas terlihat ada dua hal yang bisa membuat kita tidak menikmati perjalanan: memikirkan hal yang lebih tinggi dari yang perlu kita pikirkan dan konsumtif yang tidak pada tempatnya.

Kita semua memiliki kelebihan dan keterbatasan. Keterbatasan yang kita miliki janganlah membuat kita putus asa, sebaliknya kelebihan kita janganlah membuat kita menjadi sombong (baca “Minder, Sombong, dan Percaya Diri (Trilogi 1, 2, dan 3)”).

Ada kalanya saat kita tidak mengenal diri kita secara baik, kita cenderung untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuan kita, berpikir di luar kemampuan kita, berusaha melampaui kesanggupan kita. Hal itu biasanya dilakukan dengan kekuatan sendiri, bukan dengan bersandar pada kekuatan Tuhan.

Akibatnya sudah dapat ditebak: stres, kuatir, lelah, dan pada akhirnya dapat menyebabkan tekanan jiwa yang lebih serius lagi. Bila sudah demikian, jangankan menikmati perjalanan hidup. Untuk bisa hidup saja rasanya akan sulit sekali.

Konsumerisme hari-hari ini juga menunjukkan gejala mengerikan. Masalah boleh berutang dengan adanya sistem cicilan dan kredit menyebabkan para shopaholik (orang-orang yang kecanduan berbelanja, bahkan untuk hal yang tidak diperlukan) lepas kendali.

Hal ini bisa menyebabkan kita tidak bisa menikmati perjalanan hidup kita. Mengapa? Terjerat hutang itu bisa mengacaukan hidup kita. Berdasarkan hasil survei, penyebab perceraian yang terbesar adalah masalah uang. Di Amerika hal itu dimulai dari utang yang timbul karena berutang besar untuk mempersiapkan hari pernikahan.

Sangat tragis bukan? Saya bukannya mau mengatakan tidak boleh menggunakan kartu kredit, tidak boleh berutang, atau tidak boleh menggunakan sistem cicilan. TIDAK! Hal tersebut boleh digunakan sepanjang kita memang menggunakannya secara cermat, teliti, penuh perhitungan, dan dalam perencanaan yang baik.

3. Dengan perkenan Tuhan, karena dapat menikmati perjalanan hidup adalah anugerah Tuhan.

Pengkotbah 3:13: Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.

Ya, tanpa perkenan Tuhan, kita tidak dapat menikmati perjalanan hidup kita. Syukur kepada Allah karena Ia adalah Tuhan yang luar biasa baik. Ia hanya menginginkan yang baik, bahkan yang terbaik bagi kita.

Oleh karena itu, carilah perkenannya sehingga kita dapat menikmati perjalanan hidup kita. Bagaimana caranya?

Yeremia 15:16: Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.

Caranya adalah dengan mengikuti (melakukan) perkataan Tuhan, mengikuti firman-Nya. Untuk bisa melakukan firman Tuhan, tentu saja kita perlu mengerti firman-Nya. Untuk bisa mengerti firman-Nya, jelas kita perlu tahu firman tersebut. Untuk bisa tahu firmannya, kita perlu membaca dan mendengarkan firman Tuhan setiap hari.

Ya singkat kata, untuk dapat mencari perkenan Tuhan supaya kita dapat menikmati perjalanan hidup kita caranya adalah dengan membaca, mendengarkan, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan setiap hari.

Tidak ada jalan mudah, tidak ada jalan pintas, tidak ada jalan instan. Segala sesuatu yang berharga, jelas layak untuk diperjuangkan, diusahakan, dan dikerjakan dengan kesungguhan.

Semoga kita semua dapat menikmati perjalanan hidup kita bersama Tuhan. Hidup ini hanya sekali, nikmatilah dengan melakukan yang terbaik untuk dan bersama Tuhan. Amin.

(Footnote:
Thanks to Pierre Gunadi for our chat since it inspires me to write this note.)

Comments on: "Menikmati Perjalanan" (3)

  1. FB Comment from EHC:
    yah jika hidup kita diumpamakan sebagai perjalanan, memang kita harus menikamtinya, kalau kita hanya memikirkan hal-hal yang bersifat sementara maka perjalanan kita akan terasa melelahkan, yah dirikupun masih belajar untuk menikmati perjalanan hidup bersama Bapa, cia you dan tetap berkarya bagiNya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: