All for Glory of Jesus Christ

Buah Roh (Bagian-5)

Pembahasan hari ini adalah mengenai kesetiaan. Pembahasan hari ini masih merupakan kelanjutan dari pembahasan-pembahasan terdahulu, jadi silakan membaca dahulu pembahasan sebelumnya (“Buah Roh (Bagian 1, 2, 3, dan 4)”).

Kesetiaan dapat diartikan sebagai tidak menyeleweng, tetap teguh berpegang, tetap terus melakukan sesuatu walau tidak disukai atau berat, tidak berkhianat. Kesetiaan merupakan sesuatu yang cukup langka hari-hari ini.

Sejumlah pasangan kekasih harus menyudahi hubungannya karena sang pria tertarik pada wanita lain yang lebih cantik dan memikat atau karena sang wanita tertarik pada pria lain yang lebih mapan dan lebih dapat menjamin rasa aman.

Sejumlah pasangan suami istri bahkan bercerai, entah karena perselingkuhan, entah karena beban ekonomi, atau karena gagalnya komunikasi dalam rumah tangga.

Sejumlah orang meninggalkan Tuhan demi mendapatkan pasangan hidup, demi mendapatkan posisi yang lebih baik, demi mendapatkan kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar.

Kesetiaan bicara mengenai sikap hati yang benar. Setia merupakan suatu sikap hati yang akan tetap teguh berpegang melakukan sesuatu yang benar walaupun apapun resiko dan tantangannya.

Kesetiaan juga erat berbicara tentang hikmat. Memang dalam segala sesuatu, hikmat selalu terkait. Ada orang yang setia secara membuta tetapi untuk perkara yang salah. Saya ingat menonton satu film korea yang berjudul “Iljimae”.

Dalam film tersebut dikisahkan kaisar yang memerintah merupakan kaisar yang akan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kedudukannya, bahkan ia membunuh kakak kandungnya sendiri, anak kandungnya sendiri, mengejar-ngejar anak kakak kandungnya untuk dibunuh.

Sang kaisar memiliki beberapa pengikut setia. Hal yang menarik adalah satu orang pengikutnya kemudian menyadari kaisar yang dilayaninya dengan segenap dedikasi merupakan kaisar yang kejam, yang tidak segan-segan menyingkirkan siapapun demi kepentingannya.

Satu orang ini kemudian meminta kepada pengikut-pengikut lainnya yang setia pada kaisar untuk sadar dan meninggalkan. Tetapi hal yang menarik, salah seorang pengikut kaisar yang paling setia berkata, “Kaisar itu adalah tuhanku, baik atau buruk aku akan tetap membelanya tidak peduli apa.”

Di sini si pengikut kaisar tersebut merupakan orang yang setia, tetapi setia yang kebablasan. Setia perlu memakai hikmat dan bukan membuta. Setia itu haruslah pada hal-hal yang benar.

Satu hal yang pasti tidak akan salah untuk kita menjadi setia, yaitu saat kita setia pada Tuhan. Mengapa? Jawabannya ada pada ayat berikut:

Ulangan 5:10: tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Tuhan membalas setiap kesetiaan kita kepada-Nya. Puji Tuhan! Bahkan,

2 Timotius 2:13: jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

Puji syukur kepada Tuhan! Bahkan bila kita tidak setia, Tuhan tetap setia. Bila kita tidak setia dan Dia tidak setia, maka kita semua sungguh merupakan orang-orang yang malang.

1 Yohanes 1:9: Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Bahkan bila kita berdosa sekalipun dan berubah setia, bila kita mau kembali pada-Nya, Ia akan mengampuni kita dan memulihkan kita. Haleluya!

Bagaimana caranya untuk menjadi orang yang penuh dengan kesetiaan? Berikut ini adalah beberapa cara sederhana:

1. Matius 24:45: “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?

Setia dan bijaksana dipadankan dalam ayat Matius 24:45. Artinya orang yang setia itu adalah bijaksana dan orang yang bijaksana itu harus setia. Untuk menjadi bijaksana dibutuhkan hikmat dan permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan.

Jadi untuk memiliki hikmat perlulah kita untuk meminta pada Tuhan dan juga untuk memiliki takut akan Tuhan.

Matius 7:7: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Mazmur 111:10: Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Dengan demikian langkah pertama untuk menjadi orang yang memiliki kesetiaan penuh: meminta hikmat kepada Tuhan dan hidup dalam takut akan Tuhan.

2. Ulangan 6:25: Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita.”

Setia dipadankan dengan benar. Kita akan menjadi setia bila kita melakukan hal yang benar, sebaliknya kita adalah orang yang benar bila kita setia kepada Tuhan. Untuk menjadi orang yang setia kepada Tuhan maka perlu kita melakukan perintah-Nya. Melakukan perintah Tuhan artinya adalah taat. Jadi langkah kedua untiuk menjadi orang yang penuh dengan kesetiaan adalah taat melakukan segenap perintah-Nya.

3. Yesaya 11:5: Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

Ikat pinggang yang terpasang dengan pas di pinggang akan tetap berada di pinggang. Ikat pinggang itu tidak akan bergeser ke kanan atau ke kiri. Begitu pula bila kita memiliki tekad yang kuat untuk tetap berpegang teguh pada Tuhan dan untuk menjadi orang yang setia, kita tidak akan menyimpang. Langkah ketiga untuk menjadi orang yang memiliki kesetiaan penuh: tekad yang kuat untuk tidak menyimpang dari kesetiaan kepada Tuhan dan kebenaran.

4. Lukas 16:10: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

Sesuatu yang besar tidak mungkin terjadi tanpa dimulai dari hal-hal yang kecil. Kerajaan bisnis yang besar tidak mungkin dibangun tanpa difondasi oleh perkara-perkara kecil. Perjalanan seribu mil tidak mungkin dapat ditempuh tanpa dimulai dengan langkah pertama.

Untuk menjadi orang yang penuh dengan kesetiaan, tidak dapat terjadi begitu saja. Untuk itu, perlu kita mulai dari hal-hal kecil sehari-hari dan terus dipupuk hari demi hari. Langkah keempat untuk menjadi orang yang memiliki kesetiaan penuh: mulai dari hal yang kecil dan terus dilakukan setiap hari.

Wahyu 2:10b: Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.

Mari kita semua senantiasa menjadi setia, bahkan sampai pada kesudahan.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: