All for Glory of Jesus Christ

Saya akan mengangkat topik mengenai Trilogi “Putus Asa, Berkeras, Berserah”. Pada pembahasan hari ini adalah mengenai putus asa. Dalam kondisi hari-hari ini saat kondisi ekonomi lesu, banyak orang menjadi putus asa. Bahkan di TV, saya lihat banyak caleg (calon legislatif) yang menjadi putus asa dan depresi karena tidak terpilih sebagai wakil rakyat.

Kecewa diikuti depresi lalu diikuti putus asa. Ini merupakan suatu mata rantai yang saling terkait satu dengan lainnya. Bahkan seorang nabi besar di Alkitab, yaitu Elia pernah mengalami putus asa ini. Pada 1 Raja-raja 19:1-18 (silakan dibaca sendiri) terdapat kisah Elia yang putus asa.

Begitu putus asanya Elia sampai-sampai ia ingin mati saja.

1 Raja-raja 19:4: Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

Padahal baru saja Elia melihat pertunjukan mujizat Tuhan yang spektakuler (1 Raja-raja 18:20-46) di Gunung Karmel. Di sana Elia melihat bukti Allah menunjukkan kuasanya. Saat nabi-nabi Baal yang berjumlah 450 orang mempersembahkan korban lembu, tidak ada api yang dikirimkan untuk membakar kurban tersebut.

Sementara Elia, seorang diri sebagai nabi Allah, mempersembahkan korban lembu di atas mezbah yang sudah dibasahi dengan 4 buyung air sebanyak 3 kali. Jadi total ada 12 buyung air dituangkan ke atas korban lembu dan mezbah. Lalu Allah mengirimkan api untuk membakar korban lembu tersebut, sebagai bukti Ia adalah Allah yang hidup.

1 Raja-raja 18:38: Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.

Pertunjukan yang sangat spektakuler bukan? Bagaimana bila Anda berada di sana untuk menyaksikan hal tersebut? Heran, kagum, takjub? Ya, saya yakin itu yang Anda akan rasakan.

Tidak cukup hanya itu, Elia lalu membasmi 450 nabi-nabi Baal tersebut di Sungai Kison.

1 Raja-raja 18:40: Kata Elia kepada mereka: “Tangkaplah nabi-nabi Baal itu, seorangpun dari mereka tidak boleh luput.” Setelah ditangkap, Elia membawa mereka ke sungai Kison dan menyembelih mereka di sana.

Kalau ditulis dalam CV atau resume untuk mencari pekerjaan pada saat itu, ini pasti merupakan portofolio yang sangat mengesankan. Bagaimana tidak? Seorang diri melawan 450 orang nabi-nabi Baal dan karena Allah di pihak Elia, tidak ada apapun yang dapat melawannya.

Juga tidak berhenti sampai di situ. Saat itu Bangsa Israel mengalami kekeringan yang amat sangat karena hujan tidak turun di negeri itu. Kekeringan terjadi karena Ahab meninggalkan Tuhan dan mengikuti Baal. Kekeringan terjadi karena Ahab memimpin Bangsa Israel menuju kepada kebinasaan.

Ini merupakan peringatan yang sangat serius para pemimpin, leaders. Bagi para pemimpin, leaders, hati-hati! Anda sebagai pemimpin, sebagai leaders merupakan orang-orang dengan pengaruh yang besar. Orang-orang mengikuti Anda. Orang-orang meneladani Anda. Anda benar atau salah, orang akan cenderung mengikuti Anda. Jangan sampai Anda tersesat, karena Anda bukan hanya akan menyesatkan diri Anda sendiri, tetapi lebih parah dari itu Anda akan menyesatkan banyak sekali orang: para pengikut Anda.

Bagi kita semua, ini juga peringatan yang sangat serius. Kekeringan yang terjadi identik dengan kekeringan pada hati kita, kekeringan pada jiwa kita, kekeringan pada roh kita Bila kekeringan dibiarkan terus-menerus akhirnya adalah kekosongan, lalu kematian (baca “Emptiness” dan “Whole”).

Kembali ke Elia, setelah membasmi 450 nabi-nabi Baal, Elia menyampaikan bahwa hujan akan turun.

1 Raja-raja 18:41: Kemudian berkatalah Elia kepada Ahab: “Pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran.”

Memang hujan kemudian turun dengan lebatnya. Hujan itu adalah air, dan air adalah simbol pembersihan dan penyegaran. Saat kita kering dan kosong, jangan lupa untuk datang pada Sumber Air yang hidup, karena Ia akan menyegarkan dan membersihkan jiwa kita, hati kita, roh kita.

Lalu, mengapa Elia lalu putus asa dan bahkan ingin mati saja? Padahal ia baru saja menyaksikan kuasa Tuhan yang luar biasa dahsyatnya.

Alasannya karena: Elia takut.

1 Raja-raja 19:2: maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.”

1 Raja-raja 19:3: Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.

Seseorang bisa takut karena ia lupa akan Tuhan. Elia lupa akan Tuhan yang telah menyertai dia menghadapi 450 nabi-nabi Baal dan seluruh rakyat Israel. Elia lupa akan Tuhan yang telah mendengarkan doanya untuk menurunkan hujan.

Saya juga pernah mengalami hal yang dialami Elia. Saat itu adalah saat tergelap dalam hidup saya. Semasa sekolah pada umumnya saya selalu berprestasi, kalaupun tidak menjadi nomor satu, setidaknya tiga besar. Pada saat kuliah, karena kuliah berbeda dengan sekolah, tidak ada lagi sistem ranking, kelihatannya tantangan jadi hilang.

Suatu waktu pada suatu semester IP saya jatuh. Padahal saya sudah belajar dengan baik. Saya sungguh tidak mengerti. Hal itu ditambah dengan saya tidak pandai bergaul, membuat saya merasa terasing di kelas. Saya merasa terkucil, asing dengan teman-teman sekelas saya.

Bahkan sampai suatu ketika terjadi sesuatu yang membuat saya semakin terpojok. Banyak orang menilai diri saya secara salah. Mereka tidak mengenal saya secara baik dan karena tidak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada diri saya. Bahkan seorang teman saya mengatakan banyak yang menganggap saya sebagai orang yang senang cari muka di depan dosen. Sakit sekali hati saya.

Saya hanya senang belajar. Saya hanya ingin belajar sebaik-baiknya walaupun ada sejumlah dosen yang tidak pandai menerangkan tetapi saya berusaha menyukai atau setidaknya tertarik akan mata kuliah itu. Karena dari masa sekolah dulu saya belajar, bila saya tidak menyukai suatu guru lalu tidak menyukai mata pelajaran itu yang rugi saya juga.

Namun ternyata karena tidak kenal maka tidak sayang, banyak orang yang salah paham terhadap diri saya. Lebih menyakitkan lagi adalah karena saya lebih nyaman bergaul dengan teman wanita, ada seseorang yang dengan bahasa tubuh mengatakan bahwa saya lesbian. Saya saat itu tidak mengerti artinya. Saya bertanya pada teman saya, apa maksud dari orang tersebut? Lalu teman saya menjelaskan itu artinya adalah lesbian.

Ya ampunnnn, Anda bisa membayangkan perasaan saya? Saya 100% normal. Saya hanya menyukai lawan jenis: pria. Hanya karena saya lebih nyaman bergaul dengan teman wanita, saya disebut sebagai lesbian. Masih banyak lagi hal yang lain.

Sekian banyak peristiwa yang bercampur aduk menjadi satu ditambah kepahitan dan luka masa lalu yang belum terselesaikan membuat saya depresi, putus asa. Saya beberapa kali berpikir untuk mengakhiri hidup saya. Saya merasa hidup saya tidak ada gunanya lagi. Beberapa kali saya berharap mati segera.

Anda ingin tahu rasanya baygon? Saya pernah mencicipinya. Saya beri tahu ya, rasanya sangat tidak enak hahahaha. Jangan coba-coba untuk mencicipinya. Saya pernah berharap untuk mati ditabrak. Pernah mempertimbangkan untuk mengiris pergelangan tangan dengan cutter. Pernah minum obat dalam dosis yang banyak. Untungnya Tuhan menaruhkan rasa takut akan kematian yang begitu hebat, sehingga saya masih ada hari ini dan bisa menuliskan notes ini hahaha. Puji Tuhan! Sungguh Tuhan baik.

Tidak banyak orang yang tahu saya pernah begitu putus asanya sampai ingin mati dan mengambil langkah untuk mengakhiri hidup saya. Namun Tuhan begitu baik, seperti Elia yang sudah putus asa, Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya seorang diri. Tuhan menolong Elia dan Tuhan juga menolong saya.

Tuhan melalui malaikat memberi makan dan minum Elia selama dua kali dan memberikan kekuatan bagi Elia untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Horeb. Di Gunung Horeb, Allah menemui Elia dan memberikan firman kepada Elia untuk kembali ke Damsyik.

1 Raja-raja 19:15: Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.

1 Raja-raja 19:16: Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.

1 Raja-raja 19:17: Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa.

1 Raja-raja 19:18: Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.”

Saat mendengar suara Tuhan, Elia bisa keluar dari keputusasaan-Nya dan kembali menjadi nabi Allah yang berani.

Berbeda dengan Elia yang seorang diri, saya memiliki keluarga dan teman yang luar biasa. Saat saya mengalami depresi dan putus asa, keluarga dan teman saya memberikan saya dukungan. Saat banyak orang salah mengerti kepada saya, teman saya membela saya di hadapan mereka. Saya mengetahui ini dari cerita teman lain yang saat itu juga salah paham kepada saya.

Saat ada orang yang peduli, saat ada orang yang membela, saat ada orang yang mendukung, situasi terasa sedikit lebih baik. Namun saya menemukan pembebasan saya ketika Tuhan menjamah saya.

Ceritanya akan sangat panjang bila diceritakan. Namun cukuplah dengan singkat saya katakan demikian: jika Tuhan tidak menjamah saya, saya pasti sudah tidak ada lagi hari ini. Bila Anda masih bisa membaca notes saya setiap harinya, itu karena kebesaran dan kebaikan Tuhan semata kepada saya.

Saya tahu benar rasanya depresi. Saya tahu benar rasanya putus asa. Saya tahu benar rasanya ingin mati saja. Namun, saya juga tahu benar, saat Tuhan menjamah saya, hidup saya tidak menjadi sama lagi.

Seperti Tuhan menjamah Elia, seperti Tuhan menjamah saya, Tuhan juga ingin menjamah Anda. Apakah Anda mengalami depresi dan putus asa hari-hari ini? Mari datang pada Tuhan. Minta Ia menjamah Anda. Ia akan memulihkan Anda dan menjadikan Anda baru. Apakah Anda memiliki keluarga, teman, atau rekan kerja yang depresi dan putus asa? Jadilah seorang sahabat baginya dan ajak dia datang pada Tuhan. Tuhan akan memulihkan dia dan menjadikan dia manusia baru.

Apapun yang terjadi Anda tak pernah sendiri karena tangan kasih-Nya terlampau panjang untuk meninggalkan Anda. Begitu besar kasih-Nya bagi kita. Biarlah kita semua menjadi orang-orang yang diubahkan menjadi penuh semangat dan bergairah karena kita tahu, Allah yang hidup, Allah yang Agung, Allah yang Maha Dahsyat, Yesus Kristus yang hidup mengalahkan maut, selalu beserta kita dalam bentuk Roh Kudus di dalam kita.

Amin.

Comments on: "Putus Asa, Berkeras, Berserah (Trilogi-1)" (7)

  1. FB Comment from CD:
    tq bgt setelah gw baca semakin yakin ,,,belakangan ini ada masalah ,,,da lama ga cerita” yah ,,,tp jujur gw ga nyangka loh kesaksian lw ,,,bnr terharu gw tp 1 hal yang gw tau ALLAH kita Maha BESAR!!!!

    bantu gw dalam doa jg yah , mslhna keputusan yang akan gw ambil ini menjadi keputusan yang sangat menentukan HIDUP gw d masa depan san,,,,,semoga Tuhan ikut Campur Tangan dalam masalah gw yah san,,,,AMIENNNNN

  2. FB Comment from CD:
    tq bgt setelah gw baca semakin yakin ,,,belakangan ini ada masalah ,,,da lama ga cerita” yah ,,,tp jujur gw ga nyangka loh kesaksian lw ,,,bnr terharu gw tp 1 hal yang gw tau ALLAH kita Maha BESAR!!!!

    bantu gw dalam doa jg yah , mslhna keputusan yang akan gw ambil ini menjadi keputusan yang sangat menentukan HIDUP gw d masa depan ,,,,,semoga Tuhan ikut Campur Tangan dalam masalah gw yah ,,,,AMIENNNNN

    • Wah, kalau minta dukungan doa, kirim message aja. Soalnya kalau ga tau duduk persoalannya secara jelas, susah juga doainnya.

      Hal yang penting, pegang terus Yeremia 29:11: Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada …pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

      Pasti kog Tuhan ikut campur tangan. Amin, puji Tuhan🙂.

  3. FB Comment from EHC:
    thx buat postingan nya,tetep jadi alatNya🙂 (btw saya juga pernah sampai dititik saya mau mati rasanya ^^!)

  4. Amin. Thanks buat sharing-nya. Itu membuktikan banyak orang pernah putus asa, sampai mau mati juga. Tapi keberadaan kita sampai hari ini menunjukkan, Tuhan kita jauh lebih besar dari apapun, termasuk permasalahan kita. Bahkan bukan cuma itu, kalau kita bisa ada sampai hari ini berarti ada rencana besar menanti kita. Puji Tuhan, kita memiliki Allah yang besar.🙂

  5. FB Comment from MF:
    Thanks Nice story sometimes..Qt emank harus alami 1 Titik dimana Only God Can Help ^_^ Btw…makasih ‘tuk crita kamu smakin kuatkan gw :)N gw juga pernah ngrasa down saat gw nyadari gw Dah Ga punya Nyokap n Bokap gw ga percaya Tuhan. N ..Ga ada yg isa gw Share Tapi….gw bersyukur Gw punya Jesus is Morethan enough 4 me :)Cia yoo n Keep your Fire 4 Kingdom ^ _ ^

    • Amin, ya memang kadang kita perlu nyampe titik bawah dalam hidup buat ngalami Tuhan🙂. Sebelum ngalami Tuhan sendiri, kita cuma bisa bilang kata orang begini kata orang begitu. Tapi seudah ngalami sendiri, baru kita bisa bilang “How …God is great”. Thanks udah mampir ke sini and baca🙂. Ciayo juga🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: