All for Glory of Jesus Christ

Pembahasan hari ini masih menyangkut pembahasan kemarin, yaitu menyangkut “Kerja Keras dan Kerja Cerdas”. Untuk bisa melakukan peran, tugas, fungsi kita dengan sebaik-baiknya; untuk bisa sukses, kita perlu kerja keras, tetapi di atas kerja keras kita perlu kerja cerdas.

Pembahasan hari ini membahas salah satu cara untuk bekerja cerdas. Dalam bisnis dan pekerjaan, kita perlu bekerja cerdas. Jadi, kalau mengingat prinsip ekonomi: dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya mendapatkan imbalan yang sebesar-besarnya.

Ini prinsip yang kita gunakan dalam tingkat tertentu. Namun saya ingin memperingatkan Anda semua untuk tidak menggunakan prinsip ekonomi tersebut dengan level penghayatan yang sangat tinggi. Mengapa demikian? Karena kalau itu terjadi maka Anda akan terjebak dalam yang namanya asas ‘manfaat’.

Asas ‘manfaat’ juga menjunjung tinggi prinsip ekonomi dan dalam tingkat penghayatan yang paling tinggi. Jadi, jangan sampai Anda menjadi orang yang gemar memanfaatkan orang lain untuk kepentingan Anda. Ya, saya yakin semua orang pada tingkat tertentu akan relatif saling memanfaatkan, namun tentu saja jelas ada timbal baliknya.

Jadi jangan sampai Anda memandang seseorang hanya sebagai obyek penderita yang dapat Anda manfaatkan, Anda gunakan. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah: untuk Anda yang berusaha dan bekerja dalam suatu sistem yang sifatnya adalah berjenjang dan membutuhkan jaringan untuk sistem tersebut dapat bekerja.

Saya sering sekali mendengar dan juga beberapa kali mengalami betapa uang bisa membutakan. Tingkat penghayatan prinsip ekonomi secara kebablasan membuat sejumlah orang tidak segan-segan untuk memandang orang lain sebagai obyek semata, sebagai prospek bisnis dan pekerjaan semata.

Hal ini sangat menyedihkan menurut saya. Wajar bagi Anda untuk menawarkan suatu produk atau jasa kepada orang lain, namun jangan sampai Anda memandang setiap kesempatan bertemu orang lain sebagai kesempatan mencari prospek dan menggolkan prospek.

Nah kunci untuk kerja cerdas adalah menghayati prinsip ekonomi tersebut dalam tingkat yang selayaknya. Salah satunya adalah dengan menyukai usaha dan pekerjaan Anda.

1 Korintus 13:13: Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Hal yang paling besar adalah kasih. Jika Anda menyukai pekerjaan Anda, maka akan jauh lebih mudah bagi Anda untuk melakukan peran, tugas, fungsi Anda dengan sebaik-baiknya. Mengapa saya sebutkan bahwa menyukai usaha dan pekerjaan sebagai bentuk penghayatan prinsip ekonomi dalam tingkat yang selayaknya?

Mari kita tinjau kembali prinsip ekonomi tersebut. Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya mendapatkan imbalan sebesar-besarnya. Kembali ke menyukai usaha dan pekerjaan, saya akan menjelaskan dengan suatu penjelasan sederhana.

Jika Anda menyukai sesuatu, apakah Anda akan menganggap suatu pengorbanan jika Anda menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran Anda untuk hal tersebut? Saya yakin tidak. Untuk orang yang memiliki hobi (menyukai) memancing, membeli pancing seharga 10 juta rupiah mudah saja bagi orang tersebut mengeluarkan koceknya. Sebaliknya untuk orang yang tidak memiliki hobi yang sama; jangankan 10 juta, 1 juta saja mungkin sudah terlalu mahal.

Prinsip yang sama berlaku dalam menyukai usaha dan pekerjaan Anda. Saat Anda menyukai usaha dan pekerjaan Anda, hal itu akan terasa bukan sebagai pengorbanan bagi Anda menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran Anda untuk melakukannya.

Ya, Anda akan melakukannya dengan penuh gairah (passionate) dan penuh semangat. Sudah banyak sekali penelitian membuktikan bahwa jika Anda menyukai melakukan sesuatu, maka Anda akan menjadi lebih produktif dalam hal tersebut.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana untuk menyukai usaha dan pekerjaan Anda?

1. Usaha dan pekerjaan Anda harus sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang Anda pegang. Jangan sampai Anda berusaha atau bekerja pada bidang yang membuat Anda harus berperang dengan nilai-nilai yang Anda pegang.

Ini tidak akan berhasil. Entah membuat Anda harus melepas nilai-nilai yang Anda pegang, atau terus berada dalam konflik internal dalam batin Anda untuk terus melakukan usaha dan pekerjaan itu atau untuk berkompromi dengan nilai-nilai yang Anda pegang.

Inilah hal yang sangat berbahaya. Saat orang berkompromi, ia tidak akan sadar sudah seberapa jauh ia menyimpang. Biasanya mulai dari satu dua hal kecil, kemudian bertambah satu dua hal kecil lainnya, terus demikian sampai akhirnya ketika tersadar sudah begitu jauh penyimpangan yang terjadi.

Yakobus 4:4: Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menja-di sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.

2. Berhikmatlah: kenali bakat, kepribadian, pembawaan alami, dan kemampuan Anda. Untuk bisa menyukai usaha dan pekerjaan Anda, akan semakin mudah Anda lakukan jika usaha dan pekerjaan Anda bila bakat, kepribadian, pembawaan alami, dan kemampuan Anda selaras dengan usaha dan pekerjaan Anda.

Memang pengetahuan dan kemampuan untuk suatu usaha dan pekerjaan itu bisa dipelajari, namun akan lebih mudah bila memang bakat, kepribadian, pembawaan alami, dan kemampuan Anda sudah mendukung hal itu. Ingat: lebih baik kerja cerdas daripada kerja keras!

Amsal 24:14: Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.

3. Mengalami pengubahan dalam pemikiran: Anda menyukai usaha dan pekerjaan Anda. Ya, hal yang Anda pikirkan itu biasanya yang membentuk Anda. Coba pikirkan mertua Anda sangat menjengkelkan dan menyebalkan. Terus pikirkan itu. Apa akibatnya? Ya, akibatnya Anda jadi tidak menyukai, bahkan membenci mertua Anda.

Hal yang sama juga terjadi pada usaha dan pekerjaan Anda. Jika Anda berpikir ini usaha yang menantang, ini pekerjaan yang mengasyikan, maka Anda akan berakhir dengan menyukai usaha dan pekerjaan Anda.

Roma 12:2: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Apakah kehendak Allah yang baik? Jika Anda berusaha dan bekerja. Karena memang manusia hidup perlu diisi dengan berusaha dan bekerja. Apakah kehendak Allah yang berkenan? Jika Anda berusaha dan bekerja dengan sebaik-baiknya. Apa kehendak Allah yang sempurna? Jika Anda dalam usaha dan pekerjaan Anda bukan hanya Anda lakukan dengan sebaik-baiknya, namun juga dapat membawa kebaikan bagi orang banyak dan kemuliaan bagi Tuhan. Inilah sukses sejati.

4. Bersukacita, bersyukur, dan tidak banyak mengeluh. Ya, walaupun usaha sedang lesu atau pekerjaan tidak ada habisnya, Anda dapat memilih untuk bersukacita, bersyukur, dan tidak banyak mengeluh. Jika Anda memilih hal tersebut, Anda akan mendapati diri Anda lebih menyukai usaha dan pekerjaan Anda; bahkan ada satu bonus tambahan: Anda akan lebih menyukai diri Anda.

Filipi 4:7: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Ingat: ada kuasa dalam perkataan. Jadi kalau Anda terus memaki dan berkeluh kesah berkaitan dengan bisnis dan pekerjaan Anda, ya terjadilah sesuai perkataan Anda!

5. Ingat prioritas Anda! Untuk bisa menyukai bisnis dan pekerjaan Anda, Anda harus tahu prioritas yang benar. Tanpa itu, Anda tidak akan sukses. Ya, mungkin di satu sisi Anda sukses, tapi di sisi lain Anda gagal. Ini bukan sukses namanya. Sukses sejati bersifat integral, menyeluruh; sedangkan sukses semu bersifat parsial, sebagian.

Markus 12:30: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Markus 12:31: Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Jika Anda terlalu mencintai usaha dan pekerjaan Anda, tapi Anda menelantarkan Tuhan dan keluarga Anda, ini akan mengantarkan Anda pada kehancuran. Jadi hati-hati! Ingat prioritas Anda! Saat Anda mencintai usaha dan pekerjaan Anda dalam porsi yang tepat, itulah saatnya Anda dapat menggapai sukses.

Siap untuk menyukai bisnis dan pekerjaan Anda?

Amin.

Iklan

Comments on: "Love Your Business and Your Work" (5)

  1. FB Comment from DHK:
    Gut bisa + cmgat he he..
    Ma kasih sobat bnyk beri inspirasi
    GBU.

  2. FB Comment from EHC:
    i’m ready to love my work ^^

  3. FB Comment from C:
    jaman sekarang sangat sulit mengimbangi sukses di mata Tuhan-keluarga & pekerjaan…
    semoga makin byk yang berhasil.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: