All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini merupakan bagian terakhir dari tetralogi yang membahas posisi kekasih kita yang berseberangan dengan sesuatu hal. Hari ini pembahasan kita adalah mengenai posisi kekasih yang berseberangan dengan orang tua kita (Lover vs Parents).

Sebelum mulai pembahasan, saya ingin membagikan sesuatu. Saya sungguh menyaksikan di dalam Tuhan benar-benar tidak ada hal yang namanya kebetulan. Sebelum saya menuliskan pembahasan hari ini, saya tadi sebelumnya telah ke forum jawaban.com.

Lalu apa yang terjadi? Di sana saya ternyata menemukan satu kasus baru yang persis dengan pembahasan hari ini: Lover vs Parents. Memang luar biasa Tuhan kita, segala sesuatu telah diatur sempurna di dalam Dia.

Nah mari kita masuk ke pembahasan kita hari ini. Pernahkah Anda mengalami bahwa saat Anda menjalin hubungan pacaran dengan seseorang kemudian ternyata orang tuanya melarang hubungan Anda?

Saya justru pada waktu yang lalu mengalaminya. Hambatan yang ada itu justru datang dari orang tua kekasih saya waktu itu. Hal yang pertama hambatan datang dari tante kekasih saya waktu itu yang belum di dalam Tuhan. Tantenya melihat bahwa tanggal lahir kami terlalu dekat jaraknya sehingga tidak bagus katanya dari segi peruntungan.

Lalu ada lagi hal lain yang saya tidak perlu sebutkan berkaitan dengan ibu dari kekasih saya waktu itu. Singkat cerita akhirnya kami harus putus saat itu. Begitu pula dengan kekasih saya yang lain. Hambatan muncul dari orang tuanya yang tidak menyetujui masalah pacaran jarak jauh. Padahal orang tua kekasih saya tersebut sudah dalam Tuhan.

Herannya saya tidak pernah menemui masalah dengan orang tua saya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena diberikan orang tua yang luar biasa. Seperti yang telah sering saya bagikan, orang tua saya tidak sempurna. Mereka memang memiliki cukup banyak kelemahan. Namun bagi saya, bila saya ditawarkan kesempatan memilih orang tua lain, saya tidak akan memilih orang tua lain.

Ya, orang tua saya memang bukan orang yang kaya dalam hal harta, namun mereka merupakan orang-orang yang kaya dalam hal hati. Mereka tidak pernah memandang seseorang dari kekayaannya, tidak pernah memandang seseorang dari penampilan, juga tidak memandang seseorang dari kendaraan yang dibawanya.

Saya ingat benar ketika kakak saya yang kedua dulu berpacaran. Kakak ipar saya dulu datang ke rumah saya menggunakan sebuah motor yang sudah berumur cukup tua. Saya sendiri tidak pernah memperhatikan hal seperti itu, tetapi ayah dan ibu saya sering bercerita mengenai motor kakak ipar kedua saya yang dicucikan oleh pembantu saya waktu itu.

Mereka bercerita dengan riang bahwa mereka walaupun kakak ipar saya dulu datang berkunjung membawa motor tua dan juga kotor, tapi mereka melihat kakak ipar saya orang yang baik. Apalagi memang kakak ipar saya sangat brilian, menyandang dua gelar sarjana dari dua universitas ternama di Bandung, yang masing-masing direbut dengan prestasi gemilang: cumlaude.

Memang tidak heran karena kakak saya yang kedua juga sangat brilian. Ia dapat lulus 4 tahun dari suatu jurusan yang seharusnya diselesaikan dalam waktu 5 tahun. Luar biasa! Memang Tuhan kalau menjodohkan itu selalu yang sepadan. Kalau kakak saya yang kedua itu mendapatkan pasangan yang kurang brilian, tentu jadinya akan pincang.

Sangat tidak asyik kalau mendapat pasangan yang tidak bisa mengimbangi diri kita. Jadinya malah kita yang lelah karena harus menahan langkah kita supaya kekasih kita bisa mengikuti langkah kita.

Begitu pula saat dulu saya berpacaran, kekasih saya waktu itu bukan orang kaya dan saat itu memang dalam keadaan sedang mencari pekerjaan lagi. Orang tua saya tidak mempermasalahkan hal itu. Ibu saya bahkan sangat sayang dengan kekasih saya saat itu. Kalau dipikir-pikir, ibu saya selalu sayang dengan semua menantunya, begitu pula dengan ayah saya.

Hal yang saya sangat ingat, ayah saya sering berkata demikian:

“Tugas orang tua hanyalah membimbing dan mendampingi, sesekali menasehati bila perlu. Kalau memang anak-anak sudah saling suka, tugas orang tua cukup merestui.”

Ya, saya bersyukur orang tua saya adalah orang tua seperti itu. Pernah memang dengan kekasih saya yang pertama, ayah saya bertanya:

“Apakah kamu sudah yakin? Kalau kamu sudah yakin, Papi tidak akan melarang. Ini hidup kamu, kamu yang menjalani.”

Orang tua saya waktu itu kuatir bukan karena masalah materi, tetapi dulu itu kekasih saya mengidap suatu penyakit yang dapat menurun ke keturunannya. Mereka memang memikirkan juga masalah materi, namun mereka percaya bahwa masalah rejeki itu Tuhan sudah mengaturnya.

Namun kalau tidak jodoh, memang Tuhan bisa bekerja dengan cara-Nya sendiri. Yah, cukup tragis memang kalau dipikir-pikir karena kisah cinta saya selama ini berakhir karena orang tua si dia yang tidak menyetujui.

Ayat mengenai orang tua dalam Alkitab yang akan saya ambil adalah:

Ulangan 5:16: Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

Efesus 6:1-3: Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Ya, kita sebagai anaknya jelas harus hormat kepada mereka. Bahkan menghormati orang tua menempati urutan kelima dari 10 perintah Allah. Empat perintah pertama mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, sedangkan enam sisanya mengatur hubungan antarmanusia. Hal yang menarik, perihal menghormati orang tua jatuh pada nomor pertama dalam hal perintah hubungan antarmanusia.

Berarti ini adalah hal yang maha penting bagi Tuhan. Ya, hubungan antara Tuhan dan Manusia di 4 posisi teratas menunjukkan prioritas Tuhan di tempat tertinggi. Setelah itu ternyata orang tua menempati tempat yang luar biasa di mata Tuhan. Bahkan terdapat suatu ayat yang sangat keras:

Matius 15:4: Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.

Hukuman mati di sini bukan berarti dihukum penggal, dihukum di listrik, atau yang sejenisnya, tetapi kematian dari segi damai sejahtera dan kecukupan materi. Hal ini paralel dengan yang telah dibahas dalam Ulangan 5:16 dan Efesus 6:1-3. Jangan lupa baca “Whole” karena sangat erat kaitannya dengan masalah “mati” dalam pengertian di sini.

Saya bahkan pernah mendengar suatu kasus ada seorang ibu yang merintis suatu usaha, namun kemudian direbut oleh anak dan menantunya. Kemudian ibu ini tetap bangkit dan pada akhirnya kembali jaya. Sedangkan anak dan menantunya jadi semakin rontok usahanya.

Saya sangat percaya hal ini merupakan bukti betapa firman Tuhan bukanlah hal yang dapat dibuat main-main. Kita perlu sangat serius menyikapi setiap firman Tuhan, karena ini adalah kata-kata dari Tuhan sendiri, diilhami oleh Tuhan, suara Tuhan sendiri. Bila kita menganggap sepele firman Tuhan, berarti kita menyepelekan Tuhan juga.

Dari hormat, kita beralih ke masalah taat. Ketaatan juga harus kita lakukan, sepanjang hal yang diminta orangtua kita itu adalah hal yang benar dan tidak bertentangan dengan firman dan kebenaran.

Jika orang tua kita menyuruh kita menyudahi hubungan kita karena masalah ramalan (kuamia, shio, wangsit, menurut kata orang ‘pintar’, menurut hitung jam, tanggal, bulan, tahun lahir, dan seterusnya) jelas ini tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Berkaitan dengan hal itu, maka kita perlu membedakan dengan tegas antara yang merupakan kebenaran dan yang bukan. Sikap kita adalah tetap hormat kepada mereka, namun terus menggumulkan masalah ini bersama kekasih dan membawanya dalam doa kepada Tuhan.

Jika setelah kita menggumulkan masalah ini dan membawanya dalam doa kepada Tuhan, lalu kita memang yakin si dialah jodoh kita, maka saya sangat menyarankan untuk Anda dan kekasih Anda untuk terus berjuang.

Sambil berdoa puasa untuk meminta Tuhan melembutkan hati orang tua Anda atau orang tua kekasih Anda, sambil Anda dan kekasih Anda berjuang untuk merebut hati orang tua Anda/kekasih Anda. Ya, jangan putus asa!

Yosua 1:6: Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.

Yosua 1:7: Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.

Pada Yosua 1:6-7 terdapat perkataan Tuhan kepada Yosua saat akan merebut Kanaan. Pada saat akan menaklukkan Tembok Yerikho, Tuhan mengatakan untuk “menguatkan dan meneguhkan hati” sebanyak 2 kali.

Tembok Yerikho merupakan segala permasalahan, halangan, dan rintangan yang kita hadapi. Dalam pembahasan hari ini, orang tua yang tidak menyetujui hubungan kita itulah Tembok Yerikho kita.

Bertindak hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan oleh hamba-Ku Musa, ini berbicara tentang tindakan kita harus sesuai dengan firman Tuhan dalam usaha kita menundukkan hati orang tua kita/orang tua kekasih kita.

Jangan menyimpang ke kanan ke kiri artinya jangan pergi ke peramal atau orang ‘pintar’ supaya membuat orang tua kita atau orang tua kekasih kita menyetujui hubungan kita, namun andalkan Tuhan dalam segala hal, termasuk dalam hal ini. Juga artinya adalah supaya kita tetap setia kepada kekasih kita, tidak mencari pria/wanita lain sebagai ganti karena adanya penghalang berupa orang tua Anda atau orang tuanya yang tidak menyetujui.

Bagaimana bila orang tua melarang karena hal-hal yang bukan terkait masalah okultisme, tetapi masalah pendapat? Contoh: orang tua melarang/tidak menyetujui hubungan Anda dengan kekasih Anda karena masalah karakter kekasih Anda.

Bila kasus ini atau kasus-kasus lain yang terjadi (bukan karena okultisme) yang menjadi dasar orang tua Anda atau kekasih Anda melarang, maka sama seperti tadi. Anda dan kekasih Anda perlu menggumulkannya dalam doa dan minta petunjuk Tuhan.

Mungkin orang tua Anda atau orang tua kekasih Anda tidak bisa menunjukkan secara pastinya. Kadang-kadang malah orang tua berpendapat karena hanya berdasarkan intuisi. Tetapi jangan salah, intuisi orang tua itu (terutama ibu) sangat tajam. Jangan menyepelekan intuisi orang tua!

Saya sering mendengar cerita orang yang menyesal setelah menikah karena tidak mendengar perkataan orang tuanya. Namun jelas tidak selalu pendapat orang tua itu benar juga. Karena orang tua juga manusia yang bisa salah, jelas kita perlu mencari pendapat yang tidak mungkin salah: pendapat Tuhan.

Saat kita mencari kehendak Tuhan, itu sudah pasti benar. Tidak akan salah jika Anda mencari jawaban pada Tuhan.

Jadi Lover vs Parents? Bergumullah dalam doa dan cari jawabannya pada Tuhan.

Amin.

Iklan

Comments on: "Lover vs Other (s) (Tetralogi-4)" (1)

  1. FB Comment from EHC:
    agree tanpa kita menghormati ortu, maka berkat tidak akan turun bagi kita dan pasangan kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: