All for Glory of Jesus Christ

Joyful

Sebagai kelanjutan dari notes kemarin “Menikmati Perjalanan”, hari ini saya akan membahas mengenai “Joyful”. Joyful atau sukacita merupakan hal yang agak langka hari-hari ini.

Mengapa saya katakan demikian? Karena di tengah himpitan kondisi ekonomi yang semakin berat dari hari ke hari, membuat semua orang harus berusaha keras untuk menghidupi dirinya. Itu adalah suatu fakta, suatu kenyataan yang tidak bisa kita abaikan. Itu adalah hal yang perlu kita akui.

Karena beratnya himpitan ekonomi, banyak sekali orang kehilangan sukacita. Apakah sukacita itu? Sukacita merupakan suatu kondisi hati yang meluap dengan syukur, bukan karena kondisi tetapi karena merupakan suatu kesadaran.

Sukacita berbeda dengan gembira, senang, atau bahagia. Gembira, senang, atau bahagia timbul karena sesuatu yang terjadi di luar diri: kondisi ekonomi yang membaik, mendapat pasangan hidup, anak-anak selalu sehat, suami/istri yang mendukung, dan seterusnya.

Sukacita jauh melebihi gembira, senang, atau bahagia.Sukacita adalah keputusan. Ya, suatu bentuk kesadaran kita untuk memutuskan bahwa kita memang ingin bersuka cita, tanpa menghiraukan kondisi yang kita alami.

Saya sangat bersyukur pada Tuhan, sukacita itu limpah dalam hidup saya. Kalau saya mau melihat kondisi saya, mungkin agak sulit untuk bersukacita. Saya belum memiliki pasangan hidup walaupun sudah begitu lama berdoa untuk itu, apalagi usia saya sudah hampir mendekati angka psikologis yang rentan stres bila belum menikah hahahaha.

Dari segi ekonomi, saya juga belum memiliki pekerjaan tetap. Saya hanya akan dibayar bila saya mengajar. Bila hari libur, sedang ujian, perkuliahan belum dimulai, jelas saya tidak dibayar.

Namun puji Tuhan, bukan itu yang saya kuatirkan. Saya percaya walaupun kondisi saya saat ini seperti itu, namun saya percaya rencana Tuhan bagi saya sungguh luar biasa indah. Kalau saya terpaku pada kondisi saya hari ini, kalau saya terpaku pada keterbatasan saya, akan sangat sulit bagi saya untuk bersukacita.

Namun saya MEMILIH untuk bersukacita. Ya, sukacita adalah suatu pilihan. Sering saya jadi meringis sendiri ketika mendengarkan orang yang sangat hobi mengeluh. Ya saya ulangi: orang yang hobi mengeluh.

Lucu bukan, di saat ada sejumlah kegemaran dan hobi yang bisa dipilih, sejumlah orang dengan sadar atau tidak sadar malah memilih hobi mengeluh. Complaining and complaining all the time. Dari pagi mulai bangun tidur, siang, sore, malam, bahkan sampai mau waktu tidur yang diucapkan adalah keluh kesah, omelan, makian, kekesalan, kekecewaan.

Sangat tragis! Keluhan hanya berhenti saat tidur. Mulai dari hal terkecil sampai hal terbesar semua dikeluhkan. Merasa yang paling malang, paling menderita, paling tragis dalam hidupnya. Wow, sungguh suatu prestasi!

Ya, prestasi yang sangat mengerikan! Saya yakin tidak ada dari Anda seorangpun yang senang berdekatan dengan orang yang kata-katanya negatif setiap saat. Kalau mau diadakan penelitian, saya yakin 1000% tidak ada orang yang tahan berdekatan begitu lama dengan orang yang suka mengeluh. Jadi, bila Anda adalah orang yang saya bicarakan di sini: STOP MENGELUH SEKARANG JUGA!

Apakah yang Anda peroleh dengan mengeluh? Apakah dengan mengeluh membuat uang di dompet Anda jadi bertambah banyak? Apakah membuat Anda mendapatkan pasangan hidup? Apakah membuat anak Anda menjadi anak yang sehat? Apakah membuat suami/istri Anda menjadi mencintai Anda lebih lagi?

Tidak! Sama sekali tidak! Jika dengan mengeluh Anda dapat mendapatkan semua yang Anda butuhkan, silakan mengeluh! Permasalahannya: mengeluh tidak mengubah apapun, hanya membuat kondisi menjadi lebih buruk.

Sumber sukacita ada di dalam hati Anda. Ya, Anda tidak perlu jauh-jauh mencari sukacita itu, apalagi harus membayar mahal. Biaya bersukacita adalah gratis. Ya, ini menyalahi hukum kedua Ekologi

“There is nothing such as a free lunch.”

“Tidak ada makan siang yang gratis.”

Hal yang menarik adalah saat kita mengikut Tuhan, kita diajarkan hal-hal radikal yang bertentangan dengan hukum alam, ilmu pengetahuan, bahkan akal sehat.

Karena sukacita merupakan sikap hati dan bukan kondisi, itu sebabnya dalam Alkitab diajarkan bagi kita untuk bersukacita, dan bukan bergembira.

Filipi 3:1a: Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan.

Kasih yang merupakan hal yang utama yang perlu kita miliki, lebih dari nubuatan, bahasa roh, atau pengetahuan (baca dalam “All about Love (Part-2)”), juga membahas mengenai sukacita. Dalam 13 hal yang merupakan unsur kasih, salah satunya adalah sukacita.

1 Korintus 13:6: Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Bahkan dari 9 buah Roh yang perlu kita miliki, suka cita juga tertulis di sana.

Galatia 5:22-23b: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Sukacita merupakan suatu hal yang mutlak kita miliki. Sukacita merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Bagaimana supaya kita dapat bersukacita? Setidaknya ada beberapa langkah yang dapat ditempuh:

1. Mintalah itu kepada Tuhan.

Yohanes 16:24: Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Tidak dapat dipungkiri, kita sebagai manusia penuh dengan keterbatasan. Saat kita berbenturan dengan keterbatasan kita, dengan kondisi-kondisi yang serba menyulitkan, saat kita sulit untuk bisa bersuka cita: mintalah sukacita itu dari Tuhan.

2. Pilihlah untuk senantiasa bersukacita dan tidak kuatir.

Filipi 4:7: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Hal ini bicara tentang pilihan dan keputusan. Hidup Anda ditentukan oleh pilihan dan keputusan Anda. Kondisi dan situasi boleh saja jungkir balik sesukanya, tetapi apa yang ada di dalam hati Anda tergantung pada pilihan dan keputusan Anda.

Orang lain bisa saja menyakiti Anda. Orang lain bisa saja menghina Anda. Orang lain bisa saja menganggap Anda rendah. Tetapi adalah keputusan Anda untuk memilih untuk tetap bersukacita atau untuk berdukacita saat orang berlaku buruk pada Anda.

3. Menuruti perintah Tuhan: taat kepada semua perintah Tuhan.

Yohanes 15:10-11: Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

Ya, dengan kita taat pada semua perintah Tuhan, kita akan hidup dalam kasih-Nya. Saat kita hidup dalam kasih-Nya, Tuhan bersukacita dan sukacitanya tinggal dalam kita sehingga sukacita kita menjadi penuh. Puji Tuhan! Hal yang indah sekali.

Semua persoalan boleh terjadi, namun sukacita adalah hak kita.

Sudahkah Anda memilih untuk bersukacita?

Amin.

Iklan

Comments on: "Joyful" (2)

  1. FB Comment from EHC:
    jadi inget lagu “The Joy Of The LORD Is My Strength”
    dirikupun masih harus belajar untuk memilih bersukacita atas apapun yang terjadi di dalam hidupku ^^!
    keep serve Him always

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: