All for Glory of Jesus Christ

Sex Tanda Cinta?

Pembahasan hari ini akan membahas mengenai kesalahpahaman yang sering terjadi berkaitan dengan hubungan seksual sebelum pernikahan (pada saat pacaran atau pertunangan). Saya tidak tahu sekarang ini pembahasan mengenai seksualitas masih menjadi barang tabu atau tidak, namun hal ini memang penting sehingga saya pikir tetap akan saya bahas.

Seks merupakan alat kelamin yang diciptakan Tuhan untuk dua maksud, yaitu untuk pembuangan zat-zat sampah dalam tubuh dalam bentuk air seni dan juga untuk keperluan reproduksi.

Seks itu sifatnya kudus. Jadi kalau ada yang mengatakan seks itu kotor, tabu, dan terlarang, ini saya pikir merupakan bentuk salah kaprah yang perlu diluruskan. Jika Tuhan menciptakannya, maka semua itu adalah baik adanya, bahkan amat baik.

Kejadian 1:31a: Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.

Jika Tuhan saja mengatakan semua yang diciptakan-Nya sungguh amat baik, siapalah kita sehingga bisa mengatakan sebaliknya? Jadi seks merupakan hal yang juga sungguh amat baik adanya. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan maksud yang sempurna, sehingga jangan sampai kita salah kaprah mengenai seks dan seksualitas.

Jika seks dan seksualitas itu merupakan hal yang baik dan kudus, bagaimana dengan hubungan seksual itu sendiri? Hubungan seksual itu merupakan hal yang baik dan kudus, namun tentu saja pada koridor yang tepat, yaitu pada hubungan pernikahan dan dengan pasangannya (suami/istrinya).

Kejadian 1:28: Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Kejadian 2:25: Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Lihat, Tuhan menciptakan alat kelamin pada tubuh manusia dengan sungguh amat baik (Kejadian 1:31a), bahkan Tuhan menyuruh untuk beranak cucu dan bertambah banyak sehingga dapat memenuhi dan menaklukkan bumi. Hal ini merupakan perintah Tuhan sendiri. Jadi sesungguhnya hubungan seksual itu merupakan sesuatu yang kudus.

Ya, segala perintah Tuhan itu sifatnya untuk kebaikan kita. Namun perlu diingat bahwa

Pengkotbah 3:11a: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Jadi, hubungan seksual selain kudus juga indah tapi pada waktunya, yaitu setelah pernikahan. Itulah sebabnya dalam Kejadian 2:25 dijelaskan bahwa antara suami istri bila telanjang pun tidak malu. Mengapa tidak malu? Karena memang tidak ada yang salah dengan ketelanjangan itu saat mereka sudah menjadi suami istri.

Bandingkan ayat Kejadian 2:25 dengan ayat berikut ini:

Kejadian 3:7: Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Baik di Kejadian 2:25 maupun di Kejadian 3:7 peristiwa yang terjadi sama, yaitu sama-sama telanjang. Lalu mengapa pada Kejadian 2:25 itu Adam dan Hawa tidak menjadi malu sedangkan dalam Kejadian 3:7 mereka menjadi malu sehingga perlu menyemat daun pohon ara dan membuat cawat?

Segala sesuatu yang membuat menjadi perlu ditutupi bersumber dari dosa. Jika kita tidak berbuat salah, apakah kita perlu menutup-nutupi perbuatan kita? Tidak bukan? Namun saat berbuat salah? Seperti Adam dan Hawa, tindakan refleks yang pertama adalah menutupi.

Hubungan seksual yang tidak pada waktunya itu adalah suatu kesalahan, suatu dosa.

Markus 7:21: sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,

Markus 7:22: perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.

Markus 7:23: Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Hubungan seksual sebelum pernikahan disebut dengan istilah percabulan. Termasuk di dalam percabulan adalah tindakan seksual yang dilakukan oleh diri sendiri yang bertujuan memuaskan diri sendiri. Hubungan seksual setelah pernikahan dengan bukan pasangannya (suami/istrinya) disebut sebagai perzinahan.

Lihat pada Markus 7:21-22, percabulan diurutkan bersama dengan pikiran jahat, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Jadi kalau saya mau ambil satu contoh saja, percabulan itu sama buruknya dengan membunuh.

Ya, saya pernah membaca di salah satu situs di internet mengenai seseorang yang mengaku telah tidak perawan lagi karena telah melakukan hubugan seksual sebelum pernikahan. Wanita tersebut merasa sangat takut dan kuatir akan masa depannya, yaitu takut dan kuatir jika tidak ada pria yang bersedia menikahinya karena dirinya sudah tidak perawan lagi.

Pria yang meminta kekasihnya untuk berhubungan seksual dengannya sebelum pernikahan ini merupakan suatu penjahat besar yang membunuh kekasihnya. Ya, permintaan untuk melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan bukanlah tanda cinta, namun merupakan tanda perbuatan yang penuh mementingkan diri sendiri.

Mengapa saya katakan ia membunuh kekasihnya? Karena saat hubungan seksual dilakukan sebelum pernikahan, sang pria telah merusak diri si wanita. Hal yang seharusnya dilakukan secara indah dan kudus setelah pernikahan, dilakukan sebelumnya dan merusak hidup wanita itu.

Begitu pula wanita yang meminta kekasihnya untuk berhubungan seksual dengannya sebelum pernikahan merupakan suatu penjahat besar yang membunuh kekasihnya. Mungkin Anda heran dan tidak setuju dengan pernyataan saya. Baik, akan saya jelaskan.

Dari diskusi saya dengan sahabat saya, saya mengetahui bahwa pria memang dilahirkan dengan kecenderungan alamiah memikirkan mengenai masalah seksualitas jauh lebih sering dari wanita. Jika seorang wanita meminta hubungan seksual dengan pria ini, sesungguhnya wanita ini secara paksa meminta mengikatkan diri kepada pria ini.

Dari banyak kasus di forum jawaban.com, pria yang sudah melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan ini akan menderita dalam mengendalikan dirinya terhadap kecenderungan pemikiran seksualnya jauh lebih sulit daripada sebelum ia telah melakukan hubungan seksual.

Jadi pada dasarnya sama saja antara wanita dan pria. Walau mungkin bagi wanita akibatnya yang terlihat kelihatan lebih berat, tapi pria pun sebenarnya mendapat akibat yang juga sama beratnya.

Akibat dari dosa itulah, kemudian seperti di Markus 7:23 tuliskan maka menjadi najis, menjadi kotor. Padahal sesungguhnya seks, seksualitas, dan hubungan seks yang pada konteks semestinya itu sungguh amat baik dan kudus.

Sungguh ironis bukan? Ya, segala sesuatu yang tidak pada tempatnya memang menjadi tidak baik. Bagaimana jika kekasih Anda meminta hubungan seksual sebelum pernikahan sebagai tanda Anda mencintainya? TOLAK!

Ya, tolak saja! Jika ia memaksa dan mengatakan Anda tidak mencintainya karena tidak mau melakukan hubungan seksual dengannya, Anda tegur kekasih Anda dengan tegas. Jika ia masih terus memaksa, lebih baik Anda putuskan saja hubungan Anda.

Mungkin kesannya saya terlalu kejam, tetapi saya justru memikirkan hidup Anda ke depan. Jika kekasih Anda memang sungguh mencintai Anda, maka ia akan rela menunggu sampai setelah pernikahan. Bahkan jika Anda telah bertunangan sekalipun, prinsip ini berlaku. Bertunangan walaupun memiliki level komitmen yang lebih tinggi dibandingkan pacaran, tetap saja bukan pernikahan.

Mengapa setelah pernikahan hubungan seksual menjadi boleh dilakukan? Karena pada saat pernikahan seorang pria dan seorang wanita melakukan ikat janji di hadapan Tuhan yang disaksikan oleh jemaat. Ikat janji di hadapan Tuhan inilah unsur yang memang hanya ada pada saat pernikahan, bukan pada pertunangan apalagi pada pacaran.

Ingat ayat berikut ini:

1 Korintus 6:13: Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.

Tuhan memberikan kita tubuh dan tubuh kita adalah untuk memuliakan Tuhan. Jadi bukan untuk hubungan seksual pranikah, bukan untuk percabulan. Jika Anda sudah menikah, tubuh Anda juga bukan untuk perzinahan. Ingat baik-baik hal ini.

Jadi, hubungan seksual adalah benar tanda cinta jika dilakukan setelah pernikahan dan dengan pasangannya (suami/istrinya). Di luar itu, maka hubungan seksual adalah bukan tanda cinta.

Amin.

(Footnote:

Thanks to β€œRyonn” Ronny Santosa. Once again I use our discussion about men and sexuality here.)

Iklan

Comments on: "Sex Tanda Cinta?" (19)

  1. FB Comment from DHK:
    Lugas, tegas dan terpercaya
    AMEN.

  2. FB Comment from DHK:
    Betul sgala pujian dan kekuatan ..
    Hanyalah bagiMU..
    Hanyalah untukMU..
    Lho koq malah nyanyi ho ho ho…
    Tp km emang BRILLIAN koq πŸ˜‰
    …SELAMAT YA SUCCEs 4 u
    baca amsal 3:5 bgus lho ayatnya

    • Hehehe, tanpa Tuhan siapalah aku ini :). Thanks ya doanya dan ayatnya. Amsal 3:5: Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Amin.

  3. FB Comment from IV:
    Asli salut ama kk yang sellu meluangkan waktu dan pikiran buat nulis hal2 yang berguna ini, kalau aku masih moody hehehe, keep moving yah

    • Hehehe cuma belajar setia pada perkara kecil. Soalnya aku belajar dari saat teduh kalau sekali bolong ntar peluang besok2 bolong lebih besar. Jadi lebih baik paksakan diri supaya jangan bolong. Moody sering kog, tapi berusaha memaksa diri buat tetep nulis. Thanks, kamu juga bisa kog. Semangat! Gbu.

  4. FB Comment from TA:
    tulisan yang bagus cc terus berkarya..btw kapan nih ebook nya gw uda pesen loh…ingo..ingo..tringggg

    • Segala pujian hanya bagi Tuhan :). Hahaha, sebenernya udah jadi, tapi tidak sesuai dengan standar. Jadi buat dari nol lagi. Sabar ya :D. Ntar kalau dah jadi langsung dikirim ke email masing-masing.

  5. FB Comment from EHC:
    iya saya setuju dengan pembahasan hari ini, bahwa segala sesuatu indah pada waktuNya

  6. FB Comment from AS:
    Tetep aja, seks itu tanda cinta, menikah atau belum yang jadi permasalahan kan salah atau tidak dilakukan sebelum menikah,masa seks bukan tanda cinta?Jika melakukannya sama pelacur mah iyah, bukan tanda cinta.

    • Kalau sebelum nikah, itu bukan tanda cinta bahkan merupakan tanda keegoisan dan ketidaksabaran. Mengambil dan melakukan sesuatu yang belum pada waktunya itu bukan cinta.

      • FB Comment from AS:
        Wah emang ada dimana tuh, mengambil dan melakukan sesuatu yang belum pada waktunya itu bukan cinta? Kita batasin aja ke seks, jangan terlalu melebar, seks adalah pernyataan cinta dari pasangan, lepas dari sudah waktunya atau belon, itu memang diciptakannya seperti itu, jadi seks bukan lah dosa, dan engga bisa juga dibilang bukan cinta, seks adalah cinta tapi cinta eros, bukan cinta agape.

  7. Nah coba baca 1 Korintus 13. Cinta itu kan kasih. Coba kamu baca notes aku yang judulnya “All about Love (Part-2)” aja dah. Di sana dah dibahas semua elemen kasih.

    Seks sebelum waktunya dari sekian banyak cerita, curhat, konseling yang terj…adi ke saya, selalu berakhir dengan sakit. Entah ketakutan dan kuatir akan masa depan, merasa kotor, terjebak dalam percabulan dan pornografi, merasa minder, hilang pengharapan. Apa itu yang namanya cinta? I don’t think so. Cinta = menjaga, melindungi. Seks sebelum waktunya = nafsu dan itu bukan cinta.

    Cinta eros itu ketertarikan dan menggebu-gebu, bisa (saya katakan bisa, tapi tidak selalu jadi tolong jangan digeneralisasi) mengarah ke seks kalau tidak dikendalikan. Tapi kembali ke individunya juga. Jadi saya tidak setuju kalau seks sebelum pernikahan dianggap sebagai cinta eros.

    • FB Comment from AS:
      Saya tidak menyangkal kalo sebelum menikah dilakukan itu dosa, tapi, yang saya perdebatkna, adalah pernyataan bahwa seks itu bukan tanda cinta bila dilakukan sebelum kita menikah, menurut saya, terlepas dari sudah waktunya atau belon, tetep saja, seks itu tanda cinta, cinta eros.

      • Kalau memang Anda berkeras silakan saja. Saya tidak mau berdebat di sini karena memang tidak ada gunanya dan tidak membangun. Namun berdasarkan yang saya baca di Alkitab dan berdasarkan pengertian yang saya dapatkan adalah seperti itu. Jika… Anda memiliki pendapat lain silakan saja.

        Dosa = menyangkal cinta Allah. Apakah masih bisa dianggap dosa sebagai tanda cinta? Silakan pikirkan sendiri deh. Tuhan memberkati.

  8. FB Comment from AS:
    Anda juga berkeras, saya juga berkeras, masalahnya saya tidak memperdebatkan seks itu dosa jika dilakukan sebelum menikah, saya setuju itu dosa, tapi pernyataan bahwa seks bukan tanda cinta, saya tidak setuju, anda paham maksud saya?Saya tidak menyangkal di Alkitab juga dinyatakan secara jelas kalo sebelum menikah itu namanya zinah, tapi tetap saja seks itu, pernyataan cinta terhadap pasangan. Jika bukan pernyataan cinta terhadap pasangan, apa seks itu kalo gitu? Pernyataan ingin memiliki keturunan? sama kaya binatang dong…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: