All for Glory of Jesus Christ

Money in Relationship

Pembahasan hari ini berjudul “Money in Relationship”. Pembahasan hari ini adalah berkisar mengenai keuangan dalam hubungan.

Seberapa pentingkah uang dalam hubungan? Jawaban saya adalah penting. Kalau Anda ada yang mau mengatakan tidak penting, saya mau bertanya pada Anda. Bila yang mau berkunjung ke tempat sang kekasih, apakah untuk membeli bensin tidak perlu uang? Jika Anda tidak mengunjungi namun hanya sms atau telpon saja, nah, pertanyaan saya: apakah untuk sms atau telpon tidak perlu uang?

Jika Anda hanya berhubungan lewat internet, apakah untuk terhubung lewat internet tidak perlu uang? Kalaupun misalnya Anda pergi ke mall atau tempat-tempat lain yang menyediakan jasa koneksi internet gratis melalui hotspot, apakah Anda tidak perlu uang untuk ongkos ke sana?

Hal yang saya bahas baru mengenai masalah komunikasi. Belum lagi bila saya bahas masalah saat Anda bersama dengan kekasih Anda. Jika pergi makan, nonton, atau jalan-jalan saja, apakah tidak perlu uang? Perlu! Uang itu penting.

Apalagi bila sudah merencanakan berkeluarga, diperlukan uang dalam jumlah yang cukup lumayan. Bila sudah berkeluarga lebih-lebih lagi. Untuk kebutuhan sehari-hari diperlukan uang. Jika sudah memiliki anak, apalagi bayi wah uang menjadi hal yang penting.

Ya, kita tidak bisa hidup di awang-awang dan mengatakan uang tidak penting. Uang itu penting, namun jelas sikap kita dalam hal uang ini harus benar.

Lukas 16:13: Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Di sini hal yang menarik adalah dikatakan kita tidak dapat mengabdi pada dua tuan: Allah dan Mamon. Mamon adalah uang. Menarik sekali! Mengapa Allah dilawankan dengan Mamon, dan bukannya dengan Iblis? Karena kalau Iblis kita dengan secara sadar pada umumnya akan berkata:

“Tidak, saya tidak mau mengikuti Iblis.”

Bukankah begitu? Namun bagaimana dengan Mamon? Bagaimana dengan kenikmatan, kemewahan, dan gelimang harta? Mau diterima atau tidak, terdapat sejumlah (kalau tidak mau disebut banyak) kenyataan bahwa sejumlah orang memilih Mamon daripada Allah.

Sejumlah (kalau tidak mau disebut banyak) orang meninggalkan Tuhan demi kekuasaan, posisi, nama besar, yang kaitan akhirnya adalah demi uang, demi Mamon. Bahkan terdapat jargon:

“Segala sesuatu dapat dibereskan dengan uang: UUD (ujung-ujungnya duit).”

Ini adalah bukti betapa Mamon atau uang merupakan suatu hal yang perlu kita kendalikan dan jangan biarkan ia mengendalikan kita.

Mazmur 62:110b: apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya.

Matius 6:21: Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Hati adalah hal yang sangat penting. Hidup kita tergantung pada kondisi hati kita. Jika kita meletakkan hati kita pada uang kita, berarti Tuhan kita adalah uang, Mamon. Ini adalah hal yang sangat serius. Padahal Tuhan mengatakan jangan ada allah lain di hadapan-Nya, termasuk uang.

Lebih lanjut lagi dikatakan:

Pengkotbah 5:9: Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.

Bayangkan Anda memiliki gaji 1 juta, lalu Anda berpikir jika memiliki gaji 2 juta tentu lebih baik. Setelah dapat 2 juta, ingin 5 juta. Setelah dapat 5 juta, ingin 10 juta. Setelah 10 juta, ingin 25 juta. Begitu seterusnya.

Jika uang menjadi ukuran keberhasilan dan kebahagiaan Anda, Anda tidak akan pernah merasa cukup. Padahal orang yang bisa merasa cukup dengan hal yang dimilikinya adalah orang yang bahagia. Uang itu penting. Uang bisa membeli banyak hal. Uang bisa membuat hidup kita jauh lebih nyaman. Namun saya perlu mengingatkan, uang bukanlah segalanya.

Hal yang menyedihkan ketika saya mendapati sejumlah pria berkata demikian:

“Hal yang terpenting adalah mencari uang sebanyak-banyaknya. Kalau sudah banyak uang, mencari wanita manapun itu mudah.”

Anda tahu, mungkin mencari wanita menjadi lebih mudah bila Anda memiliki banyak uang. Tetapi pertanyaan saya adalah wanita macam apa yang dengan mudah Anda dapatkan? Wanita yang hanya mengincar kekayaan Anda?

Benar uang itu penting. Benar uang itu diperlukan. Bila Anda belum memiliki pekerjaan untuk menopang hidup Anda, saya tidak menyarankan bagi Anda untuk berpacaran, apalagi untuk menikah. Ini merupakan suatu tinjauan yang realistis.

Matius 19:5: Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Saat berpacaran orang belajar untuk mempersiapkan fase selanjutnya: menikah. Walaupun belum meninggalkan keluarga, tetapi saat berpacaran dipersiapkan ke arah itu. Berpacaran merupakan fase pembelajaran untuk mengambil keputusan bersama, membuat rencana ke depan bersama.

Apalagi saat sudah menikah, jelas perlu mandiri dan tidak tergantung lagi pada orang tua. Dari sekian banyak talk show, artikel, buku yang pernah saya tonton, saya dengar, saya baca mengenai pernikahan, semua pembicara, penulis, dan konselor rohani mengatakan setelah menikah perlu hidup terpisah dengan orang tua: baik secara finansial maupun secara tempat tinggal.

Dasar dari hal tersebut adalah Matius 19:5. Hal yang sangat mengejutkan bagi saya ketika saya mendengar cerita mengenai orang yang telah berkeluarga namun masih tergantung secara finansial kepada orang tuanya. Ini sesuatu yang sangat salah!

Lalu ada lagi kasus tentang pria yang ingin mendekati wanita yang disukainya, namun kemudian enggan menceritakan yang sesungguhnya mengenai kondisi dirinya; baik yang berkecukupan maupun yang berkekurangan.

Lukas 16:11: Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?

Dalam hal harta saja Anda tidak bisa jujur, bagaimana dalam hal lain? Jika seseorang tidak bisa jujur untuk satu hal, saya agak ragu yang bersangkutan dapat jujur untuk hal yang lain.

Kita tidak bisa memiliki standar ganda: dalam hal finansial kita tidak akan jujur, sementara dalam hal lain kita akan jujur. Tidak bisa! Saat kita tidak jujur dalam satu hal, maka akan merembet ke hal lain. Satu dosa membawa pada dosa lainnya. Bahkan ada orang yang mengatakan kepada saya:

“Bohong itu sudah jadi makanan sehari-hari.”

Saya bukan mau menghakimi karena tugas hakim bukanlah tugas saya. Namun saya hanya ingin mengingatkan:

Matius 5:37: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Jika Anda memutuskan untuk menjadikan kebohongan sebagai hobi Anda, saya tidak bisa berkata apa-apa. Namun jika itu Anda lakukan, jangan heran bila Anda berakhir dengan tak ada orang yang mau mempercayai Anda lagi.

Saya pernah memiliki sikap yang salah mengenai masalah finansial ini. Dulu saya pernah berpikir orang yang sudah memiliki finansial yang mapan akan menjadi pasangan hidup yang tepat. Namun puji Tuhan, ayah saya adalah orang yang sangat bijaksana.

Kami sering bercakap-cakap mengenai berbagai macam dan ketika saya mengetengahkan masalah ini, ayah saya berkata demikian:

“Masalah mapan itu nanti juga mapan, yang penting orangnya rajin dan mau bekerja keras.”

Puji Tuhan! Sejak saat itu saya menghilangkan kriteria memiliki finansial yang mapan sebagai kriteria pasangan hidup saya. Ya, mapan itu adalah hasil. Bila saya hanya berorientasi pada hasil: mencari pasangan hidup yang mapan, maka saya dapat mendapatkan pasangan yang keliru pada akhirnya.

Tanpa memperhatikan proses cara si dia memperoleh kemapanannya, bisa-bisa diperoleh orang yang salah. Tidak sedikit orang memang yang sudah mapan dan itu diperoleh dengan usaha dan kerja keras. Namun juga tidak sedikit orang yang sudah mapan dan diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Amsal 15:6: Di rumah orang benar ada banyak harta benda, tetapi penghasilan orang fasik membawa kerusakan.

Amsal 21:6: Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah kesia-siaan yang lenyap dari orang yang mencari maut.

Amsal 21:20: Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya.

Hal yang benar adalah jika kita melihat uang bukan sebagai hal utama yang kita soroti, tetapi sebagai efek samping. Seseorang yang benar (memiliki sikap hidup yang takut akan Tuhan) akan mengarahkan setiap aspek hidupnya, termasuk dalam hal finansial pada firman dan perintah Tuhan: rajin, jujur, senang bekerja keras, dan cermat serta berhikmat dalam menggunakan uangnya. Hal ini pada akhirnya akan membawanya pada kemapanan juga pada akhirnya.

Sebaliknya orang yang tidak benar akan cepat memperoleh kekayaan namun kekayaan ini tidak akan bertahan lama. Kalaupun bertahan lama, umumnya yang bersangkutan tidak terlalu bahagia. Mengapa demikian? Karena hidupnya terkungkung oleh uang. Saat hidup kita terikat oleh sesuatu (termasuk uang) dan bukannya terikat erat pada Tuhan, kita akan sulit untuk bahagia.

Bagi yang sedang atau akan berpacaran mungkin juga bertanya-tanya mengenai orang yang harus membayari kegiatan berpacaran. Untuk ini tidak ada ayat khusus yang mengaturnya. Jadi berdasarkan kesepakatan bersama dapat diatur.

Namun jika melihat peranan pria yang nantinya sebagai pemimpin dan yang menghidupi keluarga, tidak ada salahnya pria mulai belajar peran ini dalam kehidupan berpacaran. Oleh karena itu tadi di awal saya telah mengatakan tidak menganjurkan bagi yang belum dapat menghidupi dirinya sendiri untuk berpacaran, apalagi menikah.

Ini bukan masalah materialistis. Bukan juga masalah wanita ingin enaknya saja. Bukan, sama sekali bukan. Namun karena Tuhan telah mengatur peran pria dan wanita begitu rupa dalam kehidupan, perlulah kita belajar hal itu.

Saya ingin menutup pembahasan hari ini dengan pesan, baik bagi para wanita maupun bagi para pria.

Bagi para wanita: janganlah kalian menetapkan prioritas kekayaan sebagai hal yang terpenting dalam pencarian pasangan hidup. Sebaliknya, tetapkanlah kriteria pria yang takut akan Tuhan, rajin, jujur, dan suka bekerja keras. Kekayaan akan mengikuti dengan sendirinya bagi orang yang hidup takut akan Tuhan. Belajarlah dari sekarang untuk menjadi pengelola keuangan yang baik. Walaupun calon pasangan, kekasih, atau suami Anda itu kaya raya, jika Anda tidak pandai mengelolanya juga tidak baik.

Bagi para pria: hiduplah takut akan Tuhan: rajin, jujur, suka bekerja keras. Merupakan suatu kewajiban bagi Anda untuk menghidupi peran Anda sebagai pria yang telah digariskan Tuhan. Oleh karena itu, anggaplah sebagai suatu kehormatan bahwa peran Anda adalah untuk menghidupi dan menjadi penyedia keuangan dalam keluarga dan bukan menganggapnya sebagai beban.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang hidup sesuai dengan peran kita, termasuk dalam hal menangani masalah keuangan di hubungan kita.

Amin.

Comments on: "Money in Relationship" (12)

  1. FB Comment from MV:
    hahahaha… si cowo yg kudu bayarin kegiatan pacaran? emang ‘pacaran’ itu definisinya apa ya?

    • Pacaran itu adalah persiapan buat menuju jenjang lebih tinggi: pernikahan. Jadi kalau emang udah mikir ke married, sebaiknya bersiap buat menerima tanggung jawab dan peran itu🙂. Kalau belum siap untuk itu, ya lebih baik jangan dulu pacaran. Memang bisa dinegosiasiin kog🙂, tapi anggap kebahagiaan dan kehormatan bagi cowo kalau bayarin kegiatan pacaran🙂. Memenuhi peran yang udah digariskan kan memang suatu kewajiban kan, tapi jangan dianggap beban malah dianggap suatu kehormatan. Sama seperti cewe: anggap kebahagiaan dan kehormatan buat bantu cowo. Misal: walau cowo yang bayarin, tapi tau diri, jangan minta yang ga kira-kira, tenggang rasa lah. Cara lain: bantu ingetin cowo buat ngatur keuangan dengan baik. Jangan minta dibeliin ini itu, kecuali emang cowo mau ngasih ya ok lah sesekali gpp. Sesekali nawarin buat gantian bayarin. Masih banyak lagi yang lain dalam hal finansial🙂.

  2. FB Comment from JD:
    wah gw kurang setuju klo dikatakan cowo membiayai kegiatan pacaran, namanya pacaran..kan saling mengenal, ga ada salahnya juga sesekali cewe yg byr ato byr masing2 gitu… walo emang kebanyakan emang sering cowo yg msti byr…tp cewenya jg jaga harga diri dong, jgn mo nerima doank.. hehehe

    • Karena definisi pacaran yang g angkat adalah bukan saling mengenal lagi. Saling mengenal itu udah sebelumnya di pra pacaran (lewat pertemanan dan pdkt). Ya, lebih saling mengenal lagi bener kog terjadi di pacaran, tapi kalau buat g d…an juga dari yang g dapet di gereja, pacaran itu konteksnya udah ke memikirkan jenjang yang lebih tinggi. Kalau beda konteks (pacaran buat pengenalan dan pacaran yang buat persiapan ke jenjang lebih tinggi) memang bisa beda pemahaman dan beda penerapan🙂. Lagipula dari balasan komen g ke MV kan bisa dibaca bahwa sesekali cewe juga bisa nawari untuk membayari. Ya silakan aja sih kalau punya pendapat yang berbeda. Tapi dari yang g terima dan yang g pahami seperti itu🙂.

  3. FB Comment from MV:
    pra pacaran? apa pula itu?
    penulis udah pengalaman pacaran ya? pengalamanku justru kalo cuma 1 pihak yg biayai justru merusak hubungan

    • Pra pacaran = pertemanan, pendekatan, penjajakan, pdkt. Pengalaman? hahahahah kog kesannya kaya kerja aja pengalaman. Masalahnya pengalaman kamu itu berapa kali? Apa satu kali? Apa selalu? Kalaupun selalu, pertanyaanya seberapa banyak pria yang mengalami seperti kamu? Dalam ilmu statistik aja kalau mau mewakili populasi sampelnya harus banyak. Sedangkan yang aku sebutkan pria yang harus membayari, ini memang prinsip yang berkaitan dengan fungsi dan peranan pria yang Tuhan udah gariskan. Peranan pria adalah sebagai pemimpin dan penyedia kebutuhan (provider). Peranan wanita adalah sebagai penolong dan pemelihara (nurturer). Dari sejak zaman manusia pertama sampai sekarang juga begitu kan🙂. Masalahnya sekarang ini banyak pria ga memenuhi peranannya lalu peran itu diambil alih wanita. Alhasil kekacauanlah yang terjadi.

      Mengenai pengalaman kamu tentang satu pihak yang membiayai lalu merusak hubungan, kalau aku boleh membedah kasusmu, kelihatannya pokok persoalan bukan di masalah 1 pihak yang membiayai letak kesalahannya. Aku asumsikan pihak cowo yang membiayai ya. Nah kalau pihak cowo yang membiayai, ini sudah sesuai dengan hal yang digariskan Tuhan. Jadi harusnya tidak ada masalah. Kenapa bisa timbul kerusakan hubungan? Aku tidak tau persis duduk permasalahan yang kamu alami. Tapi bisa jadi ada 2 (bukan menuduh or menghakimi lho, cuma mencoba menduga dan menganalisis aja):
      1. Sebagai yang membayari apakah sudah rela membayari? Ingat: kasih itu murah hati dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
      2. Sebagai yang dibayari, apakah si cewe itu tau diri alias ga ‘asas manfaat’ alias ga aji mumpung? Mumpung dibayari ya minta ini itu? Mumpung dibayari mintanya yang mahal-mahal sampai memberatkan pihak cowo? Kalau iya, berarti letak kesalahan bukan di masalah 1 pihak (cowo) yang membayari, tetapi letak kesalahannya adalah:
      a. Pihak cewe yang ga tau diri, memanfaatkan, matre, yang intinya: tidak memiliki kasih.
      b. Pihak cowo kurang berhikmat dalam memilih calon ph (pacar) atau kurang berhikmat dalam memimpin hubungan. Karena memang keputusan pemilihan calon ph (pacar) itu di tangan pria. Kalau pria tidak memilih cewe itu dari awal, ya tidak akan muncul juga masalah itu. Mengenai masalah memimpin, pria bisa berkata “tidak” kalau si wanita (pacar) meminta hal yang bukan-bukan dan di luar batas kesanggupan si pria.

      Kalau ga percaya, boleh baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Semua selalu diceritakan tentang cowo yang membiayai: mulai kisah Ishak dan Ribka, Yakub dan Rahel (bahkan ini ekstrim banget harus kerja 14 tahun buat dapatin Rahel: anggap aja pacaran 14 tahun dan banting tulang 14 tahun sebelum nikah), Boas dan Ruth, para raja-raja Israel, dan masih banyak lagi. Semoga penjelasan ini membantu. Gbu.

  4. FB Comment from FS:
    setuju setuju =)
    Papaku juga ngomong hal yang sama hehehe, soalnya dulu dia juga blom mapan tapi orangnya ulet ‘n tekun buanget, top abis dah pokoknya huehehehe

    *I’m my dad’s number 1 fans hihihi =p*

    • Hehehe, kita bener2 orang yang diberkati Tuhan ya punya great dad🙂. Soalnya emang dalam keluarga peran ayah itu penting bgt, bukan berarti peran ibu kurang penting. Tapi kalau yang jadi ayah kurang menjalankan peran, biasanya keluar…ga jadi kacau😛. Toss:P.

  5. FB Comment from EHC:
    jadikan uang sebagai hamba kita, bukan kita yang menjadi hamba uang

  6. FB Comment from ASP:
    “Hal yang terpenting adalah mencari uang sebanyak-banyaknya. Kalau sudah banyak uang, mencari wanita manapun itu mudah.”
    cari PSK mnkin maksud nya…. hahahhaa

    gw mah batas bawah aja, cuma asal jgn kebentrok masalah finansial. punya duit secukupnya. cukup beli rumah, cukup punya mobil, cukup buat jalan, cukup buat d warisin. hahahaha

    btw jadi inget film “berbagi suami” yg terakhir nya.
    bnyk orang yg misahin antara duit dan pasangan hidup. bnyk ce bersedia jd “gundik” asal bisa keluar dari masalah finansialnya. hahaha

    • Wakakakaka g baca komen lu jadi pengen ketawa. Hohoho, ‘batas bawah’-nya lu emang ‘bawah’ banget wakakkakaka. Film “Berbagi Suami” ya? Hm.. blum pernah nonton hehehe. Tapi pas sih dengan notes ini. Thanks ya🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: