All for Glory of Jesus Christ

Buah Roh (Bagian-2)

Hari ini saya akan membahas mengenai kesabaran. Karena pembahasan hari ini merupakan kelanjutan dari pembahasan kemarin, silakan membaca pembahasan kemarin terlebih dahulu (dalam “Buah Roh (Bagian-1)”).

Mengenai kesabaran sebenarnya sudah saya bahas dalam “All about Love (Part-2)”, yaitu elemen-elemen kasih. Sabar yang dibahas dalam “All about Love (Part-2)” membahas mengenai sabar dan sabar menanggung segala sesuatu.

Masalah sabar ini memang masalah yang sangat berat. Untuk bisa sabar diperlukan latihan yang terus-menerus. Dari pembahasan di “All about Love (Part-2)” diperoleh aspek-aspek sabar, yaitu meliputi: pengendalian diri, waktu, dan kemampuan menanggung penderitaan/permasalahan/beban.

Terdapat kesamaan antara pengendalian diri, waktu, dan penderitaan/permasalahan/ beban. Persamaannya adalah ketiganya berkaitan erat dengan sesuatu yang harus dihadapi di luar diri kita, merupakan hal yang di luar kendali kita.

Aspek pengendalian diri akan dibahas lebih lanjut dalam bagian Buah Roh yang lain (penguasaan diri). Betul, pengendalian diri terjadi dalam diri kita, tetapi pengendalian diri itu juga sangat terkait erat dengan hal-hal yang terjadi di luar diri kita: kondisi, situasi, permasalahan yang terjadi di luar kita yang menyebabkan kita perlu mengendalikan diri.

Aspek waktu juga merupakan hal yang terjadi di luar diri kita. Siapakah yang dapat mengendalikan waktu? Mengatur waktu itu bisa kita lakukan, tapi mengendalikan waktu? Siapakah yang sanggup, kecuali Tuhan? Ya, waktu merupakan hal yang berada di luar kendali kita.

Aspek penderitaan/permasalahan/beban sudah pernah dibahas dalam “Hidup = Mengalami Masalah”. Penderitaan / permasalahan/beban merupakan hal yang terjadi di luar kendali kita. Siapakah yang ingin mendapatkan masalah? Siapakah yang mencari-cari penderitaan dan beban? Betul, ketiga hal itu tergantung cara kita memandangnya, namun untuk mengendalikan kemunculannya, sungguh-sungguh bukan di dalam kendali kita.

Hal-hal yang berada di luar kendali kita dalam istilah Pemodelan Sistem disebut sebagai Uncontrollable Variable. Jadi ada controllable variable, yaitu hal-hal yang dapat kita kendalikan dan juga ada uncontrollable variable, yaitu hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan.

Mencoba mengendalikan uncontrollable variable itu akan sia-sia saja: menghabiskan waktu, tenaga, biaya, dan benar-benar tidak berguna. Sama dengan bila kita ingin mengerjakan bagian Tuhan. Sangat-sangat tidak masuk akal.

Akibat yang terjadi bila kita ingin mengendalikan uncontrollable variable adalah frustasi, stress, kuatir, bahkan lebih lanjut bisa berakibat pada penyimpangan psikosomatis (psychosomatic disorder).

Dari http://www.patient.co.uk/showdoc/27000225/ saya peroleh informasi sebagai berikut:
Psychosomatic means mind (‘psyche’) and body (‘soma’).A psychosomatic disorder is a disease which involves both mind and body. Some physical diseases are thought to be particularly prone to be made worse by mental factors such as stress and anxiety. Your current mental state can affect how bad a physical disease is at any given time.

Bila diterjemahkan secara bebas adalah sebagai berikut:
Psikosomatis berarti pikiran dan tubuh. Penyimpangan psikosomatis merupakan suatu penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh. Beberapa penyakit fisik yang terjadi secara khusus cenderung diperparah oleh kondisi kejiwaan, seperti stres dan kegelisahan. Kondisi mental Anda saat ini dapat mempengaruhi tingkat penyakit fisik yang diderita pada waktu tertentu.

Karena implikasi kesabaran itu berkaitan erat dengan uncontrollable variable, lalu bagaimana cara kita untuk menjadi sabar? Bukankah usaha untuk mengendalikan uncontrollable variable itu merupakan usaha yang sia-sia?

Betul, memang demikian. Lalu bagimana kalau begitu? Apakah tidak ada cara untuk menjadi sabar? Jangan kuatir! Jelas ada cara untuk menjadi sabar. Tadi saya telah sebutkan dalam Pemodelan Sistem selain ada uncontrollable variable, juga ada controllable variable. Nah variabel inilah yang harus kita atur.

Pertanyaan berikutnya apakah yang merupakan controllable variable dalam hal kesabaran? Jawabannya adalah DIRI KITA. Selalu ada pilihan untuk mengatur diri kita: pikiran kita, perasaan kita, perkataan kita, kehendak kita, perbuatan kita. Selalu ada PILIHAN.

Lebih jauh lagi, PILIHAN kita akan ditentukan oleh KEPUTUSAN kita. Ingin menjadi orang sabar atau tidak itu adalah pilihan. Tetapi untuk menjadi orang yang sabar, itu adalah suatu keputusan.

Lalu, apa saja yang harus kita atur dalam diri kita supaya kita dapat menjadi orang yang sabar? Berikut ini ada sejumlah cara untuk menjadi sabar berkaitan dengan diri kita:

1. Silakan membaca ketiga ayat berikut ini terlebih dahulu:

Amsal 19:11: Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.

Amsal 14:29: Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

Mazmur 111:10: Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Untuk menjadi panjang sabar orang perlu memiliki akal budi. Orang yang berakal budi berarti bukan orang bodoh. Orang yang tidak bodoh berarti adalah orang yang berhikmat. Untuk memiliki hikmat, permulaannya adalah takut akan Tuhan.

Jadi, poin pertama yang perlu kita miliki untuk menjadi sabar adalah takut akan Tuhan. Hal ini mampu kita usahakan dan berada dalam kendali kita.

2. Pengkotbah 7:8: Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati.

Mengapa panjang sabar dikatakan lebih baik daripada tinggi hati? Sabar dalam Pengkotbah 7:8 dilawankan dengan tinggi hati. Lawan tinggi hati adalah rendah hati. Berarti sabar berbicara mengenai kerendahan hati.

Menghadapi orang yang sombong saat kita sabar, maka kita akan rendah hati menghadapinya. Api tidak dapat dilawan dengan api, melainkan dengan air. Kesombongan tidak dapat dilawan dengan kesombongan, melainkan dengan kerendahan hati. Jadi poin kedua yang perlu kita miliki untuk menjadi sabar adalah rendah hati.

3. Pengkotbah 10:4: Jika amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar.

Saat orang marah pada kita, kita harus tetap sabar. Bagaimana caranya? Tetap berkepala dingin dan tidak mengedepankan emosi. Saat orang marah berarti api sedang berkobar. Janganlah kita siram api kemarahan dengan bensin emosi, tetapi mari kita siram api kemarahan dengan air sabar. Poin ketiga yang perlu kita miliki untuk menjadi sabar adalah tidak emosi, tetap berkepala dingin.

4. Amsal 19:11: Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.

Panjang sabar di Amsal 19:11 dipadankan dengan memaafkan pelanggaran. Saat orang bersalah kepada kita, dapatkah kita sabar? Dapatkah kita memaafkan? Poin keempat supaya dapat sabar adalah memaafkan. Mengenai memaafkan sudah pernah saya bahas dalam “For the Love of Myself”.

5. Kolose 1:11: dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar,

Tuhan menguatkan kita dengan kekuatan dan kuasa-Nya untuk membuat kita dapat bertahan dalam menghadapi segala sesuatu dan tetap sabar. Jadi bila Tuhan sudah memberikan kekuatan dan kuasa-Nya, apa yang perlu kita takutkan?

Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Ingatlah bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi kita, termasuk lewat masalah dan penderitaan. Kekuatan dan kuasa kemuliaan Tuhan itu salah satunya adalah lewat permasalahan dan penderitaan.

Jadi bila ada masalah dan penderitaan yang diizinkan Tuhan, berarti Tuhan sedang mendidik kita untuk menjadi orang yang sabar. Poin kelima untuk dapat sabar adalah lewat permasalahan dan penderitaan yang Tuhan izinkan.

Ayo kita semua mengejar menjadi orang-orang yang sabar!

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: