All for Glory of Jesus Christ

Know Your Limit

Pembahasan hari ini masih merupakan kelanjutan dari pembahasan kemarin, yaitu “Know Yourself”. Salah satu aspek yang akan kita ketahui dalam kita mengenal diri kita adalah kelebihan-kelebihan kita, bakat, minat, kemampuan, tujuan hidup, visi, dan misi kita. Namun hal lain yang kita akan ketahui juga saat kita mengenal diri kita adalah kelemahan dan keterbatasan kita. Hari ini kita akan membahas mengenai “Know Your Limit”.

Banyak tokoh di Alkitab dengan kelemahan dan keterbatasannya. Contoh yang sudah pernah dibahas sebelumnya:

–         Musa yang tidak pandai bicara (baca di “Minder, Sombong, dan Percaya Diri (Trilogi-1)”).

–         Simson yang mengalami masalah dengan cinta erosnya kepada wanita Filistin dan lalu dengan kelemahan diri dan kebutaannya setelah dia ditangkap (baca di “Minder, Sombong, dan Percaya Diri (Trilogi-2)”).

–         Paulus yang mendapat ‘duri dalam daging’ (baca di “Minder, Sombong, dan Percaya Diri (Trilogi-3)”).

–         Elia yang menjadi takut  terhadap ancaman Izebel (baca di “Putus Asa, Berkeras, dan Berserah  (Trilogi-1)”).

–         Saul yang menjadi takut akan ketika berhadapan dengan orang Filistin (baca di “Putus Asa, Berkeras, dan Berserah  (Trilogi-2)”).

–         Daud yang jatuh cinta pada wanita bersuami: Batsyeba, istri Uria (baca di “Putus Asa, Berkeras, dan Berserah  (Trilogi-2)”).

–         Abraham dan Sara yang tidak memiliki anak bahkan sampai usia 99 tahun ketika Abraham sudah tua dan Sara sudah mati haid (baca di “Impossible is Nothing”)

–         Bahkan Tuhan Yesus pun mengalami takut ketika menjelang akan menghadapi penderitaan-Nya, yaitu ketika di Taman Getsemani (baca di “Dimensions of Sacrificing (Tetralogi-3)”).

Ya, manusia tidak ada yang sempurna, bahkan Tuhan Yesus yang 100% Tuhan namun juga 100% manusia mengalami takut. Mari kita lihat dan pelajari apa saja reaksi tokoh-tokoh tersebut:

–         Musa menjadi rendah diri, tidak mau mengemban tugas dari Tuhan karena keterbatasannya. Namun akhirnya Ia mau maju bersama dengan Tuhan, menjadi pemimpin atas Bangsa Israel: mengeluarkan Bangsa Israel dari perbudakan di Mesir.

–         Simson menjadi sombong, lalu akhirnya mengalami kelemahan (hilangnya kekuatan dirinya) bahkan kebutaan setelah ia ditangkap. Namun ketika Ia memohon pada Tuhan, Tuhan memberikan kekuatan kepada Simson sehingga bahkan Simson bisa membunuh jauh lebih banyak orang daripada semasa ia hidup.

–         Paulus dengan ‘duri dalam daging’ yang meminta kepada Tuhan supaya kelemahan itu dapat diambil daripadanya. Namun kemudian Paulus mengerti bahwa kasih karunia Tuhan cukup baginya dan Paulus hidup dengan ‘duri dalam daging’-nya itu.

–         Elia yang menjadi takut lalu melarikan diri, ingin mati saja, namun Tuhan menguatkan Elia dengan mengirimkan malaikat untuk memberi Elia makan dan minum, bahkan Allah sendiri lalu berbicara kepada Elia sehingga Elia dikuatkan.

–         Saul yang ketakutan ketika Bangsa Filistin menyerang lalu mengambil keputusan yang salah dengan mendatangi perempuan pemanggil arwah, bahkan mempersembahkan korban bakaran kepada Allah, padahal seharusnya itu bukan perannya.

–         Daud yang karena cinta erosnya kepada Batsyeba, membuat Uria akhirnya harus mati di peperangan karena Daud mengirimkan surat kepada Yoab lalu akhirnya mendapatkan Batsyeba. Namun ketika Allah menegur Daud lewat Nabi Nathan, Daud sadar akan kesalahannya dan bertobat.

–         Abraham yang tetap percaya bahwa ia akan memiliki anak walaupun ia telah tua karena ia meyakini janji Tuhan. Sara yang tertawa karena tidak percaya bahwa ia dapat memiliki anak karena ia telah mati haid dan Abraham telah tua.

–         Tuhan Yesus yang walau takut ketika akan menghadapi sengsara penyaliban-Nya, namun mempertahankan integritas-Nya dan berserah kepada kehendak Bapa.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh Alkitab yang belum saya bahas dan mungkin dalam waktu ke depan akan saya jadikan topik untuk pembahasan berikutnya hehehe. Lalu bagaimana sikap kita terhadap kelemahan dan keterbatasan kita? Dalam dunia bisnis dan pekerjaan, kita ingin melakukan peran, tugas, dan fungsi kita dengan sebaik-baiknya, namun sebagai manusia biasa kita memiliki kelemahan dan keterbatasan pula.

Sikap yang perlu diambil:

1. Setelah mengetahui, kita perlu mengambil tindakan tentu saja. Tindakan yang kita ambil salah satunya adalah minta pertolongan Roh Kudus untuk membantu kita dalam kelemahan dan keterbatasan kita.

Matius 7:7: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Ingat: Roh Kudus sanggup menuntun dan mengarahkan kita melakukan hal-hal yang luar biasa, melampaui kelemahan dan keterbatasan kita. Apalagi dalam dunia bisnis dan pekerjaan yang semakin tidak dapat diprediksi sekarang ini, kita perlu bimbingan Roh Kudus.

Yohanes 14:16: Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Ya, Roh Kudus akan menyertai kita, bahkan menuntun dan mengarahkan kita, dan membantu kita dalam keterbatasan kita.

2. Belajar mengatasi keterbatasan kita. Memang ada bagian Tuhan, namun kita juga harus melakukan bagian kita. Misal kita malas berusaha dan bekerja: kita harus belajar untuk menjadi rajin berusaha dan bekerja.

Amsal 6:6: Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:

3. Mengerti batas-batas dan kelemahan kita dan menerimanya. Ya, ada kalanya, keterbatasan dan kelemahan kita itu akan tetap ada. Oleh karena itu, kita perlu mengerti dan menerimanya.

Ingat: seperti Paulus yang juga mengeluh mengenai ‘duri dalam dagingnya’ lalu setelah ia meminta kepada Tuhan, ternyata Tuhan berkata:

2 Korintus 12:9a: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

dan lihat reaksi Paulus untuk mengerti dan menerima keterbatasan dan kelemahannya:

2 Korintus 12:9b-10: Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

4. Berhikmat: jika memang Roh Kudus menyuruh kita melakukan sesuatu melampaui keterbatasan kita, lakukan. Jika tidak, ketahui keterbatasan kita dan berhikmatlah. Mengenai hikmat sudah pernah dibahas dalam “Hikmat”, jadi untuk pembahasannya silakan mengacu ke sana.

Menutup notes hari ini saya akan menuliskan suatu doa. Saya sadar bahwa saya adalah manusia dengan penuh keterbatasan. Hanya oleh karena kasih karunia-Nya, Kristus melayakkan saya bahkan memberikan kehormatan untuk melayani-Nya. Dalam bisnis dan pekerjaan saya, dalam segala hal yang saya kerjakan, dalam melayani Dia, saya menghadapi berbagai tantangan berkaitan dengan keterbatasan saya, untuk itu saya butuh hikmat dan kekuatan dari-Nya. Biarlah ini juga menjadi doa kita semua.

“Bapa yang Maha Baik, bersyukur Tuhan buat kebaikan-Mu. Bersyukur buat semua yang Tuhan beri dalam hidupku. Bersyukur buat kasih karunia Tuhan yang melayakkan aku yang tak pantas untuk menjadi pantas, untuk menjadi anak-Mu.

Tuhan, aku bersyukur Tuhan mau beri aku bisnis dan pekerjaan. Aku bersyukur Tuhan memberikan aku kesempatan menjadi partner Tuhan. Dalam apapun yang aku kerjakan, aku mau ya Tuhan meninggikan dan memuliakan nama-Mu.

Aku sadar Tuhan, bahwa aku di samping kelebihanku, aku hanyalah manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasanku. Aku hanya mau berjalan dan taat, Tuhan. Ke manapun Tuhan mau aku pergi, aku akan pergi. Tapi jika Tuhan tidak besertaku, aku tak mau pergi, Tuhan.

Peganglah tanganku selalu, Tuhan. Biarlah bisnis dan pekerjaanku menyukakan hatimu, Tuhan. Biarlah setiap apapun yang kulakukan menyukakan hatimu, Tuhan. Mampukan aku, Tuhan, untuk melakukan apapun yang Kau mau. Apapun yang terjadi, tantangan dan hambatan apapun yang menghadang, asal Kau yang meminta aku untuk berjalan, maka aku akan berjalan.

Ya, Roh Kudus, pimpin langkahku selalu. Jangan biarkan langkahku goyah. Kau berkata kepadaku untuk “Jangan takut, jangan kuatir. Aku besertamu. Kuatkan dan teguhkan hatimu.” Karena itu aku akan terus berjalan dan tidak menjadi takut, tidak menjadi kuatir karena aku tahu penyertaan-Mu itu cukup bagiku.

Dalam segala keterbatasanku, aku mau melakukan yang terbaik bagi-Mu, Tuhan. Oleh karena itu pimpinlah langkahku selalu. Dalam apapun, di manapun itu, segala hal yang aku lakukan, kalau itu aku lakukan demi Engkau, aku tahu itu adalah pelayanan bagi-Mu. Berikan aku hikmat dan kekuatan-Mu, Tuhan. Biarlah “More of You, Less on Me”. Biarlah nama-Mu saja yang ditinggikan dan biar aku selalu belajar dalam ketekunan dan kerendahan hati untuk melakukan apapun yang Tuhan mau.
Dalam nama Yesus saya telah berdoa dan mengucap syukur. Amin.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: