All for Glory of Jesus Christ

Prioritas

Pembahasan hari ini adalah mengenai “Prioritas”. Dalam “Seeing Through Unveiling Eyes and Heart” saya sudah membahas sekilas mengenai prioritas ini.

Sebenarnya ketika kemarin, sejalan dengan saya menuliskan mengenai “Planning”, saya membuat rencana penulisan juga untuk sampai satu bulan mendatang. Topik-topik beserta tanggal penulisan semua telah saya rencanakan. Sejalan dengan itu pula, saya sudah merencanakan untuk memilih judul bagi E-book saya (yang akan berisikan notes yang saya tuliskan pada bulan tersebut), untuk Edisi Februari-Maret, April, dan Mei.

Berkaitan dengan perencanaan yang saya sudah buat, sebenarnya “Prioritas” bukanlah topik untuk hari ini, melainkan untuk beberapa hari ke depan. Lalu mengapa saya jadi memajukan topik ini menjadi hari ini? Alasannya adalah karena saya merasa ditegur Tuhan hari ini. Ya, saya ditegur karena akhir-akhir ini prioritas saya kacau-balau. Bukannya menempatkan Tuhan di nomor 1, malahan menempatkan pelayanan dan pekerjaan di nomor 1. Bukannya menempatkan keluarga dan teman-teman di nomor 2, malah menempatkannya di bawah pelayanan dan pekerjaan.

Lebih lanjut lagi kemarin saya ditegur, apakah prioritas saya itu untuk memuliakan Tuhan atau untuk mendapatkan pujian bagi diri saya sendiri? Kemarin terjadi sesuatu berkenaan dengan itu yang tidak perlu saya ceritakan. Memang bukan kesalahan saya, tetapi sikap hati saya tidak benar.

Lewat seorang sahabat, saya diingatkan hal itu. Bahwa prioritas saya adalah untuk memuliakan Tuhan, bahkan kalaupun tidak ada seorangpun yang melihat pelayanan saya, itu tidak apa-apa.

Prioritas bila dilihat dari asal katanya adalah prior. Prior artinya lebih dulu. Jadi, prioritas berbicara mengenai urut-urutan hal. Prioritas adalah penetapan hal yang terpenting, diikuti dengan hal yang penting, cukup penting, dan seterusnya. Ada satu istilah berkaitan dengan prioritas, yaitu first thing first (hal yang pertama/utama, lebih dahulu).

Ayat mengenai prioritas adalah sebagai berikut:

Markus 12:28: Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”

Markus 12:30: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Markus 12:31: Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Lihat dalam ayat tersebut, yang paling penting adalah mengasihi Tuhan, menempatkan Tuhan di tempat pertama. Bahkan ada ayat lain yang menguatkan pernyataan tersebut:

Keluaran 20:3: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Saat kita menempatkan Tuhan di bawah yang lain-lain: keluarga, pekerjaan, pelayanan, bahkan diri sendiri, kita membuat allah lain dan ini adalah dosa di hadapan Allah. Akibat dari dosa adalah kekacauan dan kematian.

Bagaimana dengan saat teduh Anda? Apakah Anda berbagi keintiman dengan Tuhan? Apa yang terjadi saat Anda melewatkan itu? Kekosongan, kering, dan kekacauan. Jika dibiarkan terus, jiwa dan roh Anda akan merana dan mati (baca “Emptiness”).

Kembali ke ayat di Markus 12, posisi kedua setelah Tuhan adalah sesama manusia. Siapakah sesama manusia?

Kisah Para Rasul 1:8: Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Menjadi saksi berarti bicara tentang pekerjaan dan pelayanan. Pekerjaan dan pelayanan harus mulai dari Yerusalem dulu. Yerusalem berbicara tempat yang dekat. Artinya keluarga dan orang-orang terdekat: teman-teman kita. Jadi prioritas kedua adalah keluarga dan orang-orang terdekat.

Baru setelah itu adalah Yudea, Samaria, dan ke ujung bumi. Yudea, Samaria, dan ke ujung bumi adalah bicara tentang pekerjaan dan pelayanan kita. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah diri kita sebagai prioritas berikutnya.

Jadi, prioritas kita (Anda dan saya) bila dirangkum seharusnya terdiri dari berikut ini:

1. Tuhan.

2. Keluarga dan teman-teman.

3. Pekerjaan dan pelayanan

4. Diri sendiri: hobi, waktu istirahat, dst.

Nah urut-urutan ini tidak boleh dibalik. Semuanya harus tertata demikian. Bila dibalik jadinya akan timbullah kekacauan. Saat saya mengutamakan pekerjaan dan pelayanan di atas Tuhan serta keluarga dan teman-teman saya, yang terjadi adalah kekacauan. Saya jadi kehilangan tujuan awal saya melakukan pelayanan. Saya merasa lebih melayani diri saya sendiri ketimbang Tuhan. Benar-benar saya merasa sangat malu.

Saat saya menempatkan pekerjaan dan pelayanan saya di atas keluarga dan teman-teman saya, saya langsung merasa ada satu rasa ‘deg’ dalam hati saya. Betul, pekerjaan dan pelayanan itu hal yang penting, tetapi tidak lebih penting dari keluarga dan teman-teman saya.

Untungnya saya memiliki keluarga dan teman-teman yang luar biasa. Mereka sangat mendukung dan menyayangi saya: tidak banyak menuntut atau komplain karena saya kurang memperhatikan mereka. Untunglah Tuhan segera menegur saya. Sebenarnya teguran itu bukan hari ini saja. Beberapa waktu lalu juga saya sempat ditegur karena begitu sibuk dan mengabaikan kakak saya.

Langsung seketika Tuhan menegur saya. Seketika itu saya menghentikan kesibukan saya dan menghubungi kakak saya. Ya, kakak saya memang tidak komplain, tapi saya merasa dia terganggu dengan sikap saya yang tidak menempatkan prioritas yang tepat. Puji Tuhan, Tuhan lewat Roh Kudus segera menegur saya.

Memang kadang-kadang saya lupa mengenai first thing first. Kadang-kadang saya terdorong untuk melakukan hal-hal yang mendesak tapi tidak terlalu utama, dibandingkan hal-hal yang utama tapi tidak mendesak.

Berkaitan dengan ini, saya memiliki sebuah buku yang dapat Anda baca. Judulnya adalah “Seni Menolak Hal-hal yang Mendesak” yang ditulis oleh Charles E. Hummel. Ini adalah buku yang menarik dan perlu Anda baca.

Pekerjaan dan pelayanan adalah hal yang penting, namun dibandingkan dengan Tuhan dan keluarga, pekerjaan dan pelayanan menjadi kurang penting. Pendeta di gereja saya pernah berkata kurang lebih demikian:

”Bagaimana saya bisa melayani, bila keluarga saya terbengkalai? Bagaimana saya bisa sibuk membantu orang lain, bila keluarga saya tidak terperhatikan?”

Hal ini bicara tentang prioritas. Prioritas ditentukan oleh motivasi kita. Motivasi kita ditentukan oleh hati kita.

Amsal 4:23: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Jika sikap hati kita benar, maka kita akan dapat menjaga motivasi kita tetap benar. Jika kita menjaga motivasi kita benar, maka prioritas kita pun akan benar.

Jadi, siap menjaga prioritas yang benar?

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: