All for Glory of Jesus Christ

Time (Trilogi-1)

Hari ini pembahasan saya adalah mengenai “Time” atau waktu. Saya akan membagi pembahasan dalam tiga bahasan, yaitu mengenai masa lalu, sekarang, dan masa depan. Pembahasan hari ini adalah mengenai masa lalu.

Dulu saya pernah memberi suatu ilustrasi seperti ini di kelas:

Gambarkan garis bilangan. Lalu tulis angka nol dan angka yang menunjukkan umur Anda pada garis bilangan itu. Beri panah ke kiri dari angka yang menunjukkan umur Anda ke angka nol dan beri panah yang menunjukkan umur Anda ke kanan.

Panah ke kiri merupakan masa lalu kita. Masa lalu merupakan bagian dari kehidupan kita yang tidak bisa kita ubah keberadaannya. Entah itu baik, buruk, manis, pahit, senang, sedih, membanggakan, memalukan, dan seterusnya; itu tidak bisa kita ubah. Titik yang menunjukkan umur Anda adalah titik sekarang ini. Panah ke kanan menunjukkan masa depan kita.

Titik dan panah ke kanan (masa sekarang dan masa depan) masih dapat kita ubah, tetapi masa lalu adalah hal yang tidak bisa kita ubah. Sayangnya banyak orang yang hidup bukan di titik sekarang tapi di masa lalu. Lebih-lebih lagi, orang tidak bisa beranjak dari titik sekarang dan maju ke masa depan, karena tertahan di masa lalu.

Apakah masa lalu yang menahan Anda? Apakah ada peristiwa-peristiwa memalukan di masa lalu? Apakah Anda melakukan kesalahan dan dosa besar di masa lalu? Apakah ada peristiwa-peristiwa menyakitkan di masa lalu? Apakah ada orang yang menyakiti Anda dan Anda belum bisa memaafkannya sampai hari ini?

Ingat: masa lalu tidak memiliki kuasa untuk mengikat Anda, kecuali kalau Anda izinkan. Suatu kalimat favorit yang saya suka mengucapkannya adalah:

“Masa lalu tempatnya adalah di masa lalu.”

Ya, biarlah masa lalu tetap di masa lalu. Jangan biarkan ia mengambil alih hidup Anda.

Filipi 3:13: Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

Filipi 3:14: dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Paulus memberikan suatu nasehat yang baik sekali. Terhadap masa lalu yang buruk, kita melakukan pemberesan dengan Tuhan, diri kita, dan sesama; lalu melupakannya. Ya, sesuatu yang sudah usai itu tidak perlu kita ungkit-ungkit lagi.

Hal yang membuat kita sulit beranjak dari masa lalu adalah adanya peristiwa-peristiwa yang belum kita selesaikan, terutama berkaitan dengan mengampuni dan menerima kenyataan.

Sebelum anda berdamai dengan diri sendiri (baca di “For the Love of Myself” dan “Emptiness”), selamanya Anda akan terus hidup di masa lalu. Sebelum Anda melakukan pemberesan dengan masa lalu Anda, selamanya kuasa, belenggu, dan ikatan masa lalu akan merantai Anda.

Bayangkan orang yang diikat dan dibelenggu. Apa yang terjadi dengan orang tersebut? Ia tidak bisa bergerak ke mana pun. Begitu pula dengan orang yang terikat dengan masa lalunya, yang belum melakukan pemberesan dengan masa lalunya, yang belum berdamai dengan masa lalunya, dengan dirinya, orang-orang, bahkan dengan Tuhan atas suatu yang terjadi di masa lalu.

Apakah Anda ingin membiarkan diri Anda dikendalikan oleh uncontrollable variable? Apakah Anda ingin membiarkan diri Anda diatur dan dipimpin oleh masa lalu Anda: hal-hal yang tidak dapat Anda ubah?

Jika jawaban Anda adalah “tidak”, maka bertindaklah sekarang juga untuk berdamai dengan diri sendiri dan dengan masa lalu Anda (langkah-langkahnya silakan baca di “For the Love of Myself”).

Masa lalu yang indah seringkali membuat kita terlena. Kenangan indah, kejayaan masa lalu sering membuat kita enggan melihat dan menapaki masa depan. Ya, mimpi yang indah akan kenangan di masa lalu adalah hal yang menyenangkan.

Namun kenangan akan masa lalu yang menyenangkan, kejayaan di masa lalu, peristiwa-peristiwa di masa lalu hanyalah merupakan suatu penggalan kisah kita di masa lalu. Ya, kita boleh mengingatnya, mengenangnya, tapi bukan untuk menjadikannya sebagai sesuatu yang menghalangi kita untuk maju ke depan.

Kita tidak boleh berhenti hanya dengan mengenang, mengingat, dan membayangkan hal-hal indah dan besar di masa lalu, tapi justru kita dapat menjadikan hal itu sebagai suatu pemacu bagi kita untuk melangkah, untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Bila kita hanya berhenti pada mengenang dan mengingat keindahan dan kebesaran masa lalu tanpa melakukan sesuatu mengenainya, maka ya sudah, sampai situ saja langkah kita: bermimpi. Tetapi justru yang harus kita lakukan adalah menjadikan impian kita sebagai suatu kenyataan. Menjadikan masa lalu kita yang indah sebagai patokan bagi kita untuk berusaha lebih lagi, berusaha terus maksimal dalam apapun yang kita lakukan.

Saya akan mengulang ayat yang tadi telah saya tulis:

Filipi 3:13: Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

Filipi 3:14: dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Ya inilah tantangan kita: baik atau buruk masa lalu kita, kita perlu melupakannya dan terus berlari menuju tujuan kita terus-menerus sampai mencapai garis akhir hidup kita.

Hal yang menarik adalah Paulus mengucapkan suatu nasehat lain berkaitan dengan masa lalu yang berlawanan dengan nasehatnya yang pertama.

Ibrani 10:32: Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat,

Ia mengatakan bagi kita untuk mengingat masa lalu. Ya mengingat. Namun apa yang diingat? Setiap pelajaran yang dapat dipetik dari masa lalu, itu perlu kita ingat.

Apakah Anda bisa mengingat kebaikan orang-orang di masa lalu Anda? Apakah Anda bisa mengingat hal-hal positif yang dapat Anda ambil dari peristiwa-peristiwa buruk di masa lalu Anda? Apakah Anda bisa mengingat kebaikan dan pertolongan Tuhan di masa lalu?

Ingatlah hal-hal yang baik itu. Jangan lupakan setiap kebaikan dan hal positif yang Anda pernah dapatkan di masa lalu, terutama kebaikan dan perbuatan-perbuatan Allah bagi kita.

Mazmur 78:7: supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya;

Mengingat kebaikan dan perbuatan Tuhan di masa lalu akan menjadi penyemangat bagi kita di masa sekarang dan masa yang akan datang saat kita menghadapi tantangan dan persoalan. Ia adalah Allah yang tidak berubah dan dapat diandalkan. Dengan mengingat perbuatan tangan-Nya yang menopang kita dan tidak membiarkan kita jatuh, kita dapat memperoleh kekuatan di masa sekarang dan akan dating.

Namun tidak cukup untuk mengingat, kita juga perlu untuk bertindak. Bersyukurlah untuk setiap hal baik yang pernah terjadi di masa lalu dan jadikan itu sebagai satu pemacu bagi Anda ke depan.

Ada suatu perkataan yang saya ingin kita semua mengingatnya:

“Lupakanlah kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain. Lupakanlah (dan bereskanlah) setiap kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. Tetapi jangan pernah lupakan kebaikan yang pernah kita terima. Jadikanlah pelajaran setiap kesalahan yang kita lakukan: bereskan, pelajari, dan maju lagi.”

Mari kita tidak hidup di masa lalu, tetapi terus maju untuk mencapai tujuan hidup kita.

Amin.

Iklan

Comments on: "Time (Trilogi-1)" (6)

  1. FB Comment from AWB:
    tapi kak,masa lalu kan bgian dri hdup kta jga..jd wajr klo ada orng yang susah lpas dri blenggu masa lalu..
    aq stuju klo msa dpn msh bsa kendalikan…bisa kita atur brsma Tuhan..tpi yang jelas, sbgai ank Tuhan kita jgn percya dgn takdir..smu…a masa depan adalah kehendak Tuhan..
    kak,tag trus y notesnya ke aq..
    thanks,
    GBU..

    • Betul masa lalu adalah bagian diri kita, tapi ga wajar kalau terbelenggu oleh masa lalu. Kenapa aku bilang ga wajar, karena segala sesuatu itu adalah plihan. Kita punya kehendak bebas: mau terbelenggu masa lalu atau tidak. Itu ad…alah pilihan kita :). Jadi bijaksanalah dengan pilihan kita. Gbu. Thanks commentnya :). Gbu too.

  2. FB Comment from EHC:
    arch aye juga di tag in ya 🙂
    aye setuju kita sebagai anak Tuhan jangan hidup di masa lalu, namun kita harus hidup di masa kini, karena masa kini menentukan masa depan kita ^^

  3. FB Comment from HM:
    hmm.. ada temen aq yg terbelenggu dengan masa lalu ny yang begitu pahit, sampe sekarang ga pernah bisa melupakannya. mudah2an dia ngebaca artikel ini 🙂
    JBU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: