All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini merupakan kelanjutan dari pembahasan kemarin “Takut Mencintai”. Pembahasan hari ini berjudul “Membuka Diri, Membuka Hati”.

Ada hal menarik yang lupa saya sampaikan. Tema Bulan Mei saya (mengenai cinta dan romance) ternyata sama dengan tema Daily Devotional yang dikeluarkan oleh Rick Warren beberapa hari belakangan.

Saya baru menyadarinya ketika beberapa hari ini tema Daily Devotional yang ditulis oleh Rick Warren belakangan ini adalah mengenai “Love”. Padahal ketika mempersiapkan tema bulan Mei, saat itu adalah bulan April dan tentu saja saya tidak mengetahui bahwa Rick Warren juga mengeluarkan tema yang sama.

Hal yang saya tangkap adalah Tuhan ingin kita semua belajar tentang kasih dan tentang cinta. Tuhan memang luar biasa merancangkan semuanya. Bahkan Ia juga Allah yang peduli akan kehidupan cinta kita. Siapa bilang Tuhan cuma peduli dengan masalah sekolah, kuliah, kerja, usaha, bisnis. Tuhan juga peduli dengan cinta dan  kisah cinta kita. Buktinya Tuhan memberikan tema yang sama kepada Rick Warren dan saya. Haleluya!

Kembali ke pembahasan hari ini: “Membuka Diri, Membuka Hati”. Mengapa saya sebutkan bahwa pembahasan ini merupakan kelanjutan dari pembahasan kemarin? Karena orang yang takut mencintai sebagai efek dari luka dan trauma masa lalu, baik yang dialami sendiri atau dialami oleh orang di dekatnya dapat berlanjut ke sulitnya yang bersangkutan untuk membuka diri, apalagi untuk membuka hati.

Tahapan yang dilakukan adalah membuka diri dulu, baru membuka hati. Seseorang tidak mungkin dapat membuka hati bila ia menutup dirinya. Sebaliknya bisa saja seseorang membuka dirinya, tetepi tidak membuka hatinya.

Saya akan memberikan analogi sebuah kerang. Kerang itu memiliki cangkang (kulit) yang keras. Pada umumnya saat kondisi tidak berbahaya dia akan dengan bebas untuk membuka cangkangnya dan mencari makan. Saat kondisi berbahaya, jangankan membuka cangkangnya; sedikitpun si kerang ini akan menutup rapat-rapat dirinya supaya tidak bisa dimasuki dan diserang oleh musuh.

Begitu pula dengan orang yang terluka dan takut mencintai lagi. Seperti seekor kerang yang menutup diri rapat-rapat terhadap musuh, orang yang terluka menutup diri rapat-rapat terhadap kemungkinan disakiti lagi, terhadap kemungkinan luka lagi. Padahal tanpa seseorang membuka diri, berarti hilanglah kesempatan baginya untuk menemukan cinta.

Suatu ironi yang menyedihkan. Di satu sisi orang ingin menemukan cinta sejati, namun di sisi lain orang takut untuk luka. Dalam segala sesuatu selalu ada resiko, bahkan saat kita tidak melakukan apapun itu tetap mengandung resiko.

Seperti mata uang logam yang memiliki dua sisi, segala sesuatu memiliki dua sisi. Membuka diri memang memiliki satu sisi, yaitu membuka peluang bagi kita untuk disakiti. Tetapi membuka diri juga memiliki sisi lainnya, yaitu memberikan peluang bagi orang lain untuk melihat diri kita dan mencintai diri kita.

Bila sesuatu memiliki peluang yang sama besarnya, alangkah baiknya kita berani mengambil resiko untuk maju dan membuka diri kita. Banyak orang begitu takut untuk membuka diri, apalagi membuka hatinya. Begitu takutnya bahkan sampai-sampai yang bersangkutan memakai ‘topeng’ supaya orang tidak mengetahui siapa dirinya sebenarnya (baca “Mirror”).

Hal ini merupakan hal yang menyedihkan karena sebenarnya siapapun kita, terlepas kita tidak sempurna dan penuh keterbatasan, kita semua adalah ciptaan yang indah, unik dan sangat berharga di mata Tuhan (baca “You are Precious”). Jangan sampai kita menutup diri kita yang indah itu sehingga orang lain tidak bisa melihat keindahan diri kita.

Membuka diri berarti memberikan diri kita, membagikan hidup kita supaya menjadi berkat bagi orang lain. Dalam hubungan romance pun, kita sangat wajib membuka diri kita supaya kekasih kita mengerti siapa diri kita sesungguhnya. Sayangnya dalam masa prapacaran atau dalam masa pacaran sekalipun, banyak orang hobi menggunakan ‘topeng’ dan melakukan ‘bulan’ promosi.

‘Bulan’ promosi adalah masa-masa untuk membuat si dia tertarik pada diri kita. Kalau ini dilakukan selamanya, ini merupakan hal yang baik. Sayangnya karena namanya adalah ‘bulan’ promosi; begitu bulan berakhir, berakhir pula hal-hal baik dan manis yang dilakukan.

Lalu bagaimana caranya bagi kita untuk membuka diri?

1. Sebelum dapat membuka diri jelas kita perlu pemulihan dari Tuhan. Tanpa pemulihan dari Tuhan, sebagai orang luka akan cenderung melukai orang lain. Tanpa kita pulih terlebih dahulu, bagaimana kita bisa mencintai? (baca “For the Love of Myself”).

2. Setelah kita pulih, maka perlu kita memberikan diri kita kepada Allah terlebih dahulu.

2 Korintus 8:5b: Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah,

Dengan kita membuka diri kita, berarti kita memberikan diri kita. Sebelum kita membuka diri pada orang lain, perlu kita pertama-tama membuka diri kepada Allah.

Bagi Tuhan tidak ada yang tersembunyi. Saat kita membuka diri kepada-Nya, Ia akan memperbaharui kita dan menjadikan kita baru.

Daniel 2:22: Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya.

3. Setelah membuka diri kepada Allah, barulah kita dapat membuka diri kepada orang lain. Dalam membuka diri tentu saja sangat diperlukan hikmat.

Amsal 14:8: Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.

Sejumlah orang membuka diri dengan tanpa hikmat dan akhirnya hasilnya adalah kekacauan. Kita perlu membuka diri, namun segala sesuatu tanpa hikmat hasilnya adalah tidak baik.

Bila kita telah dapat membuka diri, selanjutnya bagaimana kita dapat membuka hati?

1. Minta tuntunan Tuhan untuk membuka hati kita supaya kita peka mendengar kata-kata-Nya.

Lukas 11:9: Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Tanpa hati yang dibukakan, kita tidak bisa menerima firman-Nya. Tanpa hidup dalam firman-Nya, kita tidak dapat bertindak secara bijaksana. Padahal kita sangat butuh hikmat dari Tuhan untuk mengetahui orang yang tepat bagi kita untuk membuka hati kita.

2. Tidak menyimpan kesalahan-kesalahan orang di masa lalu, baik orang yang sama maupun membanding-bandingkan kesalahan orang lain kepada kesalahan orang tersebut.

1 Korintus 13:5b: Ia.. tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Untuk itu kita perlu belajar mengampuni. Toh kita sendiri pun tidak sempurna, kita sendiri punya banyak memiliki kesalahan. Untuk mengampuni diperlukan kebesaran hati kita dan untuk itu kita perlu kekuatan dari Tuhan. Asalkan kita MAU, pasti kita bisa. Asalkan kita MAU walaupun kita tidak sanggup, Roh Kudus akan me-MAMPU-kan kita.

Sudah siapkah Anda untuk membuka diri dan membuka hati?

Amin.

Iklan

Comments on: "Membuka Diri, Membuka Hati" (3)

  1. FB Comment from HaS:
    🙂 tema di komsel kami full bulan mei..jg tentang luv…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: