All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini merupakan kelanjutan dari pembahasan kemarin “My Everything (Trilogi-1)”. Kemarin kita sudah membahas mengenai menempatkan pasangan sebagai segalanya dalam hidup, hari ini kita akan membahas diri kita sebagai yang paling utama dalam hidup.

Kemarin telah dibahas bahwa kita tidak boleh menempatkan pasangan kita dalam tempat terutama dalam hidup kita. Ia menempati tempat yang istimewa dalam hidup kita, namun tidak yang paling utama. Lalu, karena kita tidak boleh menempatkan pasangan kita sebagai yang paling utama dalam hidup kita, bagaimana jika kita menempatkan diri kita saja sebagai yang utama dalam hidup?

Kita perlu memikirkan diri kita sendiri itu benar, namun pada porsi yang tepat. Saat kita terlalu sibuk untuk memikirkan segala sesuatu tentang diri kita dan menempatkan diri kita di posisi teratas dalam hubungan kita, kekacauan pun dimulai.

Menempatkan diri kita sendiri dalam tempat yang terutama dalam hubungan ini merupakan tanda-tanda keegoisan.

1 Korintus 13:5b: Ia … tidak mencari keuntungan diri sendiri.

Padahal telah dibahas sebelumnya dalah “All about Love (Part-2)” bahwa salah satu elemen dari kasih adalah tidak mencari keuntungan diri sendiri. Lebih jauh dalam “Dimensions of Sacrificing (Tetralogi-2)” bahkan dibahas mengenai unsur-unsur tidak mementingkan diri sendiri sebagai bentuk membayar harga (korban) kepada Tuhan.

Apalagi saya beberapa kali menemukan orang yang bahkan tidak sadar bahwa ia telah menempatkan dirinya sebagai yang terutama dalam hubungan pacaran. Coba cek ciri-ciri berikut ini:
– Selalu menuntut.
– Tidak mau mengerti kondisi pasangan.
– Menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan keinginannya (manipulatif), termasuk dengan berbohong, merengek, menangis, dan bahkan ada yang secara ekstrim mengancam ingin menyakiti dirinya sendiri atau pasangannya jika keinginannya tidak dipenuhi.
– Menginginkan pasangan berubah, tapi diri sendiri tidak mau berubah.
– Pintar beralasan supaya tidak menjadi pihak yang salah.
– Cenderung sering kali tidak puas dengan hubungan yang sedang dijalinnya dan senang mencoba pasangan baru.

Galatia 5:19-21a: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Efek menjadikan diri sendiri sebagai yang paling utama dalam hubungan bisa fatal, karena bisa merembet pada hal lain: iri hati (cemburu dan posesif berlebihan), amarah, percideraan, dengki, roh pemecah, percabulan, kecemaran, hawa nafsu, roh pemecah, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Ya, efek perbuatan daging memang bisa saling terkait satu dengan lainnya. Mungkin sulit dibayangkan? Saya akan memberikan contoh supaya lebih mudah dimengerti. Saat seseorang menjadikan dirinya sebagai yang terutama dalam hubungan asmara, berarti ia mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Saat seseorang mengutamakan kepentingan diri sendiri, ia akan mengusahakan supaya keinginan dan kebutuhannya terpenuhi. Misalnya yang bersangkutan adalah seorang suami. Nah bila sang suami begitu mementingkan diri sendiri, bisa jatuh ke dalam iri hati (cemburu) yang berlebihan.

Saat seorang sedang dibakar api cemburu, maka tindakannya bisa sangat ekstrim. Saya mendengar tentang seorang suami yang tega menyiram istrinya dengan air keras karena cemburu atau bahkan sang suami membunuh seseorang yang dicurigainya sebagai selingkuhan istrinya karena kedengkiannya yang menyala-nyala. Ini semua adalah api cemburu yang penuh amarah dibungkus dengan dengki (kebencian) dan kemudian berlanjut ke percideraan.

Pada saat telah terjadi percideraan, yang terjadi adalah keluarga pun pecah (roh pemecah), anak pun menjadi korban, bahkan keluarga besar pun menjadi terpecah. Hubungan yang semula harmonis menjadi hancur.

Tindakan ekstrim sang suami karena cemburu yang penuh amarah ini, bisa ditunggangi karena mabuk. Ya, saat cemburu dan saat penuh amarah, sang suami bisa memilih untuk mabuk supaya dapat melupakan permasalahannya. Saat mabuk sang suami kemudian pulang dan menemukan istrinya tidak di rumah, yang ada adalah anaknya perempuan.

Kemudian sang suami karena mabuk, melihat sang anak adalah istrinya. Kemudian bisa terjadi tindakan percabulan dan kecemaran karena saat seseorang mabuk memang segala macam hawa nafsu bisa tidak terkendali.

Efesus 5:18a: Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu.

Bahkan lebih mengerikan lagi adalah jika ada orang yang memang berniat jahat lalu mengadakan pesta pora dan membuat orang-orang menjadi mabuk, supaya dapat melakukan tindakan asusila. Ini semua terjadi karena orang menempatkan dirinya sebagai yang utama. Mengerikan sekali ya akibatnya?

Saya cukup bergidik memikirkan kaitan semuanya itu. Namun memang dosa yang satu akan membawa pada dosa yang lain. Egois dalam hubungan mungkin kesannya sepele, namun ternyata implikasinya sangat luas dan dalam.

Bahkan lebih menyedihkan lagi ketika ada orang yang menggunakan cinta sebagai permainan untuk memuaskan diri sendiri. Cinta digunakan sebagai pemuas hawa nafsu. Cinta yang seharusnya adalah kudus, dianggap selayaknya sampah!

Ada yang karena ingin memiliki kebanggaan memiliki pasangan yang cantik maka terus-menerus mencari wanita tercantik untuk dijadikan pasangannya. Berganti-ganti pasangan terus dan terus. Hanya demi memuaskan kebanggaan semu diri sendiri.

Padahal apalah artinya semua itu? Paras yang cantik akan memudar pula seiring dengan merambatnya usia. Ada lagi yang tidak mengutamakan kecantikan paras, namun memandang kemolekan tubuh sebagai tolak ukur kebanggaan diri.

Seolah-olah bila sudah memperoleh pasangan dengan tubuh molek, dirinya telah sukses. Ini merupakan suatu hal yang sangat menyedihkan dan harus saya katakan sangat dangkal! Wanita saat sudah melahirkan, bentuk tubuhnya akan berubah. Walau sejumlah (cukup banyak) wanita berhasil mengembalikan bentuk tubuhnya ke kondisi semula, tetapi jelas setelah melahirkan kondisi tubuh wanita akan berbeda dengan sebelum melahirkan.

Ada pula yang mengejar pria dengan materi yang berlimpah. Ketika menemukan pria lain dengan kocek yang lebih tebal, dengan fasilitas yang lebih memadai, dan tak segan-segannya mencampakkan pasangannya. Hanya semata demi memenuhi hasrat pribadi akan kekayaan. Ini semua adalah bentuk mengutamakan diri sendiri.

Kata-kata yang biasanya sering keluar adalah:

“Hal yang penting adalah dia cantik dan body aduhai. Pokoknya tidak memalukan kalau dibawa ke pesta atau dikenalkan ke teman-temanku.”

“Hal yang penting adalah aku bisa hidup senang dan tidak pusing lagi akan uang.”

Ini adalah suatu hal yang sangat menyedihkan. Cinta ditukar dengan keegoisan. Sebenarnya orang yang egois itu adalah orang yang perlu dikasihani karena tidak tahu cara mencintai. Segala sesuatu diukur dengan kesenangan pribadi, kebanggaan pribadi. Padahal cinta sejati itu justru adalah berkorban dan bukan mementingkan diri sendiri.

Bagaimana supaya kita tidak terjerat pada tindakan mengutamakan diri sendiri dalam hubungan kita?
1. Menyadari bahwa dalam hubungan selalu terdapat hubungan bolak-balik, antara kita dan pasangan, sehingga kita perlu juga memikirkan kebutuhan, perasaan, dan kondisi pasangan kita.
2. Senantiasa berpegang erat pada tiga kunci emas: hikmat, berdiri atas firman, dan bergumul dalam doa yang diarahkan oleh Roh Kudus. Secara spesifik kita perlu meminta kerendahan hati kepada Tuhan dalam doa kita. Saat orang hanya mengutamakan dirinya sendiri dalam hubungan, itu merupakan ciri dari orang yang sombong. Ingat: orang sombong akan jatuh (baca “Minder, Sombong, dan Percaya Diri (Trilogi-2)”).
3. Meminta supaya Tuhan ikut campur dalam hubungan kita sehingga bukan diri kita sendirilah yang diutamakan, namun kepentingan bersama dan terlebih dari itu supaya hubungan kita dapat menjadi berkat bagi orang lain dan nama Tuhan dapat dipermuliakan lewat hubungan kita.

Biarlah kita menjadi orang-orang yang mengedepankan kepentingan bersama dalam hubungan kita lebih daripada mengutamakan diri sendiri.

Biarlah kita menjadi orang-orang yang mengedepankan kasih, sehingga nama Tuhan dapat dipermuliakan lewat hubungan kita.

Amin.

Iklan

Comments on: "My Everything (Trilogi-2)" (4)

  1. FB Comment from EHC:
    setuju kita oun tidak boleh egois 🙂

  2. FB Comment from RS:
    Thanks. Apakah narsis termasuk mengutamakan diri sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: