All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini berjudul “Apa Adanya, Seadanya, dan Ada Apanya” Dua kata pertama ini merupakan dua kata yang sering dipertukarkan. Hal yang dimaksudkan adalah mengatakan yang satu tapi malah menyebutkan yang lain. Sering sekali orang berkata:

“Saya hanya berusaha menjadi diri saya apa adanya.”

Hal ini merupakan pernyataan menarik. Dalam hubungan romance pun sering sekali kalimat ini diucapkan. Ya, saya sangat setuju bila kalimat tersebut diucapkan memang dengan pengertian demikian.

Amsal 13:7: Ada orang yang berlagak kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa, ada pula yang berpura-pura miskin, tetapi hartanya banyak.

Jangan sampai kita menjadi seperti yang tertulis dalam Amsal 13:7. Tidak perlulah kita berpura-pura menjadi orang lain. Tidak perlu kita melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangkan sesuatu. Jika itu adalah diri kita, ya katakan saja demikian, tidak perlu ditambah atau dikurang.

Matius 5:37: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Ya jelas kita perlu menjadi orang yang berhikmat. Jelas kita perlu menjadi orang yang rendah hati. Tetapi sayangnya sejumlah orang (kalau tidak mau dikatakan banyak) senang berpura-pura menjadi orang lain.

Seperti yang sudah saya sebutkan kemarin, setiap diri Anda itu berharga di mata Allah (baca “You are Precious”). Anda tidak perlu berpura-pura menjadi seseorang yang lain. Anda apa adanya diri Anda adalah unik, berharga, dan tidak ada duanya. Mengapa Anda perlu berpura-pura menjadi orang lain? Bila Anda senang menjadi orang lain, jelas ada sesuatu yang salah dalam diri Anda.

Setiap kita perlu mencintai diri kita (baca “For the Love of Myself”). Bila kita tidak mencintai diri kita sendiri, bagaimana orang lain bisa mencintai diri kita? Ibaratnya kita mau menjual barang, tetapi bila orang bertanya pada kita mengenai kesediaan kita membelinya dan kita katakan bahwa kita tidak mau. Bagaimana kita bisa membuat orang membeli barang yang kita sendiripun tidak mau?

Setiap diri kita apa adanya itu walau berharga dan indah, tetap memiliki keterbatasan. Ya jelas, kita memiliki kekurangan-kekurangan. Kita memiliki kelemahan-kelemahan. Terhadap keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan kita, kita perlu minta kekuatan dari Roh Kudus untuk dapat mengubahnya.

Ya, jangan katakan:

“Saya memang sudah dari sananya begini.”

“Ini memang sudah sifat saya.”

“Saya orangnya ya begini ini.”

“Setiap orang kan memang punya kelemahan. Jadi wajib maklum kalau saya memiliki kelemahan di sana-sini.”

Ya setiap orang memang lahir dengan suatu kepribadian dasar (baca “Personality Plus”). Kepribadian dasar itu tidak bisa diubah, sudah merupakan anugerah sejak lahir. Kalau dalam perjalanan berubah drastis biasanya merupakan suatu pengenaan ‘topeng’ (baca “Mirror”).

Ya, pemakaian kepribadian yang lain yang bukan merupakan kepribadian kita kerap dilakukan supaya orang menerima diri kita. Padahal yang sangat menyedihkan adalah semakin kita berusaha membuat orang menerima pribadi yang bukan pribadi kita, semakin kita menyakiti diri sendiri.

Sebaliknya, kita tidak boleh menyerah begitu saja dengan kelemahan-kelemahan yang kita miliki. Dengan kekuatan Roh Kudus dan tekad yang teguh, kita bisa mengubah dan mengurangi kelemahan-kelemahan kita.

Kolose 3:10: dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

Hal-hal positif yang kita miliki jelas harus kita pertahankan dan tingkatkan, sebaliknya hal-hal negatif yang kita miliki jelas harus kita kurangi bahkan kalau bisa kita hilangkan. Jelas kita perlu memiliki buah Roh (baca “Buah Roh (1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7)”), terlepas dari kepribadian apapun yang kita miliki.

Galatia 5:22-23b: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Jangan puas hanya menjadi orang yang seadanya. Saya akan mengulang perkataan:

“Setiap orang kan memang punya kelemahan. Jadi wajib maklum kalau saya memiliki kelemahan di sana-sini.”

Perkataan ini dari kalimat pertama memang benar. Perkataan kalimat kedua juga benar. Kita perlu menerima orang apa adanya dan tidak banyak menuntut, karena tidak ada orang yang sempurna. Kita sendiri pun banyak memiliki kelemahan dan keterbatasan.

Akan tetapi kalimat kedua itu tidak sepantasnya kita katakan. Karena pada umumnya kalimat kedua merupakan suatu perisai dan merupakan cerminan tidak maunya diri kita untuk berubah.

Kalau berubah ke arah yang lebih baik tentu saja itu wajib dan perlu sekali kita upayakan. Selain kekuatan dari Roh Kudus, kita sendiri perlu memiliki tekad dan disiplin yang teguh. Di sini sangat jelas, ada bagian Allah, namun juga ada bagian kita. Jangan berharap bisa ongkang-ongkang kaki saja! Berharap Allah akan mengubah kita, namun kita sendiri tidak mau melakukan sesuatu berkaitan dengan itu.

Proses berubah ke arah yang lebih baik memang bukan sesuatu yang mudah dan biasanya memakan waktu. Ini merupakan proses. Kalau kita merupakan orang yang sangat berorientasi pada hasil tanpa peduli pada proses, maka siap-siaplah untuk frustasi!

Dalam dunia ini tidak ada yang instan, segala sesuatu butuh waktu, segala sesuatu butuh proses. Jangan mengharapkan kaya dalam waktu sekejap tanpa berusaha sedikitpun. Jangan mengharapkan mendapatkan pasangan yang ideal tanpa diri Anda menjadi pasangan yang ideal terlebih dahulu. Jangan mengharapkan perubahan drastis terjadi, jika Anda tidak mengupayakan mulai saat ini dulu (baca “Struggle of Change”).

Sejumlah (kalau tidak mau dikatakan banyak) orang jadi frustasi ketika mengharapkan pasangan ideal yang tak kunjung datang. Sementara yang bersangkutan tidak melihat kepada dirinya sendiri. Saat dirinya tidak mau menjadi pasangan yang ideal, jangan berani sekali-kali pun untuk mengharapkan pasangan yang ideal.

Ingat prinsip kuk yang telah dibahas dalam “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”? Jangan berharap mendapatkan pasangan yang “wow” jika Anda masih memiliki mental seadanya. Jangan berharap mendapatkan pasangan yang membuat orang mengangkat kedua jempol, kalau Anda belum memiliki spirit of excellent (roh yang luar biasa, semangat yang luar biasa).

Pasangan dari Tuhan memang akan dapat menerima kita apa adanya. Lebih baik lagi karena dia adalah penolong yang sepadan bagi kita (Kejadian 2:18) maka dia akan mengubah kita menjadi lebih baik. Ya, pasangan hidup yang dari Tuhan memang akan menerima kita apa adanya dan mengubah kita yang seadanya menjadi ada apanya (menjadi semakin indah dan berkenan di hadapan Tuhan).

Tapi bila kita belum bertemu dengan pasangan hidup kita, bukan berarti kita harus menunggu terus untuk menjadi orang yang luar biasa. Panggilan kita adalah untuk menghasilkan buah (buah Roh), terlepas kita sudah menemukan pasangan hidup kita atau tidak.

Jadi, ingin menjadi orang yang mendapatkan pasangan hidup luar biasa? Jadilah orang yang apa adanya, tetapi tidak seadanya sambil terus berusaha menjadi orang yang ada apanya :D.

Selamat berjuang menjadi orang yang ada apanya.

Amin.

Iklan

Comments on: "Apa Adanya, Seadanya, dan Ada Apanya" (2)

  1. FB Comment from KRC:
    maaf cc, ada yang kurang. ada juga orang yang menjalani hidupnya dengan menjadi orang yang “ada-ada saja”.
    alias bikin orang kesel, ngebetein, ga jelas apa maksudnya dan akhirnya… bener2 deh kita ngomong: “ada-ada saja”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: