All for Glory of Jesus Christ

Perjodohan

Pembahasan hari ini masih berhubungan erat dengan pembahasan dua hari yang lalu, yaitu “Cinta lewat Media yang Tidak Umum”. Hari ini pembahasan adalah mengenai menemukan cinta melalui perjodohan atau biro jodoh.

Sebenarnya istilah perjodohan ini merupakan suatu istilah yang digunakan untuk memperkenalkan seorang pria dan seorang wanita yang masih lajang. Istilah “perjodohan” mungkin sudah tidak terlalu tepat lagi digunakan.

Hanya saja untuk kesamaan rima dalam judul (“perjodohan” dengan “biro jodoh”), saya tetap menggunakan istilah perjodohan. Istilah yang lebih tepat mungkin adalah “perkenalan”. Jadi, saya akan bergantian menggunakan istilah “perjodohan” dan “perkenalan” di sini.

Pada umumnya masing-masing pihak yang mengenalkan ini relatif mengenal pria maupun wanita yang akan saling diperkenalkan. Tentu saja untuk sejumlah kasus bisa saja terdapat kekecualian, yaitu hanya salah satu pihak yang relatif cukup mengenal pria atau wanita yang ingin dikenalkan, atau bahkan kurang mengenal pria atau wanita yang ingin dikenalkan.

Pada umumnya masing-masing pihak yang mengenalkan berpikiran bahwa kemungkinan pria dan wanita tersebut mungkin cocok untuk berpasangan. Perjodohan biasanya diawali niat baik dari pihak yang ingin mengenalkan, yaitu karena ingin melihat pasangan tadi dapat cocok dan dapat berlanjut ke tahap pernikahan.

Walau tentu saja dari realita yang ada, tidak jarang juga perjodohan dilakukan dengan niat yang kurang baik dari pihak yang ingin mengenalkan, yaitu untuk memperoleh keuntungan material dari keluarga atau dari pihak yang akan dikenalkan, jika memang pihak yang dikenalkan tadi ternyata dapat cocok dan berlanjut ke tahap pernikahan.

Biro jodoh juga kurang lebih mengambil konsep yang sama dengan perjodohan. Hanya saja pada umumnya pendiri biro jodoh tidak mengenal secara dekat pihak yang akan dikenalkan. Biro jodoh juga pada umumnya memungut sejumlah biaya bagi pihak yang akan ikut serta dalam biro jodoh tersebut.

Pada dasarnya biro jodoh sangat merahasiakan identitas anggotanya. Hal ini adalah untuk privasi dari setiap anggotanya dan keamanan para anggotanya. Selain itu juga untuk menjaga anggotanya untuk tetap berkomunikasi dan berhubungan melalui biro jodoh tersebut.

Dari yang saya baca di koran dan di majalah, juga yang saya tonton di televisi, terdapat dua konsep biro jodoh, yaitu konsep biro jodoh tradisional dan konsep biro jodoh modern. Konsep pertama biro jodoh adalah biro jodoh tradisional. Dalam biro jodoh tradisional, para pria dan para wanita mendaftar pada biro jodoh dan kemudian menuliskan ciri-ciri/identitas mereka.

Setelah itu mereka dapat saling melihat daftar anggota yang kira-kira cocok dengan kriteria pasangan hidup yang mereka inginkan. Lalu dengan melalui biro jodoh tersebut mereka bisa menghubungi dan bertem dengan anggota yang diinginkan.

Biro jodoh tradisional juga umumnya membuat acara-acara untuk dapat mempertemukan para anggotanya. Diharapkan acara-acara yang dibuat ini dapat menimbulkan keakraban dan kecocokan para anggotanya, sehingga pada akhirnya siapa tahu dapat sampai pada tujuan akhir yang diinginkan: hubungan pacaran atau bahkan pernikahan.

Bahkan di gereja-gereja pun sedikit banyak melihat pada konsep yang terakhir ini dan walau tidak secara serta merta menjodohkan, namun dengan adanya acara-acara yang digelar khusus untuk para lajang diharapkan para lajang ini dapat saling bertemu dan kalau memang Tuhan mengizinkan dapat terjalinlah hubungan antara mereka.

Konsep kedua biro jodoh adalah biro jodoh modern. Dalam biro jodoh modern, biasanya digunakan perangkat-perangkat yang lebih akurat dan sistematis untuk mencocokkan para anggotanya.

Di internet juga bertebaran biro jodoh modern semacam ini. Dengan menggunakan perangkat kuis-kuis psikologi untuk melihat kepribadian seseorang dan juga untuk melihat ekspekstasi seseorang akan pasangan hidup yang dikaitkan dengan kesamaan minat dan kesamaan-kesamaan lainnya.

Ada juga biro jodoh yang menerapkan suatu sistem segmentasi pasar dalam operasionalnya. Jadi dari yang saya tahu ada sebuah biro jodoh (mungkin banyak juga biro jodoh lain yang mengambil konsep marketing yang sama) yang membuat segmentasi pasar hanya bagi eksekutif muda dan orang-orang bisnis.

Disadari atau tidak, kesamaan wawasan, minat, dan gaya hidup ini berperan relatif cukup besar dalam membentuk kecocokan antara pihak lajang ini. Dari sekian banyak buku yang saya baca mengenai jodoh, setidaknya saya akan menyebutkan dua judul buku, yaitu: “Personality Plus for Couple” dan “I Love You but Why are We so Different?” yang menuliskan bahwa semakin banyaknya kesamaan antara kedua pihak yang terlibat dalam suatu hubungan akan memudahkan bagi adaptasi pasangan.

Bahkan seingat saya dari yang pernah saya baca dalam sebuah majalah, yaitu Intisari (saya lupa edisi maupun tahunnya) dari hasil survei kepada pasangan-pasangan suami istri yang telah menikah puluhan tahun dan kehidupan pernikahannya benar-benar langgeng, tentram, dan tanpa terlalu banyak pertengkaran dan percekcokan, didapati hasil survei yang menarik.

Banyak dari pasangan suami istri yang telah menikah puluhan tahun tersebut yang ternyata merupakan pasangan suami istri dengan memiliki banyak kesamaan. Mulai dari kesamaan karakter, cara pandang, minat, dan seterusnya. Bukan berarti pasangan suami istri dengan sejumlah perbedaan tidak bisa bertahan, namun semakin banyak perbedaan jelas akan diperlukan lebih banyak kerja keras dan adaptasi untuk memahami dan menerima pasangan.

Bahkan hal ini juga didukung oleh Alkitab, yaitu dalam

Kejadian 2:18: Tuhan Allah berfirman: Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Mengenai masalah kesepadanan telah saya tuliskan dalam “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”.

Tapi memang dalam Tuhan tidak ada yang tidak mungkin. Asalkan kita mempraktekkan kasih, semua menjadi mungkin (baca: “All about Love (Part-2)”). Ya, kehidupan pacaran bahkan pernikahan yang indah, langgeng, dan tentram bukanlah suatu utopia (impian sempurna) belaka bagi pasangan yang memiliki sejumlah perbedaan.

Nah, bagaimana sikap kita berkaitan dengan memperoleh pasangan hidup dan cinta lewat perjodohan dan biro jodoh? Saya pribadi berpikir demikian, segala sesuatu itu tergantung pada cara pikir dan iman kita.

Jika memang kita menganggap perjodohan dan biro jodoh merupakan suatu usaha yang terkesan putus asa, ya sudah jelas kita tidak akan menempuh hal tersebut. Namun jika kita berpikiran, bahwa Tuhan bisa menggunakan berbagai macam cara untuk mempertemukan kita dengan pasangan hidup kita, tidak ada masalah dengan perjodohan atau biro jodoh.

Bahkan kadang-kadang saya menemukan hal-hal yang menarik berkaitan dengan pasangan yang menemukan pasangan hidupnya melalui perjodohan. Saya sangat percaya Tuhan jauh lebih besar dari akal dan pikiran kita.

1 Korintus 2:9: Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”.

Saya percaya bahwa Tuhan bisa menyediakan segala sesuatu bahkan melalui cara-cara yang tidak pernah kita pikirkan, termasuk dalam hal pasangan hidup. Saya percaya bahwa saya tidak bisa membatasi kuasa Tuhan hanya pada cara-cara biasa yang saya dapat pikirkan.

Mengapa demikian? Karena Ia jauh lebih besar daripada yang dapat saya pikirkan, daripada apa yang dapat saya bayangkan. Jika Ia berkehendak, segala sesuatupun akan jadi. Namun jika Ia tidak berkehendak, tidak ada satupun yang akan terjadi.

Saya menyerahkan masalah ini kepada iman dan pandangan hidup Anda. Seperti yang sudah saya bahas kemarin dalam “Cinta di Dunia Maya” hal yang terpenting yang harus diingat baik-baik adalah kunci emas: hikmat, berdiri di atas Firman Tuhan, dan bergumul dalam doa (mendengarkan arahan dan tuntunan Roh Kudus).

Apapun permasalahan kita, termasuk pasangan hidup, asalkan kita berpegang erat pada tiga kunci emas tersebut: hidup dalam hikmat, yang dilandasi oleh Firman Tuhan dan disertai doa dalam arahan Roh Kudus, kita akan menjadi orang-orang yang lebih dari pemenang.

Roma 8:37: Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Jadi, “Perjodohan?” Tidak masalah :D.

Amin.

Iklan

Comments on: "Perjodohan" (4)

  1. FB Comment from VWF:
    hihhi..masalahnya kalo dijodohin teh beyon tentu n jarang bgt yg ‘click’ ma kitanya lgs soalnya kan yg milihnya para ortu kebanyakan jd banyaknya cocok ma mereka bukan ma kitanya…Btw, dl g victim perjodohan hahahha…tp jdnya ma yg bukan dijodohin ma ortu tp jdnya ma yg dijodohin ma hopeng

  2. FB Comment from JD:
    menurut gw, pasangan yg ideal itu bukan yg memiliki byk kesamaan karakter n minat, tp justru yg berlawanan, karna pasangan itu kan saling melengkapi…emang sih dari survey intisari mengatakan pasangan yg demikian awet, tapi siapa yg tau isi dalam hati seseorang?? byk kluarga yang dari luar keliatan rukun n damai, ga ada perang, tapi didalamnya sndiri udah ga ada gairah n cinta lagi, hanya sekedar utk menjaga imej dan jalanin rutinitas belaka, pasangan yg berbeda karakter mgkn bakal sering bergesekan, tapi disitulah kuncinya, masing2 saling menempa dan membangun 😀

    balik ke soal perjodohan, menurut gw jangan mencari pasangan yg sama spt kita deh…misal gw pendiem, gw ga cari cewe yg kalem2 gitu, tp justru lbh suka yg rame n rada ‘cerewet’ hhehehe

    • Sama karakter bukan berarti sama kepribadian. Beda tuh antara karakter dan kepribadian, walau ada yang menuliskan sama. Sama karakter lebih bicara masalah kesepadanan, bukan personality.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: