All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini merupakan kelanjutan dari pembahasan kemarin “Do or Don’t Sweat Small Things”.

Keterbukaan diperlukan saat ada hal-hal kecil yang mengganjal hati Anda untuk diungkapkan, dibicarakan, dan diselesaikan bersama. Tanpa itu, hal-hal kecil yang ada dapat menumpuk, tersimpan, dan menunggu waktu yang tepat untuk meledak.

Keterbukaan merupakan suatu hal yang merupakan ciri dari hubungan yang kuat dan sehat. Bila Anda memiliki sahabat namun Anda tidak bisa terbuka kepadanya untuk menceritakan pergumulan Anda, saya sungguh meragukan persahabatan yang Anda miliki.

Bila Anda memiliki kekasih atau suami/istri namun Anda sulit untuk terbuka dan membicarakan pergumulan, permasalahan yang terjadi di antara Anda berdua, dan hanya menyimpan serta berusaha menyelesaikannya sendiri, saya sungguh merasa prihatin.

Keterbukaan merupakan suatu bentuk kepercayaan (trust) dan seperti yang saya baca hari ini di Daily Devotional yang ditulis oleh Rick Warren: kepercayaan itu dibangun seiring waktu. Anda hanya akan terbuka pada orang yang Anda percayai. Oleh karena itu sangat ironis bila kepada sahabat dan pasangan Anda, Anda tidak bisa terbuka.

Keterbukaan jelas mengandung resiko. Keterbukaan butuh hikmat. Tidak pada sembarang orang Anda bisa terbuka. Pada orang yang hanya sekilas Anda kenal, mungkin Anda tidak bisa terbuka. Wajar, karena Anda tidak mengenal orang itu dengan cukup baik.

Resiko keterbukaan adalah penolakan, dikritik, dan konflik. Ya, ini adalah resiko yang ada bagi keterbukaan. Hal yang sering saya dengar adalah ketika seseorang terbuka pada pasangannya untuk membicarakan hal-hal yang tidak disukainya dari pasangannya, pasangannya marah. Sayapun dulu pernah mengalami hal ini.

Hanya pada hubungan yang kuat dan sehat keterbukaan dapat terjadi. Hanya pada orang-orang yang saling percaya, saling mengerti, saling memahami, dan saling menerima satu dengan lainnya keterbukaan dapat dilakukan. Keterbukaan dapat terjadi saat kita yakin, walaupun kita terbuka pihak yang kepadanya kita terbuka tidak akan menghakimi kita dan tidak akan menganggap kita rendah.

Untuk dapat terbuka dibutuhkan keberanian. Untuk dapat terbuka diperlukan suatu kemauan untuk membuat suatu hubungan jadi lebih kuat. Hal yang menarik di sini terjadi. Syarat untuk keterbukaan adalah hubungan yang kuat. Lalu bagaimana bila hubungan kita dengan pasangan kita belum kuat?

Jawaban saya adalah bawa hubungan Anda pada Tuhan (baca “I, You, and God”). Suatu hubungan memerlukan Tuhan di dalamnya untuk membuat jadi kuat. Saya akan mengutip dari Daily Devotional Rick Warren yang berjudul “Life Together: A Mutual Dependency” yang berisi tentang persekutuan.

Di sana dituliskan sebagai berikut:

“The Bible commands mutual accountability, mutual encouragement, mutual serving, and mutual honouring.”

Jika diterjemahkan berarti

Di Alkitab diperintahkan dapat saling memberikan pertanggungjawaban, pemberian semangat/dorongan, melayani, dan menghormati satu dengan lainnya.

Roma 1:12: yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.

Hubungan persahabatan, pacaran, dan dalam keluarga juga merupakan bentuk persekutuan. Hubungan antara dua atau tiga orang itu merupakan bentuk persekutuan terkecil.

Matius 18:20: Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Dulu saya membaca ayat ini dengan pengertian yang umum, yaitu ini adalah bentuk persekutuan dalam kelompok sel atau kelompok kecil sebagai bentuk ibadah. Kemudian saya juga mendapatkan bahwa keluarga sebagai bentuk persekutuan terkecil. Sekarang saya membaca ayat ini dengan pengertian yang khusus. Hubungan kita dengan seseorang (pasangan/pacar) itu merupakan suatu bentuk ibadah pula.

Saat ada Tuhan dalam hubungan kita, saat itulah hubungan kita menjadi ibadah. Saat itulah hubungan kita menjadi bentuk pujian kepada Tuhan. Saat itulah hubungan kita menjadi bentuk penyembahan kita kepada Tuhan.

Bahkan saya baca dalam buku “7 Rahasia menuju Kematangan Rohani” di sana disebutkan sebagai berikut:

“Chuck Swindoll mengemukakan bahwa akar kata dari dorongan (encouragement: penghiburan) dalam Ibrani 10:25 (nasihat) adalah sama dengan yang menerangkan Roh Kudus dalam Yohanes 14:16. Ia menyimpulkan: Sebenarnya tidak ada suatu apa pun yang dapat kita lakukan dalam keluarga Allah yang begitu mendekati pekerjaan Roh Kudus seperti saling mendorong (menguatkan, menghibur).”

Ibrani 10:25: Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Yohanes 14:16: Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Pemberian dorongan: saling menguatkan dan menghibur tidak mungkin terjadi tanpa adanya keterbukaan terlebih dahulu. Keterbukaan merupakan suatu bentuk untuk berbagi. Keterbukaan artinya memberikan diri Anda untuk dilihat oleh pasangan Anda apa adanya tanpa ‘topeng’ (baca “Membuka Diri, Membuka Hati”).

Keterbukaan berarti kerendahan hati dan siap untuk menerima masukan. Jangan sekali-sekali Anda terbuka bila Anda tidak siap untuk menerima masukan. Hal yang menarik adalah saat orang berkata:

“Silakan kritik saya.”

, namun saat kemudian dirinya dikritik malah menjadi marah atau mengabaikan kritik tersebut. Di sinilah buah simalakama keterbukaan.

Saya beberapa kali mendengarkan cerita demikian:

“Lebih baik saya tidak menceritakan ini kepada pasangan saya. Sebab kalau saya cerita kepada pasangan saya, nanti jadi ribut.”

Hal yang gawat adalah saat sudah demikian, yang bersangkutan lalu mencari orang lain yang ia dapat terbuka. Apalagi bila orang yang dicarinya ini kemudian dapat menerimanya apa adanya, tidak menghakiminya, mendengarkan dengan seksama penuturannya, menghargai, dan bahkan memberikan dorongan semangat.

Ini sangat berbahaya dalam hubungan pernikahan. Jangan sampai membuat suami/istri Anda lebih suka terbuka dengan wanita/pria lain. Ini adalah bibit perselingkuhan. Saya banyak mendengar perselingkuhan itu bukan dimulai dari hubungan seks atau dari pandangan mata turun ke hati. Bukan!

Perselingkuhan itu dimulai ketika terdapatnya tautan hati yang diakibatkan merasa diterima dan dihargai. Kerinduan terbesar dari setiap orang adalah untuk diterima apa adanya dan dihargai, terlepas dia memiliki keterbatasan apapun.

Jadilah orang yang dapat menerima pasangan/suami/istri Anda apa adanya dan menghargainya sebagaimana adanya dirinya. Niscaya Anda akan mendapati pasangan yang mencintai dan menghargai Anda. Coba saja buktikan rumus tadi :).

Jadi keterbukaan jelas perlu dalam hubungan Anda. Libatkan Tuhan supaya Anda bisa berhikmat untuk mengetahui waktu, tempat, situasi, dan kondisi yang tepat untuk Anda dapat terbuka. Bahkan bila Anda masih dalam hubungan pra pacaran, libatkan Tuhan untuk dapat memilih pasangan yang tepat yang kepadanya Anda dapat terbuka dan begitu pula sebaliknya.

Jadi, “Keterbukaan vs Konflik?” Milikilah hubungan yang kuat dan sehat.

Amin.

Iklan

Comments on: "Keterbukaan vs Konflik?" (2)

  1. FB Comment from RS:
    Love this! 😀
    Ngga gampang bisa menerima orang apa adanya, though kepingin banget bisa demikian.
    Gbu

    • Thanks :). Iya, memang ga gampang. Untuk hal yang ga gampang memang perlu proses :). Kalau gampang kan bisa langsung. Asal masih mau berusaha pasti ada jalan, tapi kalau sudah tidak mau ya itu sudah jalan buntu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: