All for Glory of Jesus Christ

Cinta vs Cita-cita

Cita-cita, impian, hal yang dikejar dalam hidup siapakah yang tidak memilikinya? Jika misalnya Anda belum memilikinya saya sangat menganjurkan kepada Anda untuk membaca dahulu “Purpose, Vision, and Mission in Your Life (Trilogi-2)”.

Memiliki cita-cita merupakan hal yang mengasyikan. Ya, dengan adanya cita-cita, dengan adanya impian, hidup kita menjadi lebih bergairah. Kita jadi terpacu untuk bergerak menuju impian kita, mewujudkan cita-cita kita. Kita jadi semangat untuk menggapai hal yang kita kejar.

Namun bagaimana jika saat Anda mencoba mengejar impian Anda, ternyata kekasih Anda tidak setuju? Saya akan menuliskan bagi Anda bagian dari kotbah yang disampaikan oleh pendeta di gereja sahabat saya. Saya akan menambah dengan sejumlah ayat yang sesuai dengan poin-poin yang dibagikan. Pada beberapa waktu lalu, sahabat saya membagikan ini pada saya:

Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pasangan hidup (PH):

1. Kejar Tuhan, bukan PH. Jika si dia bisa mengimbangimu dalam mengejar Tuhan, maka kemungkinan he/she is the one.

Yesaya 55:6: Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

Tujuan hidup kita dan tujuan penciptaan kita bukanlah untuk mencari pasangan hidup. Sejak dari awal mula penciptaan manusia, yang mendeteksi manusia membutuhkan pasangan hidup adalah Allah sendiri. Jadi tidak perlulah kita stress karena mengejar pasangan hidup.

Jika Tuhan telah melihat kita membutuhkan pasangan hidup, Ia akan mempertemukan kita dengan pasangan kita. Sebelum saat itu tiba, tidak perlu repot dengan masalah pasangan hidup. Sebaliknya justru kita perlu mengejar Tuhan, baik sebelum memiliki pasangan hidup maupun sesudah memiliki pasangan hidup, jadikan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita.

2. Bermainlah dengan orang bijak. Ya, hal ini sangat penting karena sahabat kita akan membentuk pola pikir kita.

1 Korintus 15:33: Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, sahabat kita merupakan orang-orang yang berpengaruh cukup besar dalam hidup kita. Jika kita memiliki sahabat orang-orang yang frustasi, kepahitan, dan sangat hobby mengeluh, sedikit banyak akan menjadi seperti itulah kita.

Jika kita memiliki sahabat orang yang bijak, maka pikiran kita akan dicerahkan oleh wawasannya itu. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih sahabat (baca “Friendship”).

3. Jangan lihat penampilan/fisik.

Amsal 31:30: Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

Pada pandangan pertama penampilan/fisik merupakan hal pertama yang terlihat, namun jangan jadikan hal itu sebagai hal yang pokok dalam pencarian pasangan hidup. Mengapa demikian? Karena penampilan/fisik itu sifatnya tidak kekal, hanya sementara, selain itu juga dapat dimanipulasi.

Ya, orang bisa berpura-pura tampil rapi, baik, penuh pesona. Bisa saja membawa kendaraan yang mengesankan. Bisa saja terlihat cantik/ganteng dan penuh daya pikat. Namun kenyataannya hal itu bisa saja hanya polesan.

Saya tidak mengatakan bahwa tidak boleh bagi Anda menyukai orang seperti demikian. Jelas ada orang dengan kualitas yang luar biasa: sudah rapi, baik, penuh pesona penampilannya, cantik/ganteng, penuh daya pikat, dan sungguh-sungguh memang demikianlah adanya orang yang bersangkutan.

Namun, jangan jadikan penampilan/fisik sebagai kriteria utama. Karena hal yang terlihat oleh mata seringkali menipu, sebaliknya hal yang berada dalam kedalaman hatilah (karakter) itulah yang terpenting.

4. Jangan terburu-buru, beri si dia ruang dan waktu untuk bergerak dan bernafas.

Pengkotbah 3:1: Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Galatia 5:22: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan.

1 Korintus 13:4a: Kasih itu sabar.

Ketika menemukan seseorang yang menarik hati Anda, sabarlah. Jangan begitu bernafsu untuk menjadikan dirinya kekasih Anda dalam waktu sekejap. Anda dan dia sama-sama butuh waktu untuk saling mengenal dan saling memahami.

Beri waktu dan ruang yang cukup untuk sama-sama berkembang dalam persahabatan, sementara itu bawalah dalam doa. Bila Anda merasa sudah cukup mengenal dan memahami dirinya, juga bila Anda telah menggumulkannya dalam doa, barulah Anda bisa mulai merancang langkah-langkah untuk mendekati dirinya.

Bila Anda seorang pria, itulah saat yang tepat untuk memintanya menjadi kekasih Anda. Jangan mengharapkan si dia yang meminta Anda menjadi kekasihnya! Ingat ini adalah peran Anda untuk memimpin hubungan.

Bila Anda seorang wanita, tetap sabar dan menanti si dia meminta Anda menjadi kekasihnya. Memberikan dorongan dan sinyal-sinyal positif wajib dilakukan, namun tetaplah sabar. Jangan sampai Anda mengambil alih peran pria untuk memimpin hubungan!

5. Jangan berkompromi, terutama untuk hal-hal yang menyangkut seksualitas.

Roma 6:12: Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.

Cinta memang kuat seperti maut (Kidung Agung 8:6b), namun ingat Kristus telah mengalahkan maut. Jadi jangan sampai atas nama cinta, Anda berkompromi sampai-sampai melakukan sesuatu yang tidak pantas. Akhirnya Anda juga yang akan kecewa. Bijaksanalah!

6. Batasi dan tetapkan batasan diri. Hal ini sangat erat kaitannya dengan mengetahui kelemahan kita, terutama berkaitan dengan seksualitas.

Yakobus 1:14: Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Mengenali diri sangat penting di sini. Jangan sampai anda jatuh karena tidak mengetahui dan tidak menetapkan batasan diri.

7. Dia akan mendukung impianmu.

Pengkotbah 4:9: Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.

Kejadian 2:18: Tuhan Allah berfirman: Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Berkaitan dengan poin nomor 7 ini perlu menjadi perhatian kita. Kita diciptakan untuk tujuan yang khusus, yaitu untuk memuliakan Tuhan (baca “Purpose, Vision, Mission in Your Life (Trilogi-1)”) sehingga jelas kita akan mempunyai impian (visi) yang berkaitan dengan tujuan hidup kita.

Jika kekasih kita ternyata tidak mendukung impian kita dalam usaha kita memenuhi tujuan hidup kita yang telah ditetapkan Tuhan, ini merupakan lampu merah. Ya, mengapa saya katakan lampu merah? Karena salah satu tujuan pernikahan adalah untuk bersama-sama membantu untuk mencapai tujuan yang telah tetapkan dalam hidup kita.

Jika dalam pacaran saja si dia tidak mendukung impian kita, bagaimana saat pernikahan nanti? Tentu saja dalam usaha menggapai impian kita jelas kita juga tidak boleh egois.

1 Korintus 13:5b: Ia … tidak mencari keuntungan diri sendiri.

Jelas dalam segala sesuatu harus ada harga yang kita bayar. Jika memang ini adalah cita-cita yang sungguh akan mendukung tujuan hidup kita, memang kekasih dan pasangan kita (suami/istri) kita sudah seharusnya mendukung impian kita. Tetapi dalam prosesnya, kita tetap tidak boleh mengabaikan mereka.

Ingatlah senantiasa prioritas yang benar. Cita-cita kita biasanya dalam bentuk pekerjaan atau pelayanan, maka prioritas tersebut letaknya adalah di nomor tiga, masih di bawah prioritas pertama, yaitu Tuhan dan prioritas kedua, yaitu keluarga dan teman-teman.

Bahkan jika cita-cita kita ternyata merupakan cita-cita yang keliru, yaitu yang hanya untuk demi memuaskan keinginan kita, bisa saja Tuhan menggunakan kekasih atau pasangan kita (suami/istri kita) untuk mengubah impian tersebut.

Impian yang keliru biasanya akan mengakibatkan sukses yang semu saat dicapai. Contoh: harta berlimpah, kekuasaan besar, nama dikenal oleh banyak orang, namun ternyata justru kehilangan yang paling berharga. Hal yang paling berharga adalah Tuhan dan keluarga.

Impian yang benar akan mengakibatkan sukses yang sejati. Contoh: harta berlimpah, bersama dengan itu juga kekuasaan, nama dikenal banyak orang, nama Tuhan dipermuliakan, dan keluarga kita harmonis, bahagia, dan damai.

Amsal 11:23: Keinginan orang benar mendatangkan bahagia semata-mata, harapan orang fasik mendatangkan murka.

Hal yang menjadi keprihatinan saya adalah melihat keluarga yang dari luar terlihat bahagia, namun ternyata anak-anaknya kocar-kacir. Entah ada yang memberontak sebagai bentuk untuk mencari perhatian orang tuanya, entah ada yang menjadi anak yang pasif dan terus menutup diri.

Ini adalah fenomena yang menyedihkan. Jangan sampai itu terjadi pada keluarga kita! Jelas perlu ada suatu pengaturan dan kesepakatan yang baik dalam keluarga, supaya cinta dan cita-cita dapat berjalan bersama. Jika terjadi konflik di antaranya, jika Anda sudah menikah maka Anda harus tetap mengutamakan keluarga Anda.

Ingat tujuan Anda berpacaran dan menikah adalah untuk belajar melakukan firman Tuhan dengan lebih sungguh lagi dan untuk memenuhi panggilan dan tujuan penciptaan Anda. Kaitannya dengan ini, saat Anda berpacaran dan menikah, target (goal) Anda bukanlah untuk membuat diri Anda bahagia, namun justru untuk membuat kekasih dan pasangan Anda (suami/istri Anda) bahagia.

Selalulah gunakan tiga kunci emas sehingga Anda tidak perlu memilih salah satu antara cinta dan cita-cita. Jika Anda menggunakan tiga kunci emas dengan baik, maka cinta dan cita-cita akan berjalan seiringan.

Amin.

(Footnote:

Thanks to “Kevin” Cahyadi Tanujaya for sharing about the points of sermon.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: