All for Glory of Jesus Christ

Heart vs Brain

Pembahasan hari ini berkenaan untuk mengikuti perasaan atau pikiran dalam hal cinta. Pernahkah Anda mengalami hal berikut ini:

“Perasaanku berkata A, tetapi pikiranku berkata Z.”

, atau bahkan sering? Ini adalah suatu dilema yang dihadapi oleh sejumlah (kalau tidak mau dikatakan banyak) orang. Lebih memusingkan lagi jika persoalannya misalnya adalah:

“Aku cinta padanya, tapi secara logis dia tidak tepat buatku: karena dari segi karakter dia sangat tidak tepat bagiku: pemarah, senang mengintimidasi, senang diperhatikan tetapi tidak mau memperhatikan, dst.”

atau kasus lainnya:

“Aku dan dia saling mencintai, tapi orang tua kami jelas-jelas menolak hubungan kami. Apa yang harus kulakukan? Tetap bertahan atau meninggalkannya?”

atau kasus lainnya (untuk pria):

“Dia memang cantik, pintar, dan menarik; tetapi yang mengejarnya juga banyak. Apa aku harus tetap mengejarnya atau menyerah? Memang aku mencintainya, tapi secara logis kelihatannya peluangku mendapatkan dia kecil.”

(untuk wanita):

“Dia baik hati, jujur, setia, dan dapat diandalkan; tetapi dia masih jauh dari mapan. Aku mencintainya, tapi aku juga butuh pria yang dapat mencukupi kehidupanku kelak. Apakah aku harus terus menunggu dia untuk mapan atau mencari pria lain yang sudah mapan?”

Pertentangan antara perasaan dan pikiran, antara hati dan otak seringkali dapat membuat kita sangat kebingungan karenanya. Mengapa kita jadi bingung? Karena kita tidak tahu hal yang harus kita ikuti. Apakah hati (perasaan) ataukah otak (akal sehat)?

Lalu apa yang harus kita lakukan? Apalagi bila sudah menyangkut keputusan seumur hidup atau pernikahan. Ini jelas persoalan yang sangat serius, yang jika kita salah menentukan maka hidup kita seumur hidup menjadi taruhannya.

Yakobus 1:6: Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

Dalam Yakobus 1:6 dikatakan bahwa orang yang bimbang sama dengan gelombang laut. Saat angin bertiup, gelombang akan bergerak sesuai arah angin. Bila angin berubah arah, berubah pula lah arah gerakan gelombang: terombang-ambing.

Senada dengan itu, hari ini juga di salah satu thread di forum jawaban.com saya menuliskan mengenai terombang-ambing. Orang yang bimbang adalah orang yang terombang-ambing.

Ibaratnya angin yang bertiup pada pohon bambu. Saat angin bertiup, doyonglah pohon bambu tersebut. Ketika angin bertiup ke arah yang lain, doyong pulalah pohon bambu ke arah angin tersebut.

Sangat tidak enak jika kita menjadi orang yang terombang-ambing. Lalu bagaimana yang harus kita lakukan? Perasaan kita berkata demikian, namun pikiran kita berkata lain.

Lihat satu ayat ini:

Amsal 10:30: Orang benar tidak terombang-ambing untuk selama-lamanya, tetapi orang fasik tidak akan mendiami negeri.

Orang yang benar tidak terombang-ambing untuk selama-lamanya. Siapakah orang benar itu? Orang yang berdiri atas firman Tuhan. Mengapa orang benar tidak terombang-ambing untuk selama-lamanya? Karena ia berdiri atas firman Tuhan, yang tidak berubah.

Situasi bisa berubah. Orang bisa berubah. Zaman bisa berganti. Pikiran dan perasaan kita sedikit banyak kalau tidak diatur dan dipimpin oleh kebenaran firman Tuhan, akan terpengaruh oleh situasi, orang-orang, dan zaman. Ya, segala sesuatu yang berada di luar diri kita. Padahal segala sesuatu yang berada di luar diri kita adalah uncontrollable variable, tidak dapat kita kendalikan.

Jadi celakalah kita kalau dikendalikan oleh segala sesuatu yang selalu berubah. Namun jangan cemas dahulu, Tuhan sudah memberikan solusi untuk semua permasalahan kita, termasuk permasalahan perasaan vs pikiran kita: firman Tuhan. Ya, inilah jawaban yang kita butuhkan.

Perasaan kita sebenarnya tergantung dari hal yang kita pikirkan. Saat pikiran kita optimis, perasaan kita ikut dengan sendirinya. Saat pikiran kita pesimis, begitu pula perasaan kita. Namun saat pikiran kita bingung, perasaan kita pun demikian.

Pikiran saat sedang bingung akan menduga-duga, menghasilkan berbagai hipotesis, dan analisis. Pikiran yang bingung membuat perasaan juga bingung. Sementara pikiran sedang asyik menduga-duga, membuat berbagai hipotesis, dan analisis lalu berakhir dengan kebingungan, sementara itu perasaan juga menjadi bingung.

Perasaan saat menjadi bingung akan berkutat antara perasaan sebelumnya atau harus mengambil bentuk perasaan lainnya. Saya akan mengambil sebuah contoh untuk membuat Anda lebih memahami pembahasan saya.

Saya akan ambil contoh pertama:

“Aku cinta padanya, tapi secara logis dia tidak tepat buatku: karena dari segi karakter dia sangat tidak tepat bagiku: pemarah, senang mengintimidasi, senang diperhatikan tetapi tidak mau memperhatikan, dst.”

Nah, yang terjadi si aku ini sedang bingung karena pikirannya telah menganalisis si dia itu tidak tepat untuknya: pemarah, senang mengintimidasi, senang diperhatikan tetapi tidak mau memperhatikan, dst. Begitu pula dengan perasaannya, si aku bingung karena dia merasa cinta tapi juga berat antara situasi yang dihadapi. Berarti perasaan si aku juga bingung.

Seharusnya kalau memang orang cinta, maka kondisi apapun yang dihadapi tidak akan menjadi bimbang. Perasaannya tidak akan berubah. Namun sayangnya, perasaan sering kali tidak sekuat pikiran. Oleh karena itu, saya bersyukur bahwa cinta bukan sekedar perasaan.

Kalau cinta sekedar perasaan, kacaulah hidup ini. Karena saat seseorang berhenti merasa cinta, berakhir pulalah hubungannya. Masih untung kalau itu terjadi pada hubungan pacaran. Bagaimana kalau itu terjadi pada hubungan pernikahan?

Oleh karena itu solusinya selain berdiri atas firman, kita juga perlu meminta hikmat dari Tuhan. Ya, caranya adalah dengan berdoa dan minta tuntunan dari Roh Kudus, juga termasuk di dalamnya adalah membaca, merenungkan, menerima, dan menyimpan firman itu dalam hati kita. Pendek kata solusinya adalah tiga kunci emas. Tiga kunci emas ini saling terkait satu dengan lainnya dan tidak dapat dipisahkan.

Menarik memang unsur “tiga” ini. Dulu terdapat segitiga hubungan “I, You, and God”. Juga terdapat segitiga antara “aku, Tuhan, dan dunia” yang pernah dibahas dalam “Purpose, Vision, and Mission in Your Life (Trilogi-1)”. Bahkan Allah sendiri bersifat Tritunggal: Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sekarang terdapat tiga kunci emas: hikmat, firman, dan doa yang dipimpin Roh Kudus.

Daniel 9:3: Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.

Daniel saja seorang yang luar biasa menggunakan tiga kunci emas ini: mengarahkan mukanya kepada Tuhan Allah sebagai perwujudan hikmatnya: mencari jawaban pada sumber yang tepat: Sang Sumber Jawaban. Berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu sebagai tanda pertobatan yang merupakan tanda Daniel berdiri atas firman. Berdoa dan bermohon merupakan kunci ketiga untuk mendapatkan jawaban Tuhan.

Mengapa saya menyebut Daniel sebagai seseorang yang luar biasa? Mengenai Daniel dapat kita lihat dalam Daniel 1:3-4, Daniel 6:3-5, dan Daniel 9:23b. Saya akan tuliskan di sini.

Daniel 1:3: Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan,

Daniel 1:4: yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.

Daniel 6:3: membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan.

Daniel 6:4: Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.

Daniel 6:5: Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.

Daniel 9:23b: maka aku datang untuk memberitahukannya kepadamu, sebab engkau sangat dikasihi. Jadi camkanlah firman itu dan perhatikanlah penglihatan itu!

Mengapa saya jadi membahas Daniel? Perhatikan kualifikasi Daniel dalam hal-hal yang saya beri garis bawah dalam ayat-ayat yang sudah saya sebutkan tadi. Daniel yang memiliki kualifikasi luar biasa pun tetap mengandalkan tiga kunci emas. Jadi bukannya mengandalkan pikirannya, apalagi perasaannya. Sama sekali tidak! Jauh dari itu!

Nah bila Daniel yang luar biasa saja mengandalkan tiga kunci emas, bagaimana dengan kita? Apakah kita masih mengandalkan pikiran dan perasaan kita? Apakah kita masih diombang-ambingkan oleh pikiran dan perasaan kita? Kalau ya, berarti kita merasa diri kita lebih hebat dari Daniel.

Jadi saat pikiran dan perasaan saling berlawanan, ingatlah selalu tiga kunci emas.

Heart vs Brain?”, tiga kunci emas solusinya.

Amin.

Iklan

Comments on: "Heart vs Brain" (14)

  1. FB Comment from C:
    hehehe… biasanya baca notes, berasa ditampar…
    yang satu ini, berasa ditabokin bolak-balik ^.^
    thanks banget untuk notes pencerahannya….
    arigatougozaimasu..

  2. FB Comment from C:
    wogh…
    kasus gue dibahas dikit disini ya?
    my brain is stronger than my feeling.
    a friend of mine wrote a poem that describes my feeling well:

    …i’m not a heartless toy
    i’m no collectibles…
    i’m no numbers…

    i’m the flavor
    i’m the taste
    i’m not an option
    she is!
    it’s her loss not mine.

    mwahahahahaa

  3. FB Comment from EHC:
    ya hari ini notesmu mengena pada diriku yang suka menggunakan brain 🙂
    anyway thx ya tetap jadi alatNya tanpa lelah 🙂

  4. FB Comment from ASP:
    bulan ini tema ny cinta ya…
    jd cinta tuh apa???

  5. FB Comment from TA:
    tulisan yang bagus cc..tq ud ingetin lagi sma hal ini..gw jadi nga mengandalkan pikiran aja tapi juga doa selalu…

  6. FB Comment from DE:
    thx to publis ths note …
    i feel better when i read ths note…
    ^_^

  7. FB Comment from AB:
    note yg bgs, thanx 4 share…
    Gbu too… 🙂

  8. Segala pujian hanya bagi Tuhan. Gbu too 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: