All for Glory of Jesus Christ

All vs Nothing

Pembahasan hari ini adalah mengenai “All vs Nothing” atau bila diterjemahkan adalah memiliki segalanya atau tidak memiliki apa-apa, tetapi memiliki Tuhan. Apabila Anda dihadapkan pada pilihan untuk memiliki segalanya atau memiliki Tuhan mana yang akan Anda pilih? Saya yakin jawaban Anda adalah keduanya hahahaha.

Ya, idealnya adalah kita memiliki keduanya. Namun tak jarang orang di hadapkan pada kedua pilihan ini. Hal ini terjadi di tempat kerja, dalam kehidupan sehari-hari, atau dalam keluarga sekalipun.

Di tempat kerja, mungkin ada yang berhadapan pada harus memilih meninggalkan iman supaya mendapatkan posisi tinggi, atau mempertahankan iman tapi karir mandeg. Pergumulan lain berkaitan dengan tempat kerja: harus tidak beribadah setiap minggunya karena memang harus bekerja atau beribadah setiap minggu dengan konsekuensi mencari pekerjaan lain.

Pergumulan lain: dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan sudah mengingatkan kepada kita untuk memilih pasangan hidup yang seiman. Namun ternyata ada pria tampan, baik hati, gagah, sopan, terpelajar, sudah mapan, dan sangat siap untuk menikah. Ia datang dan mendekati dengan gigih. Namun ternyata si pangeran tampan ini tidak mau mengikut Tuhan, sebaliknya meminta wanita yang didekatinya ini untuk meninggalkan Tuhan.

Bagi yang pria, ternyata ada sesosok wanita cantik, anggun, dengan fisik sempurna, keibuan, sangat pengertian, namun ternyata si putri cantik jelita ini tidak mau mengikut Tuhan. Malah meminta sang pria untuk meninggalkan Tuhan.

Di kehidupan sehari-hari ketika dalam keluarga semua dalam keluarga belum percaya Kristus dan Anda satu-satunya yang percaya serta menerima Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat pribadi Anda. Keluarga Anda lalu mengancam Anda untuk meninggalkan Kristus atau menghadapi aniaya.

Berbagai pergumulan ini memang berat. Namun Tuhan sudah mengatakannya lebih dahulu mengenai hal ini.

Yohanes 15:19: Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.

Hal yang berat karena memang kita masih hidup di dunia ini. Namun Tuhan Yesus pun pernah mengalami pergumulan ini ketika berpuasa di padang gurun (Matius 4:1-11). Pergumulan pertama yang dihadapi Tuhan Yesus adalah berkaitan dengan urusan perut.

Matius 4:3: Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”

Karena urusan perut ini urusan yang penting, maka ini menjadi pergumulan dan godaan pertama yang ditawarkan Iblis. Orang hari-hari ini bisa saling bunuh gara-gara urusan perut. Mengerikan sekali! Itulah sebabnya, ketika Yesus lapar Iblis menawarkan Yesus untuk mengubah batu menjadi roti sebagai godaan pertama.

Mengapa demikian? Karena memang ini bicara tentang kebutuhan yang mendesak dan perlu dipenuhi saat itu juga. Yesus bukannya tidak bisa mengubah batu menjadi roti. Oh, mudah sekali untuk Tuhan Yesus. Lalu mengapa Ia tidak melakukannya? Padahal Ia lapar.

Alasannya adalah Tuhan Yesus memiliki prioritas yang benar dalam hidupnya (baca “Prioritas”). Ia tidak mengikuti kata-kata Iblis karena Ia tahu benar yang perlu diutamakan adalah bukan kebutuhan perut (kedagingan), tetapi justru mengikuti perintah Tuhan.

Matius 4:4: Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Bagaimana mungkin orang lapar diminta untuk mengikuti perintah Tuhan? Mungkin sekali! Di dalam Alkitab banyak sekali orang yang melakukan doa puasa: dalam keadaan lapar secara jasmani namun justru memperoleh kepenuhan dalam rohaninya.

Memang kalau kita mengikut Tuhan, akal sehat kita akan selalu dibenturkan pada kenyataan. Secara logika hal itu tidak masuk akal, namun ingat Tuhan, Allah kita, adalah spesialis bagi hal-hal yang tidak mungkin dan tidak masuk akal (baca “Impossible is Nothing”).

Pergumulan kedua yang dihadapi Tuhan Yesus adalah masalah kekuasaan dan kehebatan.

Matius 4:5: Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,

Matius 4:6: lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”

Banyak orang bergumul dalam area ini. Ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan dan untuk menunjukkan kehebatan, Tuhan menjadi prioritas yang nomor sekian. Malah bisa-bisa Tuhan dilupakan.

Memang ada sebuah peribahasa:

“Semakin tinggi suatu pohon, semakin keras angin bertiup”

atau dalam ayat Firman Tuhan ada sebuah ayat, yaitu:

Lukas 12:48b: Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

Ini memang tidak terelakkan. Bila kita menghadapi pergumulan antara kekuasaan dan kesempatan menunjukkan kehebatan kita dengan harus meninggalkan Tuhan, manakah yang kita pilih?

Tuhan Yesus tanpa ragu memilih untuk meninggalkan semua itu.

Matius 4:7: Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

Mengapa Yesus bisa dengan yakin meninggalkan semua itu? Karena Tuhan Yesus tahu benar mengenai dirinya. Ia tidak perlu menunjukkan kuasa dan kehebatan-Nya, karena memang Ia sangat berkuasa dan sangat hebat. Ia tidak memilih mengikuti Iblis, tidak memilih untuk menunjukkan kuasa dan kehebatan-Nya untuk hal yang sia-sia.

Ya, Tuhan Yesus menunjukkan kuasa dan kehebatan-Nya saat Ia membuat sekian banyak mujizat. Seluruh Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) penuh dengan pertunjukkan kuasa dan kehebatan Yesus: mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus. Bahkan mujizat yang paling spektakuler yang tidak pernah dapat dilakukan oleh orang di dunia ini: mati, dikuburkan, dan kemudian bangkit pada hari ketiga. Luar biasa!

Tuhan Yesus menunjukkan kuasa dan kehebatan-Nya bukan untuk pamer, bukan untuk mengikuti kemauan Iblis, bukan supaya dinilai orang hebat, bukan supaya orang berdecak kagum. Tuhan Yesus menunjukkan kuasa dan kehebatan-Nya supaya nama Allah ditinggikan, supaya Ia menggenapi Firman. Inilah perbedaan besarnya.

Godaan ketiga yang disodorkan Iblis kepada Tuhan Yesus adalah seluruh dunia.

Matius 4:8: Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,

Matius 4:9: dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.”

Berapa banyak orang yang jatuh saat berhadapan dengan kemilau dunia? Ya kemilau dunia itu memang menggiurkan, tetapi Tuhan Yesus tidak berkedip sedikitpun menghadapi tawaran menggiurkan itu.

Matius 4:10: Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Ya, inilah sosok yang sangat sempurna! Walaupun Kristus 100% Tuhan, Ia juga 100% manusia. Namun Ia sangat mengerti, harta duniawi nilainya adalah fana.

Ingat saat kita lahir, kita tidak membawa apapun. Begitu pula saat kita mati kelak, tidak bisa membawa apapun. Maka mengapa kita harus begitu tergiur oleh harta duniawi? Ya, kita perlu uang untuk hidup, namun tidak perlu begitu terobsesi oleh uang sampai-sampai Tuhan ditempatkan di nomor sekian, bahkan dilupakan.

Matius 16:26: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Hati-hati dengan godaan yang ditawarkan dunia! Banyak orang mulai dengan kompromi berpikir:

“Yah, saya tidak akan meninggalkan Tuhan. Saya akan tetap berpegang teguh pada Tuhan.”

Kemudian memilih terjun dalam keduniawian dan berakhir dengan kehancuran, bahkan tak sedikit yang meninggalkan Tuhan. Tuhan itu setia, Ia selalu membuka tangan-Nya menerima kita kembali walaupun kita telah meninggalkan-Nya sekalipun. Namun jangan sampai kita meninggalkan Dia.

Orang yang sudah meninggalkan rumah bukan karena terpaksa namun karena keinginan sendiri akan sulit untuk kembali ke rumah, apalagi bila tujuannya itu sangat nyaman baginya. Begitu pula bila orang meninggalkan Tuhan, itu ibarat orang meninggalkan rumah bukan karena terpaksa. Perjalanan yang ditempuhnya akan cukup sulit untuk kembali.

Bahkan sebuah doa yang luar biasa dikatakan oleh Habakuk:

Habakuk 3:17: Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,

Habakuk 3:18: namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

Inilah doa yang penuh ketulusan. Inilah doa yang memilih God above all (Tuhan di atas segalanya). Inilah yang memilih

“Ok, nothing is ok. As long as I have God, I have everything”

(“Ok, tidak memiliki apa-apa itu tidak apa-apa. Asalkan aku memiliki Tuhan, aku memiliki segalanya.”)

Ini memang merupakan tantangan radikal. Di tengah teori kemakmuran sekarang ada tantangan radikal “All vs Nothing”.

Asalkan Anda memiliki Tuhan, yakinlah Anda akan memiliki segalanya. Ya, Tuhan tidak akan mempermalukan orang yang mengasihi Dia. Ia setia pada janji-Nya:

Mazmur 37:25: Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;

Jadi: mana pilihan Anda? “All vs Nothing”, but God instead? (Semua atau tidak ada apa-apa, tetapi memiliki Tuhan sebagai gantinya?).

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: