All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari akan merupakan trilogi (tiga seri yang saling berhubungan), yaitu mengenai hal yang menjadi segalanya dalam hidup kita. Hari ini saya akan membahas mengenai menempatkan si dia sebagai segalanya dalam hidup ini.

Sejumlah kata-kata yang diucapkan maupun lagu yang dinyanyikan berisikan kata-kata berikut:

“You are my everything.”
(“Kamu adalah segalanya bagiku.”)

“Everything I do, I do it for you.”
(“Segala hal yang aku lakukan, aku lakukan untukmu.”)

Saya tidak tahu kata-kata di atas itu diungkapkan dengan penuh kesungguhan atau hanya demi menyenangkan pasangan (baca “Gombal vs True Love”). Bila ini hanyalah kegombalan, ini jelas tidak baik.

Bagaimana jika ini bukan kegombalan, tapi kata-kata yang sungguh keluar dari hati? Jawaban saya adalah sama. Tidak baik. Anda mungkin heran, mengapa menyatakan dan memang menganggap pasangan kita sebagai yang terpenting dalam hidup kita itu salah?

Jawabannya adalah karena kita diciptakan bukan untuk memuja pasangan kita (baca “Purpose, Vision, and Mission in Your Life (Trilogi-1)“). Pada saat kita menempatkan pasangan kita sebagai “My Everything”, saat itulah kita menempatkan dia sebagai pusat dari hidup kita. Saat itulah kita menjadikan dia sebagai berhala dalam hidup kita. Saat itulah kita meletakkan dia sebagai Tuhan dalam hidup kita.

Padahal Tuhan telah berkata:

Keluaran 20:3: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Sepuluh perintah Allah memuat aturan-aturan mendasar yang digariskan Tuhan. Di antara sekian banyak perintah Allah, mengapa hanya diberi sepuluh? Karena saya yakin sepuluh ini memuat yang paling mendasar. Jika tidak demikian, mestinya akan lebih dari sepuluh. Dari sepuluh ini ternyata, Allah memberikan perintah di Kejadian 20:3 sebagai perintah pertama.

Jika Anda diminta membuat list orang-orang yang berpengaruh dalam hidup Anda, pasti nomor satu adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda bukan? Sama dengan sepuluh perintah Allah.

“Jangan” merupakan suatu bentuk pelarangan secara tegas. Berbeda kalau sepuluh perintah Allah itu diawali dengan kata “Sebaiknya kamu tidak….” Atau “Seharusnya kamu tidak…”. “Jangan” sifatnya bentuk perintah yang kuat.

Jika Tuhan sudah memberikan perintah sebagaimana demikian yang digariskannya, jika kita membandel apa yang akan terjadi? Ya, dalam kehidupan percintaan yang manis, melihat pasangan kita begitu menyayangi kita, melindungi kita, mendukung kita, menghormati kita; kita bisa terpeleset untuk menempatkannya sebagai yang terutama dalam hidup kita.

Ini merupakan suatu yang perlu diwaspadai. Ya, sedikit demi sedikit ancaman ini hadir tanpa terasa. Pasangan kita bukanlah orang yang sempurna walaupun ia berusaha yang terbaik bagi kita. Saat kita menempatkan dirinya sebagai yang paling utama, otomatis kita pun akan mengharapkan hal yang sama. Ini adalah suatu implikasi yang wajar.

Saat dirinya ternyata tidak menempatkan diri kita sebagai yang terutama dalam hidup, hasilnya adalah kita menjadi kecewa. Bahkan kalaupun dirinya menempatkan kita sebagai yang terutama dalam hidupnya, tetap saja pasangan kita tidak bisa memberikan kepada kita 24 jam waktunya kepada kita, 24 jam perhatiannya kepada kita.

Bahkan kalaupun ia memberikan 24 jam waktunya dan 24 jam perhatiannya kepada kita, kita akan berakhir dengan kekecewaan. Mengapa? Manusia cenderung akan terus meminta dan meminta lebih dan lebih lagi. Saat si dia memberikan 24 jam waktunya dan 24 jam perhatiannya, bisa-bisa entah kita bosan, entah kita merasa dia menjadi pemalas (karena bisa saja kita berpikir seharusnya dia melakukan sesuatu yang lain yang lebih berguna), sehingga akhirnya kita menjadi sebal akan dirinya.

Lucu bukan? Ya inilah kecenderungannya. Pasangan suami istripun tidak bisa selama 24 jam selalu bersama. Kalaupun selama 24 jam selalu bersama misalnya dalam bulan madu, tetap saja akan menghabiskan waktu-waktu tertentu sendiri, melakukan aktivitas-aktivitas sendiri. Apalagi bila sudah lewat dari bulan madu, menghabiskan 24 jam bersama itu tidak mungkin.

Hendaklah kita bijak dan menempatkan segala sesuatu pada porsi yang tepat dan seharusnya. Pasangan kita perlu menempati posisi yang penting dalam hidup kita. Ya, dalam “Prioritas” telah dibahas bahwa keluarga (termasuk di sini adalah pasangan/kekasih kita) adalah nomor dua dalam hidup kita.

Jadi ya, pasangan kita adalah orang yang penting bagi kita, jangan sampai mengabaikannya dan menempatkannya lebih bawah dalam prioritas hidup kita. Tapi juga jangan menempatkannya dalam nomor satu di hidup kita.

Bahkan seorang tokoh yang paling berhikmat di seluruh muka bumi ini, Salomo, jatuh karena ia menempatkan pasangannya sebagai yang terutama dalam hidupnya.

1 Raja-raja 11:2: padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta.

Ya, orang yang begitu berhikmatpun bisa terpeleset dan akibatnya fatal. Dapat dibaca dalam 1 Raja-raja 12:1-24 ataupun dalam 2 Tawarikh 10:1-11:4 bahwa begitu Salomo mati, pecahlah kerajaan itu. Sangat menyedihkan bukan? Akibat menempatkan pasangan sebagai nomor satu di hatinya, Israel terpecah menjadi dua: dipimpin oleh Rehabeam dan Yerobeam. Padahal sebelumnya Israel selalu bersatu dan dipimpin oleh satu raja.

Kidung Agung 8:6b: cinta kuat seperti maut.

Walaupun cinta kuat seperti maut, tapi Kristus telah mengalahkan maut itu. Jadi, jangan sampai kita jatuh pada hal yang sama untuk menempatkan cinta kita kepada pasangan sebagai yang terutama.

Instead of saying:

“You’re my everything”

, let’s say:

“You’re not my everything, but you have a special place in my heart and in my life”

, and do as you say.

(Sebagai ganti mengatakan:

“Kamu adalah segalanya bagiku”

, mari kita berkata:

“Kamu bukan segalanya bagiku, tetapi kamu menempati tempat yang istimewa di hati dan hidupku”

, dan lakukan itu seperti yang Anda katakan).

Amin.

Iklan

Comments on: "My Everything (Trilogi-1)" (4)

  1. FB Comment from KRC:
    well, kalo Salomo itu seperti lagu “too much love will kill you”
    hauhauhauhauhauahuahau

  2. FB Comment from EHC:
    gw mengutip dari “You’re not my everything, but you have a special place in my heart and in my life” setuju karena kita harus menempatkan Tuhan diatas segalanya, tetapi pasangan kita menempati tempat yang istimewa di hati kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: