All for Glory of Jesus Christ

Buah Roh (Bagian-7)

Pembahasan hari ini merupakan bagian terakhir dari pembahasan “Buah Roh (Bagian 1, 2, 3, 4, 5, dan 6)”). Hari ini kita akan masuk pada poin buah Roh yang terakhir, yaitu penguasaan diri.

Penguasaan diri sinonim dengan pengendalian diri, juga sama dengan menahan diri. Seperti yang sudah dibahas dalam “Buah Roh (Bagian-2)” mengenai kesabaran, pengendalian diri merupakan controllable variable.

Ya, satu-satunya yang dapat kita ubah dan kita kendalikan adalah diri kita: pikiran kita, perkataan kita, kehendak kita, tindakan kita. Itulah controllable variable kita. Sebaliknya, hal-hal di luar diri kita merupakan uncontrollable variable yang akan sangat sulit dan sia-sia untuk kita kendalikan.

Banyak orang berkata:

“Saya ingin mengubah dunia.”

Suatu impian yang besar bukan? Ya, setiap kita memang dilahirkan sebagai pengubah-pengubah dunia. Namun, tanpa diri kita dapat berubah, akan sangat mustahil bagi kita untuk dapat mengubah dunia.

Masalah pengendalian diri ini sangat erat kaitannya dengan hal itu. Tanpa kita mengendalikan diri kita, tidak mungkin kita dapat mengubah dunia. Pengendalian diri merupakan suatu pertarungan, suatu pertandingan. Sebanyak hal yang kita kendalikan dalam diri kita, sebanyak itu pulalah kita sudah memenangkan pertarungan.

Amsal 25:28: Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.

Ya, orang yang tidak mengendalikan diri itu diibaratkan sebagai kota yang roboh temboknya. Dalam peperangan, pertahanan dari suatu daerah atau kota adalah tembok (benteng) pertahanannya. Bila benteng itu roboh, maka mudahlah untuk menguasai kota itu.

Masalah robohnya benteng Yerikho, telah saya bahas dalam “Dimensions of Sacrificing (Tetralogi-4)”. Bila sebuah kota tidak memiliki pertahanan, sangat mudah bagi kota itu untuk dikalahkan.

Begitu pula dengan kita. Hidup kita adalah medan peperangan. Musuh kita adalah bukan orang lain dan bukan pula situasi. Musuh kita adalah si Iblis dan bahkan musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Saat kita kehilangan kendali atas diri kita, maka saat itulah kekalahan itu dimulai dalam hidup kita.

Galatia 5:19-21a: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Kedagingan itu sumbernya adalah dari hati. Hal yang ada di hati dimulai dari pikiran. Dua ayat berikut ini menekankan pentingnya bagi kita mengendalikan hati dan pikiran kita:

Amsal 4:23: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Filipi 4:8: Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Menjaga hati dan pikiran telah dibahas dalam “Harapan, Menjaga Hati dan Pikiran” walau dalam konteks relationship dan romance, tetapi dapat digeneralisasi untuk konteks apapun.

Titus 2:6: Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal

Sangat penting bagi kita orang-orang muda untuk menguasai diri kita dalam segala hal. Mengapa disebutkan orang-orang muda dan bukan orang-orang tua? Bukan berarti orang-orang tua tidak butuh mengendalikan diri.

Semua orang butuh mengendalikan diri, tetapi sebagai orang muda biasanya gejolak masih meledak-ledak, belum banyak pengalaman, cenderung mengikuti emosi sesaat, dan menyesal kemudian.

Sudah banyak sekali kasus saat orang mengikuti atau bertindak mengikuti emosi dan bukan berdasarkan akal yang sehat dan pikiran yang jernih, saat itulah kekacauan dimulai.

Karena penguasaan diri begitu penting, mari kita belajar membentengi diri kita supaya tidak kalah dalam peperangan.

2 Petrus 1:5: Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,

2 Petrus 1:6: dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,

2 Petrus 1:7: dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

Dalam 2 Petrus 1:5-6 dituliskan urut-urutan langkah yang perlu kita tambahkan dalam hidup kita: iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekuan, kesalehan, dan kasih.

Seperti kita lihat, Alkitab sangat konsisten menjelaskan mengenai hukum-hukum Allah.

Kita semua sudah tahu bahwa hal yang paling penting yang kita miliki adalah hikmat (pengetahuan) dan awal dari hikmat itu takut akan Tuhan (Mazmur 111:10).

Takut akan Tuhan berarti kita beriman kepada Tuhan. Kita juga pernah membahas dalam “All about Love (Part-1)” bahwa yang terbesar adalah kasih. Itu sebabnya kasih diletakkan dalam posisi terakhir. Menunjukkan kasih sebagai yang paling besar dari semuanya.

Hal yang menarik adalah penguasaan diri diletakkan di tengah-tengah, yaitu antara pengetahuan (hikmat) dan ketekunan. Dari urutan ini terlihat jelas bagi kita hal yang perlu kita usahakan supaya kita bisa menjadi orang yang mampu mengendalikan diri secara penuh:

Tembok pertahanan pertama untuk dapat mengendalikan diri secara penuh: memiliki hikmat. Seperti sudah dibahas sebelumnya awal dari hikmat adalah takut akan Tuhan. Kekurangan hikmat? Mintalah pada Tuhan. Ya, ini sudah pernah dibahas pada “Buah Roh (Bagian-5 dan 6).”

Tembok besar di Cina dibangun dengan ketekunan dari orang-orangnya untuk menumpuk satu demi satu batu di sana. Tanpa ketekunan, tanpa kegigihan, tidak mungkin tembok pertahanan tersebut dapat berdiri dengan megah.

Begitu pula dengan tembok pertahanan kita: menguasai diri.Tembok pertahanan kedua untuk dapat menguasai diri secara penuh: memiliki ketekunan dan kegigihan untuk terus mengendalikan, menguasai, dan menahan diri.

Mazmur 39:2: Pikirku: “Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku.”

Kekang seperti juga ikat pinggang (baca pada “Buah Roh (Bagian-5)”) berfungsi untuk mengikat, menahan. Bedanya adalah kekang pada kuda, ikat pinggang pada pinggang, yaitu pada celana atau rok yang kita kenakan.

Kekang dan ikat pinggang sama-sama memiliki bentuk yang kecil, namun dapat mengendalikan seluruh kuda dan celana atau rok supaya tidak bergeser dari tempat semula.

Pengendalian diri kita memiliki peranan seperti kekang pada kuda atau ikat pinggang pada celana atau rok yang kita pakai. Tanpa itu, maka hidup kita akan kedodoran dan kehilangan arah, dapat jatuh kapan saja.

Kekang dan ikat pinggang yang baik akan selalu tetap berada pada tempatnya. Hal ini bicara tentang konsistensi dan kedisiplinan. Tanpa konsistensi dan kedisiplinan, akan sulit bagi kita untuk mencapai segala sesuatu, termasuk juga dalam hal penguasaan diri. Tembok pertahanan ketiga untuk menjadi orang yang penuh penguasaan dari: konsisten dan disiplin untuk mengendalikan diri.

Mari kita semua belajar menjadi orang-orang yang dapat menguasai diri kita sepenuhnya.

Mari kita semua belajar menjadi orang-orang yang penuh dengan buah Roh, sehingga dengan demikian nama Tuhan dapat dipermuliakan lewat hidup kita.

Amin.

Iklan

Comments on: "Buah Roh (Bagian-7)" (2)

  1. FB Comment from MS:
    terkadang mengendalikan diri itu emang susah, tetapi ketika kita bisa melaksanakannya, kita lebih dihargai dan tidak gampang diadu domba. thanks kak GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: