All for Glory of Jesus Christ

Takut Mencintai

Pembahasan hari ini adalah mengenai “Takut Mencintai”. Berapa banyak dariAnda yang merasa takut untuk mencintai? Berapa banyak dari Anda yang merasa lebih baik Anda tidak mencintai?

Takut mencintai erat kaitannya dengan luka. Saat seseorang mencintai sangat rentan baginya untuk terluka. Mencintai berarti membuka diri untuk terluka. Mencintai berarti memberikan peluang besar bagi pihak yang kita cintai untuk melukai kita.

Mungkin ada dari Anda yang tidak setuju? Bagi Anda yang tidak setuju saya akan beri pertanyaan berikut: antara orang yang Anda cintai dan dengan orang yang tidak Anda cintai, bila mereka mengecewakan Anda siapakah yang lebih menyakitkan Anda? Saya yakin jawaban Anda semua adalah orang yang Anda cintai.

Jangankan melukai, jangankan menghianati, jangankan menyakiti, hanya tidak memenuhi harapan kita saja, hanya mengecewakan kita saja, itu berpotensi menimbulkan luka. Memang terluka atau tidak dan dalam atau tidak suatu luka itu tergantung reaksi kita terhadap tindakan orang yang kita cintai.

Hal yang perlu kita garis bawahi adalah untuk tidak menaruh harapan dan standar yang berlebihan kepada orang yang kita cintai (baca “Harapan, Menjaga Hati dan Pikiran”). Orang yang kita cintai sebaik-baiknya mereka, secinta-cintanya mereka kepada kita, sebaik apapun mereka berusaha untuk tidak melukai kita, juga adalah manusia biasa yang tidak sempurna, yang penuh dengan keterbatasan.

Saat kita menetapkan harapan dan standar yang berlebihan bagi mereka, saat itulah kekacauan terjadi. Harapan yang terbentuk dan tidak tercapai adalah sumber kekecewaan. Kecewa adalah sumber luka. Bila kita kecewa, siapakah yang perlu disalahkan? Sebenarnya adalah kita sendiri.

Kita bertanggung jawab untuk perasaan kita sendiri, untuk pikiran kita sendiri. Ya, ini saatnya bagi kita untuk mengambil tanggung jawab untuk pikiran dan perasaan kita sendiri. Seperti saya sudah pernah katakan di pembahasan yang sudah lalu, kita tidak bisa mengatur reaksi orang kepada kita. Itu adalah uncontrollable variable.

Sebaliknya kita dapat mengatur pikiran dan perasaan kita, terutama pikiran kita. Perasaan kita ditentukan oleh pikiran kita, maka mari kita atur pikiran kita sebaik mungkin. Kembali ke masalah luka yang disebabkan oleh reaksi kita untuk terluka (terlepas dari apapun yang dilakukan oleh orang yang kita cintai kepada kita).

Bila Anda teriris pisau saat akan memasak, pasti akan timbul luka dan setiap luka itu tidak enak. Ya, jelas sakit dan keluar darah. Kalau luka karena teriris pisau itu mudah diobati dan kelihatan kesembuhannya, luka karena sakit hati itu tidak terlihat.

Karena tidak terlihat, jelas sulit untuk mengetahui luka atau tidak, dan bila sudah tahu luka, sulit pula untuk mengetahui sudah sembuh atau tidak. Tetapi salah satu indikator yang pasti untuk mengetahui seseorang luka hati atau tidak, adalah dari ketakutan untuk mencintai atau tidak.

Bila seseorang menjawab bahwa ia masih takut mencintai, bahwa ia masih trauma, bahwa ia sulit untuk mencintai, nah inilah indikator yang sangat jelas untuk melihat bahwa seseorang itu memiliki luka hati.

Takut mencintai tidak harus dikarenakan yang bersangkutan mengalami sendiri disakiti, tetapi bisa saja karena seseorang tersebut melihat, mendengar, dan bersentuhan langsung dengan kehidupan orang lain yang mengalami disakiti.

Itulah sebabnya bagi anak-anak korban perceraian orang tua, banyak yang mengalami takut untuk mencintai. Bukan hanya korban perceraian, tetapi anak-anak yang tumbuh dengan orangtua yang selalu bertengkar dan tidak menghargai satu dengan lainnya, juga rentan untuk tumbuh sebagai anak yang takut untuk mencintai.

Seseorang bisa mencintai karena ia telah mengalami cinta terlebih dahulu. Seseorang bisa memberi karena memang ia memiliki sesuatu untuk diberi. Bagaimana seseorang dapat mencintai bila ia tidak mengalami cinta? Begitu pula yang terjadi dengan orang yang kurang mengalami kasih dan cinta dalam hidupnya, terutama sewaktu kecil.

Pengalaman masa kecil merupakan pengalaman yang sangat membekas dalam kehidupan seseorang. Banyak penelitian menunjukkan bahwa hal yang terjadi saat kecil itu berpengaruh besar pada kehidupan saat beranjak dewasa.

Bukan hanya pengalaman masa kecil yang menyebabkan seseorang untuk takut dan sulit mencintai, tetapi juga pengalaman saat beranjak dewasa. Bila kita belum terluka, maka cara yang ampuh adalah mencegah, yaitu dengan menjaga respon kita untuk senantiasa positif dan menjaga hati serta pikiran kita untuk tidak menaruh harapan dan membuat standar berlebihan yang sulit dipenuhi oleh orang-orang terkasih kita.

Lalu bagaimana bila kita sudah terluka? Apa yang harus kita lakukan? Seperti luka-luka luar yang terlihat, tentu saja semua luka harus diobati. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah datang pada Tuhan. Langkah-langkah secara terperinci sudah saya tuliskan dalam “For the Love of Myself”. Silakan baca notes tersebut jika Anda memang belum membacanya.

Yehezkiel 34:16: Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.

Ya, syukur pada Tuhan karena Ia adalah Allah yang baik, Ia adalah gembala yang baik, yang tidak membiarkan begitu saja kita, domba-dombanya sendirian. Bahkan domba-domba yang terluka Dia balut, domba-domba yang sakit Dia kuatkan.

Ya, langkah pertama yang dapat Anda lakukan adalah minta kesembuhan daripada-Nya. Setelah itu, langkah kedua adalah mengecek kita sudah sembuh atau belum adalah untuk melihat apakah masih takutkah kita untuk mencintai?

2 Timotius 1:7: Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Ketakutan untuk mencintai datangnya bukan dari Tuhan. Tuhan yang adalah kasih tidak memberi kita roh ketakutan, sebaliknya roh yang memberi kekuatan, kasih dan ketertiban. Jika kita masih takut untuk mencintai berarti memang kita belum sembuh dari luka, silakan kembali ke langkah pertama.

Langkah ketiga adalah pengecekan ulang. Apakah masih ada luka-luka dan emosi-emosi negatif yang tertinggal? Bila masih ada, kembali ke langkah pertama.

1 Yohanes 4:18: Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Tanda kita sudah sembuh dari luka adalah kasih kita menjadi sempurna: tidak takut lagi untuk mencintai. Takut mencintai tanda kasih kita menjadi tidak sempurna. Bila kita takut mencintai kita dihukum, ya orang yang paling berbahagia adalah orang yang dapat mencintai secara total dan penuh, tanpa was-was akan berbagai ketakutan yang menghantui pikiran dan hatinya.

Sudah dapatkah Anda mencintai secara total dan penuh tanpa takut untuk mencintai?

Amin.

Iklan

Comments on: "Takut Mencintai" (13)

  1. FB Comment from WS:
    kalau tidak berhasil gmn?

    • Kalau memang sudah datang pada Tuhan dan minta pemulihan pada-Nya pasti berhasil. Setelah datang pada Tuhan dan bila luka itu sudah mulai sembuh, jangan mulai mengorek2 luka lagi :). Pasti berhasil, buktinya yang nulis sudah praktekan berkali2 kog :).

  2. FB Comment from WS:
    berarti yg nulis sering bgt dunn…ngorek2 lukanya…..
    lagian klo luka lama itu ga mungkin bs smbh dengan cepat….
    perasaan kita ga bs dibohongin….ada hal yg bs bikin kita teringat kmbali akan hal2 kelam…….meskipun sebenernya kita ga …pengen inget2 lg……..misalnya lingkungan kita sangat mempengaruhi segala macem hal dlm kehidupan kita…..

    • Ga ngorek 🙂 Hahahaa masalah sembuh dengan cepat or ga itu tergantung dengan keputusan dan juga saat kita minta kesembuhan pada Tuhan, Dia itu baik kog :). Hal yang terpenting itu mengampuni. Masalah ingat itu wajar, tapi saat sudah mengampuni walau ingat sudah tidak bisa melukai perasaan kita lagi :).

      Betul segala sesuatu dapat mempengaruhi kita termasuk lingkungan, makanya kita jangan jadi termometer (saat suhu naik ikut naik, saat suhu turun ikut turun: dipengaruhi lingkungan), tetapi jadilah termostat (ga peduli suhu naik or turun, tetap begitu: tidak dipengaruhi lingkungan). Untuk jadi termostat perlu bergantung pada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Ini bukan hal yang mudah, tapi bisa :).

  3. FB Comment from WS:
    apakah klo kita sudah bergantung pada Tuhan , maka semua masalah akan beres?
    Tuhan jg tidak mungkin ingin kita menjadi malas berusaha……..
    kita diminta untuk mengikutiNYA……bukan diam saja kan….
    dalam arti kita harus berusaha melupakan… hal2 yg tidak baik itu…tp apa manusia bs?
    kita manusia hanya memikirkan hal yg duniawi….sangat susah untuk menghilangkan hal duniawi itu……
    apa km pernah mengalami hal yg terburuk dlm hdp km??
    biarpun kita sudah mengampuni org yg jahat ma kita…tp disaat kita berbuat salah ma org,,, apa org itu jg mengampuni kita?? hal yg paling susah itu adalah mengampuni diri kita sendiri………susah bgt….

    • Kalau kamu baca dari notes awal sampai hari ini kamu akan tahu jawabannya :). Permasalahannya kan bukan di saya. Kalaupun saya bisa atau tidak sebenarnya kan itu bukan masalah kamu, ya ga? :). Saya bilang bukan melupakan. Kalau melupakan itu sulit. Kenapa sulit? Karena manusia punya daya ingat. Tetapi memaafkan itu bisa. Walaupun sudah melupakan tapi kalau belum memaafkan suatu waktu ingat akan sakit lagi, tapi kalau sudah memaafkan kalaupun tetap ingat tidak masalah :). Saya sarankan kamu membaca notes “For the Love of Myself”. Itu isinya tentang berdamai dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan Tuhan.

      Tambahan lagi: kalau saya bisa nulis brarti saya sudah melewati itu. Tapi kembali lagi point pentingnya bukan di saya, tapi di kamu. Kalau kamu bisa baca notes ini, itu bukan kebetulan. Tapi Tuhan mau bicara kepada kamu lewat note…s ini. Permasalahannya adalah apakah kamu mau membatasi kuasa Tuhan dengan mengatakan “susah”? Hidup ini adalah pilihan, dan keputusan yang kamu ambil menentukan hidupmu jadi seperti apa. Kalau kamu disakiti, tidak penting apakah orang itu minta maaf atau tidak, tidak penting sedalam atau sedangkal apa lukamu, itu tidak penting. Hal yang terpenting adalah apakah kamu mau memaafkan atau terus dengan luka dan kebencian? Coba direnungkan. Gbu.

  4. FB Comment from DM:
    dalam pandangan saya,jika km dapat menerima apa yg asalnya kamu anggap buruk/sakit dan melihatnya dari perpektif lain sehingga km melihatnya secr positif,maka km sudah sembuh. apa gampang? menurut saya itu sulit..

    • Memang ga gampang, tapi asalkan mau, pasti bisa. Kalau ga mampu, minta kuasa Roh Kudus memampukan. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan :). Jangan mau dibatasi oleh kata “sulit dan susah”. Ada Roh Kudus di dalam kita yang membuat kita dapat menembus batas-batas kita, termasuk dalam hal mengampuni.

  5. FB Comment from HT:
    berani mencintai berarti berani terluka

    • FB Comment from EHC:
      idem ama HT, bernai mencintai harus berani menerima luka, karena orang yang kita cintai justru orang yang paling sering melukai kita. terus jadi alatNya ^^

  6. FB Comment from ASP:
    klo kata gw sih itu harga yang pantas buat d bayar…

  7. FB Comment from AS:
    Amin…
    Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu, jangan mengharapkan
    balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang dihatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihat…imu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: