All for Glory of Jesus Christ

More of You, Less on Me

Hari ini saya mengambil judul “More of You, Less on Me”. Bila diterjemahkan berarti lebih lagi Engkau, Tuhan, sedangkan aku lebih sedikit lagi. Pembahasan hari ini merupakan kelanjutan dari pembahasan kemarin “All about Ministry”.

Judul ini merupakan lirik salah satu lagu rohani yang saya pernah dengar. Pembahasan hari ini bicara tentang hati: kerendahan hati dan kapasitas hati. Tahukah Anda mengapa kerendahan hati dan kapasitas hati ini menjadi sangat penting? Karena tingkat kerendahan hati dan kapasitas hati Anda sangat menentukan tingkat kemungkinan Allah memakai Anda.

Semakin Anda rendah hati, semakin besar kemungkinan Allah memakai Anda sebagai alat kemuliaan-Nya. Semakin besar kapasitas hati Anda untuk melayani Dia, semakin mungkin dan senang Allah memakai Anda sebagai bejana-Nya, bahkan sebagai tangan kanan-Nya, kepercayaan-Nya.

Jadi bukan kehebatan, pengetahuan, kemampuan, kekayaan, kecantikan, pengaruh, kekuasaan, atau apapun yang lain yang Tuhan lihat, tapi Tuhan melihat hati Anda, yaitu kerendahan hati dan kapasitas hati Anda.

Berkaitan dengan hati dan pelayanan, dalam pelayanan kita siapakah yang dimuliakan? Apakah kita yang disanjung dan dipuji, atau Allah yang disanjung dan dipuji?

Orang cenderung melihat hal yang kelihatan. Jadi kalau kita melayani, yang orang akan lihat adalah diri kita. Kemungkinan besar kalau misal kita melayani sebagai singer, orang akan berkata:

“Wah suaranya bagus ya?”

Kalau kita melayani sebagai usher, orang akan berkata:

“Wah usher-nya ramah. Saya jadi senang ke gereja ini.”

Bahkan saya dalam pelayanan saya juga mendapatkan pujian semacam itu.

Hal yang sangat wajar. Permasalahannya adalah bagaimana cara kita menghadapi pujian semacam itu? Secara manusiawi tentu saja kita akan senang, bangga, merasa terpacu untuk melakukan lebih lagi. Hanya saja, kita harus berhati-hati.

Mengapa saya katakan kita harus berhati-hati? Kritikan, saran, dan teguran itu sifatnya membuat kita alert (siaga). Dari tingkat ekstrim: tidak suka, sampai tingkat yang biasa saja: menerima, ya kritik, saran, dan teguran tidak akan membuat kita terlena. Malah membuat kita terpacu untuk memperbaiki diri.

Bagaimana dengan pujian dan sanjungan? Hati-hati, ini dapat membuat kita terlena. Saat kita terlena, ini akibatnya bisa fatal. Dari yang tadinya God Pleaser, kita bisa bergeser pada People Pleaser (baca “People Pleaser vs God Pleaser”).

Saat kita bergeser pada People Pleaser, secara tidak sadar sedikit demi sedikit fokus pelayanan kita berubah. Dari yang tadinya untuk memuliakan Tuhan, jadi untuk menyenangkan orang. Menyenangkan orang supaya orang dapat memuji kita lebih lagi. Ini adalah bahaya yang sangat mengerikan, karena sifatnya adalah laten, tersembunyi, dan tidak disadari.

Kalau kritik, saran, dan teguran, itu kita pasti sadar dan entah suka atau tidak suka dengan itu, karena tatanannya dalam koridor pikiran sadar maka akan tidak berbahaya bagi kita. Berbeda dengan pujian dan sanjungan. Kita biasa baru menyadari bila ada yang menegur kita saat kita sudah jauh bergeser dari titik semula, atau bahkan lebih tragisnya saat kita telah jatuh.

Bagaimana untuk menghadapi ini? Bagaimana untuk dapat yakin terus mengatakan:

“More of You, and less on me?”

Saya akan mengambil contoh Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus sendiri yang adalah Tuhan tidak luput dari godaan ini. Ia walaupun 100% Tuhan, tapi Dia juga 100% manusia.

Terdapat banyak contoh kasus, tetapi saya hanya akan mengambil satu contoh saja, yaitu dari Yohanes 6:1-24. Dalam Yohanes 6:1-14 dikisahkan mengenai mujizat spektakuler yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, yaitu memberi makan 5000 orang laki-laki (tidak termasuk perempuan dan anak-anak).

Anda dapat membayangkan situasi saat itu? Bayangkan Anda berada dalam kerumunan ribuan orang dan dari lima roti jelai dan dua ikan ternyata Tuhan Yesus membuat mujizat yang luar biasa, sehingga dapat mengenyangkan sekitar 5000 orang laki-laki, bahkan juga perempuan dan anak-anak (termasuk Anda, karena ceritanya Anda hadir di situ). Wow, pasti Anda akan luar biasa kagum.

Ya, pasti reaksi spontan pertama, memuji yang terlihat. Banyak dalam KKR atau dalam acara-acara apapun saat mujizat spektakuler yang diizinkan Tuhan terjadi, reaksi orang bermacam-macam, bahkan tidak menutup kemungkinan yang dipuji duluan adalah hamba Tuhannya.

“Wah, hamba Tuhan ini hebat ya. Bisa membuat orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan.”

Ini memang reaksi yang wajar, karena hamba Tuhan ini memiliki kapasitas hati yang besar sehingga dapat dipakai Tuhan sedemikian rupa. Namun sebenarnya yang hebat itu bukan hamba Tuhan ini, tapi justru Pribadi di balik layar: Tuhan Yesus yang memungkinkan semua ini terjadi.

Tuhan Yesus juga mengalami respon yang sama dari orang-orang banyak itu. Mereka mengagumi Dia, dan lihat yang menarik di

Yohanes 6:15: Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Menarik sekali ayat Yohanes 6:15 ini. Bukannya menemui orang banyak itu untuk mendapatkan pujian, sanjungan, hormat, dan kemuliaan sebagai raja; Yesus malah menyingkir ke gunung, seorang diri.

Lebih menarik lagi pada Yohanes 6:22-24 dikisahkan bahwa orang banyak itu mencari Yesus. Setelah peristiwa mujizat Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki, bahkan juga perempuan dan anak-anak, walaupun orang banyak tidak menjumpai Yesus pada kali pertama di Yohanes 6:15, mereka tidak putus asa dan terus mencari Yesus, bahkan berangkat mencari Yesus ke Kapernaum (Yohanes 6:24).

Menarik sekali ya? Saat Zakeus mencari Yesus, Yesus mendapatinya. Saat Bartimeus berteriak-teriak mencari Yesus, Yesus mendapatinya. Lalu mengapa saat orang banyak mencari Yesus, Yesus malah pergi?

Karena Yesus tidak gila hormat, tidak gila pujian, tidak gila sanjungan. Yesus bukan fokus pada diri-Nya yang ditinggikan. Yesus tahu benar hati setiap orang. Yesus memiliki kapasitas hati yang luar biasa besar. Ia adalah Allah sendiri, Ia adalah Tuhan sendiri. Maka jelas kapasitas hati-Nya luar biasa besar. Ia peduli pada orang-orang. Ia memiliki belas kasihan. Ia mau melakukan perintah Bapa, bahkan untuk menerima sengsara, hina, siksaan, bahkan penyaliban. Semua itu menunjukkan kebesaran kapasitas hati Tuhan Yesus.

Bagaimana supaya kita bisa meneladani Yesus dan menjadi orang yang “More of You, Less on Me”?

1. Seperti Yesus yang menyepi untuk berdoa setelah melakukan hal yang besar, itu perlu kita lakukan pula. Berdoa di sini adalah bicara tentang memurnikan motivasi dan hati kita dalam melayani. Biarlah dalam doa kita yang kita doakan adalah :

“Biarlah nama-Mu saja yang ditinggikan dan bukan namaku. Biarlah Engkau yang makin besar, Tuhan, dan aku semakin kecil, sehingga orang akan melihat Engkau dalam aku. More of You, Lord, and Less on me.”

2. Biarlah kita senantiasa menjaga takut akan Tuhan. Segala sesuatu yang kita miliki adalah titipan dan perkenan Tuhan. Tanpa Dia berkenan, segala sesuatu tak mungkin terjadi.

Amsal 15:33: Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

3. Sehubungan poin 2, mintalah hikmat senantiasa dari Tuhan supaya kita bisa terus menjadi orang yang rendah hati.

Matius 7:7: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

4. Menjaga hati kita senantiasa, supaya celah-celah kesombongan dan meninggikan diri tidak masuk dalam hidup kita. Hati adalah sumber dari hidup kita, bila hati kita bersih dan tidak ada celah, maka kita dapat menjaga hidup kita tetap bersih dan bebas dari tinggi hati.

Amsal 4:23: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Semoga kita semua senantiasa menjadi orang-orang yang rendah hati dan memiliki kapasitas hati yang terus-menerus diperbesar.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: