All for Glory of Jesus Christ

Buah Roh (Bagian-6)

Pembahasan hari ini adalah mengenai kelemahlembutan. Pembahasan hari ini masih merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya mengenai buah Roh. Bila Anda belum membacanya, silakan membaca dulu pembahasan-pembahasan sebelumnya (“Buah Roh (Bagian 1, 2, 3, 4, dan 5)”).

Mengenai kelemahlembutan sebenarnya telah sekilas dibahas dalam “Correction (Part-2)”). Di sana dibahas bahwa lemah lembut bukan berarti lemah atau plin-plan. Lemah lembut merupakan sikap hati yang mau mengerti kondisi dan keterbatasan orang lain.

Ya, lemah lembut merupakan bagian dari simpati, bahkan merupakan bagian dari empati. Simpati bahkan empati sangat dibutuhkan saat berhubungan dengan orang lain. Ya, lemah lembut bukan berarti lemah, namun justru suatu yang kuat.

1 Korintus 1:27: Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

Banyak orang mengatakan bahwa kelemahlembutan itu suatu hal yang lemah dan bodoh, tetapi justru Allah mengatakan bahwa yang bodoh dan lemah bagi dunia justru itu yang dipilih Tuhan untuk mempermalukan yang berhikmat dan yang kuat di mata dunia. Ya, kelemahlembutan itu bagi dunia merupakan hal yang bodoh dan lemah, tetapi di mata Tuhan justru sebaliknya.

Dalam “Rival and Rivalry” juga telah sekilas dibahas mengenai kelembutan. Di sana dijelaskan bahwa lembut berarti tidak keras. Tidak keras artinya lentur. Kelembutan artinya mudah dibentuk atau fleksibel.

Dalam kaitan dengan mudah dibentuk ini sangat penting saat kita sebagai murid Kristus belajar dari-Nya. Bila kita keras, maka akan sulit untuk penjunan kita mengolah kita si tanah liat untuk menjadi indah di mata-Nya.

Yeremial 18:6b: Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!

Tanah liat yang diolah akan dibakar untuk menjadi keras sehingga menjadi barang yang indah. Bila kita sebagai tanah liat sudah keras, maka kita perlu diolah dulu untuk bisa dapat dibentuk menjadi sesuatu yang indah di mata-Nya.

Yeremia 18:4: Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

Memang Tuhan itu baik. Bejana yang rusak tidak dihancurkan dan dibuang-Nya, tetapi diolahnya menjadi sesuatu yang lain yang juga baik di mata-Nya. Namun jangan tunggu sampai diolah ulang dulu, baru mau menjadi lemah lembut, karena pengolahan ulang itu sangat menyakitkan. Jadi sangat penting kita sebagai tanah liat memiliki sifat lemah lembut ini.

Kelemahlembutan juga sangat penting saat berhadapan dengan orang lain. Untuk hal yang menyangkut prinsip hidup memang harus Anda pegang baik-baik, tetapi untuk hal yang tidak bersifat prinsip Anda perlu fleksibel. Untuk apa bersitegang dan gontok-gontokan untuk hal yang tidak prinsip?

2 Timotius 2:14: Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya.

Karena kelemahlembutan merupakan suatu hal yang penting, kita perlu belajar untuk menjadi lemah lembut. Bagaimana caranya?

1. Matius 11:29: Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Ya, Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk belajar dari-Nya. Kunci pertama untuk menjadi orang yang penuh kelemahlembutan: meneladani Yesus.

2. Berkaitan dengan ayat Matius 11:29 juga, di sana dituliskan lemah lembut dipadankan dengan rendah hati dan jiwa yang tenang. Orang yang lemah lembut merupakan orang yang rendah hati, karena tidak semua orang menganggap lemah lembut sebagai hal yang perlu dikejar. Untuk menjadi lemah lembut dibutuhkan kerendahan hati.

Orang yang lemah lembut memiliki jiwa yang tenang. Bila jiwa seseorang sedang tidak tenang, sulit untuk dirinya menjadi lemah lembut. Bagaimana bisa lemah lembut kalau di dalam dirinya sedang bergolak? Jadi kunci kedua untuk menjadi orang yang penuh kelemahlembutan: belajar menjadi orang yang rendah hati dan memiliki jiwa yang tenang.

3. Berkaitan dengan 2 ayat berikut ini:

Amsal 31:26: Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.

Yakobus 3:13: Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.

Untuk bisa mengajar diperlukan hikmat. Untuk bisa menjadi bijak dan berbudi diperlukan hikmat. Untuk memiliki hikmat maka kita perlu meminta hikmat itu pada Tuhan dan juga untuk memiliki takut akan Tuhan (lihat di Matius 7:7 dan Mazmur 111:10, telah dibahas dalam pembahasan kemarin “Buah Roh (Bagian-5)”). Jadi untuk bisa menjadi orang yang penuh kelemahlembutan: mintalah hikmat dan milikilah takut akan Tuhan.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang penuh dengan kelemahlembutan karena kita akan memiliki bumi.

Matius 5:5: Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: