All for Glory of Jesus Christ

Struggle for Change

Saya hari ini terbangun dengan suatu kata-kata yang bermain dalam pikiran saya: semangat perubahan, semangat untuk berubah. Lebih lanjut lagi, saat saya bersaat teduh, topiknya juga tentang perubahan. Lebih-lebih lagi tadi malam saya baru saja berbicara dengan sahabat saya masalah perubahan. Oleh karena itu saya mengangkat topik “Struggle for Change”.

Struggle for Change” atau perjuangan untuk berubah merupakan sesuatu yang harus kita semua hadapi. Mengutip kata-kata pendeta saya:

“Dalam dunia yang serba tidak pasti ini, yang pasti hanyalah perubahan.”

Permasalahannya mengapa kita harus berubah? Karena memang itu adalah sesuatu yang perlu kita lakukan dan memang itu hal yang harus kita lakukan terus-menerus. Tentu saja konteks perubahan yang saya maksud adalah perubahan ke arah yang lebih positif, bukan ke arah sebaliknya.

Perjuangan untuk berubah itu bukan sesuatu yang mudah. Diperlukan kedisplinan dan tekad yang kuat untuk berubah. Saya juga masih terus berjuang untuk berubah. Terkadang pada saat awal perubahan, sangat mudah untuk berubah. Tetapi setelah waktu mulai berjalan, mulai tantangan datang.

Ya tantangan saya untuk berubah dalam dua hal: bangun pagi dan belajar membagi waktu. Dua hal ini hal yang masih sulit. Dalam satu bulan lalu saya sudah cukup berhasil untuk bangun pagi, ya sekitar pukul 3 sampai 5. Namun makin ke sini, mulai lah kedisiplinan itu merosot. Karena tidur saya juga tidak menentu, saya mulai bangun pukul 6 sampai 9.

Jelas kalau pada hari mengajar saya selalu disiplin bangun pagi hahaha, tapi ini bicara pada hari-hari saya tidak mengajar. Tantangan untuk bangun pagi itu adalah kelelahan fisik yang sebenarnya bisa dikalahkan oleh tekad yang kuat. Saya masih berusaha mengembalikan lagi disiplin bangun pagi saya hahahaha.

Masalah membagi waktu juga merupakan permasalahan serius bagi saya. Karena saya merupakan orang yang perfeksionis, tetapi juga seringkali bergantung pada mood (suasana hati), saya sering sulit memulai sesuatu terutama bila hal itu membutuhkan waktu yang lama. Namun sekali saya mulai, saya akan mengerjakannya sampai selesai.

Saya sudah membuat daftar hal yang harus dikerjakan untuk membuat saya memiliki komitmen untuk mengerjakannya. Tetapi di tengah perjalanan kadang-kadang terdapat godaan-godaan yang lebih menarik: ada yang mengajak chat, ada yang meminta waktu saya untuk konseling, ada hal yang lebih menarik di facebook, perlu memantau forum, dan seterusnya.

Saat saya sudah berhasil memenuhi komitmen saya untuk mengerjakan sesuatu, rasa puas dan berhasil itu seringkali dominan. Akibatnya kemudian saya merasa perlu menghadiahi diri saya dengan bersantai, sehingga komitmen berikutnya pada hari itu terlewatkan.

Permasalahan saya adalah terletak di tekad untuk melaksanakan semua komitmen untuk mengerjakan hal-hal yang saya telah jadwalkan pada hari itu dengan baik. Karena kadang-kadang tekad saya kurang kuat, akibatnya seringkali saya menjadi the last minute person: ya orang yang mengerjakan sesuatu pada waktu-waktu terakhir.

Memang saya jadi lebih terpacu, tetapi itu bukan hal yang baik. Saya perlu membagi waktu saya dengan baik. Hal itu bukan hal yang mudah untuk saya, namun saya harus berjuang, saya harus berusaha.

Dua contoh kecil pergumulan dan perjuangan saya untuk berubah, mungkin juga dialami oleh Anda. Mungkin sekali bahkan pergumulan dan perjuangan Anda untuk berubah jauh lebih besar dari dua contoh kecil yang saya alami. Semakin besar perjuangan kita untuk berubah, semakin besar kemungkinan kita menjadi orang yang lebih baik.

Hal-hal yang perlu kita ingat sehubungan dengan perubahan:

1. Berubah oleh karena pembaharuan budi.

Roma 12:2: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dalam ayat di atas jelas dikatakan bagi kita untuk berubah, tetapi perubahan yang dimaksud adalah berubah bukan menjadi seperti dunia, tetapi berubah karena memang budi kita telah diperbaharui.

Berubah menjadi seperti dunia yang dimaksud adalah kedagingan.

Galatia 5:19-21a: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Perubahan oleh pembaharuan budi yang dimaksud adalah menghasilkan buah Roh.

Galatia 5:22-23b: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Dan untuk berubah dari orang yang penuh kedagingan menjadi orang yang menyangkal diri, sehingga dapat menghasilkan buah Roh itu sangat diperlukan perubahan dalam hal budi kita, dalam hal pikiran kita.

Saat kita mengikuti Tuhan, Roh kita diperbaharui dan bahkan kita diberi Penolong dalam diri kita, yang selalu mengingatkan kita akan kebenaran.

Yohanes 14:16: Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Namun, tubuh dan jiwa kita tidak diubahkan. Ya, kita masih tetap memiliki tubuh jasmani dengan segala keterbatasannya dan begitu pula jiwa kita.

Perjuangan yang terberat untuk berubah adalah pada level jiwa. Roh memiliki sifat penurut, sehingga tidak sulit untuk mengatur roh kita. Daging itu lemah dan mudah terseret pada hawa nafsu duniawi.

Matius 26:41b: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Namun kunci kita adalah di jiwa, spesifiknya adalah di pikiran kita. Oleh karena itu disebutkan supaya kita berubah oleh pembaharuan budi kita.

Saya sudah mengalami sendiri, saat pikiran saya setuju dengan suatu hal, maka perasaan saya juga mengikuti dan begitu juga dengan tindakan saya. Jadi, pusat kendali kita adalah di pikiran kita. Saat pikiran kita lemah, kita akan mudah jatuh dalam dosa.

2. Berubah, yaitu dengan berjaga-jaga dan berdoa.

Matius 26:41a: Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:

Berkaitan dengan penjelasan akhir di poin nomor 1, kita sebagai manusia memiliki keterbatasan kita. Kita tidak selalu kuat senantiasa. Adakalanya kita juga menjadi lemah.

Lemah itu bukan dosa. Keterbatasan bukan dosa. Itu merupakan suatu kondisi natural manusia. Ya, hal ini terjadi karena kita belum hidup dalam kekekalan, sehingga kita bisa merasa lemah dan banyak memiliki keterbatasan.

Hal yang bisa kita usahakan dalam perjuangan kita untuk berubah adalah dengan terus berjaga-jaga dan berdoa. Berjaga-jaga yang dimaksud adalah dengan mengisi pikiran kita dengan firman Tuhan setiap saat. Saat pikiran kita dipenuhi oleh firman Tuhan, firman tersebut akan menguatkan kita, menyegarkan kita, dan membangkitkan kita kembali dari kondisi kita yang lemah.

Berdoa merupakan bentuk komunikasi kita dengan Allah Bapa kita. Pernahkah Anda saat mengalami masalah kemudian Anda berbincang-bincang dengan seseorang? Walaupun permasalahan Anda tidak terpecahkan, saat Anda berbagi permasalahan Anda dengan orang itu, Anda merasa setidaknya beban Anda sedikit berkurang. Pernah mengalami itu?

Ya, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial. Artinya adalah manusia membutuhkan pihak yang lain dalam hidup. Saat kita berbagi dengan seseorang yang terbatas saja, kita dapat merasa lebih baik, apalagi saat kita berbagi dengan Allah yang Maha Besar! Itulah mengapa doa menjadi sesuatu yang sangat penting saat kita dalam kondisi lemah (Berkaitan dengan doa sudah pernah dibahas dalam “Dimensions of Prayer”).

3. Berubah, yaitu untuk meninggalkan kehidupan yang lama (bertobat) dan juga memiliki karakter seperti anak kecil.

Matius 18:3: lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Bertobat merupakan suatu kunci perubahan. Bila kita tidak memiliki sikap hati yang penuh pertobatan, maka mudah sekali bagi kita untuk kembali lagi ke kehidupan kita yang lama. Bertobat merupakan suatu bentuk komitmen dan tekad yang perlu diwujudkan dalam tindakan (berkaitan dengan bertobat telah dibahas dalam “For the Love of Myself”).

Hal yang sangat menarik ketika Tuhan Yesus mengatakan supaya kita berubah dan memiliki karakter seperti anak kecil. Ini hal yang menarik sekali. Pada umumnya kita jarang memandang tinggi seorang anak kecil. Namun mengapa justru Tuhan Yesus memberi penghargaan yang luar biasa kepada seorang anak kecil?

Ingat kasus anak kecil yang memberikan 5 roti dan 2 ikannya saat sejumlah besar orang yang berbondong-bondong mengikuti Yesus belum makan dan hari sudah menjelang malam? Ini adalah kisah yang spektakuler. Begitu spektakulernya sampai-sampai dicatat dalam keempat Injil, yaitu dalam Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, Lukas 9:10-17, dan Yohanes 6:1-13.

Seorang anak kecil dengan kepolosan dan ketulusannya memberikan lima roti dan dua ikan miliknya, padahal pasti ia juga lapar. Seorang anak kecil tidak memikirkan perkara mungkin atau tidak mungkin. Secara polos ia hanya percaya dan melakukan hal yang dia bisa.

Sebagai orang dewasa, kita seringkali tidak memiliki kepolosan dan ketulusan semacam itu. Seringkali kita memikirkan dengan akal kita, mungkinkah sesuatu hal ini terjadi? Bahkan saat kita menghadapi situasi saat kita perlu berkorban, sulit bagi kita melakukannya.

Ini adalah tantangan bagi kita, untuk berubah menjadi memiliki karakter anak kecil yang polos dan tulus.

4. Berubah merupakan proses yang tidak pernah berakhir.

Kolose 3:10: dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

Berubah itu bukan permasalahan sehari dua hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, setahun dua tahun, atau bahkan sepuluh tahun dua puluh tahun. Perubahan merupakan suatu proses yang terus-menerus.

Saat kita merasa telah berhasil berubah, saat itu adalah titik kita harus berubah lagi ke arah yang lebih baik lagi. Terus dan terus. Saat kita berhenti, itu adalah saat kita jatuh. Ingat: jangan pernah puas oleh satu keberhasilan perubahan, tapi teruslah berubah.

Jangan lupa untuk bersyukur untuk setiap perubahan yang telah diizinkan Tuhan, tetapi teruslah berusaha untuk berubah dan berubah ke arah yang lebih baik. Jangan cukup puas di satu titik saja.

Jadi, siap berjuang untuk berubah? Amin.

(Footnote:
Thanks to “Kevin” Cahyadi Tanujaya for our chat that inspires me to write this note. I hope you will not get bored to see your name here hahahaha.)

Iklan

Comments on: "Struggle for Change" (3)

  1. FB Comment from VIR:
    hmmmm sejauh mana harus berubah yah kak
    berubah dari apa ci

    • Sejauh timur dari barat hahahaa. Ya intinya sih berubah itu dari yang ga baik jadi baik, dari yang baik jadi lebih baik, dari yang lebih baik jadi baik banget dan seterusnya. Ga ada abisnya :).

  2. FB Comment from EHC:
    yup i agree with you about struggle for change
    never stop to serve Him our master ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: