All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini merupakan rangkaian empat seri pembahasan (tetralogi) yang saling berhubungan namun dapat dibaca terpisah. Tetralogi ini adalah mengenai posisi kekasih bila dihadapkan dengan pihak lain. Pembahasan hari ini saya akan membahas pasangan bila dihadapkan dengan sahabat (Lover vs Best Friend).

Bagaimana bila Anda memiliki kekasih yang ternyata tidak cocok dengan sahabat Anda? Tentunya Anda akan berharap kekasih Anda dapat cocok, bahkan juga dekat dengan sahabat Anda, bukan? Namun bagaimana jika kondisinya ternyata kekasih Anda jangankan cocok, tetapi malah sangat tidak cocok?

Amsal 17:17: Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Sahabat merupakan orang yang telah bertahun-tahun bersama Anda. Ia cukup, bahkan sangat mengenal diri Anda. Kalian saling berbagi rahasia bersama, berbagi impian bersama, berbagi kebahagiaan juga berbagi kesedihan bersama, berbagi kesuksesan dan kegagalan pula (baca dalam “Friendship”).

Kekasih Anda merupakan orang yang datang kemudian. Walaupun ia datang kemudian dibandingkan sahabat Anda, tetapi kekasih Anda seharusnya juga merupakan sahabat Anda (baca dalam “From Best Friend to Lover”). Ya, sebagai kekasih tentu kekasih Anda merupakan orang yang istimewa di hati Anda, tetapi jangan lupa sahabat Anda telah hadir terlebih dahulu.

Sebelum kekasih Anda menjadi istri/suami Anda, posisinya dengan sahabat Anda kurang lebih sama: orang-orang yang istimewa dalam hidup Anda. Kecuali bila kekasih Anda telah menjadi istri/suami Anda, jelas posisinya menjadi lebih istimewa daripada posisi sahabat Anda.

Kalaupun nanti kekasih Anda telah menjadi istri/suami Anda, Anda tetap tidak dapat membuang sahabat Anda begitu saja. Ingat: sahabat dan keluarga adalah harta berharga yang dapat Anda miliki. Mereka menerima diri Anda apa adanya. Jadi jangan pernah membuang sahabat Anda.

Untungnya saya belum pernah mengalami kendala sahabat yang berseberangan dengan kekasih. Di waktu yang lalu, karena saya memiliki kekasih (sekarang sudah mantan) di kota yang berbeda dengan kota tempat saya hidup, pertemuan menjadi suatu hal yang langka.

Waktu itu kekasih saya tiba-tiba mau mengunjungi saya, padahal saya telah memiliki janji bersama sahabat saya. Saya sudah mencegah kekasih saya waktu itu, namun dia berkeras. Akhirnya saya memberitahukan hal ini kepada sahabat saya. Sahabat saya berkata demikian kepada saya:

“Sudah tidak apa-apa, kamu dengan pacarmu dulu saja. Toh jarang-jarang bisa ketemu, kan. Kita mau main bisa kapan saja.”

Sungguh inilah perwujudan dari Amsal 17:17. Saya sangat bersyukur sekali karena sahabat saya tidak menyuruh saya memilih antara kekasih saya saat itu dengan dirinya. Malah mengalah demi kebaikan saya dan kekasih saya saat itu.

Setidaknya saya bisa menyebutkan 4 hal dalam 1 Korintus 13 sebagai elemen kasih yang dimiliki oleh sahabat saya. Sahabat saya sabar, murah hati, tidak cemburu, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia mengasihi saya.

1 Korintus 13:4a: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.

1 Korintus 13:5b: Ia … tidak mencari keuntungan diri sendiri.

Sayangnya tidak semua orang seberuntung saya. Saya menemukan orang yang menghadapi permasalahan yang sama, namun ternyata memang dia harus memilih antara kekasih dan sahabatnya.

Bahkan yang terjadi mereka harus melalui pertengkaran dahulu. Memang kalau misalnya sahabat kita berdampak buruk pada diri kita dan kekasih kita menjadi berkeberatan karenya, ini jelas perlu dipertimbangkan. Karena toh alasan kekasih kita masuk akal, kekasih kita hanya ingin yang terbaik bagi kita. Namun kalau alasan kekasih kita hanya semata kecemburuan belaka, ini jelas tidak bisa ditoleransi.

Pada saat kita baru menjalin hubungan dengan kekasih kita, jebakan yang utama adalah keinginan kita atau kekasih kita untuk menjalin hubungan secara intensif berdua saja. Akibatnya sahabat kita menjadi tersisih.

Jelas menjadi hubungan secara intensif berdua saja dalam pacaran tidak salah, malah ini harus dilakukan untuk mengetahui dengan jelas karakter, minat, visi misi, pandangan hidup, pengalamannya bersama dengan Tuhan, dan lain-lain.  Namun jika kita melakukannya secara berlebihan akibatnya tidak baik.

Akibat yang paling kelihatan adalah kehilangan sahabat-sahabat kita. Ya, memang setelah kita memiliki kekasih waktu yang kita miliki harus dibagi pula untuk kekasih kita. Ini sebabnya bagi yang masih melajang jangan terlalu kuatir dan sibuk kanan kiri untuk mencari pasangan.

Inilah waktu untuk Anda nikmati. Setelah Anda memiliki pasangan, Anda tidak bisa menggunakan waktu Anda sebebas seperti waktu Anda belum memiliki pasangan. Apalagi bila Anda telah menikah. Jelas kesibukan Anda akan jauh bertambah! Oleh karena itu saya menghimbau bagi para lanjang: nikmatilah waktu-waktu yang Anda miliki.

Manusia memang terkadang makhluk yang lucu. Saat dia lajang dia merasa kesepian, padahal kesepian itu bukan masalah sendiri atau tidak sendiri (baca “FLU”). Dia butuh kekasih yang dapat menemaninya.

Setelah memiliki kekasih dia merasa waktu yang dimilikinya menjadi terbatas. Dia merasa rindu untuk kembali memiliki waktu yang bebas seperti dulu. Memang manusia sulit merasa puas. Hanya manusia yang mengalami pemulihan dan kepenuhan dalam Tuhan yang akan merasa puas (baca “For the Love of Myself”, “Emptiness”, dan “Whole”).

Kembali ke masalah kekasih vs sahabat ini. Lalu bagaimana caranya mengatasi hal ini? Memang jelas dibutuhkan kasih dari kedua belah pihak. Saat salah satu pihak menjadi mau menang sendiri, egois, dan memaksakan kehendaknya; situasi serba salah yang dihadapi.

Dibutuhkan kedewasaan dan kematangan di antara kedua pihak dalam hubungan ini, yaitu baik pria maupun wanita yang sedang berpacaran ini. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah akan saling menyakiti satu dengan yang lain.

Oleh karena itu saya sangat menghimbau, bagi Anda yang belum memikirkan pernikahan sebaiknya jangan berpacaran (baca “Tujuan Pacaran”). Mengapa demikian? Orang yang belum memikirkan pernikahan tidak memenuhi syarat untuk menjalin hubungan pacaran.

Orang yang tidak memenuhi syarat untuk berpacaran adalah orang yang kekanak-kanakan, egois, manipulatif, dan tidak mau mengerti kebutuhan orang lain. Bila orang ini menjadi kekasih Anda, hubungan persahabatan Anda dengan sahabat Anda akan terancam. Silakan dicek!

Kecuali tentu saja jika sahabat Anda adalah sahabat super yang memang penuh pengertian, sabar, murah hati, tidak cemburu, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri seperti sahabat saya ahahahha. Ya, kalau Anda memiliki sahabat semacam itu, Anda sungguh beruntung. Saya sendiri merasa saya adalah orang yang sangat beruntung.

Lalu bagaimana jika Anda menghadapi permasalahan kekasih vs sahabat ini? Sesungguhnya jika kekasih dan sahabat Anda keduanya menginginkan yang terbaik bagi Anda, seharusnya mereka berdua akan dapat bersama dengan baik.

Orang yang dapat bergaul dengan baik adalah orang yang memiliki kesepakatan, bahkan yang paling ringan sekalipun. Tanpa kesepakatan akan sulit bagi orang untuk bergaul dengan baik. Mungkin Anda akan membantah perkataan saya, silakan saja.

Namun coba bayangkan seorang asing yang berbeda segala halnya dengan Anda, hanya atas dasar pengertian serta kemauan untuk saling membuka diri dan berkomunikasilah baru Anda dapat terhubung dengannya. Tidak percaya? Buktikan saja sendiri!

Mengapa Anda dapat terhubung dengan orang asing tadi? Karena Anda memiliki kesepakatan di tengah perbedaan, yaitu memiliki kesepakatan (yang tidak terucapkan dan tidak tertulis tentunya) bahwa Anda berdua ingin saling mengerti, juga ingin saling membuka diri dan berkomunikasi.

Hubungan antara kekasih-Anda-sahabat seharusnya merupakan hal yang indah dan kuat. Kekasih Anda dan sahabat Anda memiliki dasar kesepakatan sesungguhnya, yaitu mereka sama-sama sepakat bahwa mereka mengasihi Anda. Bila mereka mengasihi Anda, mereka hanya ingin yang terbaik bagi Anda.

Bila salah satu pihak: sahabat atau kekasih Anda meminta Anda memilih salah satu (padahal baik sahabat maupun kekasih Anda, secara obyektif Anda nilai keduanya baik-baik saja dalam hal karakter), maka ini adalah lampu kuning bagi hubungan persahabatan (bila sahabat Anda yang menyarankan) atau lampu kuning bagi hubungan cinta (bila kekasih Anda yang menyarankan).

Kecuali bila memang kekasih maupun sahabat Anda dapat menunjukkan hal-hal, terutama cacat karakter yang memang parah dalam diri sahabat atau kekasih Anda, ini memang perlu menjadi pemikiran serius bagi Anda. Sering kali karena dekat, kita sulit memandang sesuatu secara obyektif (silakan baca dalam “Hidup = Mengalami Masalah”).

Bila itu yang terjadi kiranya Anda ingat untuk menggunakan tiga kunci emas untuk memecahkan masalah ini. Hal yang sama juga berlaku bagi Anda. Terhadap sahabat kekasih Anda bagaimana sikap Anda?

Jika kekasih Anda merupakan penilai karakter yang buruk, jelas Anda perlu membantunya. Sering kali sahabat palsu menyamar sebagai sahabat sejati. Tetapi jika memang sahabat kekasih Anda sungguh merupakan sahabat sejati, Anda perlu menjalin hubungan yang akrab dengan sahabat kekasih Anda.

Jadi, Lover vs Best Friend? Jangan sampai terjadi.

Semoga kita bisa merangkul kekasih dan sahabat kita bersama.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: