All for Glory of Jesus Christ

Complexity vs Simplicity

Pembahasan hari ini adalah mengenai “Complexity vs Simplicity” atau kalau diterjemahkan adalah kerumitan vs kesederhanaan. Seberapa banyak dari Anda yang senang dengan hal-hal yang rumit? Seberapa banyak dari Anda yang senang dengan hal-hal yang sederhana?

Apakah Anda termasuk kalangan yang menganggap kerumitan sebagai suatu yang ‘wah’? Semakin sulit dan ruwet sesuatu hal itu semakin menarik? Apakah Anda menganggap kesederhanaan sebagai suatu yang dangkal?

Apakah Anda termasuk kalangan yang menganggap kesederhanaan sebagai suatu hal yang perlu dipertahankan? Semakin sederhana dan ringkas terasa semakin baik? Apakah Anda menganggap kekompleksan sebagai suatu hal yang terlalu dibuat-buat dan mengada-ada?

Bila kita mau meninjau keduanya, dalam hidup ini kita membutuhkan keduanya: complexity dan simplicity. Dalam tugas akhir, skripsi, tesis, atau disertasi, tentu saja diperlukan suatu hal yang kompleks untuk dipecahkan. Bila tidak kompleks tentu saja bobot penilaian juga berbeda. Mengapa timbul segala hal-hal yang canggih dan rumit? Karena memang permasalahan yang kita hadapi itu memang kompleks.

Namun saat kompleksitas dihadapkan dengan kenyataan, kita perlu realistis juga. Apakah kita bisa menyelesaikan suatu permasalahan yang kompleks begitu saja? Atau kita perlu memecahkannya terlebih dahulu ke dalam berbagai permasalahan sederhana.

Dalam ilmu matematika dan optimisasi (pencarian solusi optimal terhadap suatu permasalahan) dikenal ada satu istilah, yaitu relaksasi. Relaksasi merupakan suatu metode yang digunakan untuk menyederhanakan permasalahan kompleks sehingga pada akhirnya akan dapat memecahkan permasalahan kompleks tersebut.

Jadi tidak selalu yang sederhana itu buruk dan dangkal. Sebaliknya tidak selalu yang kompleks itu baik dan menarik. Hal yang sangat menarik terjadi belakangan ini pada para mahasiswa saya.

Saat UTS mereka diberikan soal yang sangat mendasar yang telah mereka dapatkan saat di bangku SMU, ternyata dari jawaban yang saya peroleh sebagian besar dari mereka malah justru bingung ketika mendapatkan soal yang begitu sederhana. Ini merupakan fenomena yang sangat menarik.

Rasul Paulus dalam Roma 12:3 memberi suatu nasihat kepada kita.

Roma 12:3: Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

Ini adalah nasihat kepada kita untuk tidak memikirkan hal-hal yang jauh melebihi kapasitas kita. Terkadang kita cenderung jatuh pada memikirkan hal yang rumit, memikirkan hal yang belum terjadi, menebak-nebak, menduga-duga.

Mengapa Rasul Paulus mengatakan demikian? Karena saat kita memikirkan hal yang rumit dan yang belum terjadi, kita seringkali jatuh pada kekuatiran dan kecemasan. Padahal ayat firman Tuhan menyatakan pada kita untuk tidak kuatir dan cemas.

Filipi 4:7b: Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Saat kita memikirkan hal yang lebih tinggi dari pemikiran kita, pasti kita akan kuatir dan cemas. Maka cukuplah kita pikirkan bagian kita saja, hal-hal yang memang akan kita hadapi hari ini, saat ini. Betul kita perlu melakukan perencanaan (baca “Planning”) berkaitan hari esok dan hari esok penuh dengan ketidakpastian (baca “Time (Trilogi-3)”).

Hal yang perlu kita lakukan saat berhadapan dengan kerumitan, ketidakpastian, dan hal-hal yang lebih tinggi dari pemikiran kita adalah melakukan hal yang menjadi bagian kita sambil berserah pada Tuhan (baca “Putus Asa, Berkeras, Berserah (Trilogi-3)”).

Bagaimana saat kita menghadapi kesederhanaan? Kalau Anda baca tesis saya, sebenarnya tesis saya permasalahannya itu tidaklah rumit. Namun ternyata formulasi model matematis yang dihasilkan terlihat rumit hahahahaa. Bahkan sangat sederhana. Anda tahu, untuk mendapatkan yang sangat sederhana itu saya membutuhkan waktu relatif cukup lama.

Jadi sebenarnya kerumitan dan kesederhanaan itu sifatnya relatif. Hal yang rumit bisa kita sederhanakan sehingga mudah kita pikirkan. Sebaliknya, hal yang sederhana juga bisa menjadi rumit bila kita inginkan. Inilah yang terjadi dalam pikiran kita.

Saya baru saja membeli buku yang judulnya adalah “Pikiran adalah Medan Perang” yang ditulis oleh Joyce Meyer. Ini merupakan terjemahan dari versi aslinya “Battlefield of Mind”. Saya belum sempat membacanya, namun saya yakin isinya akan membahas kerumitan dalam pikiran kita. Itulah sebabnya pikiran disebut sebagai medan perang.

Tuhan Yesus sendiri dalam pengajaran-Nya biasanya menggunakan perumpamaan sehari-hari yang bersifat sederhana. Namun saat yang sederhana itu kalau mau kita telaah, kita kupas, kita bahas satu persatu, seringkali sifatnya justru mendalam.

Contoh mengenai kesederhanaan yang Tuhan Yesus ajarkan adalah saat Tuhan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya.

Yohanes 13:12: Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?

Itu hal yang sederhana bukan mengenai pembasuhan kaki? Ya sederhana, karena membasuh kaki berarti mencuci kaki supaya bersih dari debu dan kotoran yang menempel.

Namun hal yang sederhana ini setelah ditelaah lebih dalam, memiliki nilai filosofis dan pesan yang sangat dalam dan kompleks bila dijabarkan. Membasuh kaki berarti kerelaan untuk melayani. Membasuh kaki berarti kesediaan untuk merendahkan diri. Membasuh kaki berarti merupakan sikap hati yang terbuka. Membasuh kaki berarti memiliki hati sebagai hamba. Masih banyak lagi penjabarannya. Bila saya uraikan satu persatu itu dapat menjadi satu buku tersendiri bahkan hahahah.

Hal lain mengenai kesederhanaan yang sangat radikal juga Tuhan ajarkan dalam ayat berikut ini:

Matius 18:3: lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Aneh sekali bukan pernyataan di Matius 18:3? Kita harus menjadi seperti anak kecil. Kalimat ini terkesan sederhana. Tetapi bila kita mau mengupasnya lebih dalam kembali kita akan menemukan nilai filosofis dan pesan yang sangat kompleks dan mendalam.

Anak kecil itu umumnya polos, tidak berpikir macam-macam, tidak berpikir rumit-rumit, apa adanya, ceria, tidak memakai topeng, dan sederhana. Inilah yang Tuhan ajarkan kepada kita mengenai menjadi seperti anak kecil.

Saat anak kecil diajarkan bahwa Tuhan Yesus sangat mencintainya sehingga rela mati bagi anak itu, si anak ini tidak akan berpikir macam-macam. Anak kecil akan menerima hal itu dan menanamkannya dalam hatinya.

Kisah Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak di sana terdapat tokoh anak kecil (Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, Lukas 9:10-17, Yohanes 6:1-13). Anak kecil ini dengan kepolosan dan kesederhanaannya memberikan 5 roti jelai dan 2 ikan miliknya.

Seorang dewasa sudah pasti tidak akan melakukan itu. Begitu banyak orang yang lapar dan 5 roti jelai serta 2 ikan untuk mengatasi? Jelas absurd! Jelas tidak masuk akal! Bagaimana mungkin?

Namun anak kecil ini maju dan menyerahkan miliknya: 5 roti dan 2 ikan. Menarik sekali bahwa lalu Tuhan Yesus menggunakan milik si anak kecil: 5 roti dan 2 ikan tersebut untuk memberi makan 5000 orang laki-laki, bahkan juga perempuan dan anak-anak.

Kesederhanaan seorang anak kecil menyebabkan Tuhan Yesus melakukan mujizat besar. Lihat: kesederhanaan seorang anak kecil ternyata memiliki arti mendalam. Kesederhanaan seorang anak kecil memiliki nilai filosofis yang sangat kompleks.

Keindahan dari segala sesuatu adalah menyederhanakan hal yang kompleks. Sebaliknya juga menampilkan sesuatu yang sederhana dalam kemasan yang kompleks itu merupakan suatu keindahan tersendiri.

Semoga kita semua bisa menjadi orang yang dalam kesederhanaan kita dapat menampilkan kedalaman hati kita pada dunia, sehingga lewat kita yang sederhana, mereka bisa melihat Kristus yang kompleks, yang bahkan sulit untuk dimengerti oleh akal semata.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: