All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini berjudul “Do or Don’t Sweat Small Things?” Pembahasan ini merupakan kelanjutan dari pembahasan kemarin “Apa Adanya, Seadanya, dan Ada Apanya”.

Pembahasan hari ini berkaitan dengan cara membuat kita menjadi orang yang berkualitas (ada apanya) dengan tetap mempertahankan jati diri kita/tidak berpura-pura menjadi orang lain (apa adanya) dan tidak terpaku dengan kualitas yang sudah kita miliki sekarang ini (seadanya).

Ada sebuah buku berjudul “Don’t Sweat the Small Stuff” yang ditulis oleh Richard Carlson. Isinya adalah kita cenderung untuk fokus pada hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu kita pusingkan.

Dari yang saya pernah baca atau yang pernah saya dengar, konflik dalam hubungan suami istri seringkali disebabkan oleh hal-hal kecil. Seperti misalnya: suami menyimpan pakaian kotor di sembarang tempat sementara istri sudah mengingatkan suami untuk menyimpan pakaian kotor di satu tempat khusus.

Hal kecil ini terus diabaikan oleh sang suami sehingga akhirnya sang istri menjadi berang. Dari hal kecil kemudian sang istri akhirnya meledak marah dan pecahlah perang dunia ketiga. Ini adalah satu contoh kecil saja.

Hal lainnya adalah istri yang biasa perhatian dengan tanggal ulang tahun suami, tanggal hari pernikahan, dan semua tanggal penting lainnya tiba-tiba suatu waktu kesal karena suami tidak pernah ingat akan tanggal-tanggal tersebut. Karena itu akhirnya istri cuek pada saat suami ulang tahun, padahal suami ingat hari itu tanggal lahirnya. Akhirnya kecewalah sang suami dan hari ulang tahun yang seharusnya menjadi hari yang menyenangkan menjadi hari terjadinya perang dingin.

Hal yang baru saya sebutkan tadi baru dua contoh kecil. Kadang-kadang kita memang tidak perlu meributkan hal-hal kecil, tetapi ada kalanya kita perlu menangani hal-hal kecil supaya tidak menjadi besar.

1 Korintus 13:5b: Ia …. tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ya, hal-hal kecil itu memang tidak perlu diributkan, tetapi perlu diselesaikan sebelum menjadi besar. Kadang-kadang kita berpikir:

“Ah ini perkara kecil.”

Kita menyepelekan hal kecil namun ternyata kita tetap menyimpan hal itu di dalam hati kita. Terus demikian bertumpuk selama sekian waktu dan akhirnya setelah melewati titik puncak kesabaran kita, kitapun meledak.

Saya masih harus banyak belajar untuk menjadi orang yang ada apanya dan tidak puas hanya menjadi orang yang seadanya. Untuk masalah “Don’t Sweat Small Things” saya juga masih harus banyak sekali belajar. Maka mari kita sama-sama belajar.

Saya beruntung memiliki sahabat yang mengingatkan saya untuk tidak menyimpan kesalahan dan belajar menangani pertengkaran dengan baik. Hal ini bukan hal yang mudah untuk saya, karena saya adalah tipe yang kurang bisa mengekspresikan perasaan saya dengan baik dan positif, terutama untuk perasaan marah dan kesal.

Sahabat saya mengajarkan pada saya untuk mengungkapkan hal yang menyebabkan saya marah dan menjelaskan alasannya. Ya, biasanya saya menunggu diri saya untuk tenang dulu baru saya mengungkapkan hal itu. Tapi sementara menunggu diri saya tenang, kadang-kadang hal itu terlupakan sehingga tidak disentuh dan diselesaikan. Akhirnya ketika terjadi persoalan lain, hal lama ini muncul ke permukaan.

Ibarat gunung es maka permasalahan kecil yang tidak diselesaikan adalah bagian bawah dari gunung es. Persoalan lain yang memicu meledaknya emosi adalah puncak dari gunung es: kecil dan kelihatan sepele. Padahal di bawahnya terletak bagian dari gunung es yang besar: persoalan-persoalan kecil lain yang tidak terselesaikan.

Ada peribahasa:

“Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.”

Ya, kalau kita menabung uang, sedikit-sedikit menjadi banyak. Di gereja saya ada gerakan untuk mengumpulkan uang 500 rupiah untuk menolong orang yang membutuhkan. Gerakan ini dinamakan G-500. Hanya uang 500 rupiah setiap hari yang dikumpulkan kalau dihitung-hitung sebulan bisa menjadi 15 ribu rupiah, setahun menjadi 180 ribu rupiah.

Itu baru satu jemaat, kalau dikalikan dengan total jemaat bisa menjadi jumlah uang yang cukup lumayan untuk membantu orang yang membutuhkan. Sama dengan ide mengumpulkan uang receh di dalam celengan. Sama sekali tidak terasa. Tetapi setelah celengan bertahun-tahun dibuka, maka sejumlah besar uang yang kita peroleh di sana.

Jadi dalam hal ini diperlukan hikmat. Ada kalanya kita perlu sweat small things, tapi ada kalanya juga tidak. Contoh hal kecil yang perlu diingat: bagi para pria, Anda pada umumnya tidak terlalu mengingat hal-hal kecil yang penting bagi wanitas, seperti tanggal ulang tahun, tanggal hari jadi, tanggal hari pernikahan, dan tanggal-tanggal penting lainnya.

Untuk itu cobalah menuliskan pada telepon genggam Anda mengenai tanggal-tanggal tersebut. Cara lain adalah menuliskan tanggal-tanggal tersebut pada kalender atau buku agenda yang memang setiap hari Anda lihat. Hal-hal kecil semacam ini akan mempermanis hubungan Anda.

Contoh lain: bagi para wanita, mungkin Anda sudah biasa dijemput oleh kekasih atau suami Anda dan Anda menganggap hal itu hal yang wajar dilakukan oleh kekasih atau suami Anda. Coba katakan penghargaan Anda kepada kekasih atau suami Anda.

Hal-hal kecil ini ternyata bisa menjadi sangat bermakna bila kita mencermatinya. Bahkan Tuhan pun mengatakan kepada kita untuk peduli pada hal-hal kecil tertentu.

Matius 25:23: Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Segala sesuatu dimulai dari hal yang kecil, perkara yang kecil. Tanpa perkara yang kecil, kita tidak bisa masuk ke dalam perkara yang besar. Kita tidak boleh menyimpan kesalahan pasangan kita untuk hal-hal kecil maupun besar, namun kita perlu menyelesaikan setiap ganjalan yang ada dalam hati kita.

Contoh lain yang juga merupakan hal kecil: masalah penampilan. Ini juga saya masih terus belajar hehehee. Memang peribahasa ini sangat benar:

“(Outer) beauty is only skin deep. Inner beauty (character) lasts forever.”

(“Kecantikan (luar) hanya sedalam kulit. Kecantikan dalam (karakter) bertahan selamanya.”

Artinya yang bertahan itu adalah hal yang di dalam, bukan yang di luar. Kalau kita menua, kecantikan/ketampanan kita pun memudar. Sebaliknya karakter itu bertahan selamanya (baca “Forever Young, Forever Beautiful”).

Bahkan di Amsal 31:10-31 (silakan dibaca sendiri) juga tertulis mengenai karakter yang luar biasa yang perlu dimiliki seorang istri (seorang wanita). Ya, inilah hal-hal yang perlu kita semua pelajari para wanita untuk menjadi orang yang ada apanya.

Walaupun memang di ayat Amsal 31:30 disebutkan demikian:

Amsal 31:30: Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

, bahwa yang terpenting bagi kita para wanita adalah takut akan Tuhan dan juga memiliki karakter yang luar biasa (ada apanya), tetapi jelas kita tidak bisa melupakan dan mengabaikan hal-hal kecil seperti misalnya penampilan luar.

Ya ini memang tidak sepenting yang di dalam, tapi tidak bisa diabaikan. Pria adalah makhluk visual. Jadi jangan sampai kekasih atau suami Anda berpaling pada wanita lain karena kita tidak memperhatikan penampilan luar kita. Mari kita sama-sama belajar untuk menyeimbangkan keduanya: inner and outer beauty (kecantikan luar dan dalam). Ya, kita perlu memiliki keduanya.

Bagi para pria jadilah pria yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan.

1 Yohanes 3:18: Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Nyatakan kasih Anda kepada pasangan Anda, terutama dengan perbuatan dan kebenaran. Namun, hal-hal kecil seperti perkataan juga penting. Wanita adalah makhluk audible. Jangan sampai kekasih atau istri Anda berpaling pada pria lain karena Anda tidak memperhatikan perkataan kasih (baca dalam “Gombal vs True Love”). Jelas perkataan saja tidak cukup, tanpa perbuatan apalah artinya perkataan Anda. Oleh karena itu, mari para pria belajar untuk menyeimbangkan keduanya: perkataan dan perbuatan kasih.

Jadi siapapun Anda, pria atau wanita mari kita berhikmat untuk “Sweat Small Things” yang memang perlu kita perhatikan dan “Don’t Sweat Small Things” untuk kesalahan-kesalahan pasangan yang tidak perlu kita simpan.

Amin.

(Footnote:

Thanks to “Ryonn” Ronny Santosa who taught me to solve conflicts in short time. I still learn it, please keep help me in it, OK?)

Iklan

Comments on: "Do or Don’t Sweat Small Things?" (4)

  1. FB Comment from EHC:
    perkara kecil pun arus segera diselesaikan kalau tidak akan menjadi masalah yang besar

  2. FB Comment from ASP:
    emank sih setia dulu sama perkara kecil sebelum selanjutnya melangkah.
    btw, kek nya klo judul2 referensi note lain lebih bagus klo d buat dlm bentuk hyperlink. jd pmbaca tinggal klik link nya dan langsung bisa buka note yg d maksud.

    • Amin. Hehehe gitu ya? Soalnya ga kepikiran, good idea. Maklum kadang bikin notes di sela2 kesibukan. Jadi kadang mepet pet pet banget waktunya hahahaa. Ntar kalau nyantai usul lu bisa g realisasikan. Thx banget lho. Usul yang sanga…t membangun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: