All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini adalah Trilogi kedua dari “Putus Asa, Berkeras, Berserah”. Pada hari ini akan dibahas mengenai berkeras. Berkeras itu istilah lainnya adalah ngotot, bersikukuh, memaksakan diri.

Apakah Anda familiar dengan orang yang berkeras? Dalam berita yang saya tonton mengenai pemilihan caleg (calon legislatif) terdapat banyak orang yang berkeras untuk jadi caleg. Terlihat dari banyaknya caleg yang mempromosikan diri secara jor-joran yang menelan dana begitu banyak.

Saya bukan hendak mengatakan hal itu tidak boleh. Boleh-boleh saja, selama memang yang bersangkutan memang mampu. Buktinya adalah begitu data hasil pemilu dikeluarkan, ternyata banyak caleg yang stres dan depresi, bahkan di berita beberapa hari kemarin saya lihat ada yang sampai menggunakan narkoba untuk mengurangi depresinya. Ini merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan.

Sebuah mata uang logam memiliki dua sisi, yaitu gambar dan angka. Begitu pula dengan berkeras. Selain sisi negatifnya, terdapat pula sisi positifnya. Ada saatnya pula kita harus berkeras, ngotot.

Sebagai contoh saja misalnya Anda tidak bisa berenang. Tanpa Anda berkeras, tanpa Anda ngotot, tanpa Anda memaksakan diri untuk berlatih, Anda akan sulit untuk menguasai gaya renang tertentu. Apalagi untuk gaya kupu-kupu yang memang sulit untuk dikuasai.

Contoh yang lain misalnya Anda seorang pria yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita. Tanpa Anda berkeras untuk berusaha mendapatkan hati sang wanita pujaan hati, akan sulit untuk Anda memperoleh cintanya. Tentu saja berkeras di sini bukan dengan cara-cara tidak terpuji atau pura-pura (memakai topeng atau yang istilah yang sering saya dan teman-teman saya gunakan adalah bulan promosi).

Contoh lain lagi adalah dalam usaha. Perusahaan Anda baru berdiri dan tentunya banyak mengalami pasang surut. Bila Anda putus asa dan langsung berhenti saat itu juga, maka berakhirlah sudah usaha Anda.

Jadi berkeras dalam arti persistent itu dibutuhkan. Persistent artinya gigih dan terus menerus. Namun berkeras dalam arti negatif (pengertian kedua) itu perlu dihindarkan. Berkeras dalam kaitannya dengan stubborn, yaitu kepala batu. Berkeras dalam arti ngotot membabi buta tanpa perhitungan dan mengandalkan diri sendiri (pengalaman, kemampuan, kepintaran, dst), bahkan yang berkeras sampai-sampai mengabaikan dan mendukakan Tuhan. Ini merupakan berkeras yang perlu dibuang jauh-jauh.

Ada satu contoh di dalam Alkitab tentang berkeras yang nomor satu dan dua ini, yaitu Raja Daud dan Raja Saul. Hal yang menarik adalah keduanya adalah sama-sama raja yang besar di Israel. Keduanya sama-sama merupakan orang yang diurapi Tuhan. Namun mengapa akhir hidup keduanya begitu berbeda jauh bagaikan langit dan bumi?

Daud mati karena umur tua dan sebelum mati Daud masih sempat memberikan pesan terakhirnya pada Salomo anaknya, yang juga menjadi salah satu raja terbesar di Israel (1 Raja-raja 2:1-12).

Saul mati bunuh diri karena kalah perang melawan orang Filistin (1 Samuel 31:1-13). Ya, Saul mati dengan menjatuhkan diri di atas pedangnya, sebelumnya memang Saul telah terluka parah. Saul mati hanya disaksikan oleh pembawa senjatanya.

Lihat, betapa berbedanya akhir hidup kedua orang yang sama-sama raja besar dan sama-sama merupakan orang yang diurapi Tuhan.

Kedua orang itu: Daud dan Saul, sama-sama pernah menjadi orang yang berkeras. Sama-sama pernah menjadi orang yang ngotot, keras kepala.

Daud ketika melihat Batsyeba dan jatuh hati pada Batsyeba begitu berkerasnya untuk mendapatkan Batsyeba. Padahal Batsyeba adalah istri Uria. Seorang wanita betapapun ia cantik, kalau sudah menjadi istri orang lain jangan sekali-kali diingini. Begitupula seorang pria betapapun ia tampan, kalau sudah menjadi suami orang lain jangan sekali-kali diingini. Ingat perintah Allah yang ke-10 dari Sepuluh Perintah Allah.

Tapi Daud yang bahkan adalah orang yang begitu mencintai Tuhan, lupa akan perintah ke-10 ini. Begitu melihat Batsyeba yang cantik jelita, hatinya begitu terpaut pada Batsyeba dan lupa akan perintah Tuhan. Daud berkeras. Daud ngotot. Pokoknya, bagaimanapun caranya Daud berkeinginan mendapatkan Batsyeba.

Tidak cukup dengan tidur bersama Batsyeba (2 Samuel 11:4), ketika Batsyeba mengandung, Daud menyuruh orang untuk memanggil Uria kembali ke istana dan kembali ke rumah: kepada Batsyeba (2 Samuel 11:6-10). Ketika Uria tidak kembali ke rumahnya, Daud menanyakan hal ini kepada Uria dan ketika Uria menolak pulang ke rumahnya dengan alasan solidaritas terhadap atasannya: Yoab dan juga bawahan-bawahan Yoab lainnya (2 Samuel 11:11), Daud membuat Uria mabuk (2 Samuel 11:13).

Bahkan ketika Uria mabuk dan tetap tidak kembali ke rumah, Daud memikirkan cara lain untuk menutup aibnya, yaitu dengan menuliskan surat kepada Yoab dengan menitipkannya pada Uria (2 Samuel 11:14).

2 Samuel 11:15: Ditulisnya dalam surat itu, demikian: “Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati.”

Sungguh keji bukan? Tindakan berkeras Daud itu sungguh sangat keji. Uria yang sangat solider pada Yoab, bahkan diminta untuk membawa sendiri surat kematiannya pada Yoab: atasan Uria, orang yang dihormati Uria. Sungguh sangat keji dan tidak bermoral! Akhir cerita Uria mati terbunuh (2 Samuel 11:24) dan Batsyeba menjadi milik Daud (2 Samuel 11:27).

Namun, bagaimana mungkin orang yang begitu keji, begitu tidak bermoral, begitu ngotot, begitu berkeras ini disebut Tuhan sebagai kesayangan Tuhan?

Kisah Para Rasul 13:22b: Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.

Karena Daud walaupun berkeras, walaupun ngotot, walaupun melakukan hal-hal yang keji sekalipun karena ia ingin menutup aib dan demi mendapatkan Batsyeba, Daud memiliki hati yang lemah lembut. Daud waktu ditegur Tuhan lewat Nabi Natan (2 Samuel 12:1-25), Daud tidak berkeras, tidak mencari-cari alasan, tidak berkelit (bahasa gaulnya tidak ngeles). Daud mengakui kesalahannya.

Itulah sebabnya walaupun Daud suka berkeras, tapi terhadap Tuhan ia tidak berkeras. Hatinya sangat lemah lembut. Ini adalah sikap hati yang perlu kita contoh.

Sedangkan mengenai Saul, walaupun Saul diurapi Tuhan juga sebagai raja (1 Samuel 9), bahkan mendapatkan nubuatan bahwa Roh Tuhan akan berkuasa atas diri Saul (1 Samuel 10:5-8) sehingga mengalami kepenuhan seperti nabi (1 Samuel 9:10). Ini orang yang luar biasa bukan?

Namun coba lihat, ketika orang Filistin datang menyerang ke Gilgal dan saat itu Samuel tidak datang ke Gilgal, Saul melakukan kejahatan yang besar di mata Tuhan: ketidaktaatan. Samuel berkeras untuk memenangkan perang dengan melakukan ketidaktaatan.

1 Samuel 13:9: Sebab itu Saul berkata: “Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.” Lalu ia mempersembahkan korban bakaran.

Ini adalah hal yang tidak benar. Walaupun Saul mendapat kepenuhan seperti nabi, tapi ia bukanlah nabi. Ia adalah seorang raja. Mempersembahkan korban adalah tugas nabi. Demi menang perang, Saul berkeras, ngotot, melakukan segala cara, bahkan melakukan hal yang tidak benar di mata Tuhan.

Saat kita melakukan sesuatu yang bukan porsi kita, saat itu kita jatuh seperti Saul. Ini merupakan peringatan bagi kita. Akibat lebih lanjutnya adalah fatal, seperti yang terjadi pada Saul.

1 Samuel 13:13: Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.

1 Samuel 13:14: Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”

Hal itu tidak berhenti sampai sana. Lebih parah lagi perbuatan Saul adalah ketika Samuel telah mati dan orang Filistin bergerak maju dan berkemah di Sunem (1 Samuel 28:4). Saul menjadi takut. Pada saat takut bukannya Saul melakukan langkah yang tepat, malah melakukan perbuatan yang lebih parah lagi: mendatangi perempuan pemanggil arwah.

Lihat perbuatan Saul yang berkeras, ngotot, bahkan sampai-sampai melakukan perbuatan yang sangat salah di mata Tuhan. Akhirnya kita semua sudah tahu. Saul mati bunuh diri. Sangat tragis!

Jadi ingat jangan sampai kita berkeras dalam arti keras kepala. Kita wajib memiliki mimpi. Kita sangat perlu mewujudkan mimpi kita menjadi kenyataan. Kita perlu berkeras (dalam arti persistent) untuk mewujudkan mimpi kita. Tetapi jangan sampai kita berkeras (dalam arti stubborn/keras kepala) sampai menghalalkan segala cara.

Mari kita semua belajar menjadi orang yang persistent, tetapi tidak menjadi orang yang stubborn!

Di atas semuanya, biarlah Tuhan yang menjadi pemandu kita dalam tiap langkah kita.

Amin.

Iklan

Comments on: "Putus Asa, Berkeras, Berserah (Trilogi-2)" (4)

  1. FB Comment from EHC:
    notesmu hari ini mengena akan karakterku yang stubborn ^^!
    masih harus belajar untuk mengubahnya menjadi persistent

    • Amin. Semua kita tanpa Tuhan mengubahkan itu cenderung jadi stubborn kog. Cuma Tuhan plus keinginan kita buat berubah yang bisa membentuk karakter kita.

  2. teriama kasih putus asa hampir selalu singgah. semoga kita bisa bertahan

    • Sama2. Jika menghadapi keputusasaan, jangan fokus pada situasi yang membuat putus asa tapi fokuslah pada Tuhan Yesus, Sang Sumber Segala Solusi. Kalau itu yang dilakukan, pasti akan bisa bertahan menghadapi situasi apapun, sehingga keputusasaan tidak akan singgah. Terima kasih untuk kunjungannya. Silakan mampir lagi. Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: