All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini merupakan Trilogi ketiga dari “Putus Asa, Berkeras, dan Berserah”. Pembahasan hari ini adalah mengenai sikap berserah.

Sikap berserah bukan berarti putus asa atau pasif. Berserah berarti tetap melakukan bagian kita dengan setia (persistent) tetapi tidak ngotot (stubborn). Berserah berarti melakukan yang terbaik sambil menyerahkan kendali pada Tuhan.

Berserah berarti menyangkal diri. Saat kita harus menyerahkan kendali diri pada Tuhan, itu berarti kita menyangkal diri kita.

Matius 16:24: Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Bicara tentang menyangkal diri, berarti bicara tentang membayar harga. Bicara membayar harga berarti bicara tentang korban: menyerahkan hal yang sangat kita pegang erat sebagai persembahan kepada Tuhan (baca “Paying the Price”). Bicara tentang korban, tidak pernah lepas dari dimensi-dimensinya, yaitu OSIG (O-bey (taat), S-elfless (tidak egois), I-ntegrity (integritas), G-od’s Dependent (mengandalkan Tuhan)) (silakan baca pada “Dimensions of Sacrificing (Tetralogi 1, 2, 3, dan 4)”).

Walaupun keempat dimensi korban itu sangat berkaitan erat dengan sikap berserah, saya pada kesempatan ini hanya akan menyoroti satu saja, yaitu masalah tunduk (taat). Berserah berarti bicara mengenai penundukkan diri secara total. Tunduk secara total berarti bicara tentang membiarkan Tuhan mengatur segala sesuatunya, walaupun kita telah merencanakan ini dan itu dalam kehidupan kita (baca “Planning”).

Saya sangat merasakan hal ini sangat tidak mudah untuk saya lakukan namun memang hari-hari ini Tuhan benar-benar ingin merombak segala sesuatunya dalam hidup saya. Jadi, saya hanya ingin belajar untuk tunduk. Belajar untuk taat. Belajar untuk berserah.

Apa yang Anda rasakan ketika Anda sudah membuat rencana matang untuk satu hari lalu ternyata seseorang mengganggu rencana tersebut? Kalau saya setidaknya akan merasa terganggu. Bagaimana bila Tuhan yang ikut campur untuk ‘mengganggu’ rencana yang sudah Anda buat?

Kalau Tuhan ikut campur, itu pasti untuk kebaikan Anda. Saya juga merasakan hal ini. Memang sejak saya kembali ke kasih mula-mula saya kepada Tuhan, Tuhan lebih ikut campur dalam hidup saya (atau mungkin lebih tepatnya adalah saya membiarkan Tuhan lebih ikut campur karena pada dasarnya Tuhan selalu ingin ikut campur dengan kehidupan anak-anak-Nya). Saya yang biasanya santai, bisa tidur puas setiap hari, sekarang tidak bisa santai lagi. Biasanya saya bisa membeli dan membaca 1-2 novel dalam seminggu, sekarang sudah hampir 2 bulan saya tidak membeli satupun novel dan hanya membaca ulang 1 novel lama.

Apakah itu buruk? Tidak! Sama sekali tidak. Malah saya merasa sangat puas. Sebelum saya kembali ke kasih mula-mula saya pada Tuhan dan sebelum membiarkan Tuhan lebih ikut campur dalam hidup saya, saya tetap melakukan hal-hal bagi Tuhan.

Ya, saya mengirimkan sms setiap harinya. Saya menjadi moderator di satu website Kristiani. Saya mendengarkan orang-orang yang membutuhkan nasehat dan menasehati mereka. Itu tetap saya lakukan. Saya bahagia.

Namun, saat saya membiarkan Tuhan masuk lebih dalam di kehidupan saya, saya merasakan kebahagiaan yang lebih. Kepuasaan yang berlimpah. Karena saya merasa hidup saya penuh. Dulu saya bisa bersantai seharian dan saya suka merasa bosan. Sekarang tidak pernah ada lagi rasa bosan.

Sekarang istirahat terasa sebagai kemewahan. Dulu saya bisa tidur sepuas-puasnya, tetapi saya tidak merasa puas. Sekarang karena seringkali lelah sekali setelah seharian harus melakukan ini dan itu yang terasa banyak sekali hal yang harus dan bisa dilakan, tidur terasa sangat nikmat.

Mazmur 127:2: Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

Ayat ini terasa sekali bagi saya. Berkat saat saya bisa tidur terasa nikmat sekali. Pembahasan ayat ini akan saya bahas pada pembahasan mendatang karena banyak yang salah kaprah tentang ayat ini.

Namun saya masih terus diajar Tuhan untuk berserah penuh. Ada satu tokoh di Alkitab yang ingin saya angkat, yaitu Maria (ibu Yesus). Ini merupakan teladan untuk penyerahan diri secara total.

Saya mengajak Anda untuk membayangkan. Bayangkan diri Anda seorang wanita (mohon maaf, kalaupun pria coba bayangkan diri Anda seorang wanita hahahaah). Sebagai seorang wanita yang sudah bertunangan dan akan segera menikah, tahu-tahu Anda mendapati diri Anda ternyata hamil! Apa perasaan Anda?

Inilah yang terjadi pada Maria. Ia wanita yang baik dan kudus. Tidak macam-macam dengan Yusuf yang merupakan tunangannya saat itu. Tidak pernah menjalin hubungan di luar nikah tentu saja. Namun tiba-tiba, tanpa hujan tanpa angin, tanpa pernah berhubungan seksual dengan Yusuf atau dengan pria manapun, Maria hamil!

Ini adalah sesuatu yang sangat menggegerkan! Lebih mengagetkan lagi, Maria hamil karena kehendak Tuhan. Malaikat Tuhan yang memberitahukan ini kepada Maria. Kehamilan tanpa adanya peleburan sel sperma dan sel telur benar-benar hal yang mustahil secara ilmu biologi. Tapi memang Allah adalah Tuhan yang ahli dalam hal-hal yang mustahil (baca “Impossible is Nothing).

Bila dilihat dari kondisi saat itu, Maria bisa saja berkata:

“Tidak mau, Tuhan. Saya sudah bertunangan. Sebentar lagi saya akan menikah dengan Yusuf. Kalau saya hamil walaupun ini adalah kehendak Tuhan, tapi akan mengacaukan rencana saya.”

Kalau Maria berkata begitu, maka nama Maria tidak akan ada dalam Alkitab hahahaha. Namun sebaliknya berkata demikian, Maria mengambil resiko yang begitu besar dan tunduk secara total. Maria berserah kepada Tuhan.

Lukas 1:38: Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Luar biasa! Inilah contoh sempurna dalam hal penyerahan diri kepada Tuhan. Berserah artinya adalah seperti orang yang main bungee-jumping. Barangkali Anda pernah main bungee-jumping? Saya belum pernah ahahahaha, terlalu intense untuk saya permainan tersebut hahahaa.

Dari yang saya tonton di televisi, orang yang bermain bungee-jumping terikat kakinya pada tali lalu lompat dari ketinggian tertentu. Saya kalau melihat itu ngeri sekali. Bayangkan kalau talinya putus. Bayangkan kalau angin kencang lalu ternyata ada sesuatu melintas dan membentur hal itu.

Nah berserah persis ibarat orang bermain bungee-jumping. Setiap kita mengerti bahwa Tuhan memegang kita (bahwa tali terikat pada kaki kita). Tetapi sering kali kita membiarkan kekuatiran menghantui kita. Selama kita berada dalam kehendak Tuhan, jangan takut! Apapun tantangan dan persoalan yang menghadang, Tuhan pasti jaga!

Tali bungee jumping mungkin suatu waktu bisa putus bila terus digunakan. Tetapi Tuhan bukan tali bungee jumping yang mungkin putus. Tuhan adalah Allah yang perkasa, Allah yang besar, Allah yang maha kuasa. Ia tidak bisa dikalahkan oleh apapun juga.

Apakah kekuatiran kita lebih besar dari iman kita pada Tuhan? Apakah ketakutan kita lebih besar dari kekuatan Tuhan? Atau apakah kita takut bila kita menyerahkan kendali hidup kita ke tangan Tuhan, hidup kita akan kacau balau?

Tuhan itu adalah Allah yang sempurna. Saat kita berserah total kepada-Nya, Ia akan beracara dengan kita. Jangan takut! Jika Tuhan menyuruh Anda lompat, lompat! Jika Tuhan menyuruh Anda pergi, pergi! Jika Tuhan menyuruh Anda berbicara, berbicara! Jika Tuhan menyuruh Anda diam, diam!

Mari kita belajar menjadi orang yang berserah penuh pada Tuhan.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: