All for Glory of Jesus Christ

Kepahitan

Pembahasan hari ini adalah mengenai kepahitan. Pembahasan mengenai kepahitan sebenarnya pernah saya tuliskan dalam forum jawaban.com. Ya, kali ini akan saya ambil lagi dari yang sudah saya tuliskan di sana.

Kepahitan itu kondisi hati yang menjadi pahit, biasanya karena banyak kekecewaan yang dialami atau hal-hal yang diharapkan tidak tercapai, kemarahan atau sakit hati yang berlarut-larut.

Kalau diperhatikan salah satu cikal bakal atau sumber dari kepahitan adalah harapan-harapan yang tidak terpenuhi. Coba perhatikan: kekecewaan yang dialami dimulai dari harapan yang terbentuk. Hal yang tidak tercapai dimulai dari harapan yang dibentuk. Kemarahan atau sakit hati yang berlarut-larut awalnya bersumber dari harapan.

Oleh karena itu hati-hati untuk berharap pada sesuatu atau seseorang. Ingat: harapan yang terbentuk dan tidak tercapai adalah sumber kekecewaan (baca: “Harapan, Menjaga Hati dan Pikiran”).

Amsal 4:23: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Kita boleh berharap dan wajar bagi kita untuk berharap. Harapan adalah sesuatu yang membuat kita dapat terus bertahan hidup. Akan tetapi, permasalahannya kepada siapa kita harus berharap? Jika kita menggantungkan harapan pada sesuatu yang kemarin ada dan sekarang tak ada, itu akan sia-sia belaka. Jika kita menggantungkan harapan pada seseorang, seseorang itu tidak sempurna dan dapat berubah.

Berharaplah kepada Tuhan yang tidak pernah berubah: dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya, maka kita tidak akan kecewa.

Ayub 23:13: Tetapi Ia tidak pernah berubah–siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendaki-Nya, dilaksanakan-Nya juga.

Ingat: harapan yang terbentuk adalah sumber kekecewaan bila tidak terpenuhi. Kekecewaan yang menumpuk dan tidak diselesaikan adalah sumber dari kepahitan. Jadi berharaplah kepada Tuhan senantiasa. Dengan demikian kita akan dihindarkan dari kepahitan.

Yeremia 17:7: Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Ayatnya mengenai kepahitan ada di

Ibrani 12:15: Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

Mengacu ke ayat Ibrani 12:15, sumber kepahitan lainnya selain kekecewaan adalah sejak orang menjauhkan diri dari kasih karunia Allah. Apakah artinya menjauhkan diri dari kasih karunia Allah? Artinya sangat luas: Allah itu adalah kasih, saat orang menjauhkan diri dari kasih karunia-Nya, berarti Ia menjauhkan diri dari pribadi Allah sendiri.

Saat orang jauh dari Allah, maka segala macam dosa, kekacauan, kejahatan, kecemaran dapat terjadi; salah satunya adalah kepahitan.

Galatia 5:19-21a: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Kedagingan itu akan menjadi-jadi saat kita jauh dari Allah. Lihat di dalamnya terdapat beberapa hal yang berkaitan erat dengan kepahitan: perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian. Bahkan tidak menutup kemungkinan dapat menutup juga ke arah percabulan, kecemaran, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya.

Mari kita bahas. Saya akan mengambil satu contoh fiktif. Misalnya saat seorang pria ditolak oleh seorang wanita. Ini sebenarnya peristiwa yang sangat lumrah terjadi. Namun tidak semua orang bisa menerima penolakan dengan lapang dada.

Ada sejumlah orang yang menerima penolakan dengan pahit dan jadi memandang semua orang seperti orang yang menolaknya. Dalam hal ini bila seorang pria menjadi kepahitan karena ditolak seorang wanita, biasanya dia menjadi pahit terhadap wanita lain pula.

Karena kepahitan, ia menjadi berselisih dengan wanita itu atau pria yang mendekati atau mendapatkan wanita itu. Ia iri hati dan marah kepada pria yang mendapatkan wanita itu, bahkan kepada wanita itu dan setiap wanita lain yang menurutnya seperti wanita itu. Ia merasa dirinya yang paling benar (merasa diri paling benar: sombong-sumber: keakuan-egois. Hal ini sudah pernah dibahas dalam “Minder, Sombong, dan Percaya Diri (Trilogi-2)”) .

Setelah itu tidak menutup kemungkinan ia ingin melukai dan menciderai diri sendiri, wanita itu, atau bahkan pria yang mendapatkan wanita itu. Lalu dia berusaha membuat orang lain juga berpikiran yang sama dengan dirinya (roh pemecah). Ia merasa penuh kedengkian.

Efek lebih lanjutnya karena kepahitan itu, ia dapat melakukan hal-hal yang di luar akal sehat. Misalnya: melakukan hal-hal yang cabul dan cemar untuk mengeluarkan kekecewaan hatinya, tetapi bukannya lega malah terpuruk semakin dalam. Terlibat dalam kemabukan dan pesta pora untuk melupakan kepahitannya, tetapi semakin ia berusaha, semakin ia jatuh ke dalam lubang yang dalam.

Untuk mengecek kepahitan atau tidak, Anda dapat memperhatikan sejumlah ciri-ciri/tanda-tanda berikut ini:
– Biasanya tingkat emosinya tinggi: mudah marah, mudah tersinggung, sangat sensitif, atau bahkan kalau sudah terlalu lama bisa terlihat seperti dua kepribadian (memakai topeng): sepertinya ceria tapi juga pada saat yang sama sedang sedih.
– Mungkin juga jadi tidak peduli lagi (apatis), atau bahkan memberontak.
– Sukar percaya kepada orang.
– Senang sekali menggeneralisasi. Contoh menggeneralisasi: semua wanita itu tidak baik atau semua pria itu tidak baik.
– Cenderung mengulang-ulang menceritakan hal yang membuat ia kepahitan.
– Bicaranya tajam dan menusuk.
– Memiliki kecenderungan untuk memprovokasi (mengajak), bahkan memaksa orang untuk mengikuti dan setuju dengan pendapatnya berkaitan kepahitannya itu.
– Bahkan walaupun ia tidak menginginkannya, ia akan cenderung untuk melukai orang lain.

Bila Anda memiliki sejumlah tanda-tanda di atas, waspada! Bisa jadi memang Anda sedang kepahitan tanpa Anda menyadarinya. Ingat orang yang luka akan cenderung melukai orang lain (baca dalam “DIAM” dan “Mirror” ). Orang yang kepahitan merupakan orang yang luka. Orang kepahitan akan cenderung melukai orang lainnya.

Untuk mencegah kita sudah bahas sebelumnya cara-caranya, yaitu dengan hanya berharap pada Tuhan dan tetap hidup dalam kasih anugerah Tuhan. Namun bagaimana bila kita sudah terjangkiti virus-virus kepahitan? Apakah obatnya?

Obatnya sudah pernah dibahas di “For the Love of Myself”. Untuk perinciannya dapat mengacu ke sana. Secara singkat saya akan memberi analagi berikut: ibarat orang luka luar, maka luka itu perlu dibersihkan, diobati, lalu dibiarkan sampai mengering dan sembuh. Selama membiarkan mengering dan sembuh, jangan lupa diberi anti bakteri. Begitu pula dengan kepahitan.

Untuk mengobati kepahitan, yang perlu dilakukan:
1. Mengorek keluar sumber-sumber luka kepahitan (pengalaman-pengalaman pahit di masa lalu).
2. Membersihkan luka kepahitan itu (dengan menyadari bahwa setiap hal yang buruk yang terjadi itu hanya dapat mempengaruhi kita bila kita izinkan mempengaruhi kita).
3. Mengobati luka kepahitan (dengan mengampuni setiap orang yang terlibat, yaitu diri sendiri dan orang lain yang menyebabkan kepahitan).
4. Membiarkan luka sampai mengering dan sembuh (dengan tidak mengingat-ingat, tidak mengasihani diri sendiri, tidak terus-menerus berperan sebagai korban).
5. Jangan lupa, memberi anti bakteri (hidup dalam membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan setiap hari).

Sejumlah orang mengatakan mereka bisa lepas dari kepahitan dengan mereka membiarkan luka mengering dan sembuh tanpa mereka mengobati, membersihkan, atau bahkan mengorek keluar sumber luka kepahitannya.

Sebenarnya ini hanya semacam gunung es saja. Terlihat seolah-olah sembuh, padahal di bawahnya terdapat nanah dan kuman yang meradang, menunggu untuk pecah dan menjalar lebih parah lagi. Ini bahkan lebih berbahaya. Karena kita menyangka sudah sembuh, padahal justru di dalam diri kita berjangkit penyakit yang lebih parah.

Setiap penyakit dan luka harus dibasmi sampai ke akar-akarnya, sampai ke penyebabnya. Tanpa mengampuni orang yang berkaitan dan tanpa menyadari bahwa kita sebenarnya juga bertanggung jawab, hal itu tidak akan dapat mengatasi kepahitan.

Bahkan lebih jauh dari itu kepahitan akan membuat orang tidak dapat melihat diri kita yang sebenarnya.

Keluaran 15:23: Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara.

Ibaratnya air di Mara, itulah orang yang kepahitan. Air seharusnya tawar dan dapat menghilangkan dahaga orang yang meminumnya. Begitu pula kita: hati kita seharusnya bersih dan bebas dari kepahitan.

Bila kita kepahitan, kita akan sulit untuk bisa berinteraksi secara positif dengan orang lain. Akibatnya akan sedikit orang yang mau tetap bersama dengan kita. Salah siapa itu? Jelas salah kita, karena membiarkan kepahitan tetap bercokol dalam hati kita.

Mari kita semua mulai mencegah dan mengobati penyakit kepahitan ini.

Amin.

Comments on: "Kepahitan" (4)

  1. FB Comment from ASP:
    klo saya, dari pada d hindari, mendingan nyiapin diri… jd saya ga akan berhenti berharap, tetep naro harapan, dan setinggi mungkin.
    apalagi harapan tuh hubungan ny sama motivasi. buat saya penting banget banget naro harapan ditiap hal kecil kehidupan. berharap besok sejuk, berharap org yg sy temui tersenyum, berharap dapat nilai A, berharap rencana sy besok berjalan lancar, dll…
    malah banyak hal yg bisa d pelajari dari kekecewaan dari pada ngrubah kekecewaan jadi kepahitan.
    jd, klo buat saya sendiri, kecewa lah tapi jgn jadi kepahitan. dari kekecewaan yg saya terima jd dasar untuk segala tindakan saya supaya org lain ga nerima kekecewaan yg saya rasakan.
    setuju banget sama note d atas, semua org pasti terluka, yg penting bukan bagaimana supaya kita ngga terluka, tapi gmn cara pulih dari luka tsb. makin cepet makin baik.

    Nambahin, mungkin ada yg pernah denger perumpaan ttg orang yg ngbangun rumah d tepi pantai. Yang 1 ngbangun d atas pasir, yg 1 ngbangun d atas batu karang. Pasti tau kan apa hasilnya kalau ngbangun d atas pasir.
    Nah gt jg tentang ngbangun h…arapan. dunia qt sekarang ini bukan lagi pasir pantai yg bisa bikin amblas hasil kerja keras qt, tapi sungai berarus deras yg bisa ngbawa qt sendiri ikut hanyut.
    Buat sy sendiri, fondasi yg d mksud adl iman. Ga ada hal yg lebih parah dari pada kehilangan iman. Kepahitan salah satu hal yg bisa ngbuat qt kehilangan iman. Ato mungkin jd penyebab utama. Itu yg saya dapet dari pengalaman temen2 sekitar sy.

    • Berharap itu boleh dan harus, tapi kita menaruh harapan kita sama Tuhan. Kalau memang bisa mencegah kenapa harus mengobati? Kecuali kalau udah sakit, ya emang harus diobati🙂. Masalah ngebangun harapan seperti ngebangun rumah di atas dasar batu karang itu sama dengan membangun harapan dengan dasar yang teguh: Tuhan. Kalau kita menaruh harapan pada yang lain selain Tuhan, sebagus apapun dasarnya itu dan semeyakinkan apapun, itu tetep sama dengan pasir. Memang kualitas pasir bisa macam-macam. Ada pasir halus, ada pasir kasar. Tapi pasir tetep pasir🙂. Ya, setuju kalau membangun harapan atas dasar iman kepada Tuhan🙂. Sekecil apapun kita menaruh harapan bukan sama Tuhan, pasti kalau gagal bisa kecewa. Kalau kecewa harus cepet pulih, tapi lebih baik lagi kalau udah tau, jangan cari penyakit biar kecewa hahahahah. Mencegah lebih baik daripada mengobati🙂. Thanks commentnya ya. Seneng kalau ada yang koment panjang🙂. Bisa diskusi jadinya.

  2. FB Comment from ASP:
    hahahaha sama seneng jg… soal ny jarang ada org share ky c. sama bahasan ny masi setingkat ma sy, jadinya sering jd “teguran” jg. hahaha… tag sy donk biar gampang nanti nyari nya klo mo baca lg….

    mksud ny jangan parno…. jgn cuma kare…na takut kecewa qt gagal ngluarin semua potensi d dalem diri qt. Gagal ga berarti harus kecewa, dan kecewa ga harus berlarut2. semakin sering qt gagal, maka chance sukses qt makin jd semakin besar, kata M Jordan. salah satu idol gw. hahahaha…. well, pesen Tuhan ga harus Firman kan, so I learned from everything.

    sebelum masuk surga, rasa in dulu hal2 yg ga cocok ada d surga… jd pas masuk surga qt uda punya pake semua warna hidup qt yg qt punya… dari yg enak sampe ga enak.. dari yg bikin bangga sampe yg bikin malu… hahhahaa… Life is beautiful.

    btw, gw nulis2 gini sebener ny kayak sambil ngom k diri sendiri. krn gw sendiri blom kayak gini. hahahaha…

    terus harapan jg ada dasar. org yg berharap pasti bisa jawab “kenapa” dia berharap spt itu. jd mnurt sy yg paling penting, jgn sampe Tuhan jd lebih kecil dari pada harapan duniawi qt.

    • Hahahaha, iya soalnya g blum merit sih jadi belum banyak bahas tentang keluarga wakakakkakaa. Tar kalau g udah merit kali bahasannya ada tentang keluarga juga (skarang kan ga spesifik hahahaha).

      Menggantungkan harapan sama Tuhan a…rtinya bukan parno lho🙂. Tul, jangan karena takut kecewa trus gagal mengeluarkan semua potensi. Ibaratnya: kalah sebelum bertanding. Setuju pesan dari mana aja, asal ga bertentangan dengan FT🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: